TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 339 - Merepotkan Sekali


__ADS_3

"Tuan Eric! Apakah Anda bermaksud untuk menjual semua ini?!" Teriak salah seorang penasehat keuangan itu.


Mendengar perkataan konyol itu, Eric hanya bisa tertawa lepas.


"Hahaha! Tentu saja tidak. Teknologi ini bahkan belum bisa diimplementasikan di dunia nyata karena tidak setiap tempat memiliki fasilitas yang memadai untuk mengeluarkan dan memanfaatkan energi di dalam baterai ini." Jelas Eric sambil segera melangkah keluar dari elevator itu.


"Lalu apa yang akan Anda lakukan? Terlebih lagi mengajak kami semua kemari...."


Sambil menyentuh salah satu baterai itu, Eric menghela nafasnya dan kembali berbicara.


"Apa jadinya jika aku mempublikasikan teknologi ini kepada seluruh dunia?" Tanya Eric dengan wajah yang tenang.


Ketiga orang itu nampak kebingungan, tapi Lisa segera memahaminya.


"Mengingat semua orang membutuhkan listrik, kurasa teknologi ini akan.... Tunggu dulu!"


Sesaat sebelum menyelesaikan perkataannya, Lisa dengan segera menyadarinya. Sebuah kenyataan yang tak bisa dipungkiri bahwa semua orang di dunia modern membutuhkan listrik.


Sementara itu, sumber energi listrik sejak zaman dahulu selalu dimonopoli sebagai contoh oleh pemerintahan. Jika seseorang muncul dengan membawa sesuatu yang lebih besar....


"Jangan katakan bahwa kau akan menantang pemerintahan secara langsung?!" Teriak Lisa sambil mendorong tubuh Eric.


"Hahaha! Tentu saja tidak! Aku belum mampu melakukannya! Terlebih lagi, jika orang tahu bahwa aplikasi teknologi ini tidak hanya untuk umum, tapi juga untuk militer, seluruh dunia akan memburuku.


Oleh karena itu tenang saja. Aku hanya ingin memamerkannya kepada kalian. Saat ini semua baterai ini hanya terbatas pada Grandia Group saja."


Lisa pun mulai melangkah mundur setelah mendengar penjelasan Eric.


"Tapi bukankah ini tidak menyelesaikan permasalahan keuangan kita? Untuk apa datang kemari dan...."


"Setidaknya baterai ini akan menyokong kebutuhan listrik seluruh kompleks Grandia Group. Mengurangi pengeluaran kita terhadap ketergantungan listrik negara secara drastis."


Dengan dipenuhi kekesalan, Eric pun melangkahkan kakinya menuju salah satu bangunan yang ada di ujung ruangan ini.


Mendiskusikan masalah ini dengan para eksekutif Grandia Group bagian Konstruksi untuk merancang desain terowongan bawah tanah yang menghubungkan Jakarta ke beberapa Kota besar dengan kereta bawah tanah.


"Selamat datang, Tuan Eric. Kami telah memahami situasinya dan telah mulai melakukan perancangan. Jika kita memanfaatkan...."


Diskusi pun berlangsung dengan alot.


Pada akhirnya, Eric harus puas setelah mampu menekan kerugian hingga menjadi 1 digit triliun rupiah. Semua itu berkat kemajuan teknologi yang dimiliki oleh Grandia Group dan juga kenyataan bahwa mereka memproduksi bahan mentah dan materialnya sendiri.


...***...


...Kediaman Eric...


...[Berita Panas!]...

__ADS_1


...[Eric, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia memutuskan untuk membangun jalur kereta bawah tanah yang....]...


'Ctik!'


"Hah.... Merepotkan sekali. Kini aku harus memikirkan caranya untuk kembali meraup keuntungan dari dalam Re:Life setelah semua kerugian ini." Ucap Eric pada dirinya sendiri.


Beberapa Minggu telah berlalu semenjak perancangan dan pembangunan Megastruktur itu dimulai.


Eric yang sangat disibukkan dengan urusan dunia itu hampir tak mampu untuk bermain lebih dari 2 jam per harinya. Membuat progressnya di dunia iblis sangat terhambat.


Meski begitu, setidaknya Eric telah memperoleh posisi yang aman di dalam dunia virtual itu. Setelah berdamai dengan Sierra, satu-satunya iblis yang berniat untuk memburunya, Eric tak lagi memiliki musuh.


Mengenai Avacor....


Ia memanglah musuh yang mengerikan. Tapi nampaknya Avacor benar-benar memenuhi perkataannya untuk membiarkan Eric dan sisa pasukan Origin hidup selama mereka tak bertemu kembali.


"Hah.... Merepotkan sekali. Baik di dunia nyata ataupun di dunia virtual."


Eric melirik ke arah kamarnya, terlihat salah satu mesin VRnya sedang digunakan.


"Elin akhir-akhir ini cukup sering bermain. Yah, untung saja ibu dan ayahku tak begitu masalah dengan hal itu." Ucap Eric perlahan pada dirinya sendiri sambil memperhatikan sosok ayah dan ibunya yang sedang merawat Silvia.


Setelah beberapa kali mengganti channel, Eric hanya bisa kesal karena semua berita dipenuhi dengan informasi mengenai dirinya yang telah membangun proyek besar itu atas dasar 'bantuan' untuk pemerintah.


Tapi seketika, tangannya berhenti menekan tombol di remote TVnya.


...[Berita Seputar Re:Life!]...


Di TV itu terlihat sosok seorang gadis yang berpakaian ala kucing menyampaikan berita.


"Yang benar saja, orang-orang suka dengan hal ini?" Ucap Eric pada dirinya sendiri.


Meski begitu, Ia tak mengganti channel di TVnya. Bukan karena apa-apa, tapi karena ini adalah satu-satunya saluran TV yang tidak menyiarkan mengenai berita tentang dirinya.


Seperti dugaannya, berita itu diisi dengan info tak berguna seperti lokasi farming yang nyaman, cara menghasilkan uang dari Re:Life yang mudah, bisnis virtual dan lain sebagainya.


Hingga akhirnya, sebuah berita yang menjadi acara utama saluran ini pun muncul.


"Akhirnya yang kalian semua nantikan! Berita mengenai iblis merah!"


"Buahahaha!!!"


Secara spontan, Eric tertawa lepas setelah melihat sosok yang ditampilkan di dalam saluran TV itu.


Seorang wanita dengan jubah kecoklatan yang memiliki rambut merah dan sepasang belati yang juga berwarna merah.


"Eric, ada apa? Jangan berteriak sekeras itu. Nanti Silvia akan bangun." Ucap Ibu Eric dengan wajah yang sedikit kecewa.

__ADS_1


"Aah, maaf soal itu. Aku hanya tak mampu menahan tawaku. Tapi yang benar saja, Elin dijulu.... Hah?"


Tawa Eric pun seketika terhenti.


Itu semua karena berita yang baru saja disebutkan dan ada di hadapannya.


"Seperti yang kalian bisa lihat! Iblis merah ini sangatlah berbahaya! Aksi terakhirnya adalah dengan membantai seluruh prajurit Salvation yang berjaga di kota hanya dalam satu malam!


Lihatlah rekaman yang diambil oleh pemain dengan Nickname [pedang keadilan] ini." Jelas sang pembawa acara dengan penuh semangat.


Dalam video itu, terlihat suasana malam yang dipenuhi dengan darah. Terlihat pemain dengan nama [pedang keadilan] itu sedang melakukan patroli sebagai bagian dari tugas wajibnya setelah bergabung menjadi Prajurit Kota.


Akan tetapi, malam ini sangatlah berbeda daripada malam-malam damai lainnya.


Dari kejauhan, terdengar teriakan yang sangat keras dari seseorang. [pedang keadilan] pun segera berlari ke sumber suara bersama dengan 3 prajurit lainnya.


"Gais! Ini gila banget gais! Ada orang yang menyerang kota! Semoga saja aku bisa bertahan hidup buat merekam peperangan nya. Doain aku ya gais!" Ucap [pedang keadilan] sambil terus berlari, membuat pengambilan gambarnya menjadi begitu buruk karena terus berguncang.


Hingga akhirnya, sampailah mereka ke lokasi. Sebuah lokasi yang seharusnya tidak diincar oleh penyusup manapun karena banyak pasukan berkumpul di sana. Yaitu barak.


Di atas tumpukan jasad NPC yang segera berubah menjadi cahaya putih itu, terlihat sosok sang Iblis Merah sedang mencekik leher prajurit terakhir di hadapannya.


"Katakan, dimana pasukan yang lainnya? Biar aku segera mengirimkan kalian semua ke tempat yang sama."


'Kletak!'


Karena ketakutan, [pedang keadilan] mundur dan menginjak sebuah batu. Menghasilkan suara yang cukup keras.


"Hoo.... Ternyata di sana."


Tanpa mereka sadari, kepala mereka telah melayang ke udara. Termasuk Health Point yang juga telah habis.


Dengan rekaman yang diperjuangkan oleh salah seorang pemain itu lah, dunia mulai menyadari betapa mengerikannya ancaman dengan nama Iblis Merah ini.


Sebuah ancaman, yang harus segera dibereskan sebelum terlambat.


'Ctik!'


Eric kembali mematikan TVnya dan menghela nafas sekali lagi.


"Hah...."


Setelah terdiam sesaat, Eric pun segera berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya.


Ekspresi wajahnya nampak begitu sedih dan kecewa. Bagaimana tidak?


"Sialan.... Di saat kau sedang menikmati pembantaian di sana, aku harus berjuang mati-matian untuk bertahan hidup di dunia iblis. Tunggu saja kau...."

__ADS_1


Tanpa berbasa-basi, Eric pun kembali memasuki mesin VRnya.


Melimpahkan semua permasalahan di dunia nyata kepada Lisa.


__ADS_2