TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 381 - Hasil Perundingan


__ADS_3

"Orang kecil? Jangan merendah seperti itu, Tuan Eric." Balas Menteri Pertahanan itu sambil tertawa ringan.


Eric menilai bahwa orang-orang yang berkumpul di sini mulai mewaspadai dirinya. Oleh karena itu, Eric memilih untuk menyerang secara langsung.


"Baiklah saatnya segera mengakhiri semua ini. Tak perlu lagi banyak basa-basi, katakan saja apa mau kalian." Ucap Eric sambil meletakkan dagunya di kepalan kedua tangannya.


Pernyataan gila itu sontak membuat semua orang terkejut. Tak ada satu orang pun yang menyangka bahwa Eric akan mengutarakan apa yang ada di dalam isi hatinya semudah itu.


Terlebih lagi....


'Glek....'


Semua orang yang ada di dalam ruangan ini mulai menelan ludah mereka. Wajar saja, karena sikap Eric yang sangat dipenuhi dengan rasa percaya diri itu pasti disebabkan oleh suatu hal.


'Apa.... Rahasia apa yang kini ada di balik tangannya?!' Pikir Menteri Keuangan itu dengan keringat dingin yang mulai bercucuran.


Pada kenyataannya, Eric tak menyembunyikan apapun. Ia hanya memainkan ekspresi wajahnya saja untuk membuat semua orang berpikir bahwa dia menyembunyikan sesuatu.


"Para Menteri sekalian. Perkenankan aku untuk berbicara." Ucap Elin dengan senyuman yang begitu menawan.


"Ah, ya. Silakan, Nyonya Elin." Balas Menteri Pertahanan dengan gugup.


Elin terlihat sedikit membungkukkan badannya sesaat untuk menunjukkan rasa terimakasihnya.


Segera setelah itu, Ia mulai mendukung Eric dengan rencana yang telah disiapkan.


"Seperti yang kalian semua ketahui, sumber penghasilan terbesar kami berdua adalah dari industri game terbesar di dunia, Re:Life. Tapi sayangnya, terdapat banyak kendala sehingga kami telah lama tak mulai menghasilkan apapun dari permainan itu." Jelas Elin dengan nada yang begitu merdu.


Eric di sisi lain terlihat menganggukkan kepalanya. Seolah membenarkan perkataan Elin.


"Kemudian permintaan bantuan dari Menteri beberapa bulan yang lalu sungguh membuat kami berada dalam kesulitan. Tapi itu bukan berarti kami tak ingin membantu. Hanya saja kami berdua membutuhkan sedikit ruang untuk bernafas." Lanjut Elin sambil memperhatikan ekspresi semua orang di dalam ruangan ini.


Di sini, Elin mulai mengarahkan pembicaraannya mengenai kesulitan yang dialami oleh mereka berdua terhadap pemerasan yang terjadi.


Terlebih lagi penggunaan kalimat membutuhkan ruang itu menunjukkan niatan mereka untuk meninggalkan negeri ini.


Raut wajah para Menteri termasuk Haikal itu kini mulai terbaca dengan jelas. Sebuah ekspresi ketakutan yang nyata terhadap hilangnya sumber uang mereka.


"Beberapa kali kami sempat berpikir untuk meninggalkan negara ini. Tapi rasa nasionalisme yang ada dalam diri kami terus menerus berteriak untuk tidak melakukannya. Oleh karena itu, kami berdua akan memberikan pertanyaan kepada kalian semua.


Tenang saja. Pertanyaan itu hanya untuk memastikan bahwa pilihan yang akan kami buat adalah yang paling benar." Jelas Elin dengan cukup panjang lebar hingga akhirnya melirik ke arah Eric.


Eric yang memahami maksud Elin itu segera melanjutkannya.


"Itu benar, para Menteri sekalian. Dan juga Haikal. Pertanyaan yang ingin kami ajukan adalah, apakah kalian hanya memandang kami berdua sebagai ladang penghasil uang? Atau memandang kami berdua adalah warga negara Indonesia yang taat terhadap hukum dan pajak? Tolong jawab dengan sejujurnya."


Semua orang terkejut dengan pernyataan itu.


'Apa yang harus ku jawab?'

__ADS_1


Itulah sebuah kalimat yang terlintas di kepala semua petinggi di ruangan ini. Tak terkecuali Haikal.


Satu menit....


Dua menit....


Kini ruangan ini dipenuhi dengan keheningan. Kecuali suara sendok yang mengenai cangkir itu. Sebuah suara yang ditimbulkan tak lain oleh Eric dan juga Elin yang masih sibuk menikmati teh hangat mereka.


Merasa bahwa tak ada perkembangan sedikitpun dalam perbincangan ini, Eric membuat pergerakan seakan dirinya dan Elin akan berdiri dari kursi.


"Tu-tunggu dulu! Ka-kalian akan kemana?" Tanya Menteri Pertahanan itu dengan wajah panik.


"Kemana? Apakah kami berdua tak boleh menggunakan toilet di tempat ini?" Tanya Eric dengan wajah penuh dengan kebingungan. Begitu juga Elin yang merasa heran dengan pertanyaan itu.


"Te-tentu saja boleh! Haha! Tentu saja, silakan.... Tolong seseorang tunjukkan jalannya kepada Tuan Eric dan Nyonya Elin...."


Mereka berdua pun meninggalkan ruangan itu.


Alasan yang sebenarnya bukan karena mereka berdua ingin menggunakan toilet. Tapi karena mereka ingin memberikan ruang kepada para pejabat itu untuk berdiskusi.


Keberadaan Eric dan juga Elin di sana adalah hal yang mengganggu diskusi internal mereka. Tapi mengusir tamu itu secara langsung juga tak bisa mereka lakukan. Bahkan dengan bahasa yang halus sekalipun.


Itu karena mereka berpikir sedikit saja menyinggung perasaan mereka berdua, maka Eric dan Elin akan segera pindah ke luar negeri.


Oleh karena itu....


"Menteri Keuangan.... Bagaimana menurutmu tentang pertanyaan barusan?" Tanya sang Menteri Pertahanan.


"Apakah itu arahan dari Elin? Kudengar Wanita itu memang orang yang sangat cerdik." Balas Menteri yang lain.


Tapi Menteri pertahanan segera memecahkan suasana itu dengan memukul meja itu dengan ringan.


'Bruk!'


"Hentikan pembahasan yang tak berguna itu. Aku tanya bagaimana kita akan menjawab pertanyaan Eric. Jawaban kita semua akan menentukan nasib negara ini kedepannya.


Waktu kita tak banyak hingga mereka berdua kembali. Haikal, sebagai Direktur Re:Life, bagaimana pendapatmu tentang potensi dari Eric?" Tanya sang Menteri Pertahanan dengan suara yang tegas.


Haikal dengan segera mengutarakan pendapatnya mengenai potensi yang dimiliki oleh Eric sebagai seorang pemain.


Ia menyatakan bahwa potensi yang dimiliki oleh Eric sangatlah besar. Jika Eric berhasil menguasai dunia Iblis, maka kekayaan yang hampir tak bisa dibayangkan akan berada dalam genggamannya.


Mendengar hal itu....


Akhirnya, semua pikiran yang buyar itu pun berhasil disatukan. Dengan begitu lah, mereka semua memulai rapat internal dadakan ini. Batas waktu mereka hanya sampai Eric dan juga Elin kembali. Tepatnya? Tentu saja mereka tak tahu!


Itulah kenapa mereka tak bisa menyia-nyiakan satu detik pun.


Akhirnya setelah sekitar 8 menit, Eric dan juga Elin kembali ke dalam ruangan yang menjadi Medan pertempuran pikiran itu.

__ADS_1


"Jadi.... Bagaimana dengan jawaban kalian?" Tanya Eric yang kembali duduk di tempat itu.


Tapi ternyata, Haikal yang lebih dahulu berbicara.


"Sebelumnya, aku ingin meminta maaf atas tindakanku beberapa waktu yang lalu. Pikiranku benar-benar tidak beres pada saat itu.


Yang ada, aku hanya tak ingin pemain Indonesia yang lain mengalami kerugian karena karaktermu. Tapi kurasa, kita bisa membicarakan mengenai hal itu di masa mendatang?" Tanya Haikal dengan mata yang terus tertuju ke bawah.


Eric tersenyum puas saat mendengar hal itu.


"Kau tahu? Aku sudah mendirikan Guild Merah Putih yang mendukung Indonesia sejak lama. Meskipun, Guild itu sudah dihancurkan oleh suatu kerajaan. Tapi aku tetap akan selalu mendukung pemain dari Indonesia." Jelas Eric sambil terus tersenyum.


Haikal nampak bernafas lega setelah mendengar hal itu.


"Syukurlah jika begitu. Maka aku sama sekali tak keberatan dengan keputusan ini." Balas Haikal.


"Hmm? Keputusan apa?" Tanya Eric berlagak seperti kebingungan.


'Sreeett!'


Seluruh Menteri yang ada di ruangan ini segera berdiri dari kursinya. Kemudian, sang Menteri Keuangan pun mewakili mereka semua untuk memberikan jawabannya kepada Eric.


"Tuan Eric. Kami semua memandang Anda sebagai warga negara Indonesia yang sangat taat terhadap semua hukum dan juga pajak. Oleh karena itu, kami meminta kerjasamanya mulai dari sekarang.


Seperti yang Anda tahu, negara kita cukup tertinggal dengan negara-negara yang lain. Semoga saja, dengan kedermawanan Anda, bisa sedikit banyak membantu kemajuan negeri ini."


Eric dan juga Elin nampak memberikan senyuman tipis yang dipenuhi dengan rasa kemenangan. Tapi itu bukanlah kemenangan yang sempurna hingga....


"Jadi, kami berdua diakui tak pernah melanggar hukum apapun hingga saat ini. Benar begitu?" Tanya Eric untuk memastikan kemenangannya.


Sebelum menjawab, Menteri Hukum dan HAM mulai menoleh ke beberapa arah untuk memastikan bahwa semua orang setuju.


Hingga akhirnya....


"Itu benar. Tuan Eric, Nyonya Elin dan seluruh keluarganya belum pernah melanggar hukum sama sekali. Jadi kami mohon, tetaplah tinggal di Indonesia dan bantu negara ini untuk tumbuh menjadi negara yang kuat."


Dengan pernyataan itulah, Eric telah memastikan kemenangan telaknya.


Kini, takkan ada lagi belenggu yang mengganggu dirinya di dunia nyata. Tak ada lagi ancaman yang bisa menghentikannya.


Yang perlu Eric lakukan saat ini, hanyalah untuk menyegel kemenangan itu.


"Kalau begitu, kami telah memutuskan untuk tetap berada di Indonesia. Kami berdua juga akan terus membantu mengembangkan Indonesia dengan cara kami sendiri.


Meskipun belum direncanakan dengan baik, tapi kami bisa menjanjikan, bahwa setidaknya 25% kekayaan kami akan disalurkan untuk membantu pembangunan Nasional. Apakah itu sudah cukup?" Tanya Eric sambil mengulurkan tangan kanannya.


Menteri Keuangan yang mendengar hal itu merasa cukup senang. Meskipun tak sebanyak yang dia harapkan, tapi setidaknya Eric telah mengakui akan menyalurkan kekayaannya untuk Indonesia.


Segera setelah jabat tangan itu, perjanjian hitam di atas putih segera dibuat. Semua itu untuk memastikan bahwa apapun yang telah diputuskan dalam pertemuan ini, dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

__ADS_1


Dengan begitulah....


Pertempuran Eric di dunia nyata berakhir dengan situasi win-win untuk kedua belah pihak.


__ADS_2