TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 418 - Transcendence


__ADS_3

'Staaabbbb!!!' Tusukan dari Tombak Angie sekali lagi mengenai tubuh Lucien yang bahkan belum terlihat di dunia virtual ini.


Lucien yang menyadari kemampuan prediksi Angie yang begitu mengerikan ini memutuskan untuk mundur.


Tapi Angie sama sekali tak membiarkannya.


Ia mengubah senjata di tangan kirinya menjadi sebuah tongkat sihir. Saat Ia mengangkatnya ke udara, badai petir menerjang tanah tandus ini secara acak.


'Duaaaarrr! Duaaaarrr!! Duaaaarrr!!!'


Serangannya menyambar ke segala arah. Tak berhenti di sana, Angie terus menerus menyerang di berbagai tempat dengan tombaknya. Berharap salah satu serangannya mengenai sosok Lucien itu.


Sementara itu, Oliver dan juga Tasmith akhirnya telah tiba.


Apa yang mereka lihat saat ini adalah sebuah pemandangan sosok Angie yang terus menyerang angin dengan badai petir di sekitarnya.


Tanpa ragu, Oliver segera berlari kencang ke arah Angie. Ia mengangkat pedang besar di punggungnya itu dengan kedua tangannya dan bersiap untuk menyerang Angie.


Sementara itu, Tasmith nampak menggelar sebuah lapak. Di atas kain itu, terdapat ratusan permata dengan warna yang berbeda-beda. Termasuk beberapa alat tempa dan alat ukir.


Dengan tenang, Tasmith duduk di tengah medan dengan badai petir ini. Ia pun melempar sebuah permata dengan warna biru ke udara.


'Krettaakk!'


Setelah permata itu mencapai ketinggian sekitar 3 meter dari tanah, permata itu pun pecah dan menciptakan sebuah perisai sihir yang mampu menjaganya dari badai petir ini.


Sementara itu, Ia terlihat menggunakan sihir api sederhana dan menggabungkan beberapa permata menjadi satu.


Di sisi lain....


'Klaaangg! Klaaanggg!!'


Ayunan pedang besar Oliver dapat dengan mudah ditangkis oleh Angie karena begitu lambat. Akan tetapi, setiap tebasan dari pedang itu mampu mendorongnya sejauh beberapa puluh sentimeter.


Dengan kata lain, Strength yang dimiliki Oliver jauh melampaui Strength yang dimiliki oleh Angie.


'Goblin sialan ini.... Dimana Eric? Apakah ada di dekat sini?' Pikir Angie penasaran sambil terus melihat ke berbagai arah.


Secara tiba-tiba, Lucien kini berhenti bersembunyi. Mengetahui bahwa bala bantuan telah tiba, Ia pun bersiap untuk bertarung dengan menghadapi Angie secara langsung.


Tapi sebelum itu....


"Nightfall." Ucap Lucien singkat.


Seketika, seluruh tempat di sekitar medan pertarungan mereka berada, tergantikan oleh langit malam yang begitu gelap gulita.


Sebuah area yang akan meningkatkan sebagian besar atribut milik Lucien dengan cukup drastis.


Tapi tentu saja, efek ini tak hanya membuat Angie sulit melihat. Tapi begitu juga dengan Oliver dan juga Tasmith.


Hanya saja, Tasmith telah menduga semua ini. Dan permata yang baru saja digabungkan olehnya akan membantu mereka berdua untuk melihat dalam kegelapan yang mutlak ini.


'Tap! Krettakk!'


Ia menggunakan permata yang pertama pada dirinya sendiri. Memungkinkannya untuk melihat dalam kegelapan ini.


Setelah itu, Tasmith mulai mengemasi barang-barangnya dan berlari ke arah Oliver. Bersiap untuk memberikan satu permata lagi padanya.


"Vampir sialan...." Keluh Angie dimana saat ini seluruh pandangannya dipenuhi dengan kegelapan.


Akan tetapi, Lucien lupa bahwa lawannya bukan lagi seorang manusia.

__ADS_1


Angie mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah wajahnya. Dan seketika, sebuah api putih yang indah mulai menyelimuti wajahnya sesaat. Sebelum akhirnya mulai menyebar ke seluruh tubuhnya dan menghilang.


"Transcendence." Ucap Angie singkat.


'BLAAAARRRR!!!'


Sebuah tekanan udara yang begitu kuat segera melemparkan Lucien, Oliver dan juga Tasmith puluhan meter ke belakang.


Kini, Lucien dapat melihat sosok Angie yang berdiri dengan tenang di tengah kegelapan itu.


Seluruh tubuhnya dipenuhi dengan aura cahaya putih yang tipis. Sedangkan rambut pirang panjangnya tergantikan dengan warna putih.


"5 menit. Aku akan mengakhiri semuanya dalam 5 menit." Ucap Angie tegas. Tak hanya itu, Ia seakan bisa melihat mereka bertiga di tengah kegelapan ini.


Transcendence. Salah satu skill yang diperoleh Angie ketika mendapatkan kelas mythical miliknya.


Kemampuannya sangat sederhana. Meningkatkan seluruh status sebanyak 500%. Tapi yang paling mengerikan bukanlah peningkatan status itu.


Melainkan selama 5 menit buff ini berjalan, seluruh skill yang dimiliki Angie takkan memakan biaya apapun. Termasuk tidak memiliki Cooldown dan Casting Time. Entah itu skill tingkat rendah maupun tingkat tinggi.


Tentu saja skill sekuat ini memiliki beberapa kerugian. Salah satunya, Angie hanya bisa menggunakannya satu kali saja setiap minggunya. Dan itulah kenapa Ia sangat tak ingin bergantung dengan skill ini.


Dan dengan cepat....


'Blaaaarrr!!!'


Angie menghunuskan tombaknya tepat ke arah jantung Oliver. Dengan tombak keemasan yang kini diselimuti oleh api putih itu, Oliver mati dalam sekejap. Bahkan sesaat sebelum mengayunkan pedangnya ke arah Angie.


'Krettaakkk!'


Beberapa permata berwarna biru mulai meledak di sekitar Angie. Menjebaknya di dalam sebuah penjara perisai yang tentu saja....


Hanya dengan pukulan tangan kiri Angie, perisai itu remuk.


Tasmith segera bersiap menggunakan beberapa permata yang lain, tapi gerakan Angie terlalu cepat bagi Tasmith untuk mengikutinya.


Dan tanpa disadarinya, sebuah tombak telah membelah tubuhnya menjadi dua.


Lucien yang belum sempat bereaksi, kini telah terbebas oleh pedang di tangan kiri Angie. Menghapuskan kegelapan yang menyelimuti dunia ini.


Tentu saja....


Eric yang melihat hal itu di kejauhan segera menggigit jarinya.


"Bu-bukankah itu seperti cheat?!" Teriak Eric yang mulai berlari dari kastil itu dan menuju keluar.


Di atas kastil ini, beberapa rekan terkuatnya telah menanti perintahnya.


Termasuk salinan dari Asmodeus, Obelisk, dan juga salinan dari Slime miliknya.


"Apakah memang sekuat itu? Jujur saja aku sangat malas dalam hal ini dan...."


'Swuuusshhhh!'


Sebuah anak panah terlihat melewati pipi kanan Asmodeus yang sedang berbicara itu.


Eric mulai gemetar. Apakah saat ini Angie telah mengetahui keberadaannya?


"Oioioi.... Yang benar saja?!" Ucap Obelisk yang terlihat sedang tersenyum lebar sambil menatap ke arah langit.


Saat melihat ke langit, Eric melihat ribuan skill tingkat tinggi yang dilancarkan dengan begitu banyaknya.

__ADS_1


Ribuan sihir api tingkat tertinggi, meteor terlihat sedang dalam perjalanannya untuk menghantam seluruh dunia ini.


Begitu pula dengan skill pemanah [Arrow Rain] yang akan menembakkan ratusan anak panah ke target yang ditentukan.


Bagi Angie yang sama sekali tak membutuhkan Mana Point dan semua skillnya yang tak memiliki Cooldown selama 5 menit, tentu saja melakukan spamming menggunakan skill tingkat tertinggi adalah keputusan yang terbaik.


Jika tak bisa menemukannya, maka hancurkan saja semuanya.


Akan tetapi, penggunaan skill Transcendence yang terburuk berhasil diketahui oleh Angie.


Yaitu dengan menumpuk puluhan buff berbeda, yang setiap dari buff itu saling melipatkan satu sama lain.


Dalam sekejap, Angie tiba-tiba telah muncul tepat di hadapan kastil dimana Eric bersembunyi.


'KLAAAAANGGGGG!! KREETTAAAKKK!!!'


Obelisk yang melihatnya pertama kali segera berdiri di depan Eric sambil mengeluarkan harta sucinya. Yaitu sebuah perisai raksasa dengan warna hitam.


"Yang benar saja.... Siapa orang ini, Eric?! Aku tak pernah mendengar ada seseorang yang bisa meremukkan perisai Aegis dengan sekali tusuk?!" Teriak Obelisk sambil tersenyum lebar.


Akan tetapi, Angie melakukan spam pada skill [Pierce] yang merupakan skill tingkat menengah pada skill tree pengguna tombak.


Efeknya sederhana, yaitu mengabaikan setengah dari defense lawan dan jika terkena perisai? Memberikan 50% damage tambahan.


Satu tusukan yang dilihat oleh Obelisk barusan, adalah efek dari 6 buah skill [Pierce] sekaligus yang terkesan seperti satu buah tusukan saja.


'Yang benar saja? Menahan 6 Pierce tanpa hancur? Sialan, jika saja aku bisa mengaktifkan skill lebih cepat lagi.' Pikir Angie dalam hatinya.


Satu-satunya alasan Angie hanya mengaktifkan 6 skill Pierce adalah karena itu batasan maksimal bagi dirinya dalam 0.5 detik, sesaat sebelum mengenai target.


Jika dia mengaktifkannya terlalu awal, maka serangannya hanya akan mengenai udara. Dan jika terlalu lama, maka hanya akan sedikit yang bisa diaktifkan.


Tak hanya diam, Asmodeus segera menusukkan cakar di tangan kirinya tepat di jantung Angie. Mengambilnya hampir tanpa ekspresi.


"Aku tak paham, mananya yang kuat dari.... Hah?" Ucap Asmodeus kebingungan setelah melihat Angie telah melompat ke atas kastil ini dengan tubuh yang sama sekali tidak terluka.


Hanya bagian kecil dari zirahnya saja yang rusak karena serangan Asmodeus.


Kini, Angie berdiri di atap kastil yang sama dengan seluruh rekan terkuat Eric.


'Benar-benar gila. Dimana Eric menemukan semua orang-orang ini? Jika saja aku terlambat seperempat detik barusan, aku sudah pasti telah mati.' Ucap Angie yang memasang wajah yang tegang.


Berkat sistem dari game ini sendiri, terdapat sedikit waktu sesaat sebelum kematian benar-benar terjadi. Dimana ada animasi ketika Health Bar mulai berkurang hingga habis.


Dan karena seluruh skill Angie sama sekali tak memiliki Cooldown maupun Casting Time, dia melakukan spam skill penyembuhan sesaat setelah menyadari serangan dari Asmodeus barusan.


Hasilnya, Angie bisa selamat dari serangan yang seharusnya hampir serupa seperti instant death barusan.


Di sisi lain, Asmodeus terlihat memperhatikan jantung Angie dengan kebingungan. Ia tak percaya serangannya sama sekali tak memberikan luka pada wanita itu.


Sementara itu....


Eric sendiri mulai menggunakan seluruh skill buff untuk memperkuat dirinya sendiri. Dan bersiap, untuk menghadapi apapun yang Angie akan lakukan.


Tapi sisa waktu dari skill Angie hanyalah sekitar 3 menit saja.


Dan juga, ribuan skill meteor terlihat telah siap untuk menggempur tanah ini bersama dengan ribuan anak panah yang masih berada di langit itu.


Dengan situasi yang seperti ini, Eric benar-benar paham apa yang dimaksud Angie sebelumnya.


Bahwa bertarung dengan skala sebesar ini di dunia nyata, justru akan membuat Angie itu sendiri yang menjadi raja iblis. Dan bukannya Eric.

__ADS_1


__ADS_2