TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 317 - Pedang Tertua


__ADS_3

...Dunia Manifestasi...


...Situs Suci...


...Kuil Pertama Manusia...


"Mencoba kekuatan pedang usang itu? Tidak terimakasih. Kami hanya perlu membunuhmu." Balas Angie kepada Fransiskus.


"Sungguh disayangkan. Kalau begitu...."


Fransiskus pun dengan segera melesat ke arah para Rebellion. Kecepatan gerakannya membuat semua orang menjadi ragu atas perawakan tuanya.


'Zraaaatt!!!'


Pedang usang itu dengan cepat menebas tepat di leher Angie.


Tapi apa yang terjadi berikutnya benar-benar diluar dugaan semua orang.


Tak ada satu orang pun yang mampu bereaksi terhadap kecepatan Fransiskus. Bahkan Angie sekalipun. Mereka semua hanya bisa menganga melihat hasil dari tebasan pedang usang itu.


[Anda telah menerima 3 damage!]


"Huh? Nampaknya pedang ini memang sudah usang." Ucap Fransiskus sambil memperhatikan pedang yang penuh dengan karat itu.


Tentu saja, hal yang sudah dapat ditebak oleh siapapun. Pedang tua yang penuh karat itu tentu saja tak mungkin memberikan damage yang besar.


Tapi yang lebih mengejutkan adalah sosok Fransiskus yang memiliki kecepatan yang bahkan melebihi kemampuan Angie. Sosok pemain yang dianggap tercepat dan paling lincah dalam permainan Re:Life.


Segera setelah tebasan itu gagal, Fransiskus segera melompat mundur dan kini kembali berada di depan batu altar itu.


"Apa-apaan itu barusan?"


"Angie! Kau tidak apa?"


"Apakah kau memperoleh suatu Debuff yang berbahaya?"


Semua orang segera menanyakan kondisi Angie. Tapi orang yang dikhawatirkan oleh mereka, hanya menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Aku baik-baik saja. Pedang itu bahkan tak mampu menggores ku. Tapi...." Balas Angie dengan tubuh yang gemetar.


Setelah beberapa detik berlalu, bahkan sebelum Angie melanjutkan perkataannya, sang Uskup Agung Fransiskus segera melanjutkan aksinya.


"Maaf.... Nampaknya ini bukanlah pedang yang benar. Ijinkan aku untuk mengulangi yang sebelumnya."


Bersamaan dengan perkataan itu, Fransiskus menengadahkan kedua tangannya ke langit sambil mengucapkan beberapa hal yang tak mampu didengar bahkan dengan skill Assassin terbaik sekalipun.


Yang terjadi berikutnya....


Langit mulai berubah menjadi semakin gelap. Awan hitam mulai berkumpul di satu titik. Tepatnya berada di atas Fransiskus.


Seluruh Anggota Rebellion sadar dengan betul. Bahwa apa yang akan terjadi berikutnya adalah bencana yang sebenarnya.


Seluruh anggota Rebellion segera melaju ke arah Fransiskus. Memberikan serangan terbaiknya.


Angie sendiri telah melempar tombaknya sekuat tenaga tepat ke jantung Fransiskus.


'Jlebb!!!'


Meski menerima tusukan dari tombak itu, Fransiskus masih tetap berdiri tegak dan terus merapalkan sesuatu.

__ADS_1


"Jangan berhenti sebelum Ia benar-benar ma...."


Tapi itu semua telah terlambat.


...'DUAAAAAARRRR!!!'...


Sambaran petir yang sangat besar dan kuat mengenai tepat di lokasi Fransiskus berdiri.


Seluruh anggota Rebellion sontak menghentikan langkahnya dan melompat mundur.


Tapi apa yang ada di pandangan mereka....


"Aaah.... Ini dia yang ku maksud. Senjata suci pertama yang diberikan oleh Dewi Celestine kepada umat manusia." Ucap Fransiskus sambil mengangkat sebilah pedang.


Meski begitu, menyebutnya sebagai pedang juga kurang tepat. Itu semua karena pedang yang dibawa oleh Fransiskus memiliki wujud yang diselimuti oleh cahaya keemasan yang begitu terang. Hanya membentuk siluet pedang tanpa diketahui wujud asli dibalik cahaya yang begitu terang itu.


"Sekarang, mari kita mulai kembali."


Uskup Agung itu mengayunkan pedang cahaya itu secara perlahan ke tombak yang menusuk jantungnya.


Seakan sedang memotong mentega, pedang cahaya itu sama sekali tak kesulitan untuk memotong tombak tingkat legendaris yang dilemparkan oleh Angie.


Parahnya lagi, tombak itu seketika meleleh dan mulai pecah menjadi serpihan cahaya putih. Menandakan bahwa senjata itu telah mencapai nilai terendah dalam poin durabilitasnya. Hasilnya? Tentu saja senjata itu akan hilang selamanya.


"Ini buruk.... Aku tak menyangka bahwa...."


"Melamun di tengah pertarungan, Nona Muda?" Tanya Fransiskus yang secata tiba-tiba berada di hadapan Angie. Menusukkan pedang cahaya itu tepat ke arahnya.


Bahkan belum sempat untuk terkejut. Angie yang memiliki refleks yang sangat tinggi itu sekalipun tak mampu untuk bergerak.


'Zraaaatt!!!'


"Hmm.... Kemampuan yang menarik."


"Eh?"


Keadaan yang terjadi saat ini sungguh aneh.


Pedang cahaya yang seharusnya telah menembus jantung Angie itu, justru seakan terpotong oleh sesuatu dan menghilang di tengahnya.


Tapi lebih anehnya lagi, pedang cahaya itu muncul kembali dari belakang tubuh Fransiskus. Menusuknya tepat di jantungnya sendiri.


"Guurrgh...."


Sang Uskup Agung memuntahkan cukup banyak darah setelah menerima serangan mematikannya sendiri.


Sorot matanya melirik ke penyebab dari kejadian ini.


"Jadi di jaman ini, kemampuan terkutuk itu jatuh ke tangan manusia, ya? Terlebih lagi menyamarkannya sehingga tak mampu dilihat oleh mata.... Sunggu...."


'Bruukk!'


Fransiskus segera terjatuh ke tanah sebelum sempat menyelesaikan perkataannya. Sebagian besar dadanya telah meleleh berkat kekuatan pedang cahaya itu. Menguras habis Health Point miliknya sendiri.


Sementara sang Uskup Agung menerima nasib yang cukup sial, Angie segera menoleh ke arah Luna.


"Terimakasih.... Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika...." Ucapnya sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Bukan hal yang besar. Lagipula kemampuan ini tidak memakan begitu banyak Mana Point." Balas Luna sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Buahahaha! Apanya Uskup Agung! Membunuhnya hanya dengan satu skill milik Luna!"


"Mati dengan senjatanya sendiri. Sungguh akhir yang sangat bodoh."


"Meski begitu, pihak kita juga menderita banyak sekali kerugian. Tombak legendaris milik Angie hancur, membuat kita kehilangan cukup banyak daya tempur."


"Kau benar. Tapi bahas itu nanti saja. Sekarang mari kita bereska...."


Sebelum mampu mengakhiri perkataan terakhirnya, Miyamoto menghentikan seluruh kegiatannya.


Ia merasakan firasat yang sangat buruk dengan situasi yang saat ini sedang mereka hadapi.


Dan situasi itu....


"Kenapa.... Tubuhnya masih ada disini?" Ucap Miyamoto melanjutkan perkataannya sambil melihat sosok Uskup Agung yang masih terkapar di atas rumput itu.


"Minggir. Biar ku periksa." Balas Luna sambil mengeluarkan item identifikasi miliknya.


Setelah beberapa saat melakukan identifikasi terhadap tubuh Fransiskus, Luna memberikan kesimpulan yang jauh lebih mengerikan lagi.


"Dia.... Sudah memiliki 0 Health Point. Dengan kata lain.... Sudah mati."


"Lalu kenapa tubuhnya masih ada disini! Bukankah NPC dan Player akan berubah menjadi cahaya putih jika mereka mati?!"


"Jangan bilang bahwa game ini memiliki Bug?"


Di tengah panasnya perdebatan mereka semua, Luna menyadari satu hal yang sangat sederhana.


"Hei Angie. Kenapa sejak tadi kau diam saja?"


Bahkan mendengar pertanyaan itu sekalipun, Angie masih terdiam dengan mulut yang terbuka lebar dan mata yang dipenuhi dengan rasa ngeri.


Tangan kanannya secara perlahan terangkat ke atas dan menunjuk ke suatu arah. Yaitu altar yang terbuat dari batu di atas bukit dengan pedang usang yang menancap di tengahnya.


Merasa bingung dan penasaran di saat yang sama, Luna pun segera mengalihkan pandangannya ke arah yang dimaksud.


Tapi seluruh harapannya seketika runtuh.


Semua pertanyaan yang sebelumnya dianggap sebagai misteri, kini hanya menjadi semakin buruk.


Kedua matanya terbuka lebar seakan tak bisa mempercayai situasi yang saat ini sedang terjadi.


Itu karena....


Di depan altar batu itu, terlihat sosok seorang Pria tua dengan jubah putih dengan corak emas dan lambang cahaya.


Pada tangan kanannya, terlihat sebuah senjata yang berupa pedang tua yang sudah usang dan berkarat.


Sedangkan di samping tubuhnya terlihat sebuah siluet pedang dengan pancaran cahaya emas yang cukup terang menancap di tanah.


Pria tua itu nampak sedang membersihkan pedang berkarat itu dengan jubahnya.


Tapi setelah tahu bahwa sebagian besar anggota kelompok Rebellion mulai melihat dirinya, Ia pun mulai berbicara.


"Apakah perayaan kemenangan kalian sudah selesai? Kalau begitu...."


Pria tua yang identitasnya merupakan Uskup Agung Fransiskus itu mulai berdiri. Ia nampak mengembalikan pedang usang itu ke altar dan mengambil pedang cahaya.


Setelah beberapa saat....

__ADS_1


"Mari kita lanjutkan. Sampai mana tadi?"


__ADS_2