
...Dunia Manusia...
...Ibukota Kerajaan Suci Celestine...
...Celestia...
Di hadapan gerbang yang begitu megah itu, terdapat 12 orang yang menyerbu secara paksa.
Mereka semua mengenakan perlengkapan yang berbeda-beda, menunjukkan bahwa setiap orangnya memiliki ciri khas dan kemampuan tersendiri.
Akan tetapi, mereka memiliki sebuah kesamaan. Yaitu warna utama pada perlengkapan mereka adalah hitam dengan alur keemasan. Ditambah dengan lambang kepala naga yang tertusuk oleh berbagai jenis senjata.
'Blaaaarrrr!!!'
Sang penyihir Luna dengan segera melepaskan sihir api tingkat tinggi yang mampu menghempaskan gerbang itu dengan mudah. Tak hanya gerbang, tapi juga semua yang ada di balik gerbang itu ikut terhempas.
Bukan tanpa alasan. Tapi itu semua dikarenakan Iveria, sang wanita penyihir dengan kemampuan Enchantress memberikan buff yang besar kepada Luna.
Terlebih lagi Axius yang merupakan spesialis sihir skala besar itu memberikan tambahan sihir angin. Meningkatkan kekuatan sihir api yang sebelumnya digunakan oleh Luna.
"Lariiiii!!!"
"Tidak! Aku tidak ingin mati!"
"Apa-apaan ini?! Dimana para Inquisitor? Dimana para Ksatria Suci?"
Seluruh penduduk di Kota itu, baik NPC maupun Player segera berteriak dengan histeris karena peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba ini.
Salah seorang MeTuber yang kebetulan ada di dalam kota, menghadap ke gerbang itu pun segera menyalakan kameranya.
Apa yang ditangkap oleh kamera hologram itu adalah sebuah pemandangan yang sangat epik di satu sisi. Tapi juga sangat mengerikan di sisi lain.
Dua belas orang terlihat berjalan dengan tenang melewati kobaran api yang sangat besar itu.
Di bagian tengah, terlihat dua orang Pria yang membawa sebuah Panji dengan lambang kepala naga yang tertusuk oleh berbagai jenis senjata.
Mereka berdua adalah Ilham dan juga Grund.
Sedangkan yang berada diantara mereka berdua, terlihat sosok seorang wanita dengan rambut pirang yang nampak begitu liar. Penampilannya yang hampir dipenuhi dengan zirah itu menjadi semakin mengerikan dengan tombak di tangan kirinya dan sebilah pedang di tangan kanannya.
Segera setelah Ilham dan juga Grund menancapkan Panji itu ke tanah di hadapan api itu, sang Wanita berambut pirang yaitu Angie mulai berteriak dengan lantang.
"Saat ini, Celestia adalah milik kami, Rebellion! Bagi siapapun yang menentang keputusan ini silakan maju dan serahkan nyawa kalian!"
Tapi berkebalikan dengan perkataannya itu, seluruh Anggota Rebellion dengan segera menyebar dan membentuk kelompok sebanyak 4 kelompok. Atau 3 orang dalam setiap kelompoknya.
Mereka semua menuju ke empat buah gerbang utama yang ada di kota ini dengan memanfaatkan skill [Portal] milik Luna.
Dengan kata lain....
Mereka berencana untuk membantai semua yang ada di dalam kota ini tanpa menyisakan satu orang pun.
Dan korban pertama mereka adalah sang MeTuber yang sempat merekam kedatangan party Rebellion itu.
__ADS_1
...***...
...Dunia Nyata...
...[Berita terbaru!]...
...[Sebuah kelompok dengan anggota 12 orang telah menduduki Ibukota Kerajaan Celestine, Celestia!]...
...[Semua itu terjadi pada saat seluruh Ksatria suci dan juga Inquisitor berusaha menaklukkan persembunyian Raja Iblis Eric!]...
...[Apakah ini artinya mereka memiliki hubungan dengan Eric?]...
'Sluuurrrp....'
"Hmm.... Apa yang terjadi selama aku tidak bisa bermain?" Ucap Elin sambil menonton berita di televisi itu dengan semangkuk mie di hadapannya.
Kini ia telah hampir memasuki bulan ke 9 dalam masa kehamilannya. Dengan kata lain hanya menunggu beberapa saat hingga Ia akhirnya melahirkan anak pertamanya.
Meski begitu, pikirannya justru teralihkan pada tempat yang lain. Yaitu Re:Life.
'Jika dipikirkan kembali.... Kami berdua memang tak bisa terlepas dari permainan ini, ya?' Ucap Elin dalam hatinya sambil terus menonton berita itu.
Tanpa Ia sadari, waktu telah berlalu cukup panjang. Hingga akhirnya, hanya tersisa dirinya sendiri di rumah ini.
Adik iparnya yaitu Rina telah lama berangkat sekolah.
Sedangkan ayah dan ibu mertuanya telah pergi ke kantor untuk membantu pengelolaan bisnis Eric.
Elin pun segera berjalan secara perlahan ke arah kamarnya. Memperhatikan sebuah kapsul di sudut ruangan itu.
"Eric.... Kuharap kau baik-baik saja disana."
...***...
...Dunia Iblis...
...Lembah Kematian...
Di dalam sebuah lembah yang gelap dan dipenuhi dengan monster bertipe 'Undead' ini, terlihat sosok Eric yang terus menerus mengayunkan pedangnya.
'Zraaaatt!!! Sraaassshh!!!'
Setiap ayunannya mampu membunuh Undead dengan level di atas 400 itu dengan mudah. Hal yang wajar karena level Eric yang kini mencapai angka 503.
Akan tetapi, ada hal lain yang dipikirkannya.
'Cepat atau lambat, melakukan leveling seperti ini akan semakin tidak berguna. Aku harus segera menemukan tempat aman dan melakukan Ascension untuk meningkatkan Growth Statusku.' Pikir Eric dalam hatinya sambil terus menerus berlari dan membantai lawan yang ada di hadapannya.
Tapi sebaik apapun Ia mengayunkan pedangnya, sehebat apapun sihir yang dilontarkan olehnya, Eric sama sekali tak bisa lepas dari Lembah Kematian ini.
Berapapun Undead yang dibunuhnya, hasilnya tetap sama saja. Bahkan jauh lebih buruk.
Jumlah Undead yang ada di sekitar Eric justru bertambah dengan sangat pesat.
__ADS_1
Undead yang awalnya hanya ada puluhan, kini telah mencapai angka ribuan. Dan semuanya mengincar kepala Eric.
'Yang benar saja.... Darimana mereka berasal? Kalau begini caranya....'
Eric pun memutuskan untuk melakukan [Ascension] di tengah pertarungan ini. Mengorbankan 400 levelnya untuk memperoleh 16 Growth Point.
Tubuhnya mulai diselimuti dengan cahaya emas yang indah. Meski begitu, Eric masih terus bertarung melawan Undead yang setiap cakar maupun gigitannya mampu menguras 20% Health Point Eric.
Cahaya emas itu mulai menjadi semakin terang dan pada akhirnya menghilang seluruhnya seakan terserap oleh tubuh Eric.
Ia dengan cepat menekan berbagai macam tombol di jendela menu dihadapannya dengan tangan kiri. Meletakkan seluruh poin yang Ia peroleh ke dalam Stamina.
Alasannya sangat sederhana.
Hal terburuk yang bisa terjadi saat ini adalah dirinya yang kehabisan stamina dan memperoleh Debuff [Fatigue] yang menurunkan seluruh statusnya.
"Kraaaaaaaa!!!"
Teriakan para Undead itu mulai memekikkan telinga.
Beberapa diantaranya nampak memiliki sayap yang terbentuk dari tulang dan kulit yang robek.
Mereka menyerang Eric dari atas dan berterbangan di atas lembah ini untuk mencegah dirinya kabur.
"Memuakkan sekali. Tapi aku sangat senang dengan Experience Point gratis yang kalian berikan. Self Destruct!" Teriak Eric dengan tenang.
Seluruh tubuhnya telah dikelilingi oleh Undead.
Dari celah yang ada dari tumpukan Undead itu, terlihat cahaya merah yang cukup redup dan mulai semakin terang.
Bersamaan dengan itu, ledakan yang besar pun terjadi dengan Eric sebagai pusatnya.
'BLAAAAAAAARRRRRR!!!'
Ledakan itu tak hanya menyapu bersih seluruh Undead yang mengelilinginya. Tapi juga batuan di sekitar lembah itu yang kini menjadi berlubang dengan bentuk lingkaran itu.
Di hadapan pandangan Eric, terlihat notifikasi yang sangat menggembirakan.
[Anda telah naik level!]
[Anda telah naik level!]
[Anda telah naik level!]
[Anda telah .... ]
[Kini Anda telah mencapai level 287!]
Hanya dalam hitungan detik, Eric memperoleh 184 level dengan begitu mudahnya. Seakan membuat para Official Ranker yang mendedikasikan hidupnya untuk leveling hanya bermain-main saja.
"Bagus.... Sekarang, ronde kedua." Ucap Eric sambil menggunakan skill [Heal] untuk menyembuhkan efek samping dari [Self Destruct] yang barusan Ia gunakan itu.
Kini di sekitarnya, nampak ribuan Undead baru yang seakan-akan siap untuk menyerahkan EXP gratis kepada Eric.
__ADS_1