
"Obelisk...."
Eric menatap ke arah Pria itu dengan tatapan yang terlihat cukup lega dan juga bahagia.
Apapun yang akan dilakukan Obelisk berikutnya, baik merugikan atau menguntungkannya, Eric sama sekali takkan memprotesnya.
Bagaimanapun, berkat Obelisk itu lah Eric bisa berdiri saat ini disini. Dengan semua kekuatan di dunia virtual dan juga kekayaan di dunia nyata.
Hanya saja....
"Eric! Kenapa pria ini ada disini?! Dia itu orang yang jahat! Sangat jahat!" Teriak Deus dengan kesal. Sikapnya seketika kembali ke arah sifatnya yang dulu di kenalnya.
Sebagai sosok Ratu Iblis yang kuat namun cukup menjengkelkan. Tapi sikap itulah yang membuat Eric senang.
"Fufufu.... Jadi ini kah sosok yang meminjamkan kekuatannya pada Tuan Eric? Sangat menjanjikan! Aaah! Aku merasakan kekuatan kegelapan yang besar!" Teriak Lucien sambil membuat pose yang aneh seperti biasanya.
Keramaian mulai memenuhi istana ini. Dengan seluruh prajurit yang nampak kebingungan terhadap aksi mereka.
Di sisi lain, Obelisk terlihat berjalan ke arah Eric. Zirah keemasannya yang indah itu terlihat cukup menarik perhatian semua orang di tempat ini.
"Eric, katakan padaku. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanya Obelisk sambil meletakkan lengannya di sisi samping singgasana itu. Sikapnya terlihat begitu santai dengan senyuman yang tak pernah menghilang dari wajahnya.
"Kurasa aku akan menyerang dunia manusia dan menguasai semuanya." Balas Eric singkat sambil menatap ke arah mata Obelisk.
Ia berpikir, mungkin Obelisk akan menolak ide itu mengingat bahwa dirinya adalah seorang mantan pahlawan di dunia manusia.
Akan tetapi, jawaban yang diberikannya jauh berbeda dari ekspektasi Eric.
Senyuman Obelisk nampak menjadi semakin lebar. Memamerkan sedikit giginya.
"Menyerang dunia manusia kau bilang? Kau yakin dengan itu?" Tanya Obelisk dengan wajah yang terlihat begitu senang.
"Aku sangat yakin. Terlebih lagi, itu mungkin adalah tujuan terakhirku." Balas Eric.
"Buahahaha!!!"
Obelisk dengan segera tertawa dengan keras. Tawanya yang keras itu menyita perhatian banyak orang, termasuk Deus yang sedari tadi masih meributkan mengenai sosok Obelisk itu.
"Lihat kan?! Dia orang yang jahat! Jangan percaya padanya!" Teriak Deus dengan penuh semangat.
__ADS_1
Tapi Eric hanya mengacuhkannya. Ia fokus untuk menunggu apa jawaban dari Obelisk.
Setelah beberapa saat, tawanya pun terhenti. Dan dengan wajahnya yang sangat serius itu, senyumannya terlihat begitu lebar.
"Aku ikut! Terdengar sangat menyenangkan untuk menggunakan seluruh kekuatanku setelah sekian lama!" Balas Obelisk.
Semua orang pun terdiam. Termasuk Deus yang sebelumnya terus mempeributkan mengenai Obelisk.
"Dan kau, vampir kecil. Kuharap kau sedikit memberikan kontribusi pada perang ini." Ucap Obelisk sambil melirik ke arah Deus.
Perkataannya memang tak sepenuhnya salah. Karena Deus sendiri memiliki tubuh yang sedikit kecil dan sedikit pendek.
Akan tetapi, memanggil salah satu Raja Iblis kuno sebagai vampir kecil....
'Obelisk, seberapa percaya dirinya kau?' Tanya Eric dalam hatinya.
Tapi pertanyaan itu segera terjawab setelah Eric melihat status Obelisk melalui skillnya.
Apa yang ada di balik kepercayaan diri dan kesombongan yang seakan tak mengenal batas itu, Eric melihat suatu hal yang dapat dikatakan melampaui batasan akal sehat.
Sosok Obelisk itu memiliki status yang setidaknya 3 kali lipat lebih tinggi daripada Deus. Bahkan dalam kondisi dirinya yang belum mengenakan seluruh artifaknya yang tersimpan itu.
Atau lebih tepatnya....
Ia masih tak bisa percaya, bahwa NPC sekuat itu akan menjadi rekannya dan bertarung bersamanya.
"Kau panggil aku apa?! Setidaknya aku tak mengkhianati rasku untuk kekuatan sepertimu!" Balas Deus.
"Hahaha! Masih membicarakan soal itu? Setidaknya aku memiliki kekuatan untuk membuktikan semua perkataanku!" Balas Obelisk.
Keramaian itu pun terus berlanjut selama beberapa saat. Hingga akhirnya, semua orang pergi untuk beristirahat sejenak dan mempersiapkan diri mereka terlebih dahulu.
Sedangkan Eric berjalan mengikuti Obelisk pergi ke arah reruntuhannya di padang pasir itu dengan menggunakan lingkaran sihir teleportasi. Lucien mengikuti langkah Eric seperti yang sebelumnya selalu dilakukannya.
Sesampainya di reruntuhan Obelisk....
"Berapa kali pun aku melihat sihir teleportasi ini, aku hanya bisa takjub. Sebuah sihir sederhana yang sangat berguna." Ucap Obelisk sambil tersenyum dan memandangi reruntuhan ini.
"Apakah kau tak bisa membuatnya?" Tanya Eric.
__ADS_1
Obelisk hanya menggelengkan kepalanya dengan ringan sambil menjawab.
"Tidak. Aku tak memiliki banyak trik seperti dirimu saat ini. Tapi setidaknya, aku punya cukup artifak untuk memaksakan seluruh keinginanku dengan kekuatan." Balas Obelisk singkat.
Setelah beberapa saat, mereka bertiga akhirnya tiba di sebuah ruangan yang begitu besar dan megah. Ruangan itu tak lain adalah ruang tahta dari seluruh kuil ini.
Obelisk terlihat berjalan ke arah singgasana yang telah runtuh itu.
Bukan untuk duduk.
Tapi Ia meletakkan tangannya di bagian belakang dari singgasana emas itu. Setelah beberapa saat, goncangan yang besar terjadi di dalam ruangan ini. Seakan bumi akan terbelah kapan saja.
Dan itu memang benar. Lantai tempat mereka berpijak, kini membelah menjadi 4 bagian. Sedangkan di bagian tengahnya, terdapat sebuah peti dengan bentuk yang begitu indah muncul dari bawah tanah secara perlahan.
Peti yang terlihat berdiri itu seketika terbuka secara perlahan. Memperlihatkan artifak yang ada di dalamnya.
"Lihat lah, Eric. Ini adalah artifak terbaik milikku." Ucap Obelisk sambil berjalan mendekatinya.
Eric yang melihatnya hanya bisa terpana. Ia tak bisa mempercayai keindahan yang ada di hadapannya.
Sebuah pedang dengan bilah putih yang terlihat begitu cerah dan bersih. Di bagian tengahnya, terdapat 12 huruf dengan warna biru yang menyala. Huruf itu memiliki bentuk yang aneh dan tak bisa di baca.
Sedangkan pada bagian pegangannya terlihat terbuat dari emas. Dengan ukiran yang indah dan pembatas antara pegangan dan bilah yang membentuk seperti sebuah sayap dengan warna emas dan perak yang indah.
Ukuran dari pedang itu sendiri sama seperti pedang satu tangan. Dengan panjang bilah yang hanya sepanjang 1.05 meter dengan lebar bilah yang hanya sekitar 15 cm.
Bilah itu sendiri sedikit tebal di tengah tapi sangat tipis dan tajam di bagian ujung di kedua sisinya.
Sebelum Eric sempat berkomentar lebih lanjut, Obelisk melanjutkan perkataannya.
"Heaven's Gate. Itu adalah salah satu artifak yang berada di ranah surgawi. Kekuatannya takkan bisa disaingi oleh apapun yang bukan merupakan artifak dewa seperti pedang itu sendiri." Jelas Obelisk.
'Artifak milik dewa?! Pedang ini?!' Teriak Eric dalam hatinya.
"Ambil lah. Aku tahu kau adalah seorang penyihir. Tapi kau takkan tahu kapan kau akan membutuhkannya." Lanjut Obelisk.
"Eh?! Aku yang menggunakannya?" Tanya Eric.
"Tentu saja. Aku tak membutuhkan satu artifak yang kuat untuk bertarung. Semua artifak rendahan milikku yang lain sudah cukup. Anggap saja, sebagai salah satu ucapan terimakasih ku untuk membangkitkan ku kembali." Balas Obelisk.
__ADS_1
Eric tahu apa yang dimaksud oleh Obelisk. Ia bisa saja tak membangkitkan nya. Tapi Eric memilih untuk tetap membangkitkan Obelisk tanpa banyak mempertanyakan mengenai potensi bahaya yang mungkin akan dihadapinya.
Dan dengan itu, Eric memperoleh salah satu item terkuat yang ada di dalam game. Sebuah item yang terpendam dalam kuil ini. Yang hanya bisa diperolehnya setelah membangkitkan Obelisk kembali.