TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 397 - Jalan Tengah


__ADS_3

"Dan kira-kira seperti itulah gagasan dari saya mengenai penambangan yang mungkin bisa dibuat." Jelas Direktur dari Perusahaan Penambangan di Papua itu kepada semua orang.


Berbagai petinggi dari Grandia Group, termasuk Eric mendengarkannya secara seksama. Terutama Eric itu sendiri terlihat memikirkan hal ini dengan serius.


Ia mengangkat tangan kanannya untuk meminta izin mengajukan sebuah pertanyaan.


"Silakan Tuan Eric." Balas Direktur itu yang memiliki kulit cukup gelap dengan rambut pendek yang keriting.


Eric terlihat mengangkat kertas yang ada di hadapannya, dimana pada kertas itu telah berisi banyak sekali poin-poin penting yang baru saja disampaikan padanya.


"Pertama-tama, aku mewakili Grandia Group merasa sangat terhormat atas kehadiran Anda disini. Tapi ada satu hal yang ingin ku pastikan. Kau bilang lokasi ini sangat kaya akan emas, apakah benar begitu?" Tanya Eric dengan wajah yang terlihat begitu serius.


"Itu benar sekali Tuan Eric. Total emas yang terbenam di tempat itu diperkirakan oleh para ahli mencapai 20 ton atau lebih." Jelas Direktur itu.


Eric terlihat mencoret-coret kertasnya sambil menghitung sesuatu. Bersamaan dengan itu, Ia juga berbicara.


"Katakan kita bisa mengambil 20 ton itu, dengan harga per kg emas mencapai 80.000$, maka kita akan memiliki potensi pendapatan sebesar 1.6 Milyar USD. Atau yang lebih mudah kita cerna, sekitar 16 Triliun Rupiah.


Dengan modal yang kau anggarkan mencapai angka 6 Triliun mulai dari membeli tanah dan berbagai perlengkapan yang ada, belum termasuk biaya operasional, kita akan memiliki potensi keuntungan sebesar 10 Triliun Rupiah. Benar begitu?" Tanya Eric untuk memastikannya kembali.


Direktur dari Papua itu pun mulai gugup mengenai apa yang baru saja dijelaskan oleh Eric. Segera setelah menelan ludahnya sendiri, Ia pun segera menjawab.


"I-itu benar.... Tuan Eric." Balas Direktur itu dengan gugup.


Eric pun mengalihkan pandangannya ke arah Lisa yang berdiri di samping Direktur itu.


"Lisa. Berapa biaya operasional dan keuntungan yang diperoleh dari pabrik Droid yang telah kita buat?" Tanya Eric singkat.


Lisa terlihat menekan beberapa tombol di tabletnya dan mulai menjawab.


"Dengan biaya operasional sebesar 8.72 Triliun Rupiah per tahun, serta modal awal sebesar 10 Triliun Rupiah, kita memperoleh keuntungan bersih sebesar 14.7 Triliun Rupiah pertahunnya." Jelas Lisa.


"Terimakasih." Balas Eric singkat sambil segera mengalihkan kembali perhatiannya ke arah Direktur itu.


Keheningan terjadi dalam ruangan ini berkat perkataan Eric dan juga Lisa.


Tapi semua eksekutif atau petinggi Grandia Group telah memahami Eric sepenuhnya. Dan kenyataan bahwa Ia membutuhkan lebih banyak uang untuk membantu pembangunan nasional di negara ini.


Mereka pun sepakat dengan pendapat Eric meskipun belum diutarakan olehnya.


"Bukan maksudku untuk menolak investasi ke dalam perusahaanmu, Tuan Direktur. Tapi usaha itu sendiri terlihat kurang realistis dalam pandangan kami." Ucap Eric untuk menolak permintaan mereka dengan halus.


Wajah sang direktur perusahaan pertambangan itu pun mulai menghadap ke tanah. Begitu pula dengan para petinggi mereka yang ikut serta dalam acara ini.


Tapi tanpa diduga....

__ADS_1


"Kenapa kalian menatap ke tanah? Aku tidak pernah bilang untuk menolak investasi ke dalam perusahaan kalian. Hanya saja ide itu kurang realistis bagiku. Lisa, berikan penjelasan mengenai rencana pengembangan D-006." Ucap Eric sambil kembali duduk dengan santai di kursi itu.


Lisa yang mendengar perkataan dari Eric pun terlihat tersenyum lebar. Seakan bersyukur bahwa Eric memilih cara ini.


"Baik, Tuan Eric. Rencana pengembangan D-006 adalah sebuah rencana ekspansi pabrik mesin dan Droid skala besar di wilayah Indonesia. Kami telah memiliki sumberdaya yang lebih dari cukup.


Tapi memperoleh tanah lapang yang luas tak cukup hanya dengan menggunakan uang. Dengan kata lain, Tuan Eric ingin mengajukan sebuah tawaran kepada Anda untuk menyerahkan setidaknya 60% tanah yang akan digunakan sebagai lokasi penambangan untuk dijadikan sebagai sebuah pabrik mesin dan Droid.


Tentu saja, kami akan memberikan bayaran ganti rugi dan tetap memberikan investasinya. Sedangkan untuk keuntungan penambangan yang kalian peroleh, bisa kalian simpan sendiri. Apakah benar begitu, Tuan Eric?" Tanya Lisa sambil membuat senyuman yang begitu manis.


Eric yang mendengar pertanyaan itu pun segera mengangguk dan memberikan sebuah jempol.


Seketika, wajah sang Direktur perusahaan penambangan itu pun mulai bersinar. Kedua matanya berbinar karena siraman investasi yang jauh diluar nalar mereka itu.


"Tuan Eric.... Anda serius dengan ini?" Tanya Direktur itu seakan tak mampu mempercayainya.


"Tentu saja serius. Untuk apa aku bermain-main dengan kalian. Kalian semua juga setuju kan?" Tanya Eric kepada para eksekutif Grandia Group. Dimana mereka dengan segera menganggukkan kepala mereka atau merespon dengan kata-kata setuju secara langsung.


"Sekarang segera persiapkan pembangunan kalian. Aku tak ingin melihat uangku duduk diam dan tidak melakukan apapun disana." Lanjut Eric yang sambil segera berdiri ke arah sang Direktur itu berada.


Ia mengulurkan tangan kanannya seakan meminta untuk berjabat tangan. Tanpa ragu, sang Direktur penambangan itu pun menjabat tangan Eric.


Segera setelah itu, dokumen perjanjian antara kedua belah pihak pun ditandatangani. Dengan keduanya memegang surat perjanjian itu sambil difoto oleh kedua belah pihak.




Eric akan memperoleh hak untuk memiliki kekuasaan penuh terhadap sebagian tanah yang dimiliki oleh perusahaan itu.




Eric akan membiayai seluruh kebutuhan investasi awal dari pendirian tambang itu. Termasuk biaya untuk mengganti tanah yang dikuasainya.




Eric tidak akan memberikan bantuan operasional kepada Perusahaan Pertambangan itu. Seluruh biaya sepenuhnya ditanggung oleh mereka sendiri.



__ADS_1


Eric tidak akan menerima satu rupiah pun dari keuntungan yang diperoleh dalam pertambangan itu. Semua keuntungan akan dikuasai oleh mereka sendiri.




Ketika terjadi suatu masalah dalam poin nomor 1, maka Perusahaan Pertambangan yang bersangkutan wajib untuk memberikan dukungan penuh kepada Grandia Group. Termasuk mengukuhkan kepemilikan tanah tersebut oleh Grandia Group.




Dengan perjanjian itulah, kedua belah pihak sama-sama diuntungkan.


Dan akhirnya, rapat pun selesai dengan senyuman.


"Hah.... Melelahkan sekali." Ucap Eric yang kembali duduk di ruang tunggu itu.


Semua petinggi yang ada telah lama pergi. Begitu pula dengan tamu yang hadir. Menyisakan Eric hanya berdua di dalam ruangan ini dengan Lisa.


Matahari telah lama terbenam, jam telah menunjukkan angka 22.08


"Tuan Eric, terimakasih banyak atas kerja kerasnya hari ini." Ucap Lisa sambil membawakan secangkir kopi kepadanya.


"Aah, terimakasih juga padamu, Lisa." Balas Eric yang segera meneguk kopi yang masih panas itu.


Lisa dengan segera duduk di sebelah Eric. Sikapnya terlihat sedikit gelisah. Seakan tak lagi bisa bersantai seperti biasanya.


"Ada apa? Apakah ada sesuatu yang salah?" Tanya Eric sambil melirik Lisa yang duduk dekat dengannya.


Akan tetapi....


'Srruugg!'


Lisa hanya semakin mendekat dan memeluk lengan kiri Eric dengan kedua tangannya.


"Tuan Eric.... Perbolehkan aku melakukan ini selama beberapa saat...." Ucap Lisa yang terlihat begitu mengantuk.


Eric yang melihatnya hanya tersenyum dan kembali menikmati kopinya.


Segera setelah Lisa tertidur, Eric segera berdiri secara perlahan sambil mengambil sebuah selimut yang ada dalam ruang istirahat ini. Eric pun mengenakan selimut itu padanya.


Tak ingin sedikitpun untuk mengganggu tidurnya, Eric segera meninggalkan ruang istirahat ini secara perlahan.


Termasuk mengunci pintu itu dan melemparkannya kembali ke dalam ruangan.

__ADS_1


__ADS_2