
...Dunia Nyata...
...Kantor Utama Grandia Group...
Di tengah sebuah ruangan yang cukup megah dengan desain futuristik itu, terlihat sosok seorang Pria dengan rambut pendek yang rapi sedang membungkuk kepada Pria lain.
Pria itu memiliki rambut yang cukup panjang dan diikat dengan rapi. Meningkatkan kesan sangar pada dirinya.
"Eric.... Maafkan aku. Aku tak bisa menahannya." Ucap Pria berambut pendek yang tak lain dan tak bukan adalah Arlond. Pemain yang berasal dari Malaysia dan menjadi Raja dari Kerajaan Farna.
Mendengar hal itu, Eric dengan segera berdiri dan berjalan mendekati Arlond.
'Puk....'
Eric menepuk pundak Arlond secara perlahan sambil berkata.
"Untuk apa? Bukankah seluruh dunia memusuhi kita? Hal yang wajar untuk kalah. Tapi lebih tepatnya jika dibilang bahwa kita menang." Ucap Eric sambil tersenyum.
Arlond pun kebingungan mendengar perkataan Eric. Kenapa Ia nampak begitu tenang meskipun seluruh kerajaan yang dibangun olehnya dengan modal yang begitu besar itu runtuh begitu saja.
Arlond masih terdiam sambil memperhatikan sosok Eric yang tersenyum sambil memandang ke arah kanannya.
Segera setelah itu, Arlond baru menyadarinya.
Ada dua buah bukti yang memperkuat pemikirannya itu.
Yang pertama adalah kenyataan bahwa Eric tak mampu menatap mata Arlond secara langsung. Menyembunyikan wajahnya.
Kemudian yang kedua.... Tepukan ringan Eric di pindah Arlond sebelumnya, kini telah menjadi cengkeraman yang sangat kuat hingga membuat Arlond merasa kesakitan.
'Tentu saja.... Apa yang ku pikirkan? Ikhlas menerima kenyataan bahwa dirinya mengalami kerugian dan kekalahan sebesar itu? Itu tidak mungkin.... Dengan kata lain, orang yang paling kesal dengan kekalahan ini adalah Eric sendiri.' Pikir Arlond dalam hatinya sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.
"Tegakkan dirimu, Arlond. Kita harus membalaskan kekalahan ini. Apakah kau setuju denganku?" Ucap Eric secara tiba-tiba sambil mengulurkan tangan kanannya.
Arlond pun dengan segera menjabat tangan kanan Eric.
"Terimakasih banyak, Eric.... Aku akan berusaha sebaik mungkin."
"Ah, maaf! Tapi tidak sekarang! Istriku sedang berada di rumah sakit, bersiap untuk melahirkan. Kau harus ikut!" Teriak Eric sambil menarik Arlond dengan cepat.
"Eeeh?! A-apa maksudnya dengan...."
...***...
...Rumah Sakit Internasional Yogyakarta...
Di tengah rumah sakit yang sangat besar dan luas ini, beberapa perawat, dokter, pegawai, pasien dan juga pengunjung nampak berjalan kesana kemari. Meski begitu, masih memberikan ruang yang cukup luas untuk bergerak.
"Dokter. Bagaimana kondisi istriku?" Tanya Eric sambil berjalan diikuti oleh adiknya, kedua orangtuanya, Arlond, dan juga Rendy.
Sang dokter yang berjalan di samping Eric pun segera menjelaskan situasi dan kondisi kesehatan Elin.
__ADS_1
Sungguh sebuah keajaiban....
Sama sekali tak di sangka oleh kebanyakan orang....
Bahwa Eric mampu memahami istilah rumit dari kedokteran dengan mudahnya.
Akan tetapi seluruh keluarga dan orang terdekatnya telah tahu. Bahwa siapapun yang mengenali hanya Eric yang sekarang, takkan percaya bahwa dia adalah orang yang sama yang memperoleh nilai terendah di Kota nya pada saat Ujian Akhir masa SMA.
Setelah perbincangan yang terus berlangsung sambil mereka berjalan ke arah ruangan dimana Elin masih beristirahat, Eric pun akhirnya mulai berbicara bahasa yang mampu dipahami manusia biasa.
"Syukurlah.... Aku senang mendengar bahwa kondisi istriku baik-baik saja."
Beberapa jam Eric dan orang terdekatnya menunggu dengan tenang. Di dalam ruangan.
Sesekali Eric terlihat membelai Elin yang masih terbaring di ranjang itu.
Di saat semua orang sedang tidur siang....
"Eric.... Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Kau tahu bahwa kau akan menjadi seorang Ayah kan?" Ucap Elin sambil menatap mata Eric dengan tenang.
Sebuah pertanyaan yang sederhana. Siapapun tentu bisa menjawabnya setelah memutuskan untuk menjalin hubungan pernikahan dengan seseorang.
Akan tetapi....
Itu adalah pertanyaan yang cukup rumit bagi Eric yang saat ini.
Alasannya sungguh sederhana.
Eric pun menjeda perkataannya selama beberapa saat.
Meski begitu, Elin masih tetap tersenyum sambil memandangi wajah Eric.
"Aku tahu. Re:Life kan? Tenang saja, aku bukanlah wanita yang selemah itu. Lagipula, bukankah permainan itu yang mampu menyelamatkan kita berdua? Bagiku tak masalah jika kau memutuskan untuk lebih banyak menghabiskan waktu disana."
Mendengar jawaban dari Elin, kedua mata Eric nampak berkaca-kaca. Beberapa tetes air mata nampak mengaliri wajahnya.
"Elin.... Maafkan aku...."
"Tidak masalah, Eric."
...***...
...Kediaman Eric...
Beberapa Minggu telah berlalu semenjak kelahiran Putri pertama dari keluarga Eric.
Eric sendiri mengambil cuti dari pekerjaannya dan mulai membiarkan adiknya untuk sedikit mengambil alih pekerjaannya. Bukan hanya untuk membantu Eric. Tapi juga untuk memberi kesempatan kepada Rina agar mampu belajar secara langsung.
Tentu saja, Ayah dan Ibu Eric juga turut membimbing Rina dalam bekerja. Meskipun cerdas, Rina masih merupakan gadis yang muda dan sangat kurang pengalaman.
Termasuk juga Rendy yang selalu setia untuk menjadi pengawal pribadi dari Rina.
__ADS_1
Di sisi lain, Arlond yang sebelumnya datang ke Indonesia juga tidak pulang dengan tangan kosong.
Ia masih memutuskan untuk tinggal di Indonesia selama beberapa Minggu kedepan. Dan saat ini masih tinggal di salah satu unit apartemen Grandia Group yang kosong.
"Mana putriku yang manis.... Sini sini...."
Eric nampak menggoda Putrinya, Silvia, yang sedang digendong oleh Elin itu.
Tapi sungguh disayangkan, putrinya justru menangis setelah melihat sosok Eric.
"Hentikan itu. Wajah burukmu itu hanya akan menakutinya." Ucap Elin dengan tatapan seakan mengejek. Meski begitu, senyuman yang indah masih tetap menghiasi wajahnya.
"Selamat datang kembali, Eric. Apakah kau sudah makan? Aku membuat daging panggang beberapa saat yang lalu." Lanjut Elin sambil menatap Eric dengan perasaan yang penuh dengan kasih sayang.
"Aku pulang, Elin. Kalau begitu aku akan memanaskannya terlebih dahulu."
Eric pun segera makan dan membersihkan dirinya sebelum memutuskan untuk kembali Log In ke dalam dunia virtual itu.
Dunia Iblis
Lembah Kematian
'Swuuuooossshh!!! Blaaaaarrrr!!!'
Rentetan sihir api dan juga ledakan terus menerus meramaikan kondisi lembah yang gelap dan dipenuhi dengan Undead ini.
Eric masih terus melakukan leveling dengan keras semenjak menemukan area yang sangat luarbiasa ini. Akan tetapi, Ia hanya memiliki sedikit waktu sebelum waktu yang dijanjikan kepada Lucien dan juga Cathy.
Waktu yang tersisa hanyalah dua hari saja di dalam dunia virtual ini.
Oleh karena itu, Eric tak lagi melakukan Ascension secara gila-gilaan dan memilih untuk fokus menaikkan levelnya setinggi mungkin.
Hingga akhirnya, notifikasi yang dinantikan pun tiba.
[Anda telah Naik Level!]
[Selamat! Anda menjadi pemain pertama yang mencapai level 600!]
[Seluruh dunia kagum atas pencapaian Anda yang luarbiasa ini!]
'Semoga saja ini sudah cukup.... Behemoth yang muncul di dunia manusia pada saat itu berada dalam kondisi yang sangat dilemahkan. Akan tetapi sekarang berbeda.... Dia berada dalam kondisi terkuatnya di dunia iblis ini.' Pikir Eric sambil terus memperhatikan jendela status dan juga equipment miliknya.
Termasuk juga enam buah Dungeon yang telah Ia bangun sendiri bersama dengan monster panggilan yang baru. Keenam Dungeon itu berada mengelilingi Gunung Vesuvius, tempat sang Raja Iblis Kuno Behemoth berada.
Pada akhirnya....
Pertarungan pembalasan dendam yang pertama akan segera dimulai.
Semuanya telah dipersiapkan.
Kini hanya perlu menunggu waktu untuk mengetahui hasil pertarungan ini
__ADS_1