TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 344 - Pertaruhan


__ADS_3

'Klaaaaangg!!!'


Benturan antara perisai besar yang berada di tangan kiri Arlond dengan cakar tajam yang dimiliki oleh Chris terdengar begitu keras.


Pertarungan antara mereka berdua telah tak terelakkan lagi.


Di satu sisi, Arlond sangat ingin untuk kabur dan melakukan persiapan ulang. Tapi di sisi lain, keberadaannya dan Elin di tempat ini bukanlah untuk memenangkan pertarungan.


Melainkan untuk memberi waktu tambahan bagi rencana besar mereka.


Beberapa saat sebelum Arlond dan Elin memutuskan untuk menyusup secara bersamaan di Istana Reinard, mereka melakukan pertemuan langsung di dunia nyata untuk membahas hal ini.


Hingga akhirnya diperoleh sebuah keputusan untuk menghancurkan total Kota Reinard sebagai bentuk balas dendam mereka karena telah merebut Kerajaan Farna.


Sedangkan tindakan yang mereka lakukan untuk memperlancar aksi itu?


Di sekeliling Kota Reinard, terlihat beberapa penjaga yang berkeliling dengan sedikit aneh. Tentu saja, mereka adalah mata-mata sekaligus anggota Guild Mercenary yang berada di bawah pimpinan Elin.


Tugas mereka adalah menyusup ke dalam barisan dan menyiapkan kristal sihir ke lokasi yang telah ditentukan sebelumnya.


Kristal sihir itu memiliki warna hijau yang indah dan seukuran kepalan tangan saja.


"Hei! Apa yang kau lakuka...."


'Zraaatt!'


Prajurit bayaran itu tanpa segan segera menebas kepala salah seorang Prajurit Kerajaan Salvation sebelum Ia sempat melaporkannya kepada orang lain.


"Lagipula, kalian semua akan mati hari ini. Cepat atau lambat." Ucap Prajurit bayaran itu sambil segera meletakkan kristal sihir itu di lokasi yang telah ditentukan.


Tak hanya dirinya, tapi semua orang yang diberikan tugas untuk meletakkan kristal sihir ini telah berhasil melaksanakannya dengan baik. Meski terdapat permasalahan, mereka menyelesaikannya dengan cara mereka masing-masing.


Bersembunyi, menipu, membunuh, apapun.


Sementara itu di udara, tepat di atas Kota Reinard, terdapat seorang penyihir setengah Elf yang terbang dengan menggunakan sapu terbangnya.


Ia adalah Rebecca, seorang penyihir yang berasal dari Pelabuhan Tortuga. Kemampuannya sebagai seorang penyihir memang tak perlu diragukan lagi. Tapi lebih dari itu....


"Large Scale Magic...." Ucap Rebecca dengan tenang sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke Kota Reinard.


Seketika, seluruh kristal sihir yang telah diletakkan dalam posisi pun mulai bercahaya. Cahaya hijau terang yang dipancarkan dapat terlihat hingga cukup jauh.


Secara perlahan tapi pasti, dari setiap Kristal sihir itu membentuk alur menyerupai sebuah lingkaran sihir. Lebih tepatnya lingkaran sihir raksasa. Membuat seluruh isi Kota kebingungan mengenai kejadian ini.


Semua kecuali sang Raja yang saat ini masih disibukkan dengan hal yang lain.


Kini, keberhasilan misi penghancuran ini bergantung pada dua hal.


Yang pertama yaitu kemampuan para Prajurit Bayaran untuk menjaga Kristal sihir itu hingga sihir selesai diaktifkan.


Kemudian yang kedua....


Adalah kemampuan Arlond dan Elin untuk menahan selama mungkin Chris dan seluruh pasukan Elitnya.


Tapi sayangnya....


'Kenapa kau pergi lebih dulu, Elin?! Bukankah kini akan menjadi sangat merepotkan?!' Teriak Arlond dalam hatinya dengan perasaan yang cukup kesal.


'Zraaaatt! Klaaangg!!!'

__ADS_1


Chris yang saat ini telah berubah menjadi manusia setengah singa terus menerus mengamuk. Serangannya cukup cepat, tapi masih sangat jauh jika dibandingkan dengan kecepatan serangan Elin.


Tapi yang menjadi masalah adalah....


'Kreetaakk!!!'


"Jika kau tak segera bertarung maka kau akan mati, Raja Bodoh!" Teriak Chris sambil berusaha memprovokasi Arlond.


'Yang benar saja, ini sudah perisai keempatku....' Pikir Arlond sambil memperhatikan perisai besar di tangan kirinya yang mulai berubah menjadi cahaya putih.


Tanpa jeda, Arlond pun segera mengganti perisainya dengan perisai yang baru. Itu karena Arlond sadar bahwa tanpa perisai itu, Ia akan mati seketika.


"Bagus! Sekarang biarkan aku menghancurkannya lagi!" Teriak Chris sambil segera menerjang kembali ke arah Arlond.


Pertarungan yang terjadi pun cukup berat sebelah.


Arlond sama sekali tak mampu untuk memberikan serangan balasan karena dirinya memang seorang pemain dengan tipe Tank yang memiliki gerakan lambat tapi pertahanan yang tinggi.


Tapi di sisi lain, Chris saat ini adalah seorang Tank yang memiliki kecepatan serta daya serang yang sangat tinggi. Membuat keseimbangan kekuatan antara keduanya pun runtuh, memaksa Arlond harus menjadi bulan-bulanan Chris.


'Zraaasshh!!! Kreetaakk!!!'


Arlond mencoba sekali lagi untuk mengayunkan pedangnya dengan cepat ke arah leher Chris.


Arahnya sudah tepat, kekuatannya jauh lebih dari cukup karena telah ditingkatkan dengan skill. Bahkan kecepatannya pun sudah mampu menyamai Chris.


Tapi yang terjadi hanyalah sebuah pemandangan keputusasaan.


Pedang yang Arlond ayunkan, jangankan untuk memotong leher Chris. Menggoresnya sekalipun tak mampu. Bahkan saat ini, pedang itu telah patah sesaat setelah mengenai leher Chris.


'Tap! Sruuugg!'


"Hohoho.... Mencoba memotong leher sang Raja Hutan ini? Menarik sekali! Tapi lain kali jangan gunakan mainan! Buahahaha!" Teriak Chris dengan begitu sombongnya.


Kesombongan itu bukan tanpa dasar, tapi karena saat ini, Ia memiliki kekuatan yang jauh melampaui Arlond dan Elin sekaligus.


Di sudut ruangan ini, terlihat sosok Evan yang memperhatikan pertarungan antara Chris dengan Arlond secara seksama.


Tak sedikitpun detail yang Ia lewatkan. Sesekali, Ia menggoyangkan tabung kaca yang ada di tangan kanannya itu.


'Perubahannya menjadi Halfling memang menarik. Status Pointnya sendiri meningkat dengan sangat drastis untuk sementara waktu. Meski begitu.... Apakah sifat dari hewan buas itu juga masuk? Jika begitu, maka Buff Berserk yang ada di karakter Chris dapat dijelaskan....'


Evan terus menerus memikirkan banyak hal yang sedang terjadi saat ini terhadap tubuh Chris.


'Efek Berserk memang bagus untuk meningkatkan status, tapi membuat Player dalam kondisi selalu ingin bertarung akan menurunkan performanya. Aku lebih memilih untuk memberikan monster ciptaanku nantinya perlengkapan dan senjata daripada bertarung dengan tangan kosong....'


Evan nampak sama sekali tak memperdulikan hasil dari pertarungan ini. Yang paling Ia pedulikan adalah prospek kemajuan dari ramuan Beastification buatannya untuk rencana masa depannya.


Tapi pada saat Ia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri....


'Braaakkk!!!'


Tubuh seorang Pria yang mengenakan baju zirah tebal itu mengenai Evan.


Tentu saja, Pria itu tak lain adalah Arlond yang dilemparkan oleh Chris.


"Buahahaha! Kerja yang bagus Evan! Dengan ini maka takkan ada yang bisa mengalahkan ku!" Teriak Chris dengan suara yang begitu besar.


Tubuh Arlond secara perlahan mulai berubah menjadi cahaya putih, memperlihatkan sosok Evan yang terjatuh di lantai sambil melindungi tabung kaca yang berisi cairan berwarna keemasan itu.

__ADS_1


"Sialan! Apa maksudmu dengan melempa...."


'Deg!'


Evan secara naluri merasakan suatu bahaya yang sangat besar berada tepat di hadapannya.


Sebuah bahaya yang hampir mustahil untuk dilewati jika Ia tak segera bergerak.


Hanya dengan bermodalkan insting, serta kepercayaannya terhadap perasaannya sendiri....


'Tap! Tap!! Tap!!!'


Evan tanpa ragu segera berdiri dan berlari secepat mungkin ke lantai atas istana ini.


Chris yang masih berada dalam pengaruh Berserk tak mampu menggerakkan karakternya dengan baik. Sistem dari Genesis mempengaruhinya untuk terus menerus bertarung dan mencari mangsa baru untuk dihabisi.


Oleh karena itu, Chris sama sekali tak memperhatikan dan mengetahui maksud dari tindakan Evan.


Setelah Evan mencapai puncak dari istana ini....


Cahaya hijau, yang wujud sebenarnya adalah sebuah lingkaran sihir raksasa yang mengelilingi seluruh Kota Reinard ini, telah menyinari seisi kota. Bahkan cahaya itu telah menusuk hingga ke langit.


"Oioioi.... Yang benar saja kau, Eric. Masih memiliki sesuatu seperti ini bahkan setelah keruntuhanmu? Kau benar-benar luarbiasa.... Dan di saat yang sama memuakkan." Ucap Evan sambil segera menyimpan tabung yang berisi cairan emas itu ke dalam inventorynya.


Pada saat yang sama, Evan mengeluarkan 8 buah tabung kaca berukuran kecil dengan cairan yang berwarna berbeda tiap tabungnya.


'Dilihat dari ukuran sihirnya, cahaya, dan kesempurnaan lingkaran sihirnya.... Kemungkinan sihir ini akan segera selesai. Sementara itu, warna hijau ini kemungkinan besar adalah sihir angin.' Pikir Evan dalam hatinya sambil meneguk dua buah tabung kaca.


'Kemudian mengetahui bahwa posisi Istana ini berada di pusat Kota, keluar dari jangkauan lingkaran sihir ini hampir mustahil. Bersembunyi di Dungeon Eric mungkin bisa dilakukan, tapi seluruh portal yang menghubungkan dengan dunia luar telah dihapus oleh Eric.' Pikir Evan sambil terus menerus meneguk ramuan aneh itu.


Cahaya hijau yang menyinari Kota Reinard ini menjadi semakin terang. Menunjukkan bahwa waktu penyelesaian sihir ini tinggal sebentar lagi.


Evan yang telah meneguk seluruh ramuan aneh itu pun membuang semua tabung kacanya ke tanah, membuat semuanya pecah dan berubah menjadi cahaya putih.


'Oleh karena itu satu-satunya pilihan adalah bertahan.' Lanjut Evan sambil meletakkan kedua telapak tangannya ke tanah.


Dinding batu yang sangat tebal mulai menyelimuti Evan. Tak hanya di samping maupun di atas, tapi juga di bawah kaki Evan.


Segera setelah itu, lapisan angin yang sangat kuat mulai mengelilingi dinding batu tempat Evan berlindung.


Ditambah lagi, ratusan tiang besi tajam yang secara tiba-tiba muncul dari bawah tanah itu mengelilingi lokasi Evan berada.


Dan sentuhan terakhirnya, adalah sebuah sihir api, Fire Blast yang dimampatkan dengan konsentrasi tinggi tepat di atas dinding batu tempat Evan berlindung.


'Dengan melihat lingkaran sihir raksasa itu.... Kemungkinan sihirnya akan selesai dalam tiga... dua... satu....'


Seketika, puluhan ribu pedang angin yang sangat tajam dengan ukuran yang begitu besar mengelilingi Kota Reinard.


Semuanya hancur berkeping-keping hanya dalam sekejap mata saja. Bahkan dinding Kastil dan juga Dinding Kota yang begitu megah dan kokoh itu pun tak mampu berdiri di hadapan sihir skala besar ini.


Akan tetapi di bagian kastil....


Terjadi sebuah ledakan api yang cukup besar. Cukup besar dan cukup kuat untuk menahan tekanan sihir angin yang dilancarkan oleh Rebecca.


Dan di balik cahaya merah yang menyala di tengah tebasan pedang angin ini, terlihat sosok Evan yang tersenyum puas.


'Tunggu saja giliran kalian, aku akan membalaskannya nanti....' Pikir Evan dalam hatinya sambil tertawa seperti orang gila.


Tentu saja, Rebecca dan seluruh Mercenary Guild memastikan bahwa tak ada yang selamat dari sihir skala besar itu. Semua kecuali satu orang.

__ADS_1


Evan.


__ADS_2