TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 421 - Usaha Terakhir


__ADS_3

'SWUUUUUUUUSSSSSHHH!!!'


Sinar putih terang itu mengenai tubuh Aamori dengan instan. Tanpa memberikannya kesempatan untuk bereaksi.


Hanya Angie seorang yang menyadarinya karena selalu mengamati pergerakan Eric sebelumnya. Semua itu dilakukannya sambil mengalihkan perhatian Aamori.


Saat Aamori telah menyadari cahaya itu mengarah tepat kepadanya, Ia tak lagi bisa bertindak apapun. Dan hanya bisa menerima serangan ini.


'BLAAAAARRRRRR!!!'


Ledakan yang sangat besar terjadi setelah sinar putih itu mengenai Aamori. Membakar habis apapun yang ada di sekitarnya.


Dan harapannya, juga membakar Aamori.


Akan tetapi....


[Efek dari Aegis Shield telah menetralisir 75% magic damage yang Anda berikan!]


[Efek dari Towering Shield telah menetralisir 40% magic damage yang Anda berikan!]


[Efek dari Dragon Scale Shield telah menetralisir 25% magic damage yang Anda berikan!]


[Dragon Scale Armor telah mengurangi 99% damage yang Anda berikan!]


[Anda telah memberikan 8.913 damage!]


[Anda telah memberikan 9.265 damage!]


[Anda telah memberikan....]


Notifikasi itu muncul setiap 0.2 detik sekali dan berlangsung selama lebih dari 10 detik. Jika ditotal, damage yang diberikan oleh serangan Eric barusan mencapai hampir 500.000 damage.


Seharusnya merupakan sebuah damage yang cukup untuk membunuh seorang pemain. Membunuhnya sebanyak 10 kali dan masih tersisa cukup banyak damage.


Tapi kali ini....


Dibalik asap yang cukup tebal, sosok Aamori terlihat masih berdiri. Meskipun dengan kondisi yang cukup buruk.


"Hah.... Hah.... Hah...."


Tangan kanan Aamori terlihat menahan 3 buah perisai tebal yang dipanggil olehnya dengan skillnya. Sesaat sebelum cahaya itu menghancurkannya.


Dari ketiga perisai itu, semuanya telah rusak parah dan remuk. Bahkan perisai yang berada di bagian paling depan telah mulai hancur berkeping-keping dan musnah sepenuhnya menjadi pecahan cahaya kebiruan.


Angie dan juga Eric yang melihat kondisi Aamori saat ini begitu terkejut.


'Gi-gila! Bagaimana dia masih bisa bertahan dengan damage sebesar itu?! Lagipula, apa-apaan efek dari pertahanannya barusan?!' Teriak Eric dalam hatinya dengan penuh perasaan terkejut sekaligus tak percaya.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Angie. Terlebih lagi melihat efek dari Extermination Ray yang menciptakan sebuah kawah yang cukup dalam karena menggerus lingkungan di sekitarnya dengan begitu kuat.


Melihat Aamori masih bisa hidup saja sangat lah mustahil.


'Bahkan mengalihkan perhatiannya saja tak cukup?' Pikir Angie.


Jika Angie yang berada dalam posisi Aamori, mungkin Ia masih memiliki cukup banyak kesempatan. Bukan untuk menerima serangan itu secara mentah-mentah. Tapi dengan menghindarinya sepenuhnya.


Tapi ini....


Aamori secara perlahan bangkit kembali. Dua perisai yang tersisa segera kembali disimpan. Dan secara perlahan, api kemerahan nampak menyelimuti tubuh Aamori dengan lembut.


[Eternal Flame dari Ancient Fire Dragon Scale Armor telah aktif! Memulihkan 1% Max HP Anda setiap detiknya!]


[Anda telah memulihkan 51.946 Health Point!]


[Anda telah memulihkan....]


'Seperti yang diharapkan dari Eric, bahkan tiga perisai tingkat Mythical sekalipun hampir tak bisa menahannya. Aku penasaran, seberapa banyak Point yang kau masukkan ke Inteligence, Eric?' Tanya Aamori dalam hatinya.


Di pojok kanan pandangannya, terlihat Health Point miliknya hanya berkurang sebanyak 10% setelah menerima serangan Eric. Dan secara perlahan kembali pulih hingga penuh.


Eric di sisi lain masih tak bisa percaya bahwa Aamori selamat dari serangan itu.


Ia pun memutuskan untuk menggunakan kartu as terakhirnya yang saat ini bisa dimanfaatkan olehnya.


Eric menggunakan seluruh kemampuan dari Core yang diperolehnya saat melawan Ultimate Slime. Dan dengan kekuatan itu, Eric memanggil salinan dirinya sendiri yang sempurna.


Sebuah salinan yang mewarisi hampir seluruh kemampuan Eric yang saat ini.


'Sekalipun Undying Core telah hancur dan membuat kemampuan ku menurun drastis, setidaknya.... Ini lebih baik daripada tidak sama sekali.' Pikir Eric sambil mengarahkan tangannya ke depan.


Aamori yang telah sepenuhnya pulih, kembali mengendalikan pedang cahayanya. Mengarahkannya sekali lagi tepat ke arah Eric.


'Sraaaassshhh!'


Dan kali ini, keempat pedang itu menyerang dari empat sisi yang berbeda dengan kecepatan yang tinggi. Bermaksud untuk mengalahkan Eric saat ini juga.


Tapi sayangnya, Aamori sedikit terlambat.


'Klaaaangggg!!!'


Pedang cahaya itu terlihat menabrak sesuatu yang keras. Yang tak lain adalah sebuah perisai kristal dengan ukuran yang cukup kecil. Tapi berada tepat di hadapannya.


Ukurannya yang terkonsentrasi membuat perisai itu menjadi jauh lebih kokoh. Tapi hal itu sulit untuk dilakukan manusia biasa.


Tak masalah.


Lagipula saat ini, tepat di hadapan Eric, berdiri sosok Eric yang lainnya. Dengan penampilan yang benar-benar serupa. Satu-satunya hal yang berbeda yaitu Eric yang terbuat dari Slime itu memiliki mata berwarna biru cerah.


Sedangkan Eric yang asli memiliki warna mata merah terang.


'Klaaaakkk!!!'


Pedang cahaya itu tertahan oleh perisai kristal yang dibuat oleh tiruan Eric itu. Dengan senyuman yang tipis, Ia pun berbicara.


"Perintah."


'A-apakah Genesis yang mengendalikannya?' Pikir Eric dalam hatinya panik.

__ADS_1


Seluruh NPC yang ada di dunia virtual ini benar-benar menyerupai makhluk hidup yang sebenarnya. Seakan-akan mereka memang memiliki nyawa.


Tapi ketika bertemu dengan sosok NPC yang benar-benar menyerupai program komputer seperti ini, Eric justru sedikit merasa aneh.


"Untuk saat ini, fokus lindungi aku." Ucap Eric.


"Mengerti." Balas Slime itu dengan suara yang sedikit menyerupai Eric tapi juga seperti mesin.


Eric pun mulai berlari ke arah Aamori di kejauhan. Dimana tiruannya mengikutinya dari belakang sambil menghalau pergerakan pedang cahaya itu dengan sihir tingkat rendah [Magic Bullet].


Setiap kali pedang cahaya itu terkena ledakan [Magic Bullet], pedang cahaya itu terpental dan sedikit kehilangan arah. Memberikan waktu bagi Eric untuk bergerak bebas.


'Bagus, kerja bagus. Sekarang....'


Di kejauhan, Eric melihat sosok Angie yang menghujani Aamori dengan panah. Tapi tak ada satu pun yang berhasil melukainya. Lagipula, regenerasi Aamori terlalu tinggi. Membuat serangan apapun seakan tak berarti.


Tapi Eric dan Angie tahu satu hal.


Pada dunia virtual ini, semua dapat dinilai dengan angka. Termasuk durabilitas dari zirah merah yang terus menyembuhkan tubuh Aamori itu.


"Eric!" Teriak Angie.


Dengan cepat, Eric menggunakan [Clairvoyance] miliknya untuk mengintip informasi dari zirah merah milik Aamori.


[Ancient Fire Dragon Scale Armor]


[Rating : Mythical]


[Durability : 87.348 / 100.000]


"87%!" Teriak Eric dengan keras ke arah Angie.


Mendengar teriakan Eric, Aamori merasa terkejut. Ia tak percaya atas apa yang baru saja dikatakan oleh Eric.


'Bagaimana bisa? Apakah dia mengetahui durabilitas zirahku?' Pikir Aamori dalam hatinya.


Merasa situasi semakin terdesak, Aamori pun berniat untuk sedikit lebih serius. Tidak.... Ia berniat untuk mengakhiri semuanya.


Aamori tak tahu sampai seberapa lama Cooldown dari berbagai serangan mematikan Angie akan bertahan. Jika saja ada satu skill yang dapat kembali digunakan, itu akan membahayakannya.


Terlebih lagi Eric. Saat ini Eric dilindungi oleh tubuh tiruannya dengan akurasi bagaikan menggunakan Cheat Auto-Aim. Setiap penggunaan skill dari tubuh tiruan Eric benar-benar akurat di luar nalar.


'Ini takkan bertahan lebih lama lagi.'


Dengan pemikiran itu, Aamori pun menarik sebuah pedang besar berwarna merah dari udara. Bukan dari Inventorynya.


Pedang itu tak lain merupakan salinan dari karyanya yang lain. Yang siap digunakan kapan saja Aamori memanggilnya.


'Zraaaaassshhh!!!'


Ayunan dari pedang besar dua tangan itu sangat kuat dan menimbulkan gelombang api yang panas. Aamori mengayunkannya secara memutar dan gelombang api itu mengenai Angie dan juga Eric secara bersamaan.


'Suwoooshhh!!!'


Angie yang memiliki refleks cukup tinggi segera melompat dan berlari di udara. Menembaki zirah Aamori dengan anak panahnya dari kejauhan.


Secara tiba-tiba, salinan dari Eric itu mendorong tubuhnya dengan sihir angin. Melemparkan Eric jauh ke samping.


'ZRAAASSSSHHH!!!'


Dan tepat dari balik batu tinggi yang diciptakan Eric barusan, Aamori mengayunkan pedang merah besarnya secara vertikal. Tak hanya membelahnya menjadi dua, tapi juga menimbulkan gelombang api panas di arah tebasannya.


Gelombang api itu sedikit melukai salinan Eric, tapi Ia cukup cepat untuk terbang dan menjauh sambil menyembuhkan tubuhnya.


"Sialan! Bukankah kau seorang penempa?! Kenapa penempa mengayunkan pedang?! Lagipula, kenapa kau terus menerus berniat membunuhku?!" Teriak Eric kesal.


"Maaf saja Eric. Terlepas dari semua kebaikanmu, aku ingin menikmati permainan peran di dunia ini sepenuhnya. Dan peranku adalah untuk membawa ras naga pada kejayaan, sekalipun harus membantai manusia dan iblis." Jelas Aamori sambil tersenyum.


Itu benar.


Semua ini hanyalah permainan.


Tapi melihat kawan sendiri yang akan mengayunkan pedang ke arahnya, untuk kedua kalinya hari ini, adalah hal yang diluar perkiraan Eric.


'Sialan, tak ada cara lain lagi.'


Eric akhirnya memutuskan untuk bertarung secara habis-habisan dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya.


Puluhan lingkaran sihir muncul di belakang tubuhnya. Menembakkan puluhan peluru sihir secara beruntun ke arah Aamori.


'Blaaarr! Blaaarrr! Blaaaarrr!!'


Tapi Aamori terus menerjang dengan menggunakan pedang besarnya sebagai perisai. Ia berlari ke arah Eric.


Hanya saja, zirah tebalnya membuat pergerakan Aamori sedikit lambat. Atau justru sangat lambat bagi Eric yang sebelumnya menghadapi kegilaan kecepatan gerakan Angie.


Dan dengan itu, Ia bisa memprediksi pergerakan Aamori dengan mudah.


Saat Aamori mulai mendekat, Eric mengayunkan tongkatnya secara vertikal dari bawah ke atas. Mengaktifkan [Stone Pillar] untuk melemparkan tubuh Aamori ke udara setinggi puluhan meter lebih.


Di udara, Angie telah menanti kedatangan Aamori dengan salah satu skill Assassin miliknya yang telah aktif. Jika digabungkan dengan skill [Air Step] yang memungkinkannya berjalan di udara?


'Sraasshh! Sraaasshh! Sraaasshh!! Sraaasashhh!! Sraaasashhh!!!'


Puluhan tebasan dilancarkan oleh Angie dari berbagai sisi. Setiap hentakan langkah kakinya di udara membawa dua buah tebasan dari belatinya.


Hingga hanya dalam 3 detik saja, Angie berhasil memberikan total 42 tebasan dari belatinya. Yang masing-masing hanya memberikan damage sebesar 3 digit saja.


Tapi efek lain dari belati hitam yang dikenakan oleh Angie beserta kemampuan Assassunnya berkata.


[Armor Breaker]


[Tipe : Passive]


[Meningkatkan kerusakan pada durabilitas equipment tipe zirah sebesar 200%]


Hanya dengan 42 tebasan itu saja, Angie berhasil mengikis zirah zirah merah milik Aamori sebesar 6.914 poin atau sekitar 7%.

__ADS_1


Raut wajah Aamori terlihat begitu panik setelah menyadari bahwa zirahnya mengalami kerusakan yang begitu parah. Ia berusaha untuk mengayunkan pedang besarnya ke arah Angie untuk membalas.


Tapi tiada daya. Pergerakan Angie terlalu cepat untuk diikuti oleh pemain tipe petarung lambat seperti Aamori. Seorang pemain yang hanya mengandalkan pertahanan dan serangan yang kuat dengan gerakan yang lambat.


Setelah combo dari serangan Angie selesai, Ia segera menjauh dan mengganti senjatanya menjadi busur dan panah.


'Sreeeeeeeeetttt!!!'


Sambil dalam posisi terjun bebas, Angie terus menarik anak panahnya. Mengincarnya tepat ke sosok Aamori yang berniat untuk melompat turun dari ketinggian pilar batu itu.


Sesaat setelah Aamori melompat turun sambil menggunakan pedang besarnya sebagai perisai, Angie pun menembakkan anak panahnya.


'Swuuuuuussssshhhh!!!'


Gelombang kejut berupa tekanan angin yang kuat terlihat mendorong tubuh Angie beberapa meter, sesaat setelah menembakkan anak panah itu.


Anak panahnya melaju dengan sangat kencang, diselimuti oleh elemen angin. Mengarah tepat di dada Aamori.


'Klaaaaanggg!!!'


Dengan kuat, anak panah itu berhasil menancap tepat di zirah Aamori. Membuat kedua matanya terbuka lebar karena tak bisa mempercayai hal ini.


'Yang benar saja?! Bisa menembus zirahku?!'


Tak berhenti di sana saja, serangan dari Eric kembali muncul. Dan kali ini adalah sebuah meteor yang mengarah tepat di lokasi dimana Aamori akan mendarat.


'BLAAAARRRR!!!'


Meteor raksasa yang telah diperkuat itu pun menghantam Aamori. Memberikan notifikasi yang cukup memuaskan untuk Eric.


[Anda telah memberikan 264.913 damage!]


[Target telah terbakar! Menerima 20.000 damage per detik!]


'Bagus, setidaknya dengan ini regenerasi gilanya akan sedikit berkurang. Tapi belum cukup.'


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Eric dengan bantuan salinannya segera menggunakan sihir sisi gelapnya.


Salinan Eric terlihat menciptakan lingkaran sihir amplifikasi tepat di atas lokasi meteor itu jatuh. Total sebanyak 4 buah lingkaran sihir amplifikasi nampak tercipta secara mendatar di langit.


Sedangkan Eric sendiri....


"Acid Rain." Ucap Eric sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke langit.


Seketika, awan hitam gelap pun muncul. Menimbulkan hujan dengan cairan berwarna kehijauan yang cukup mengerikan.


Setiap kali tetes air hujan itu melewati lingkaran sihir amplifikasi yang dibuat oleh salinan Eric, efeknya menjadi jauh lebih kuat. Dimana tetes airnya menjadi lebih besar dan warna hijau yang lebih terang.


'Zraaasshhh! Zraaassshh! Zraaasssshhh!!!'


Aamori mengayunkan pedangnya beberapa kali ke sekelilingnya. Menghancurkan batu meteor yang menimpanya dengan gelombang api yang kuat.


Tapi diluar batu meteor itu, hal yang lebih buruk telah menantinya.


Hujan asam yang telah diperkuat itu segera mengenai tubuhnya dan seluruh lingkungan di sekitarnya.


'Tesss.... Tesss....'


Setiap tetesan dari cairan hijau itu membuat tanah segera leleh dan hancur. Begitu pula pada sosok Aamori yang berusaha menahannya dengan memanggil perisai.


Meskipun, semua itu sedikit terlambat.


Tetesan air hujan asam itu dengan cepat melelehkan beberapa perisai yang diletakkan oleh Aamori di atas kepalanya. Menghancurkannya hanya dalam beberapa detik saja.


'Ini buruk....'


Saat Aamori berpikir untuk berlari menjauhi area hujan asam itu, secara tiba-tiba kakinya tak mampu untuk bergerak.


'Sreettt! Srreettt!'


Ketika melihat ke bawah, Aamori melihat kedua kakinya terikat oleh akar tanaman berduri yang tebal dan besar. Mencegahnya untuk bisa bergerak sebelum menghancurkannya.


"Sihir rendahan, tapi cukup efektif bukan?" Ucap Eric dari kejauhan.


Walaupun hanya satu detik, Eric berharap bahwa itu sudah cukup untuk menghancurkan zirah Aamori. Dan lebih baik lagi jika membunuhnya.


Dan benar saja.


Saat Aamori sedang sibuk menghancurkan akar berduri itu dengan pedang besarnya serta pedang cahayanya, zirah kemerahannya itu secara perlahan mulai rusak.


Durabilitas nya menurun dengan sangat drastis setelah menerima serangan dari Angie dan juga Eric secara bergantian.


'Kraaasshhhh!!!'


Setelah berdiam diri selama beberapa detik dalam area hujan asam itu, akhirnya Aamori bisa kabur dan meninggalkan area mematikan itu. Tentu saja, dengan kerusakan yang begitu fatal.


Health Point miliknya telah berkurang sebesar 40% lebih. Sedangkan zirahnya sendiri telah dalam kondisi kritis dengan sisa durabilitas sebesar 8% saja.


Saat Aamori berpikir semua itu telah berakhir....


'KLAAAANGGGG!!!'


Angie menghunuskan tombaknya tepat di dada Aamori dengan kekuatan yang begitu besar.


'Kreettaaakkk!!!'


Serangan Angie itu pun mengakhiri semua penderitaan Aamori. Dan juga zirahnya yang saat ini telah retak dan remuk.


Tak berhenti di sana, tangan kiri Angie mengeluarkan sebuah pedang dan menghantam zirah Aamori dari samping.


Kali ini, untuk terakhir kalinya, kedua orang itu bisa yakin.


Bahwa zirah Aamori, saat ini telah sepenuhnya hancur.


'Krettaakkk! Ttraakkk!!'


Zirah itu pun pecah menjadi serpihan kecil yang secara perlahan berubah menjadi cahaya. Memperlihatkan pakaian kain di baliknya.

__ADS_1


"Kemenangan kami, Aamori." Ucap Angie dengan senyuman yang tipis.


__ADS_2