
...Dunia Iblis...
...Wilayah Barat...
...Ibukota Kerajaan Sierra...
Pertempuran berlangsung dengan sangat Sengit.
Sierra berulang kali melemparkan tombak terkutuknya ke arah Avacor untuk membuatnya terjatuh ke tanah. Dengan bantuan dari para Ksatria Penunggang Naga yang lain, sedikit demi sedikit Ia berhasil membuat Avacor mendekati permukaan tanah.
"Tembak!" Teriak salah satu Komandan Prajurit yang ada di atas tanah.
Bersamaan dengan itu, puluhan tombak besar ditembakkan ke arah dinding. Membawa rantai yang besar dan cukup panjang dengan pemberat di bagian belakangnya.
"Usaha yang sia-sia!" Teriak Avacor dengan suara yang cukup besar dan sangat mengintimidasi.
Avacor hanya perlu menggerakkan tubuhnya dengan cukup kuat hingga akhirnya rantai pengikat itu terlepas satu demi satu.
Tapi pada saat itulah....
"Jangan berhenti! Terus serang monster itu!!!" Teriak Sierra dengan suara yang sangat keras.
Tangan kanannya telah membawa tombak yang sepenuhnya diselimuti oleh api hitam. Sambil terbang ke arah permukaan tanah, Sierra segera melemparkan tombak itu sekuat tenaga ke arah Kepala Avacor.
'Zraaasssshhh!!!'
Tak diduga, tombak itu berhasil menembus kulit keras dari tubuh Avacor. Membuatnya kehilangan sedikit fokusnya kepada rantai-rantai itu.
"Sekarang!" Teriak komandan penyihir yang ada di atas bangunan itu.
Bersamaan dengan perintahnya, para penyihir naga mulai mengaktifkan sihirnya. Sebuah sihir pengekang yang sangat kuat dan efektif bagi para penghuni Dunia Iblis, [Demonic Bind].
Rantai hitam yang besar mulai muncul dari bawah tanah. [Demonic Bind] ini mampu menahan kekuatan sihir dari target yang tekena. Akan tetapi kekuatan pengekangannya jauh lebih lemah jika dibandingkan dengan rantai yang sesungguhnya.
Setelah Avacor mulai terkunci di atas permukaan tanah, ratusan penunggang naga mulai menghujaninya dengan semburan api. Memaksa Avacor untuk membuka mulutnya sehingga Sierra dan para Ksatria Naga yang lain dapat masuk.
"Sialan!!! Aku akan membunuh kalian semua!!!" Teriak Avacor sambil terus menerus meronta dan mengayunkan semua capit tajamnya.
'Zraaassshh!!! Zraasshhh!!!'
Bahkan tekanan anginnya saja sudah cukup untuk menghempaskan bangunan yang ada di sekitar. Membuat para prajurit yang tak memiliki kekuatan yang cukup untuk terbang. Bahkan beberapa diantara mereka mati seketika setelah menerima serangan itu.
__ADS_1
Meski begitu....
"Bersiap! Seraaaaaang!!!" Teriak Sierra sambil memimpin ribuan prajurit untuk memasuki tubuh Avacor melalui mulutnya yang kini terbuka lebar karena terus menerus menerima serangan.
Cairan asam yang sangat kuat, serta ribuan taring yang tajam di dalam tubuh Avacor itu berhasil membunuh banyak prajurit secara langsung.
Tapi mereka memasuki tubuh Avacor dengan sikap siap mati. Mereka tak memperdulikan apapun selain membunuh monster sialan yang telah menghancurkan setengah benua ini.
Pembantaian yang terjadi di dalam tubuh Avacor sangatlah mengerikan.
Hampir seluruh pasukan yang masuk ke dalam tubuhnya mati seketika. Tapi Sierra dan beberapa Ksatria Naga yang lain, termasuk pasukan yang ada di luar tubuh Avacor ini terus berjuang.
Tebasan demi tebasan....
Serta rentetan tembakan sihir dan alat berat....
Akhirnya setelah lebih dari setengah jam melakukan serangan dari dalam dan luar tubuh Avacor, mereka memperoleh hasil yang diinginkan.
Kematian dari Avacor itu sendiri.
Sierra dan beberapa Ksatria Naga yang masih berada di dalam tubuh Avacor itu mulai melihat cahaya matahari setelah tubuh monster raksasa itu secara perlahan berubah menjadi cahaya putih.
'Klang....'
Tapi bukan sorakan kemenangan yang mereka teriakkan setelah kemenangan ini. Tak ada satupun dari mereka yang berbicara. Tak ada satupun kata yang terucap.
Suasana sunyi menyelimuti Kota kematian ini.
Hampir seluruh penduduk telah mati karena pertempuran atau karena dimangsa.
Para prajurit pun juga mengalami hal yang serupa. Kini yang tersisa di Kota ini hanya ada sekitar 1.200 orang. Mereka adalah yang terkuat diantara yang terkuat, dan yang paling tangguh diantara yang lainnya.
Hingga akhirnya....
"Yang Mulia...." Ucap salah seorang Ksatria Naga sambil berlutut di hadapan Sierra.
"Ya, aku tahu." Ucap Sierra sambil segera mengambil kembali tombak hitamnya.
Ia mengatur nafasnya sebelum akhirnya mengangkat tombak terkutuknya itu.
"Selamat untuk kalian semua! Kita telah berhasil membunuh sang pembawa malapetaka, Avacor!" Teriak Sierra dengan sisa tenaganya.
__ADS_1
"Hidup Yang Mulia!" Teriak beberapa Ksatria di dekat Sierra menjawab teriakan itu.
Kemudian, seluruh prajurit pun mengikutinya. Mereka semua mulai menyorakkan kemenangan.
Setidaknya.... Hanya itulah yang bisa mereka lakukan saat ini untuk menghapuskan kesedihan dan kemarahan terhadap apa saja yang telah dihancurkan oleh Avacor hingga saat ini.
Tapi segera setelah itu, mereka semua terkapar di tanah karena kelelahan yang begitu parah. Tak memperdulikan apapun, mereka semua tertidur tepat di tengah Kota bekas Medan pertempuran ini.
Tanpa mereka sadari....
"Hmm...." Ucap seorang Pria yang memiliki sepasang tanduk hitam di kepalanya.
Ia nampak berdiri di salah satu menara pengawas di dinding Kota ini.
"Yang Mulia.... Maafkan kami karena terlambat memberikan informasi ini." Ucap seorang bangsawan yang sampai bersujud di hadapan Pria itu.
"Jujur saja aku sedikit kesal karena mangsaku berhasil dicuri. Tapi setidaknya Avacor telah menari dengan baik." Ucap Pria yang tak lain adalah Belphegor itu.
Segera setelah mendengar berita bahwa Sierra melakukan perlawanan secara langsung kepada Avacor, Belphegor dengan cepat terbang ke tempat ini.
Ia sama sekali tak menganggap bahwa Sierra dan pasukannya bisa menang.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Yang Mulia?" Tanya Bangsawan itu dengan suara yang gemetar.
Belphegor hanya melirik bangsawan itu dan secara perlahan mendekatinya.
"Aku sangat ingin membunuh Sierra saat ini juga. Tapi jika para Guardian di dunia manusia mengetahui bahwa penjaga di dunia Iblis mati, terlebih lagi karena ku.... Mereka pasti akan memperketat pertahanan di dunia manusia dan mulai mengawasiku.
Tapi kembali lagi, aku saat ini cukup kesal dengan apa yang terjadi. Oleh karena itu, bisakah kau mati?" Ucap Belphegor sambil mengarahkan tangan kanannya ke wajah bangsawan itu.
Tak ada satu detik.
Tapi kepala bangsawan itu dengan segera hancur karena tekanan angin yang sangat kuat yang dikeluarkan oleh Belphegor. Dengan segera, tubuhnya mulai berubah menjadi cahaya putih.
"Kurasa sebaiknya aku segera kembali dan membaca buku yang baru...." Ucap Belphegor sambil mengeluarkan sayap iblisnya. Ia segera terbang kembali ke wilayahnya tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.
Dan tak ada satu orang pun yang tahu mengenai kejadian ini dari barisan prajurit Sierra. Termasuk dirinya sendiri.
Tentu saja....
Eric yang saat ini sedang berjalan-jalan mengamati perkembangan Kota keduanya sama sekali tak mengetahui apapun.
__ADS_1
Ia terlihat dalam suasana hati yang baik karena berhasil mengamankan posisinya sebagai penguasa di Wilayah Selatan.