
Semua orang telah tertidur. Tapi tidak untuk 2 orang ini. Yaitu Eric dan juga Angie.
Di satu sisi, Eric terlihat sedang sibuk mengerjakan sesuatu di depan komputernya. Beragam tabel dan juga grafik terlihat pada layar hologram itu. Apa yang dikerjakannya tak lain dan tak bukan adalah bisnis dalam Grandia Group itu sendiri.
"Hah.... Bicara saja mudah. Tapi aku sama sekali tak memahami apa yang dia katakan. Menambang di ruang angkasa? Apanya yang mudah dan menguntungkan?" Keluh Eric kepada perkataan Andra sebelumnya.
Tapi di sisi lain, Angie terlihat masih meneguk minuman pada botol kaca secara langsung. Di hadapannya adalah sebuah acara televisi yang menampilkan mengenai sosok Aamori.
"Tuan Aamori! Apa tanggapan Anda mengenai peristiwa ini?"
"Apakah Anda akan memihak manusia? Mengingat bahwa Anda sendiri terlihat begitu sibuk pada urusan sendiri di dunia virtual itu?"
Beberapa wartawan terlihat mengerubungi sosok Aamori yang sedang menghadiri sebuah bangunan itu untuk konferensi pers. Tapi bahkan sebelum memasuki ruangan itu, Aamori telah dihujani dengan banyak pertanyaan.
"Tanggapanku? Aku tak memihak keduanya. Sekarang biarkan aku masuk terlebih dahulu." Balas Aamori sambil menerobos kerumunan wartawan itu.
Angie yang melihatnya begitu terpesona. Sambil nampaknya sedikit kantuk.
"Whoaaah! Pilihan yang berani! Mungkin aku juga akan melakukan hal yang serupa?" Tanya Angie pada dirinya sendiri. Karena tak ada yang menjawab, Angie pun memalingkan pandangannya ke arah Eric.
Eric yang mengetahui bahwa wanita gila itu akan mengganggunya, Ia segera menyimpan data pekerjaannya dan mematikan komputernya sebelum berbicara.
"Lakukan saja apa maumu. Lagipula aku tak ada hubungannya dengan semua ini." Ucap Eric sambil segera berjalan ke kulkas untuk mengambil minuman.
Tebakannya sangat akurat. Bahkan terlalu akurat hingga bisa dibilang bahwa Eric mampu meramal masa depan.
'Bruuukk!'
Angie melompat ke tubuh Eric, menaikinya seperti sebuah pohon. Tapi Eric yang menerima hal itu hanya bisa merasa risih dan berusaha untuk menyingkirkannya.
"Apa yang kau lakukan? Pergilah!"
"Tidak sebelum kau mengaku!"
"Mengaku apa? Aku tak ada satupun yang bisa kuakui dari pertanyaanmu!" Balas Eric kesal.
Wajah Angie segera berubah menjadi cemberut. Sebelum akhirnya melepaskan dirinya sendiri dari tubuh Eric.
"Jadi itu benar-benar bukan dirimu yang akan menjadi Raja Iblis?" Tanya Angie penasaran.
"Tentu saja bukan. Memangnya siapa aku? Apakah kau pikir aku mampu menjadi lawan dari seluruh pemain di dunia? Jangankan seluruh dunia, aku mungkin akan langsung mati jika bertemu dengan Aamori." Balas Eric dengan kesal.
Ia masih terus berupaya untuk menjaga kerahasiaan ini sampai kapanpun. Bukan karena permintaan dari para Developer. Melainkan karena Ia ingin menjaga elemen kejutan dalam invasi itu.
Angie terlihat terus memperhatikan kedua mata Eric. Tak ada sedikitpun detail yang terlewat. Berusaha untuk membuktikan apakah Eric akan berbohong atau tidak.
__ADS_1
Tapi sayangnya, Angie telah salah dalam satu hal.
Yaitu sebuah kenyataan bahwa akting dan kebohongan adalah sebagian dari kehidupan Eric yang saat ini menjadi salah satu pengusaha terbesar di Indonesia.
Takkan ada yang selamat dalam negosiasi yang kejam jika Ia tak bisa mengendalikan raut wajahnya dan juga menahan kartu andalannya.
Pada mata Eric, tak terlihat sedikitpun getaran karena perasaan ragu. Seakan-akan Eric memang benar-benar tak berbohong sama sekali.
"Hmm.... Begitu ya? Kurang seru. Kupikir aku bisa melawanmu nantinya." Balas Angie yang segera kembali duduk.
Eric yang memperhatikan wanita berambut pirang itu merasa sedikit lega. Setidaknya, Ia bisa....
"Kau tahu Eric? Aku tak tahu apa alasanmu menyembunyikan hal itu. Tapi ada satu hal yang bisa kupastikan padamu. Yaitu aku akan mengalahkanmu disana." Balas Angie sambil tersenyum puas dan kembali minum.
"Terserah saja. Tapi sayangnya aku takkan kalah padamu lagi." Balas Eric sambil segera kembali ke kamarnya.
Ia meninggalkan Angie minum sendirian di ruang tengah itu, karena wanita itu memang sering datang tanpa diundang dan pulang tanpa berpamitan.
Eric juga tak memiliki masalah keamanan karena satu lantai dibawahnya, yaitu satu-satunya jalan untuk bisa datang ke kediamannya, adalah melewati barisan keamanan yang ketat.
Dengan itulah....
Eric kembali ke dalam kehidupan normalnya selama beberapa saat sebelum kembali fokus dalam dunia virtual nya.
Tapi ada satu yang Eric tak perhatikan. Yaitu sebuah kenyataan bahwa lawannya yang bernama Angie itu, tak lama lagi akan memperoleh sesuatu yang jauh melampaui bahkan Aamori itu sendiri.
...- Dunia Iblis -...
...- Wilayah Selatan -...
Segera setelah kemenangan itu, Eric memperoleh kekuasaan wilayah yang sangat luas. Yaitu seluruh Wilayah Selatan, Tengah, dan Utara.
Sedangkan untuk wilayah Barat akan dikuasai oleh Kerajaan Sierra yang secara langsung berada di bawah kekuasaan Eric. Sementara itu, wilayah Timur sedang melakukan reformasi ulang untuk membentuk kekuasaan baru.
Eric mengusulkan untuk membentuk bukan sebuah kerajaan, melainkan sebuah persatuan antar ras yang ada dengan wakil dari setiap Ras sebagai penjaga kestabilan dalam wilayah itu.
Membentuk Federasi Wilayah Timur sebagai kekuasaan utama disana.
Eric yang ingin diakui sebagai penguasa dari seluruh Benua Tengah di dunia Iblis ini, memberikan dukungan yang sangat besar kepada kedua wilayah itu.
Baik dalam hal ekonomi, militer, keamanan, maupun yang lainnya.
Setelah perjalanan selama beberapa Minggu menjalankan semua politik yang merepotkan itu, Eric akhirnya bisa sedikit bernafas lega.
Untuk membuatnya mampu mengawasi dan menghitung pertumbuhannya sendiri, Eric memasukkan seluruh benua tengah di dunia Iblis ini sebagai satu kesatuan Dungeon yang terbesar yang pernah ada.
__ADS_1
Meskipun banyak efek yang bagus dari menggabungkan banyak wilayah berbagai Dungeon menjadi satu, tapi sayangnya itu juga tak gratis.
Kini biaya untuk membangun Dungeon yang sebesar satu benua itu sendiri tak lagi dimungkinkan bahkan dengan status gila Eric.
Atau setidaknya hingga saat ini.
Dan sekarang, saat Eric duduk sebagai penguasa mutlak di seluruh tempat ini....
'Tap! Tap! Tap!'
Eric menekan beberapa tombol pada jendela menunya. Menampilkan seluruh informasi mengenai keseluruhan wilayah yang ada.
...[Kompleks Dungeon Raksasa]...
...[Dungeon Benua]...
...Jumlah Dungeon Besar : 24...
...Jumlah Dungeon Sedang : 147...
...Jumlah Dungeon kecil : 961...
...Jumlah Penduduk : 42.119.723 Jiwa (19% Desert Orc, 16% Goblin, 14% Black Draconic, 11% Kobold, 7% Vampire, 5% Draconic, 3% Harpy, 2% Wooden Elf, 2% Giant, 1% Fairy, 18% Ras lain)...
...Tingkat Kebahagiaan : 83%...
...Jumlah Prajurit :...
...Tingkat Prajurit - 1.200.000...
...Tingkat Ksatria - 80.000...
...Tingkat Bangsawan - 1.400...
...Jendral : 24...
...Raja : 4...
...Kekayaan Wilayah : 46.854.209 koin emas....
...Kondisi : Kehancuran di sebagian besar wilayah...
Memperhatikan informasi yang ada di hadapannya, hanya ada satu hal yang ada dalam pikiran Eric.
"Hmm.... ini buruk. Bukankah aku kehilangan kekayaan dengan sangat cepat?!"
__ADS_1
Setidaknya, itulah yang terjadi jika banyak uang, tenaga, dan bahan harus dikeluarkan untuk memperbaiki wilayah yang telah hancur akibat banyak perang ini.