TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 347 - Kenyataan


__ADS_3

...Dunia Nyata...


...Amerika Serikat...


Di dalam sebuah gedung yang sangat besar ini, terdapat seseorang yang terlihat begitu kesal.


'Braaakk!!'


"Sialan! Kenapa mereka menolak pengajuan untuk membatalkan Event ini?! Apakah mereka tidak mengetahui konsekuensinya?!" Teriak seorang Pria paruh baya yang mengenakan jas hitam itu.


"Aku setuju denganmu. Konsekuensi dari Event ini sangatlah berbahaya mengenai keseimbangan game. Bahkan tanpa Event ini sekalipun, pemain itu telah merusak keseimbangan game ini." Balas Wanita yang duduk di sebelah Pria itu.


Meski begitu, sang Ketua Umum dari Kantor Re:Life Amerika Serikat nampak terdiam dengan tenang. Ia adalah salah satu profesor terbaik di dunia yang turut bergabung untuk mengembangkan teknologi Re:Life.


"Profesor! Bisakah kita memutuskannya sendiri?! Untuk menghentikan Event itu?!" Teriak seorang pemuda sambil memukul meja.


Tapi tanpa disangka, seseorang nampak berjalan memasuki ruangan ini dengan tenang. Ia memiliki penampilan yang cukup menawan untuk seorang wanita yang telah berada di umur 50 tahun.


"Untuk mencegah rusaknya keseimbangan game, atau untuk menjaga agar Chris tetap menjadi yang terkuat di dunia itu? Pikirkanlah baik-baik mengenai hal itu." Ucap Wanita itu sambil menghisap batang rokok.


Semuanya memang sudah menyadarinya.


Kekesalan mereka bukan karena banyak pihak yang menolak untuk menggagalkan Event ini. Bukan juga karena keseimbangan game yang dibesar-besarkan.


Tapi semua itu karena mereka sangat ingin mendukung Chris. Salah satunya dengan mencegah seorang pemain menyelesaikan Event ini dan memperoleh kekuatan yang jauh lebih besar.


Pada akhirnya, sang Profesor pun setuju dan memulai hitung mundur untuk pelaksanaan Event yang telah tertunda selama lebih dari 4 Minggu itu.


...[00:04:58]...


Waktu terus berjalan secara perlahan.


Seluruh dunia, atau lebih tepatnya petinggi Re:Life pun menanti dengan perasaan yang sangat tegang.


Pandangan mereka semua tertuju ke arah sebuah layar besar yang menyorot sosok 3 orang di tengah Padang pasir hitam itu.


Yaitu Eric dengan dua bawahannya, Cathy dan Lucien.


Setelah telat 5 menit, Event pun segera berlangsung dan melepaskan tiga orang itu dari penjara abadi di gurun hitam itu.


Tapi apa yang menanti mereka ....


...***...


...Dunia Iblis...


...Gurun Hitam...


"Hah.... Developer sialan. Apa-apaan dengan game yang disebut 'Tidak memiliki Bug' itu? Bukankah ini sebuah bug? Bagaimana caranya aku bermain jika masih terjebak disini?" Teriak Eric kesal.


Dua orang dibelakangnya yaitu Lucien dan Cathy nampak memasang wajah yang khawatir setelah melihat perilaku Eric.


"Nampaknya...." Ucap Cathy dengan suara yang cukup lirih.


"Aku tidak ingin mengatakannya tapi.... Kurasa kau benar. Tuan kita telah mulai gila setelah selama ini bera gwughhwuwgh...." Lanjut Lucien tanpa menahan sedikitpun suaranya. Membuat Cathy secara refleks segera membungkam mulut Lucien.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Eric pun dengan segera membalik badannya.


"Hah?! Apa kau bilang?! Aku sudah gila?! Kau tahu apa?! AKU MEMANG SUDAH GI...."


...'BLAAAAAAAAARRRR!!!'...


Sebuah suara gemuruh yang sangat keras tiba-tiba terdengar di tengah Padang pasir yang tak berujung ini. Membuat Eric bahkan tak mampu menyelesaikan perkataannya.


Tapi mereka bertiga segera mengarahkan pandangan mereka ke arah sumber suara.


Di kejauhan, nampak pasir yang menyembur ke udara dengan sangat kuat. Bahkan ukurannya pun semakin besar setiap detik berlalu.


Dengan langkah seribu, Eric, Cathy dan Lucien segera menyingkir dari sana.


"Yang benar saja?! Apa-apaan ini?!" Keluh Eric sekali lagi.


Setelah beberapa saat kabur dengan menggunakan kemampuan terbang mereka, akhirnya gemuruh dan semburan pasir hitam itu pun berhenti.


Eric yang mengarahkan pandangannya ke belakang segera terkejut bukan main.


Bahkan Cathy sekalipun yang hanya memikirkan makanan nampak begitu heran. Secara refleks, bibirnya pun mengucapkan sesuatu.


"Ini.... Aku sama sekali tak mengetahui benda apa ini.... Bagaimana mungkin aku sang.... Ugghh!!!"


Secara tiba-tiba, Cathy terjatuh dari terbangnya sambil memegang kepalanya. Ia nampak begitu kesakitan meski tak ada apapun yang menyentuhnya.


Lucien dengan segera terbang untuk menangkap Cathy. Menyisakan hanya Eric sendirian yang terbingung dengan apa yang ada di hadapannya.


Sebuah Kuil dengan ukuran yang begitu besar, nampak muncul dari bawah pasir hitam ini.


"Apa yang terjadi disini?!" Ucap Eric pada dirinya sendiri.


"Aku hanya berjalan ke arah selatan setelah Avacor memberikan ancamannya.... Aku hanya tak ingin bertemu dengan Avacor.... Oleh karena itu aku terus berjalan ke Selatan hingga mencapai sebuah gurun yang aneh...." Lanjut Eric berbicara pada dirinya sendiri dengan mata yang terbuka lebar.


"Kupikir.... Aah, bukankah tempat ini menyenangkan? Mari kita jelajahi, siapa tahu ada harta Karun disana...."


Eric terus menerus berbicara pada dirinya sendiri sambil memperhatikan kuil raksasa yang muncul di tengah gurun hitam ini.


"Tapi sekarang.... Apa-apaan ini?!" Teriak Eric dengan senyuman yang sangat besar. Semua itu karena instingnya mengatakan, bahwa apapun yang ada di dalamnya memiliki harta yang luarbiasa besar.


Setelah turun ke tanah, Eric melihat kondisi Cathy yang masih terus memegangi kepalanya.


"Lucien, apa yang terjadi padanya?" Tanya Eric dengan segera sambil memperhatikannya dengan seksama.


'Tidak ada yang aneh padanya. Health Pointnya masih utuh, stamina Pointnya juga masih banyak. Bahkan melihat statusnya, Ia tak memiliki Debuff yang berarti. Tapi kenapa?' Tanya Eric dalam hatinya.


Tanpa disangka, Cathy menarik jubah sihir Eric di bagian leher dengan kuat. Tentu saja hal itu membuat Eric terkejut.


"A-apa yang kau...."


"Tuanku.... Aku mengingatnya...." Ucap Cathy dengan suara yang terengah-engah.


"Apa maksudmu? Apa yang kau ingat?" Sambung Lucien penasaran.


"Te-tempat ini.... Struktur bangunan ini.... Desain, warna, relief.... Semuanya. Membuatku teringat mengenai diriku yang sebenarnya...." Ucap Cathy dengan suara yang terpatah-patah karena Ia masih merasakan rasa sakit di kepalanya.

__ADS_1


Eric terlihat menelan ludahnya. Mempersiapkan dirinya untuk apapun yang akan dikatakan oleh Cathy.


"Ka-katakan.... Apa maksudmu dengan semua itu?" Tanya Eric dengan perasaan yang takut.


Setelah terdiam beberapa saat untuk mengatur nafasnya, Cathy nampak mulai menguasai rasa sakit yang dirasakannya.


Ia nampak berusaha untuk berdiri. Meskipun hal yang sederhana, tapi hal itu sangatlah sulit bagi Cathy yang saat ini.


Pada akhirnya....


"Tuanku. Apa yang akan kukatakan kali ini, mungkin akan menjadi sebuah harapan... tapi juga bisa menjadi sebuah keputusasaan bagi kita semua. Apakah kau sudah siap mendengarnya, Tuanku?" Tanya Cathy sekali lagi untuk memastikan.


Eric dengan segera menganggukkan kepalanya.


"Aku sudah siap dengan apapun yang akan kau katakan. Jadi, katakanlah semuanya dengan rinci." Balas Eric.


"Kalau begitu, aku akan memulainya dengan sesuatu yang sederhana."


Cathy nampak menghentikan perkataannya sesaat. Membuat Lucien dan juga Eric mati dalam penasaran yang terus menggerogoti mereka.


Tapi setelah itu, Ia melanjutkannya dengan sebuah kalimat yang mengejutkan mereka berdua.


"Tuan Eric.... Aku telah mengingat bahwa sebenarnya, aku pernah hidup di dunia ini sebelumnya. Jauh sebelum bertemu denganmu, Tuanku."


Eric secara refleks membuka matanya lebar-lebar seakan tak mampu mempercayainya. Sedikit harapan muncul di hatinya setelah mendengar perkataan Cathy.


"Namaku adalah Catherine. Dulu, aku dikenal sebagai seorang arkeolog yang bekerja di bawah perintah Yang Mulia Asmodeus."


Tak ada satu orang pun yang berani menyela Cathy saat Ia menceritakan sedikit mengenai dirinya.


"Pada saat terakhirku, aku diperintahkan untuk meneliti mengenai bangunan misterius di tengah Padang pasir hitam. Sebuah bangunan yang secara misterius muncul dan semakin besar setiap harinya."


'Glek!'


Eric menelan ludahnya, menyadari bahwa kemungkinan besar bangunan yang dimaksud adalah kuil yang kini ada di hadapan mereka.


"Pada akhirnya, aku berhasil menguak semuanya mengenai bangunan ini. Oleh karena itu, maafkan aku... Tuanku."


Kali ini, Eric nampak kebingungan dengan kalimat terakhir Cathy.


"Maafkan? Untuk apa? Tenang saja aku tida.... Kuugghh!!!"


Tanpa di sangka, Cathy telah menghunuskan tangan kanannya tepat di jantung Eric. Mencabutnya dengan sangat cepat lalu melemparkannya ke tanah.


Lucien yang melihat hal itu nampak kebingungan harus bertindak seperti apa.


"Ca-Cathy.... Kau.... Apa yang kau...."


Di saat-saat terakhir Eric, Ia melihat ekspresi wajah yang sangat dingin dari Cathy. Sebuah ekspresi yang sama sekali tak pernah diperlihatkan olehnya.


Seiring dengan terus menerus menurunnya Health Point Eric, kesadarannya pun mulai memudar.


Kegelapan mulai menyelimuti pandangannya. Seakan layar notifikasi mengenai damage dan Debuff yang diterimanya tak cukup untuk menutupi pandangannya.


Hingga akhirnya, Eric melihat sosok Lucien yang telah menerjang ke arah Cathy, tepat sebelum Eric sepenuhnya kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


__ADS_2