TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 372 - Primordial Slime


__ADS_3

Setelah menuruni beberapa lantai, akhirnya tim Ekspedisi Eric telah tiba di depan sebuah pintu yang terbuat dari logam yang aneh.


Pintu itu memiliki warna perak kebiruan dengan alur biru. Sebuah ciri yang menyerupai logam yang sebelumnya Cathy minta untuk dibawa.


"Kurasa di balik pintu ini akan ada sesuatu yang buruk." Ucap Eric pada dirinya sendiri. Hal yang wajar mengingat selama perjalanan kemari, Eric dan timnya sama sekali tak menemukan apapun. Bahkan jebakan paling sederhana pun sama sekali tak ada.


"Kalian semua sudah siap?"


Setelah memastikan semua anggota timnya menganggukkan kepala mereka, Eric pun memberanikan dirinya untuk membuka pintu logam itu.


Dan akhirnya, apa yang ada di balik pintu itu....


"De-Deus?!"


Sosok Ratu Vampir yang terkenal akan kekejamannya dan kekuatannya itu justru berdiri tepat di hadapan mereka semua.


Eric, Lucien dan juga Cathy nampak sangat terkejut. Itu karena mereka sudah tahu bahwa Deus telah lama mati. Meski begitu, sosok Deus itu sendiri sangatlah berarti bagi mereka.


Akan tetapi, Deus sama sekali tidak menjawab panggilan Eric. Ia hanya diam dan tersenyum di tengah ruangan ini. Sebuah ruangan yang dipenuhi dengan kaca yang tebal dan mesin yang aneh. Meskipun, semuanya telah lama rusak.


"Yang Mulia.... Tidak. Kau bukanlah Yang Mulia!" Teriak Cathy sesaat setelah mata emasnya mulai memahami apa yang ada di hadapannya.


'Zraaatt!'


Monster yang memiliki tubuh seperti Deus itu melesat dengan sangat cepat ke arah Tharkas. Kukunya yang tajam itu nampak telah siap untuk menebas apapun yang ada di depannya.


'Sraaaasshh!!!'


Perisai besar milik Tharkas itu pun terbelah menjadi enam bagian setelah menerima serangan cakar dari monster itu.


"Kugghh!!"


Tharkas segera melompat ke belakang secara insting karena Ia merasa ada sesuatu yang sangat berbahaya dari apapun yang ada di hadapannya.


Tapi saat itu terjadi....


Sebuah cahaya putih yang terang namun tipis nampak bergerak dari lantai hingga ke langit-langit ruangan ini. Memotong tangan monster apapun yang memiliki tubuh seperti Deus itu.


Pelakunya?


Tentu saja, Eric yang menggunakan tongkat sihirnya dan skill favoritnya [Extermination Ray].


"Aku tak tahu siapa atau apa dirimu yang sebenarnya. Tapi nampaknya, kau tak begitu ramah ya?" Ucap Eric dengan tatapan yang tajam.


Senyuman yang indah pun tergambar di wajah Deus itu. Membuat Eric semakin jijik dan membenci monster yang ada di hadapannya.


"Magic Barrage!"


Rentetan lebih dari 100 peluru sihir segera menghantam tubuh Deus. Sementara itu, Cathy nampak sedang melakukan analisa yang lebih lanjut mengenai sosok yang sedang mereka lawan ini.


Rilette di sisi lain telah lama memberikan seluruh Buff sihir kepada Tuannya. Dan kini mulai fokus untuk memberikan Buff pada anggota tim yang lain.


Seperti Lucien yang telah berlari ke arah belakang monster bertubuh Deus itu, dan Verara yang telah terbang dan siap melakukan serangan dari udara.

__ADS_1


'Zraaasshhh!!!'


'Kraaasshh!!!'


Cabikan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Lucien dan juga Verara kepada tubuh Deus yang baru saja menerima serangan sihir itu pun berhasil mencincang tubuh lawannya dengan baik.


Ratusan.... Mungkin ribuan potongan tubuh Deus nampak bertebaran di segala arah.


"Mundur! Bersiap untuk bertahan!" Teriak Eric sambil segera membuat posisi bertahan dengan seluruh anggotanya.


Mereka semua nampak waspada terhadap potongan-potongan tubuh yang bertebaran di lantai itu.


Setelah beberapa detik, keanehan yang sejak awal mereka waspadai mulai terjadi.


Setiap potongan tubuh itu nampak meleleh dan berubah menjadi cairan berwarna ungu kehitaman. Cairan itu nampak begitu pekat. Meski begitu, cairan itu mampu bergerak.


Tujuannya pun sama. Mereka bergerak tepat ke suatu arah hingga akhirnya setiap potongan itu bergabung dan membentuk wujudnya yang sebenarnya.


Sebuah Slime berwarna ungu kehitaman. Ukurannya sebesar setengah tinggi manusia.


"Apakah dia Primordial Slime itu? Kalau begitu, kita akan bersiap untuk apapun yang terjadi." Ucap Eric dengan suara yang cukup lirih.


Semua orang menganggukkan kepalanya. Bahkan Lucien sekalipun merasa khawatir terhadap situasi yang mereka hadapi saat ini. Terutama Eric.


'Aku baru saja memotong tubuhnya, bahkan damage yang dihasilkan pun cukup besar. Tapi apa-apaan dengan monster ini?! Bukankah dia nampak terlalu tenang?!' Pikir Eric dalam hatinya.


Segera setelah Slime itu menyatu, cairan hitam yang kental itu mulai bergerak. Lebih tepatnya mulai membentuk seperti tubuh manusia.


Haruskah mereka menyerang? Bertahan? Atau justru kabur saat ini juga dengan memanfaatkan lingkaran sihir Teleportasi yang sebelumnya mereka temukan?


Ketika mereka masih terlarut dalam pikiran itu, pergerakan Slime itu telah terhenti dan kini membentuk wujud seseorang yang sangat mereka kenal. Lengkap dengan pakaian dan perlengkapannya.


"Tuan Eric?!"


Slime itu, kini telah membentuk dan menirukan tubuh Eric yang saat ini seutuhnya. Sama sekali tak ada perbedaan sedikitpun diantara mereka.


Parahnya lagi....


"Perkenalkan. Namaku adalah Eric. Bisakah kita bernegosiasi?" Ucap Slime yang menirukan tubuh Eric itu.


'Dia bisa berbicara?! Bahkan dengan suara yang persis seperti diriku?!' Teriak Eric terkejut dalam hatinya.


Eric yang merasa mungkin ini adalah kesempatan yang baik untuk mengetahui niat yang sebenarnya dari lawannya, segera menerima tawaran itu.


"Baiklah. Mari kita bernegosiasi. Apa yang kau inginkan?" Tanya Eric singkat sambil menurunkan tingkat sihirnya tanpa menurunkan kewaspadaannya.


"Bagus. Aku tahu bahwa kau akan menerima ajakanku. Kalau begitu, mari kita mulai dengan keinginanku." Ucap Slime itu sambil segera menurunkan [Oracle Staff] miliknya.


Ia melangkah mendekati Eric dan timnya secara perlahan. Tak lupa, senyuman tipisnya yang khas turut menghiasi wajah tiruan itu.


Hingga akhirnya, setelah berdiri tepat di depan Eric, Ia pun membisikkan apa yang diinginkan olehnya.


"Aku ingin memangsa kalian semua." Bisik Slime itu.

__ADS_1


Sontak Eric dan juga timnya segera melompat menjauhi Slime bertubuh Eric itu.


Tujuannya? Adalah kabur secepat mungkin. Apapun yang terjadi, bahkan jika harus mengorbankan diri mereka sekalipun, Eric harus selamat dari tempat ini.


Di saat mereka terus berlari, Eric sedikit menengok ke arah belakang untuk mengetahui apakah Slime itu mengejarnya.


Tapi apa yang dilihatnya justru jauh lebih menyeramkan dan menakutkan dibandingkan jika Slime itu mengejarnya.


Bagaimana tidak, Slime yang menirukan tubuh Eric itu hanya berdiri di tempat dengan tenang. Wajahnya nampak tersenyum lebar dengan kedua mata yang tertutup.


Apa yang dilakukannya seakan-akan menandakan bahwa tim Eric takkan selamat apapun yang mereka lakukan.


"Tuanku! Cepat pergi! Kami akan menahannya di lantai ini!" Teriak Tharkas. Verara dan juga Rilette nampak menganggukkan kepalanya.


Eric yang sedari awal tak ada niat untuk mati, secara terpaksa hanya bisa menganggukkan kepalanya dan segera pergi.


Meskipun melarangnya, Eric sangat yakin bahwa mereka pasti akan bersikeras untuk tinggal dan menahan Slime itu. Daripada membuang waktu untuk hal yang tak diperlukan seperti itu lah, Eric segera menerima tawaran mereka.


"Cathy! Apa-apaan makhluk itu?! Apakah kau sudah berhasil menganalisanya?!" Teriak Eric yang kini mulai terbang dengan menggunakan sayap kelelawarnya, diikuti oleh Cathy dan Lucien.


Tapi Cathy hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Maafkan aku, Tuanku. Tapi berapa kali pun aku melakukan analisa, hasilnya tetap sama."


"Apa maksudmu dengan itu?!" Tanya Eric dengan nada yang panik.


"Slime itu, memiliki status yang sama persis dengan wujud yang ditirukan olehnya. Bahkan barusan, setiap statusnya sama persis dengan milikmu, Tuanku...." Jelas Cathy dengan perasaan yang terpuruk.


Akhirnya, tiga orang itu pun memutuskan untuk diam dan mempercepat gerakan mereka ke arah ruangan yang memiliki lingkaran sihir Teleportasi itu.


Di saat mereka telah sampai di ruangan itu....


"A-apa yang kalian bertiga lakukan disini?!" Tanya Eric dengan panik.


Bagaimana tidak, Verara, Tharkas dan juga Rilette....


Saat ini sedang berdiri di tengah ruangan yang sudah hancur itu.


"Apa yang kami lakukan? Bukankah sudah jelas, menghancurkan lingkaran sihir ini?" Jawab Verara.


Eric sama sekali tak berpikir bahwa mereka akan berkhianat. Bukan karena perasaannya, tapi karena skill yang dimilikinya memastikan hal itu takkan pernah terjadi.


Dengan kata lain, apa yang ada di hadapannya saat ini....


'Sruuugg!!! Srruuugg!!'


Tepat di saat Eric sedang memikirkan skenario terburuk, dinding dengan logam yang aneh itu mulai bergerak dan membentuk wujud Verara yang baru.


Tak hanya satu, tapi puluhan Verara, Tharkas dan juga Rilette yang baru mulai bermunculan dari dinding itu.


Akhirnya, Eric pun tersadar. Inilah alasan kenapa Slime yang menirukan dirinya sama sekali tak mengejarnya dan justru diam di tempat sambil tersenyum.


"Jangan katakan padaku.... Bahwa seluruh bangunan ini adalah tubuh dari Slime itu sendiri?"

__ADS_1


__ADS_2