TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 356 - Pilihan Berat


__ADS_3

...Sebuah Tempat yang Tidak Diketahui...


'BLAAAAAAAAARRRR!!!'


Suara ledakan dari tembakan meriam terdengar sangat keras di ruangan bawah tanah ini.


Eric yang berjalan bersama para peneliti lainnya nampak mengenakan pelindung pendengaran yang menyerupai sebuah headphone.


Di bagian kanan dan kiri mereka nampak menjadi lahan ujicoba persenjataan dan juga Drone kelas tempur. Ukurannya yang besar membuat manusia seakan seperti seekor tikus dihadapan mereka.


Fasilitas yang seharusnya merupakan pembangkit listrik ekstra besar ini, justru menyimpan rahasia yang bahkan Eric sendiri tak ketahui.


Sebuah fasilitas penelitian rahasia yang memiliki tingkat keamanan yang sangat ketat.


Bahkan Eric sekalipun sebagai pemilik cukup kesulitan untuk memasuki tempat ini.


Pengecekan identitas dan keamanan dilakukan setiap memasuki ruangan. Semakin dalam ruangan yang dimasuki, pemeriksaan yang dilakukan semakin ketat.


Hingga akhirnya, mereka semua tiba di hadapan sebuah elevator yang dijaga oleh empat orang prajurit.


"Identitas." Ucap Prajurit itu sambil menodongkan senjatanya ke semua orang. Termasuk Eric.


Setelah menyelesaikan pemeriksaan, hanya Eric dan komandan yang menemaninya sejak awal yang diperbolehkan untuk memasuki elevator.


Tombol yang ada di Elevator itu hanya ada dua. Yaitu U dan B. Dimana U adalah tombol untuk pergi ke lantai ini, sedangkan B?


Eric dan komandan pasukan itu mulai turun dengan menggunakan elevator itu.


Satu menit....


Dua menit....


Waktu terus berlalu, Elevator terus berjalan. Tapi mereka tak kunjung sampai di tujuannya.


'Yang benar saja.... Bukankah fasilitas ini sudah menjadi terlampau jauh dari apa yang kubayangkan? Andra sialan itu, apa yang dia lakukan?' Pikir Eric dalam hatinya.


Andra adalah salah satu ilmuan paling jenius di abad ini, bahkan dapat disetarakan dengan penemu Genesis. Superkomputer paling cerdas yang pernah dibuat oleh manusia.


Eric pernah menjalin sebuah kerjasama dengan Andra beberapa tahun yang lalu. Perjanjiannya sangatlah sederhana, yaitu membantu Eric untuk mengembangkan teknologi demi kemajuan bisnisnya.


Sebagai gantinya, Eric akan terus menyuplai Andra dengan sumberdaya. Termasuk uang.


'Ting!'


Akhirnya, mereka berdua pun sampai di tujuannya.


Pintu elevator terbuka secara perlahan. Tapi sang komandan pasukan tak bergerak sedikitpun.


"Aku tak memiliki izin untuk melangkah lebih dari tempat ini. Oleh karena itu, aku akan menunggu di sini." Ucap Komandan itu sambil berdiri tepat di depan elevator yang pintunya tak kunjung tertutup itu.


"Baiklah...."


Mempersiapkan dirinya, Eric pun segera berjalan mengikuti satu-satunya jalan yang ada.


Sejujurnya, ruangan yang ada di hadapan Eric sangat jauh dari ekspektasinya.


Eric membayangkan bahwa tempat paling rahasia di dalam fasilitas ini menyimpan banyak teknologi mengerikan dan mesin-mesin besar dengan banyak pegawai.


Tapi kenyataannya?

__ADS_1


Hanya sebuah ruangan dengan ukuran sekitar 6 x 4 x 4 meter, dengan banyak rongsokan besi yang tercecer di berbagai tempat dan tumpukan cpu komputer yang terlihat menyala.


Di ujung ruangan itu, terlihat seorang Pria yang memiliki rambut panjang hingga diikat. Sedangkan di hadapannya....


Adalah sebuah Droid dengan bentuk yang menyerupai manusia. Tapi hanya bentuknya saja. Droid itu sama sekali tak memiliki wajah.


Hanya boneka mesin tipe humanoid, memiliki lima jari di kedua tangannya, dan dua buah kaki yang lebih panjang dari lengannya. Kaki itu juga memiliki lima jari sama seperti manusia.


Yang membedakan adalah kepalanya yang memiliki bentuk bola dengan mesin yang cukup kompleks berbentuk balok yang panjang di tengah kepalanya.


Layar yang ada di kepalanya saat ini nampak menyala dengan banyak lampu merah.


Mendengar suara langkah kaki, Pria itu pun menolehkan perhatiannya.


"Hmm? Eric ya? Apa maumu?" Tanya Andra dengan tenang sambil terus mengotak-atik mesin yang ada di hadapannya.


"Apakah buruk jika aku hanya berkunjung?" Tanya Eric kembali.


Kediaman pun terjadi selama beberapa saat, dimana Andra menyibukkan dirinya sendiri dengan mesin yang ada di hadapannya.


Tapi secara tiba-tiba....


"Perlukah aku melemparkan bom di pusat pemerintahan? Kudengar kau memiliki masalah dengan mereka. Tenang saja, mereka akan menganggap pelakunya adalah ******* dan separatis di daerah ini." Ucap Andra dengan nada datar meskipun bobot perkataannya begitu besar.


Merasa terkejut, Eric pun berteriak secara refleks.


"A-apa yang kau katakan?! Bo-bom?! Bukankah itu terlalu berlebihan?! Lagipula, memangnya kau...."


Sebelum Eric sempat menyelesaikan perkataannya, Andra menunjuk ke suatu arah.


Apa yang ditunjuk olehnya, adalah sebuah mesin dengan bentuk seperti bola. Ukurannya setara dengan bola basket.


Merasa kebingungan, Eric pun seakan ingin mengajukan pertanyaan.


"Itu adalah pembangkit listrik tenaga fusi, rencananya aku ingin memasangnya sebagai sumberdaya benda ini. Tapi sayangnya, reaksi yang tak stabil membuat benda itu sangat mudah meledak." Jelas Andra sambil menepuk robot humanoid yang ada di hadapannya.


"Eh, aku tak paham apa maksudmu...."


"Hanya perlu melakukan sedikit penyesuaian, maka bola ini akan meledakkan setidaknya seluruh istana negara." Jelas Andra sambil segera bersiap untuk memperbaiki bola mesin itu.


"Ti-tidak! Aku benar-benar hanya ingin menjengukmu! Hentikan!!!"


Tanpa disangka, senyuman tipis terlintas di wajah Andra.


"Hahaha.... Bodoh. Tentu saja aku takkan melakukannya." Balasnya sambil tertawa ringan.


Eric pun mulai bernafas lega mendengar bahwa Andra hanya bercanda.


"Itu karena ledakan yang terjadi mungkin akan memusnahkan satu kota. Itulah mengapa aku membuang desain buruk itu." Lanjut Andra.


"Eh?! Jadi bagian mana yang merupakan candaan?!"


Pertemuan dua orang itu kembali nampak saling mengobati luka di dalam diri mereka masing-masing.


Eric di satu sisi, tersadar bahwa permasalahan yang dihadapinya sebenarnya sama sekali bukan masalah yang serius. Dan Ia memiliki salah satu ilmuan paling gila di abad ini di pihaknya.


Andra menjanjikan bahwa akan membantu Eric memonopoli pasar energi dan juga robotik.


Di sisi lain, Andra yang selama 2 tahun lebih ini selalu mengurung dirinya sendirian, akhirnya menemukan sosok manusia lain selain dirinya.

__ADS_1


Sosok manusia.... Yang benar-benar Ia akui.


"Lalu apa yang kau lakukan saat ini?" Tanya Eric di tengah-tengah obrolan mereka.


"Rongsokan sialan ini tak mampu bergerak. Tapi wanita sialan itu berhasil membuat sesuatu seperti Genesis." Jawab Andra sambil memukul robot berbentuk manusia itu.


"Eh? Bukankah itu sudah jelas? Droid kompleks membutuhkan pilot untuk mengendalikannya dari jauh bukan? Ngomong-ngomong dimana antena...."


"Ini bukanlah droid seperti itu." Balas Andra memotong perkataan Eric.


Dengan wajah kebingungannya yang khas, Eric menanyakan pertanyaan terbodoh yang bisa ditanyakan saat itu.


"Apa maksudnya dengan itu?"


"Hah.... Apakah kau tak menyadarinya selama bermain Re:Life?" Tanya Andra sambil menghela nafasnya.


Setelah memikirkannya sesaat, Eric pun mengerti apa yang dimaksud oleh Andra.


"NPC itu...."


"Benar. NPC itu terlihat seperti hidup bukan? Tapi membuatnya di dunia virtual yang didukung mesin komputasi tingkat tertinggi seperti Genesis adalah hal yang mudah. Tapi menerapkan kecerdasan setinggi itu dalam sebuah mesin di dunia nyata? Itu adalah apa yang sedang kukerjakan selama ini."


Apa yang dipikirkan oleh Eric hanya ada satu.


'Tidak Mungkin.'


Tapi seakan membantah pemikirannya, Andra terlihat menyeruput kopi hitamnya sekali lagi sambil segera berdiri dari duduknya.


"Aku tahu. Mungkin di masa hidupku hal ini tidak mungkin dilakukan. Dengan kebiasaan burukku yang terus bekerja tanpa istirahat, aku mungkin akan segera mati. Oleh karena itu, Eric."


Andra terlihat menjeda perkataannya sesaat sebelum melanjutkannya.


Eric pun mempersiapkan dirinya untuk mendengar apapun yang mungkin dikatakan oleh orang gila yang ada dihadapannya.


"A-apa? Cepat katakan."


"Jika kau berkenan, biarkan aku mendidik putrimu. Aku akan menjamin dia menjadi ilmuan terhebat yang pernah dikenal dunia. Melihat sampel DNA miliknya, putrimu memiliki potensi yang besar." Jelas Andra.


"Tu-tunggu dulu. Sejak kapan kau...."


Tak memberikan Eric sedikitpun kesempatan untuk berbicara, Andra segera mundur dari ucapannya sendiri.


"Tentu saja, itu jika kau memperbolehkan. Jika tidak, aku takkan memaksa. Meskipun, aku akan mengatakannya sekarang. Kemampuan seseorang ditentukan oleh langit dan usahanya di dunia. Jika kau membiarkan bakat seperti putrimu tak dipoles, Ia hanya akan menjadi putri seorang CEO kaya seperti umumnya."


Sebelum sempat bertanya, Andra seakan telah mengetahui apa yang akan ditanyakan oleh Eric.


"Tenang saja. Aku bersungguh-sungguh untuk menjadikannya muridku. Dengan kata lain, jika kau setuju, aku akan segera mengemasi barangku dan mulai tinggal di rumahmu."


Kini, Eric dihadapkan sebuah pilihan yang sangat sulit.


Tawaran yang diberikan oleh Andra bukanlah sesuatu yang bisa diperoleh orang manapun. Dengan kata lain, kesempatan sekali seumur hidup untuk membuat bakat putrinya yang bahkan belum Ia ketahui, menjadi berkembang pesat.


Tapi di sisi lain ....


Akankah dirinya menjadi seperti yang pernah orangtuanya dulu lakukan padanya, dengan memaksakan kehendaknya kepada anaknya.


Atau memberikan kesempatan kepada putrinya untuk memilih sendiri nasibnya di masa depan.


'Jadi ini.... Yang dulu pernah dirasakan oleh ayahku? Pantas saja Ia bersikap seperti itu....'

__ADS_1


__ADS_2