TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 374 - Pertempuran Besar


__ADS_3

...Dunia Manifestasi...


...Dungeon Kota Orc 1...


'Sreeett!!!'


Eric menggerakkan tangan kanannya sedikit. Bersamaan dengan itu, ratusan Balista dan juga Catapult yang ada di seluruh dinding Kota ini bergerak sesuai dengan apa yang diinginkannya.


Pada saat yang bersamaan....


'Zrrruuussshh!!!'


Ratusan panah raksasa itu melesat dengan sangat cepat ke arah tengah Kota ini. Begitu pula dengan batuan besar yang dilontarkan oleh Catapult.


'Blaaarrr! Blaaarrr!!'


Kehancuran yang terjadi cukup mengerikan. Ratusan panah raksasa terlihat menancap ke tanah. Jalanan dan juga debu yang hancur karena lontaran batu besar itu pun menutupi pandangan mata.


Meski begitu, Eric masih mengetahui apa yang terjadi di tempat itu.


Semua itu berkat notifikasi dari sistem yang diberikan kepada para pemain game ini.


[Anda telah memberikan .... ]


[Anda telah .... ]


[ .... ]


[Anda telah membunuh 37 Primordial Slime Fragment!]


[Anda telah mempe .... ]


'Siapa yang peduli dengan semua itu.' Pikir Eric dalam hatinya sambil menarik Cathy menjauh dari pusat Kota itu.


"Tuanku?!"


"Tenang saja." Balas Eric singkat.


Dengan cepat, Eric segera terbang menuju ke kastil yang dibangunnya. Dan tanpa ragu, Ia segera menghabiskan seluruh Mana Pointnya untuk mendirikan perisai kristal yang mengelilingi seluruh Kastil ini.


'Glek! Glek! Glek!'


Setiap kali Mana Pointnya habis, Ia tanpa ragu meneguk sebanyak mungkin Mana Potion yang ada di dalam Inventorynya.


'Masih tak cukup....' Pikirnya dalam hati.


Tangan kanan Eric bekerja untuk mengatur seluruh pergerakan perangkap yang berupa Balista dan juga Catapult di sekeliling dinding pertahanan Kota ini.


Sedangkan tangan kirinya tak pernah berhenti mengayunkan tongkat sihir itu untuk terus membuat perisai Kristal.

__ADS_1


Tak hanya itu, pikirannya pun masih terbagi untuk mengatur prajurit yang ada.


"Perintahkan seluruh pasukan untuk memburu monster yang ada. Mereka menyerupai wujudku, Lucien, Verara, Tharkas dan juga Rilette. Mengerti?" Perintah Eric kepada empat petinggi militer yang berada di dalam Kastil itu.


"Dengan segera, Tuan Eric!"


Dengan begitu, pertempuran antara sebuah Kota dengan seluruh pecahan Primordial Slime itu pun berlangsung.


"Slime sialan...." Keluh Eric mengetahui bahwa 3 dari 21 perisai yang dibangunnya secara mendadak itu telah dihancurkan dengan cepat.


Tanpa ragu, Eric mengarahkan tangan kanannya kepada Cathy.


"Assimilation. Cathy, berikan kekuatanmu sebentar." Ucap Eric sambil mengaktifkan skillnya.


"Dengan senang hati, Tuanku."


Segera setelah Eric membuka matanya, warna matanya telah berubah dari yang sebelumnya berwarna merah gelap menjadi keemasan.


Rentetan informasi baru yang sebelumnya tak pernah dilihatnya pun mulai bermunculan di hadapannya.


'Hoo.... Jadi mereka memang memiliki status dan juga skill yang sama persis denganku. Syukurlah skill Dungeon merupakan skill yang membutuhkan waktu untuk bisa berguna.' Pikir Eric dalam hatinya setelah melihat mereka semua.


Di balik jendela kastil itu, Eric bisa mengamati seluruh Medan pertempuran dengan baik.


Pasukan Orc Kota ini nampak mampu bersaing dengan baik melawan Verara, Tharkas dan juga Rilette tiruan itu. Tapi sayangnya, mereka tak mampu menangani para Lucien dan Eric palsu itu.


Eric terus mempertahankan dirinya di dalam dinding kastil ini sambil memperkokoh pertahanannya. Satu-satunya serangan yang dilancarkan oleh Eric adalah serangan Balista dan juga Catapult dari kejauhan. Tapi itu saja sudah efektif untuk terus menerus membunuh lawannya.


"Hmm? Benar juga, apakah mereka juga memiliki item yang sama seperti di inventoryku?" Tanya Eric pada dirinya sendiri.


Ia pun mencoba fokus pada salah satu Eric palsu itu. Tujuannya hanya satu, yaitu mengetahui apakah mereka juga memiliki Inventory dengan isi yang sama seperti yang dimilikinya.


Setelah beberapa saat mengamati, senyuman lebar yang terkesan sangat licik itu muncul di wajah Eric.


"Fufufu.... Jadi begitu kah?" Ucap Eric sambil tertawa puas.


Apa yang dilihatnya adalah salah satu Eric palsu yang terlihat tidak lagi banyak bertarung. Bahkan Eric palsu itu mampu dipojokkan oleh 20 Ksatria Orc yang didukung oleh para penyihir.


Pada saat Eric mencoba untuk melihat Inventorynya, nampaknya semua monster dan NPC di dunia ini tak memiliki hak untuk mempunyai Inventory.


Sedangkan hal yang membuatnya sangat bahagia adalah sebuah kenyataan, dimana Mana Point Eric palsu yang diperhatikannya hanya tersisa 3.281 Mana Point saja.


Dengan kata lain....


"Buahahaha! Bagaimana rasanya bertarung sebagai penyihir tapi tak memiliki Mana Point untuk digunakan? Dasar bodoh! Buahahaha!" Teriak Eric sambil tertawa dengan sangat puas.


Kini Ia menjadi sangat yakin, bahwa kemenangan telah ada di depan matanya.


"Mari kita bertanding, lendir-lendir sialan. Apakah Mana Potion di Inventoryku yang lebih dulu habis, atau Mana kalian semua."

__ADS_1


Pertempuran pun terus berlanjut dengan Eric yang duduk dengan tenang di dalam kastil yang kini dilapisi oleh 100 lebih Perisai Kristal.


...***...


'Klangg! Klaaangg!!!'


'Blaaaarrrr!!!'


Di pinggiran kota, terlihat dua Lucien palsu sedang bertarung dengan sekitar 30 prajurit. Akan tetapi, pertarungan ini nampak berat sebelah.


"Hah... Hah... Hah.... Bagaimana jika kalian segera mati saja?" Ucap Lucien palsu itu kepada para Prajurit Orc.


"Mati? Tuan kami takkan bahagia jika itu terjadi. Terlebih lagi, kami selalu berlatih setiap hari untuk bersiap akan peperangan." Balas kapten Orc yang memimpin 30 prajurit itu.


"Kalau begi...."


'Blaaaarrr!!!'


Sebuah panah raksasa nampak menembus salah satu tubuh Lucien palsu itu. Membuat tak hanya lubang yang besar di bagian dadanya, tapi juga membuatnya tak bisa bergerak karena terkunci oleh panah itu di tanah.


"Sialan! Kali...."


'Blaaaaarrr!!!'


Panah raksasa yang lain nampak melesat dengan sangat cepat. Tapi kali ini, Lucien palsu yang kedua berhasil menghindarinya dengan baik. Ia segera terbang dan menjauh dari tempat itu.


Meski begitu, Ia harus kehilangan salah satu lengannya.


Ketika Ia membalik badannya, para prajurit Orc itu terlihat mencincang Lucien palsu yang sebelumnya tertusuk panah raksasa itu hingga mati.


"Sialan.... Apakah aku terlalu meremehkannya? Aku seharusnya membunuh penyusup itu sejak awal." Ucap Lucien palsu itu pada dirinya sendiri.


Ketika Ia telah terbang cukup tinggi, pemandangan yang dilihatnya cukup mengerikan. Yaitu sebuah pembantaian massal yang dilakukan oleh Eric dan juga para Prajurit di Kota ini.


Mereka yang bertarung di tanah akan dihabisi oleh para Prajurit dengan bantuan alat berat di atas dinding Kota.


Mereka yang mencoba terbang akan segera dijatuhkan kembali oleh Eric menggunakan sihirnya ataupun dengan menggunakan alat berat.


Dan mereka yang berusaha untuk menghadapi dan menghancurkan alat berat itu, akan ditembak jatuh oleh regu pemanah yang berada di sekeliling dinding kota.


Meskipun tak bisa membunuh targetnya, para pemanah itu akan mampu untuk menjatuhkan mereka kembali ke tanah.


Siklus pun terus berulang dengan kekejaman yang ditunjukkan oleh Eric dan juga para Prajuritnya.


Pada saat Lucien palsu itu masih sibuk untuk berpikir, sebuah petir berwarna biru itu mulai menyambar dirinya.


'Jdaaaarrr!!!'


Sambaran itu tak cukup untuk membunuhnya. Tapi sudah cukup, untuk membuatnya kembali ke tanah. Dimana disana, ratusan Prajurit Orc telah menanti untuk mengeroyok Lucien palsu itu.

__ADS_1


Di dalam kasti....


"Hmm.... Kurasa lebih mudah dari yang ku bayangkan." Ucap Eric yang kini telah duduk di hadapan sebuah meja kayu bundar sambil meminum teh hangat.


__ADS_2