
...Kantor Grandia Group...
Di hadapan sebuah meja yang begitu elegan itu, terlihat sosok seorang wanita yang sedang duduk dengan menutupi wajahnya.
Meski tertutupi, semua orang bisa tahu bahwa Ia sedang dalam perasaan yang buruk.
Bagaimana tidak, di layar tablet yang sedang digunakannya terlihat sebuah pesan singkat dari seseorang yang dianggap sebagai pebisnis hebat, Eric.
[Pengirim : Eric]
[Aku tak tahu bagaimana caranya, tapi aku serahkan semuanya padamu! Aku yakin kau pasti bisa! Kuncinya kau harus yakin!]
"Yang benar saja...." Ucap Lisa sambil menghela nafasnya.
"Oi, apakah Nona Lisa akan kembali memasuki mode pemarah?"
"Sepertinya begitu. Tuan Eric nampaknya kembali pergi secara tiba-tiba."
"Kumohon segeralah kembali Tuan Eric! Kami tidak tahan dengan...."
Beberapa pegawai yang memperhatikan sosok Lisa dari jauh itu pun mulai menggosip. Tapi seketika, obrolan seru mereka terhenti.
"Tidak tahan dengan apa? Jika kau sempat untuk mengeluh maka gerakkanlah tanganmu untuk bekerja!" Teriak Lisa sambil membawa sebuah tongkat kayu.
Suasana kerja yang biasanya santai pun, segera berubah menjadi neraka.
...***...
...Dunia Iblis...
...Di wilayah yang tidak diketahui...
Di tengah Padang pasir yang berwarna hitam ini, nampak tiga orang sedang berjalan dengan tongkat sebagai tumpuan.
Seluruh tubuh mereka ditutupi dengan jubah kain yang cukup tebal.
Semua itu karena Padang pasir hitam ini sangatlah kejam. Bukan hanya karena monster nya saja, tapi juga lingkungannya yang mampu membunuh siapapun yang tak mempersiapkan diri dengan baik.
"Hah.... Sierra sialan. Setidaknya sebelum pergi, beritahu padaku dimana lokasi kerajaanmu! Dengan begini aku takkan bisa pulang kembali ke dunia manusia melalui World Rift yang ada di Kerajaanmu!!!" Teriak Eric seperti orang gila.
Hal yang wajar mengingat Eric, Lucien dan juga Cathy telah tersesat di Padang pasir hitam ini selama lebih dari satu Minggu bagi Eric, dan hampir 1 tahun bagi Lucien dan Cathy.
"Fufufu.... Aku mulai mengagumi kekuatanmu, wahai iblis berwujud Padang pasir!" Ucap Lucien penuh dengan omong kosong seperti biasanya.
"Makanan! Makanan! Makanan!" Teriak Cathy sambil terus menoleh kesana kemari mencari apapun yang bisa Ia makan selain pasir hitam.
"Berisik, ambilah ini." Balas Eric sambil melemparkan sepotong daging naga yang Ia peroleh sebelumnya.
Seakan tak memiliki harapan, kelompok beranggotakan tiga orang ini pun hanya bisa terus menerus berjalan lurus ke satu arah. Dengan harapan untuk menemui ujung dari Padang pasir ini.
...***...
__ADS_1
...Dunia Manusia...
...Bekas Wilayah Kerajaan Farna...
...Kota Forgia...
Kota yang sejak jaman dahulu dikenal dengan kesibukannya yang luarbiasa itu, kini masih berdiri tegak meski Raja mereka telah kalah.
Industri pandai besi yang begitu besar dan kompleks ini membuat Kota ini dikenal sebagai Kota Penempa.
Semua pemain ataupun NPC yang memiliki sedikit saja pengetahuan mengenai penempaan, pasti pernah bercita-cita untuk datang ke Kota ini.
Hal yang sama juga dirasakan oleh seorang pemain bernama Aamori.
"Aah.... Akhirnya aku tiba juga di surga para Penempa. Meski begitu...."
Aamori memalingkan pandangannya ke arah suatu kastil. Di tembok kastil yang kini telah dibangun ulang menjadi begitu megah itu, terlihat bendera Kerajaan Salvation yang berkibar dengan agungnya.
"Kenapa orang itu sampai disini?" Ucap Aamori sambil mendecakkan lidahnya.
Aamori sangatlah membenci sosok Raja Tiran yang bernama Chris. Baginya, Chris hanya memandang dunia ini sebagai mesin penghasil uang. Mengalahkan maksud utama dunia ini yaitu untuk bersenang-senang.
"Tolong perlihatkan perlengkapanmu." Ucap salah seorang penjaga gerbang itu.
"Pemain atau NPC?" Tanya penjaga lainnya yang merupakan seorang pemain itu.
Aamori pun menjawab dengan tenang.
Tapi ketenangan Aamori pun segera menghilang setelah sebuah pertanyaan diajukan oleh penjaga yang lain.
"Tunjukkan identitasmu. Jika kau termasuk orang yang dilarang untuk memasuki kota ini...."
'Zraaaaattt!! Zraaaatt!!'
Secara tiba-tiba, kepala tiga orang penjaga itu terlepas dan mulai berubah menjadi cahaya putih.
Bahkan Aamori itu sendiri pun terkejut.
"Aaah berisik sekali. Bisakah setidaknya mereka mati dengan tenang? Bukankah benar begitu, Aamori?" Ucap sang Iblis Merah, Elin.
"E-Elin?! Apa yang kau?!" Teriak Aamori dengan penuh perasaan terkejut.
Tapi sebelum mereka sempat mengekspresikan seluruh rasa terkejutnya....
"PENYUSUP!!!" Teriak penjaga lainnya yang dengan segera membunyikan lonceng.
Ratusan... ribuan prajurit pun segera berlari ke arah Elin dan juga Aamori.
Tapi jauh dari perkiraan Aamori, Elin justru tersenyum puas atas kejadian ini.
"Tuan Penempa, jika kau tidak ingin ikut bertarung, aku menyarankan dirimu untuk pergi dari sini." Ucap Elin sambil memberikan senyuman khasnya yang terlihat begitu licik.
__ADS_1
"Apa maksudmu dengan itu, Elin?" Tanya Aamori kebingungan.
"Maksudku adalah seperti ini!" Teriak Elin sambil mengeluarkan dua buah belati berwarna merah menyalanya.
Seketika, petir merah yang begitu kuat dan besar menyambar tubuh Elin. Memberikannya kekuatan petir yang meningkatkan hampir seluruh statusnya.
Dengan cepat, Elin melesat ke segala arah untuk menebas semua kepala prajurit yang ada di dalam jangkauan pandangannya. Tanpa terkecuali.
Aamori yang melihat itu pun tersadar.
'Aah.... Jadi seperti ini? Sesaat aku lupa bahwa pasangan itu adalah dua orang gila.... Kalau begitu, aku akan masuk dengan damai.' Ucap Aamori sambil melangkah memasuki gerbang itu dengan tenang.
Ia kembali ke dalam tujuannya semula, yaitu untuk menikmati dan mempelajari kompleks penempaan yang sangat besar di Kota Forgia ini.
'Elin, tolong jangan hancurkan bangunan apapun....' Pikir Aamori dalam hatinya.
Hari itu, Kota Forgia bermandikan darah oleh ribuan Prajurit yang berjaga di sana. Tak meninggalkan bahkan satupun prajurit.
Dan berita itu pun segera memasuki telinga sang Raja, Chris.
...***...
...Kerajaan Salvation...
...Kota Reinard...
'Braakkk!!!'
Chris memukul singgasana emasnya dengan sangat keras setelah menerima laporan dari salah satu bawahannya.
"Kota Forgia diserang! Bahkan hanya dengan satu orang, seluruh penjaga disana terbunuh?!" Teriak Chris dengan penuh amarah.
Semua orang yang ada di ruangan ini hanya bisa terdiam. Termasuk Evan yang saat ini masih memihak Chris.
"Yang benar saja.... Katakan bahwa berita itu adalah sebuah kebohongan...." Ucap Chris sambil menghela nafasnya.
Mendengar hal itu, Evan pun mengutarakan pendapatnya.
"Kurasa kita harus segera mengambil tindakan mengenai iblis merah ini. Dan tindakan yang paling aku sarankan adalah menggandeng iblis itu untuk memihak kita." Jelas Evan sambil tersenyum tipis.
"Maksudmu bekerjasama dengan musuh? Kurasa untuk itu saja aku tak bisa menerima saranmu."
Dengan memasang wajah yang kecewa, Evan pun segera mundur.
"Baiklah jika memang begitu." Ucap Evan.
Tapi di dalam hatinya berkata lain....
'Bersabarlah Evan.... Bersabarlah sebentar lagi. Jika waktunya tepat, aku bahkan bisa memanfaatkan keberadaan Iblis Merah itu untuk menundukkan Salvation. Yang aku perlukan hanyalah bersabar....'
Dengan sekuat tenaga, Evan mencoba menjaga ekspresi wajahnya sebaik mungkin di kala memikirkan hal itu.
__ADS_1