TDM II : Rise Of The Demon Emperor

TDM II : Rise Of The Demon Emperor
Chapter 391 - Tubrukan Besar


__ADS_3

Eric yang mengamati pasukan lawannya semakin mendekat, mulai mengangkat tangan kanannya sambil berteriak.


"Tahan!"


Ia mulai mengambil alih komando untuk sementara waktu. Semua itu didasarkan pemikiran karena Jendral barunya masih sangat muda dan kurang pengalaman dalam berperang.


Daripada membuat keputusan yang salah, lebih baik Eric sendiri yang melakukannya.


Puluhan ribu pemanah dan ratusan alat berat Balista telah siap menembak. Pemanah itu menargetkan barisan prajurit darat yang menerjang.


Sedangkan alat berat Balista itu menargetkan mereka yang terbang di udara.


Pada saat jarak antara barisan pasukan Eric dengan pasukan Belphegor telah dekat....


"Tembak!" Teriak Eric sambil menembakkan bola api yang meledak di udara.


'Syuuuuttt! Syuuutt!!!'


Hujan panah segera menutupi cahaya matahari di dunia ini. Menghujani semua prajurit pejalan kaki dan Ksatria berkuda yang sedang berlari.


Begitu juga panah besar dari Balista yang langsung menembus tubuh para Iblis yang terbang di udara itu.


'Jleeebb! Jleeebb!!'


Ribuan prajurit terkapar di tanah. Terinjak-injak oleh mereka yang masih berlari di belakang mereka. Hanya dengan satu gelombang tembakan itu, sudah memakan banyak sekali korban jiwa di pihak lawan.


"Tembak!" Teriak Eric sekali lagi.


Tapi kini, tak hanya para pemanah dan juga Balista. Regu penyihir yang ada di pasukan Eric juga melontarkan sihir mereka.


Berbagai jenis sihir mulai dari Fireball hingga Ice Lance dilontarkan dari barisan itu. Menghantam langsung ke barisan lawan musuh yang terus melaju.


Sementara itu, barisan depan pasukan Eric yang sedari tadi hanya terdiam di tempat, mulai membentuk formasinya.


Pasukan di barisan terdepan itu mulai mengangkat perisai besar mereka dengan tangan kirinya. Kemudian tangan kanannya mengarahkan tombak yang sepanjang lebih dari 4 meter itu ke depan.


Dengan demikian, barisan dinding perisai dan juga tombak selesai dibentuk. Setidaknya sebanyak tiga baris prajurit mengarahkan tombak mereka kedepan. Sedangkan baris keempat hingga ke enam mengarahkan tombak mereka sedikit ke atas.


Semua itu dilakukan untuk mencegah prajurit pejalan kaki mendekat sekaligus mencegah lompatan dari Ksatria berkuda yang ada.


'Bagus.... Para Desert Orc ini benar-benar terlatih dengan sempurna. Aku suka ini.' Pikir Eric dalam hatinya dengan perasaan puas.


Mengetahui bahwa pasukannya sangat bisa diandalkan, kini Eric mengarahkan fokusnya ke tempat yang lain.


'Jadi itu dia ya?' Ucap Eric sambil menggunakan efek khusus [Clairvoyance] dari Oracle Staff miliknya. Skill itu membuatnya mampu melihat nama, status, hingga skill yang dimiliki targetnya dengan sempurna.


Dan sedari tadi, Eric memang sedang mencari keberadaan orang satu ini. Satu-satunya ancaman untuk barisan pasukannya yang telah tersusun rapi.


Dengan senyuman yang cukup lebar, Eric segera mengepakkan sayap kelelawarnya dan terbang ke arah Belphegor berada.


'Bruuukkk!'


Eric menghantam tubuh Belphegor dengan sangat kuat hingga menyeretnya ke udara. Cukup tinggi hingga setidaknya membuat mereka berdua takkan bisa terlibat dalam pertempuran secara langsung.

__ADS_1


"Jadi kau ya?! Eric?!" Teriak Belphegor sambil tersenyum dengan sangat lebar.


"Ya. Memangnya kenapa?" Balas Eric juga dengan senyuman.


"Aku akan memakanmu! Aku akan mengambil kekuatanmu yang menjijikkan itu, dan aku akan...."


"Banyak bicara. Dungeon Manitestation." Ucap Eric memotong perkataan Belphegor.


Seketika, sebuah kubus hitam berukuran cukup besar membungkus tubuh mereka berdua.


Belphegor yang sama sekali tak menyangka bahwa ini adalah tujuan Eric, terlihat cukup terkejut. Sedangkan para pengikut Belphegor mulai panik karena kehilangan Tuan mereka.


Di sisi lain, para prajurit Eric nampak memandangi kubus hitam yang ada di langit itu dengan perasaan yang takjub dan penuh kekaguman.


"Eric sialan! Jadi ini caramu mengalahkan mereka semua?! Bahkan Obelisk sekalipun tak memiliki kekuatan seperti ini!" Teriak Belphegor yang kini telah kehilangan senyuman di wajahnya.


Yang tersisa hanyalah perasaan kesal dan sedikit rasa takut seiring dengan perubahan dunia yang ada di sekitar mereka.


Apa yang ada di hadapan mereka berdua, adalah sebuah hamparan tanah yang begitu luas. Meski mereka kini sedang berada di ketinggian sekalipun, mereka berdua tak mampu untuk melihat ujung dari dunia ini.


"Yoo, selamat datang pada duniaku. Mari kita bertarung hingga mati." Ucap Eric sambil tersenyum di kejauhan.


Ini adalah pertama kalinya Eric melakukan pemanggilan Dungeon sebesar ini.


Sebuah kemampuan yang diperolehnya setelah bertemu dengan Obelisk di Gurun Hitam itu.


Apa yang dipanggil oleh Eric, adalah sebuah megakompleks Dungeon Wilayah Selatan.


Pertarungan antara dua Raja Iblis itu pun akhirnya dimulai di sebuah dunia semu, dimana hanya akan ada satu pemenang.


...***...


"Sampai kapanpun aku melihatnya, kau benar-benar luarbiasa, Yang Mulia." Ucap Jendral Orc itu sambil melihat sebuah kubus yang melayang di udara.


Ia terlihat begitu kagum dengan kekuatan Eric. Membuatnya semakin ingin mengerahkan segalanya untuk melayaninya.


Sebagai langkah awal....


"Semuanya! Bersiaplah! Pasukan musuh sudah dekat! Tahan perisai kalian sekuat tenaga! Pegang tombak kalian sekuat tenaga! Kita akan membantai mereka semua!" Teriak Jendral Orc itu dengan suara yang begitu menggelegar.


Teriakan perang itu tak hanya menaikkan moral dan semangat juang pasukan di pihaknya, tapi juga membuat pasukan lawan merasa ketakutan.


'Syuuuuttt! Syyuuutt!!'


Setelah cukup dekat, terlihat ribuan pemanah berkuda musuh mulai menembakkan panah mereka.


Sebagian besar tembakan itu mampu ditahan dengan sangat baik oleh prajurit baris depan karena perisai besar mereka. Akan tetapi untuk barisan belakang....


'Jlebb! Jleebb!'


Ribuan panah nampak menancap ke tubuh para pemanah di kubu Eric. Meski tak mati seketika, kemampuan bertempur mereka berkurang drastis.


Sebagian karena lengan mereka tak lagi bisa digerakkan. Dan sebagian lagi karena mata mereka yang terkena panah sehingga penglihatannya menurun drastis.

__ADS_1


"Jangan panik! Segera balas mereka! Target kalian adalah para pemanah berkuda itu!' Teriak sang Jendral Orc itu dengan keras.


Setelah itu, Ia menolehkan pandangannya ke sisi bagian belakang.


Disana, terlihat ksatria berzirah hitam dengan senjata utama yang berupa tombak. Ciri khusus dari pasukan itu adalah mereka memiliki sepasang sayap di punggung mereka.


Dan di samping para Ksatria itu....


"Gggrrrr...."


Sosok Naga yang masih muda terlihat sedang menunggu giliran mereka.


Sang Jendral pun menganggukkan kepalanya secara perlahan setelah bertatapan mata dengan komandan Ksatria Penunggang Naga milik Sierra itu.


Setelah memahami maksudnya, sang komandan Ksatria Penunggang Naga itu segera memberikan perintahnya.


"Saatnya telah tiba! Mari kita bakar mereka semua dan berikan makanan yang banyak untuk para naga ini!"


"Wuuuuooohhh!!!" Teriak seluruh Ksatria itu dengan serempak.


Pada saat itu juga, 100 Ksatria Penunggang Naga segera terbang ke udara sambil membentuk formasi yang menyebar untuk menghindari serangan panah.


Naga itu sendiri memiliki ukuran yang sedikit lebih besar dari Wyvern karena memang masih muda.


Meski begitu....


'Swuuuuooossshhh!!!'


Hanya dengan satu kali hembusan nafas, api merah menyala segera membakar lawannya hingga menjadi abu.


"Ksatria Naga Hitam?! Kenapa mereka ada di pihak musuh?!"


"Selamatkan nyawa kalian!"


Kepanikan segera terjadi di barisan pasukan musuh bagian belakang.


Sedangkan barisan depan mereka telah berada tepat di dekat barisan pasukan Eric.


Mereka terus melaju dengan kencang berusaha untuk mendobrak formasi perisai dan tombak itu. Dengan lompatan para penunggang kuda....


'Jleebb! Jleebb! Jleebbbb!!'


Mereka berpikir bahwa Kuda mereka bisa melompat ke bagian yang tak dilindungi oleh tombak. Tapi itulah yang diincar oleh barisan pasukan Eric.


Mereka dengan segera menghunuskan tombak mereka. Membuat semua Ksatria berkuda itu tertancap tombak.


Begitu juga pasukan pejalan kaki bagian depan. Mereka mengira bahwa tombak lawannya masih jauh. Tapi ketika sudah mencapai jarak yang ditentukan....


'Zreeebbb!!!'


Barisan pasukan Eric secara serempak menghunuskan tombak mereka. Sehingga seakan-akan tombak mereka menjadi dua kali lebih panjang. Membunuh mereka semua yang cukup sial untuk berada di hadapannya.


Dan serangan itu, membuka pertempuran berdarah ini.

__ADS_1


__ADS_2