
...Dunia Iblis...
...Wilayah Selatan...
...Kota Orc...
Di dalam sebuah fasilitas penelitian....
"Hah.... Dunia nyata jauh lebih merepotkan daripada dunia ini." Keluh Eric pada dirinya sendiri.
Cathy yang mendengarnya nampak kebingungan dengan apa yang dimaksud oleh Eric.
"Tuanku? Apa yang kau bicarakan?"
"Ti-tidak ada! Terlebih lagi, ayo! Bagaimana cara kita memanfaatkan kekuatan Slime ini?!" Ucap Eric gugup sambil menunjuk ke beberapa logam yang terlihat mulai meleleh itu.
"Hah.... Tuanku. Aku memang mengatakan bahwa kita bisa memanfaatkan kekuatan dari Slime ini. Tapi itu bukan berarti aku bisa melakukannya saat ini juga. Berikanlah aku waktu satu atau dua tahun untuk memahami Slime aneh ini." Jelas Cathy sambil mengeluh.
Segera setelah itu, Ia mengusir Eric dari fasilitas penelitian itu. Membuat Eric sendiri kebingungan mengenai apa yang harus dilakukannya saat ini.
"Bosan juga ya, jika tidak melakukan apapun.... Tapi satu atau dua tahun, itu berarti sekitar satu hingga dua bulan ya? Apa yang harus ku lakukan sambil menunggu hal itu...." Keluh Eric sambil berjalan di tengah Kota itu.
Hingga tiba-tiba....
"Tuan Eric! Bisakah kami meminta bantuan Anda dalam mengelola mengenai pembangunan Kota Kedua ini? Kami memiliki banyak masalah da...."
"Serahkan padaku! Ayo cepat dimana kita harus bekerja?!" Teriak Eric memotong perkataan petinggi Orc itu sambil menyeretnya.
"Tu-tunggu sebentar! Kami belum menjelaskan detailnya!" Teriak petinggi Orc itu dengan tubuh yang terseret di tanah.
Dan begitulah, akhirnya Eric menemukan sesuatu untuk menghilangkan rasa bosannya selagi menunggu hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Cathy.
...***...
...Dunia Iblis...
...Wilayah Barat...
Di tengah Kota megah yang telah mulai runtuh ini, pertarungan yang sengit antara para ras Draconic melawan Avacor masih berlangsung.
Pemimpin dari ras Draconic ini tak lain adalah Sierra itu sendiri.
"Tahan! Kita bisa mengalahkannya kali ini!" Teriak Sierra yang sedang menunggangi naga hitam yang cukup besar itu.
__ADS_1
Sekitar lebih dari 200 Ksatria penunggang naga juga mengikutinya. Mereka menyerang dari udara dengan menyemburkan api dari mulutnya. Membakar tubuh Avacor secara perlahan.
'Sialan.... Tak ku sangka Avacor telah menjadi sekuat ini. Aku seharusnya memburunya lebih cepat sebelum terlambat seperti sekarang.' Pikir Sierra dalam hatinya sambil melihat Kota terakhir di wilayah Kerajaannya mulai runtuh.
Di hadapannya, monster raksasa yang memiliki wujud seperti kelabang raksasa dengan kaki yang setajam capit belalang itu terus memporak-porandakan Kota ini.
Avacor terus menerus berevolusi dan bertambah kuat setiap kali Ia memangsa lawannya. Membuat tubuhnya terus menerus berubah untuk beradaptasi dengan kebutuhannya.
Dan dirinya yang sekarang bisa disebut sebagai wujud paling sempurna dari serangga itu sendiri.
Tak hanya ribuan capit yang sangat tajam sebagai kakinya, Avacor memiliki sepasang capit raksasa sebagai lengannya di ujung tubuhnya itu.
Sedangkan kulitnya dari kepala hingga ekornya memiliki tingkat kekerasan yang tak tanggung-tanggung. Bahkan tingkat kekerasannya sudah mampu menyaingi sosok Naga besar.
'Sraaaassshhh!!!'
Capit raksasa itu diayunkan tepat ke arah Sierra dan para penunggang Naga. Meski berhasil menghindar dengan melompati tebasan itu, tapi naga hitam yang menjadi tunggangan Sierra telah terbelah menjadi dua.
"Yang Mulia!" Teriak para Ksatria Naga lainnya.
Tapi Sierra tak lagi memperdulikan mengenai keselamatannya. Ia segera mengepakkan sayapnya dan memperkuat genggamannya pada tombak terkutuknya itu.
Dengan sangat cepat, Sierra melesat ke arah mulut Avacor. Ia dengan sengaja memasuki tubuh dari monster mengerikan itu.
Itulah pemikiran Sierra sebelum memasuki tubuh Avacor melalui mulutnya.
Tapi apa yang didapati oleh Sierra adalah kesalahan dari tindakannya itu sendiri.
Bagian dalam tubuh Avacor sama mengerikannya dengan bagian luarnya. Ribuan taring yang tajam memenuhi bagian dalam tubuh Avacor. Serta cairan asam yang sangat kuat mampu melelehkan apapun yang menyentuhnya.
"Sialan.... Tapi aku tak bisa berhenti setelah semua ini!" Teriak Sierra.
Ia dengan segera bersiap untuk mencincang habis tubuh Avacor dari dalam. Api dengan warna hitam pekat mulai menyelimuti tombak hitamnya.
Dengan tubuh dan juga zirah yang penuh luka, Sierra mengayunkan tombak itu dengan memutar tubuhnya secara terus menerus.
Tiap tebasannya tak hanya memotong daging yang tak terlindungi itu. Tapi juga membakarnya dengan api yang sangat panas.
'Grooooaaaaarrr!!!'
Raungan Avacor terdengar begitu keras. Menandakan luka yang diterimanya cukup serius.
Meski begitu, Sierra sama sekali tak ada niatan untuk berhenti mencincang tubuh Avacor. Ratusan.... Ribuan....
__ADS_1
Hingga akhirnya, Sierra berhasil membuat lubang yang cukup besar untuk dilalui dirinya. Para Ksatria Naga yang melihat hal itu segera mendekatinya dan membantu Sierra untuk keluar.
"Yang Mulia, penyihir! Segera gunakan sihir penyembuh kalian!" Teriak Ksatria Naga yang baru saja menarik keluar Sierra beserta tombaknya dari tubuh Avacor itu.
Pada saat itu juga....
'Bssssttttt!!!'
Gas beracun mulai muncul dari balik kulit keras Avacor. Membuat para Ksatria Naga itu segera terbang menjauh. Prioritas mereka saat ini adalah menyelamatkan dan menyembuhkan pimpinan mereka, Sierra.
Tapi berbeda dengan mereka, Sierra memiliki maksud lain.
Dengan tubuhnya yang penuh dengan luka itu, Ia berusaha sekuat tenaga untuk berbicara.
"Tubuh... bagian... dalamnya... lemah.... Ki-kita bisa menang...." Ucap Sierra dengan suara yang terpatah-patah itu.
Mendengar hal itu, para Ksatria Naga tampak cukup bahagia, tapi juga sedih pada saat yang bersamaan.
"Terimakasih, Yang Mulia. Tapi sekarang, beristirahatlah sejenak. Kematian bukanlah masalah bagi kami. Tapi kehilangan Yang Mulia sebagai pemimpin, akan lebih buruk bagi masa depan negri ini. Jadi tolong...."
Mendengar permintaan itu dari bawahannya, membuat Sierra sedikit senang. Bahkan di tengah pertempuran yang tak memiliki harapan sekalipun, mereka masih sangat setia dengannya.
Cahaya hijau yang menyelimuti tubuh Sierra itu mulai membuahkan hasil. Luka parah yang diterimanya secara perlahan mulai mengulang. Hingga akhirnya setelah sekitar satu menit, kondisi Sierra telah sembuh sepenuhnya.
Ia berdiri dengan tegap sambil memegang erat tombak terkutuknya itu. Segera setelah menghela nafasnya, Ia pun menyampaikan perintahnya kepada seluruh Ksatria Naga yang saat ini masih hidup.
"Semuanya! Persiapkan diri kalian untuk mati! Kita akan memasuki tubuh Avacor melalui mulutnya dan mencincang habis tubuhnya dari dalam! Siapapun yang tak ingin masuk harus menggantinya dengan membuka mulut Avacor! Mengerti?!" Teriak Sierra dengan suara yang sangat keras.
Secara bersamaan, para Ksatria penunggang naga dan juga prajurit yang ada di tanah menjawab perintah itu.
"Dimengerti! Yang Mulia!"
Secara bersamaan, mereka semua pun bergerak.
Para Ksatria penunggang naga berusaha sekuat tenaga untuk membuat Avacor jatuh ke tanah, sehingga memungkinkan Prajurit yang ada di tanah untuk ikut masuk.
Sementara itu, para jajaran penyihir tak henti-hentinya menggunakan sihir penyembuh dan pendukung lainnya untuk membantu semua yang bertarung di barisan depan.
Para Prajurit yang ada di tanah pun juga tak hanya diam. Mereka mempersiapkan banyak alat berat yang akan menembakkan tombak besar yang membawa rantai dan pemberat.
Tujuan mereka adalah mengunci Avacor agar tak banyak bergerak. Dan jika bisa, membuatnya berhenti bergerak sepenuhnya.
Pertempuran di Kota terakhir wilayah Kerajaan Sierra pun berlangsung dengan sengit.
__ADS_1