
Mendengar apa yang dikatakan oleh Angie sebelumnya, Eric secara refleks mulai merinding di sekujur tubuhnya.
'Tidak.... Itu tak mungkin kan? Hanya sebuah gertakan kan?' Tanya Eric dalam hatinya.
Dengan tangan yang gemetar, Eric pun mulai mengaktifkan kemampuan penglihatan di seluruh Dungeonnya yang mencakup seluruh wilayah Kekaisaran Iblis ini.
Tapi apa yang dilihatnya, adalah sebuah bukti bahwa Angie sama sekali tak memberikan gertakan. Apalagi omong kosong.
Di tengah padang pasir yang begitu luas itu, Angie berlari dengan begitu cepatnya sambil terus membantai puluhan ribu monster yang menghadangnya.
Ribuan monster raksasa dengan tubuh dan kekuatan yang besar itu hanya seperti sebuah kertas di hadapan tombak keemasan yang digunakan oleh Angie.
'Zraaaassshhhh!'
Sebuah tusukan tombak itu menimbulkan gelombang kejut yang sangat kuat di hadapannya.
Bahkan ketika tombak itu hanya sepanjang 2.1 meter saja, tusukannya mencapai jarak ratusan meter di depannya.
Melubangi tubuh para monster di dunia manifestasi ini dengan seketika.
Sedangkan pedang perak di tangan kirinya juga bukan hanya pajangan. Setiap kali tebasan nya membuat udara terbelah. Bahkan tanpa mengenai target sekalipun, pedangnya berhasil membunuh ratusan monster sekali tebasan.
Saat Angie terpojokkan oleh ribuan monster itu, Ia mengangkat pedang peraknya ke langit.
Seketika, ribuan pedang cahaya jatuh ke tanah. Menusuk seluruh tubuh para monster yang mengejarnya itu.
Tak ada sedikit pun celah dalam gerakannya.
'Zraaasshhh!'
Bahkan kecepatannya juga terlalu tinggi untuk diikuti para monster.
'Sraaassshhh!'
Setiap ayunan senjatanya, pasti akan membunuh monster di sekitarnya.
Hal itu juga yang membuat para monster yang ditugaskan Eric untuk melawan Angie mulai mundur ketakutan. Sebuah fenomena yang sama sekali tak pernah dilihatnya sebelumnya.
Berdiri di tengah padang pasir itu sendirian, Angie menatap ke arah langit sambil berteriak.
"Oooiii! Jangan bersembunyi! Mari kita bersenang-senang, Eric!"
Eric yang mendengarnya berkat kemampuan penglihatan di Dungeonnya itu hanya bisa merinding.
Berapa lama sampai Angie akan menemukan persembunyiannya?
Dan jika Ia berhasil menemukannya, apakah Eric bisa menahan serangan Angie yang terlampau cepat itu?
Jika diperhatikan....
Sesaat sebelum Angie terperangkap di dunia manifestasi Dungeon ini, pergerakannya jauh lebih lambat dan juga lebih sederhana.
__ADS_1
Tapi kini, Angie justru lebih menyerupai seorang dewi kehancuran yang akan merusak apapun di sekitarnya.
Dengan langkah yang begitu tenang, Angie berjalan sambil membawa dua senjata itu di kedua lengannya.
"Harus kah aku mencoba arah Timur terlebih dahulu? Tenang saja, Eric. Aku bisa menemanimu untuk selamanya. Tapi apakah Mana Point milikmu cukup kuat untuk menahan dunia ini selama itu?" Tanya Angie dengan senyuman yang lebar di wajahnya.
Eric yakin kalau monster biasa sama sekali takkan bisa bertahan melawan Angie.
Oleh karena itu....
"Lucien, bisakah kau menghentikannya?" Tanya Eric kepada Lucien tiruan yang ada di dunia manifestasi ini.
"Fufufu.... Mudah saja." Balas Lucien sambil segera tenggelam dalam kegelapan.
Bersama dengan ratusan vampir tingkat bangsawan lainnya, Lucien segera bergerak ke arah Angie. Bermaksud untuk membunuhnya.
"Seperti biasa, kepercayaan dirimu begitu tinggi. Ku harap kau memang bisa melakukan sesuatu pada wanita gila itu, Lucien." Ucap Eric pada dirinya sendiri sambil terus mengamati seluruh pertarungan Angie itu dari tempat yang aman.
Eric berusaha untuk mencari tahu kelemahan apa yang akan dimiliki oleh Angie.
Dan sekalipun tak bisa menemukan kelemahan apapun, setidaknya Eric bisa berharap untuk melemahkan Angie sebelum menghadapinya secara langsung nanti.
......***......
"Membosankan sekali. Ku pikir kita akan bertarung dengan epik di sini, tapi tak ku sangka kau hanya akan bersembunyi? Menyedihkan." Keluh Angie sambil menarik kembali tombaknya dari tubuh salah satu Jendral Perang dari ras Raksasa itu.
Baginya, tak ada satu pun monster yang tak mati setelah menerima satu serangannya.
Saat Angie sedang memandang ke arah langit kemerahan ini, Ia melihat sosok seorang manusia yang berdiri di kejauhan.
Manusia itu memiliki rambut hitam yang cukup panjang dan sedikit mengombak. Dengan pakaiannya yang menyerupai seorang bangsawan dari abad pertengahan.
"Hmm? Kalau tak salah kau itu...."
"Raja Kegelapan telah tiba untuk menghentikan mu, manusia. Bersyukur lah karena Tuanku bersikap baik dengan hanya membiarkanku yang mencabut nyawamu." Ucap Lucien dengan pose yang begitu aneh.
Dimana tangan kanannya menutupi setengah wajah bagian kanannya. Sedangkan wajahnya sendiri sedikit terangkat dan miring, menatap Angie dengan tawa yang begitu aneh.
"Hooo.... Begitu kah? Raja Kegelapan ya? Bagus! Sekarang bertarung lah denganku!" Teriak Angie yang segera melesat ke arah Lucien dengan tombak yang mengarah ke depan itu.
Akan tetapi....
'Swuuusshhh!'
Sesaat sebelum tombak itu mengenai tepat di tubuh Lucien. Vampir itu segera berubah menjadi ratusan kelelawar dan menyebar ke berbagai arah yang berbeda.
Membuat Angie sedikit terkejut karena hal itu.
"Menarik!" Teriak Angie dengan senyuman yang lebar.
Tanpa di sadari nya, Lucien sebenarnya telah memancingnya. Dimana saat ini, ratusan vampir lain telah berada di sekitar Angie. Mereka semua muncul dari kegelapan begitu saja.
__ADS_1
Secara serempak, semuanya berlari ke arah Angie. Semuanya memberikan tatapan wajah datar yang sama.
Tak ada emosi dalam pertarungan ini.
Karena bagi mereka, semua ini hanyalah perburuan biasa. Mengingat lawannya hanyalah seorang manusia.
'Swuushh! Zraasshh! Sraasshh!'
Dengan cepat, para vampir itu mulai menyerang Angie dengan tangan kosong mereka.
Angie sendiri sama sekali tak meremehkan mereka. Dan benar saja, setiap goresan dari cakar vampir itu memberikan kutukan yang cukup berbahaya.
[Anda telah memperoleh efek Hemolisis!]
[Anda akan menerima damage sebesar 0.5% Max HP Anda setiap detiknya!]
[Kutukan ini akan semakin kuat jika menerima serangan lebih lanjut dari ras Vampir tingkat tinggi!]
Angie yang melihat notifikasi dari debuff yang baru saja diterimanya, hanya bisa tersenyum puas.
Kini, otaknya mulai dipaksa untuk berpikir. Tubuhnya dipaksa untuk bergerak dengan secepat mungkin.
Dan dengan adrenalin yang memacu begitu cepat di tubuhnya, Angie pun kembali bertarung.
Dengan gaya pertarungan yang sama sekali belum pernah dilihat sebelumnya.
'Sreettt! Tap!'
Angie mengganti tombak di tangan kanannya menjadi sebuah tongkat sihir. Dan dengan segera, mengaktifkan sihir api skala menengah ke area di sekitarnya.
"Fire Wall!" Teriak Angie dengan keras.
Casting Time miliknya menjadi jauh lebih singkat berkat Agility miliknya yang begitu tinggi.
Kini, dinding api yang membara mulai mengelilingi tempat Angie berdiri. Mencegah para vampir itu untuk menyerangnya.
Tapi dari kejauhan, suara Lucien nampak terdengar.
"Fufufu.... Sihir rendahan yang bahkan tak bisa dibandingkan dengan milik Tuanku. Lenyap lah!" Teriak Lucien sambil mengibaskan lengan kanannya. Menghapuskan sihir tingkat menengah itu dengan skill Dispell miliknya.
Angie di sisi lain, hanya tersenyum puas setelah melihat sosok Lucien di udara itu.
"Tak masalah. Karena yang ku butuhkan hanyalah beberapa detik saja untuk persiapan."
Kini, senjata Angie berubah sepenuhnya. Menjadi sepasang belati hitam di kedua tangannya.
Hanya dalam sekejap, sosok Angie segera menghilang. Kecepatannya bahkan melampaui apa yang dimiliki oleh Lucien itu sendiri.
Sebelum Ia menyadarinya, Angie telah berada tepat di belakang tubuhnya.
"Mati lah." Ucap Angie singkat sambil mengayunkan dua belati itu tepat ke arah leher Lucien.
__ADS_1