
...Dunia Iblis...
...Reruntuhan Kota Venice...
Pertarungan antara Deus dan juga Sierra terus berlangsung. Apa yang dibawa oleh mereka berdua hanyalah sebuah kehancuran akibat kekuatan yang teramat besar.
Di satu sisi, Deus terus menerus melontarkan sihir api yang mampu melelehkan seluruh tempat di sekitarnya. Segera setelah itu, Ia akan membekukannya dengan Legendary Skill [Absolute Zero].
Kombinasi skill yang mematikan itu seharusnya bisa membunuh bahkan puluhan Raja Iblis setingkat Hector sekaligus. Akan tetapi di hadapan Sierra....
'Ctassssss!!! Blaaaarrrrr!!!'
"Hanya segini saja?" Ucap Sierra seakan meremehkan Deus karena berhasil menahan seluruh serangannya dengan perisai sihir.
'Crystal Shield.... Sama seperti yang dimiliki oleh Eric ya? Tapi di tangannya.... Kekuatannya benar-benar jauh berbeda.' Pikir Deus dalam hatinya setelah memperhatikan kekuatan pertahanan Sierra.
Seakan ingin membalas perkataan Sierra, Deus pun menantangnya dengan sebuah hinaan.
"Lalu bagaimana denganmu sendiri? Apakah kau tidak bisa melakukan apapun selain bertahan?" Teriak Deus sambil menurunkan tongkat sihirnya.
Tanpa di duga, Sierra justru tersenyum lebar mendengar perkataan Deus.
"Tidak.... Bukan seperti itu. Hanya saja jika aku menyerangmu dengan kekuatan penuhku, takutnya aku akan secara tidak sengaja menghancurkan dunia yang telah ditinggalkan oleh Dewa ini." Balas Sierra sambil memberikan senyuman yang begitu merendahkan.
Deus yang merasa terhina dengan perkataan itu pun menerima provokasi dari Sierra.
Ia dengan segera melesat ke arah Sierra sambil bersiap mengeluarkan sihir es tingkat tinggi di tangan kirinya.
Pada saat itulah, Sierra dengan cepat menghunuskan tombaknya tepat ke arah Deus.
'Jleebbbbb!!!'
'BLAAAAAAARRRR!!!'
Efek tusukan itu tak hanya melubangi perut Deus, tapi juga melubangi tanah hingga kedalaman yang tak diketahui dengan ukuran yang sangat besar.
"Guuuhh!!!"
Meski Begitu, Deus tak menghentikan gerakannya dan segera mengarahkan tangan kirinya tepat ke wajah Sierra.
'Cekraaaaaassss!!!'
Butiran es dan juga hawa dingin yang menyelimuti tangan kiri Deus dengan segera membesar dan mulai menyelimuti tepat di wajah Sierra. Membekukannya secara langsung.
__ADS_1
Pada saat Deus ingin memberikan serangan penghabisan, Sierra yang seharusnya tak lagi mampu bergerak karena seluruh kepalanya telah diselimuti dengan es itu, masih mampu untuk melempar Deus dengan dorongan tombaknya.
'Swuuoooossshh!!!'
'Blaaaarrrr!!'
Deus terjatuh ke dalam lubang yang terbentuk oleh serangan Sierra dengan kecepatan tinggi dan menghantam dasar dari lubang yang seakan tiada ujung itu.
Di tengah kegelapan dari ngarai itu, Deus mencoba untuk berdiri dengan kondisi tubuh yang telah terluka parah itu. Sebuah kondisi dimana Ia telah kehilangan lebih dari 35% Health Pointnya dari sebuah tusukan tombak itu.
"Heal...." Ucap Deus dengan lirih sambil mengarahkan tongkat sihirnya kepada dirinya sendiri.
Cahaya kehijauan yang indah pun mulai menyelimuti dirinya, menyembuhkan seluruh luka yang dialami olehnya.
'Tak pernah ku sangka kekuatannya akan sebesar ini. Kalau begitu, aku takkan lagi menahan diri.' Pikir Deus dalam hatinya.
Di kejauhan, nampak tubuh Sierra yang mulai diselimuti oleh api hitam yang sangat teramat panas. Melelehkan bahkan [Absolute Zero] yang berada di tingkat legendaris itu.
"Sesuai harapan dari sosok yang paling dibenci. Kalian semua, kejarlah semua petinggi yang melarikan diri. Sisakan 400 Ksatria untuk membantai semua pasukan yang ada disini." Ucap Sierra kepada kepala Ksatria Naganya.
"Sesuai dengan perintah Anda, Yang Mulia." Balas Ksatria itu sambil dengan segera mengepakkan sayap Naganya dan melesat ke arah Lucien dan yang lainnya.
Sementara itu, 400 Ksatria Naga mulai menyerang ratusan ribu prajurit yang berkumpul di reruntuhan Kota Venice ini.
Separuh dari Ksatria Naga itu menyerang dari udara dengan menggunakan kekuatan api hitam dan tombak yang tajam. Sedangkan sisanya menyerang dari garis depan.
Setiap tebasan dan tusukan tombak Ksatria Naga itu, bisa membunuh puluhan pasukan sekaligus.
Pertempuran yang terjadi antara 400 Ksatria Naga melawan lebih dari 200.000 prajurit gabungan dari berbagai ras di Kota Venice itu....
Berakhir dengan pembantaian secara sepihak. Dimana puluhan ribu korban dari pihak Venice telah jatuh dalam pertempuran yang berlangsung selama beberapa menit saja.
Sedangkan di sisi lain, belum ada satu pun Ksatria Naga Hitam yang mati.
Penentu arah pertempuran ini telah terjadi sejak awal. Akan tetapi semangat pasukan dari Venice masih tak bisa dipatahkan. Oleh karena itu....
'Jlebbb!!! Sraaassshhh!!!'
Tusukan dan juga tebasan dari tombak yang berwarna hitam pekat itu, mengakhiri harapan terakhir dari para prajurit di pihak Venice.
'Bruukk....'
Kepala seorang Goblin Knight telah terpenggal dan jatuh ke tanah. Menggelinding secara perlahan.
__ADS_1
Sesaat sebelum mulai berubah menjadi cahaya putih, salah seorang Ksatria Naga itu mengangkat kepala itu setinggi mungkin dan berteriak.
"Bukankah orang ini komandan kalian?! Jika benar maka menyerahlah dan mati dengan tenang! Jika tidak, kami akan terus menerus membantai dengan kejam hingga menemukan komandan yang sebenarnya!"
'Tassss! Jlebbb!'
Tanpa Ia sangka, sebuah anak panah telah melesat dan mengenai tepat di dada kiri Ksatria Naga itu.
"Ke-kena! Matilah kau!!!" Teriak salah seorang Orc yang menembakkan anak panah itu.
Tapi tanpa disangka....
'Klekk!'
Ksatria Naga yang menerima tembakan anak panah itu, hanya menggenggamnya dan menarik anak panah itu sebelum mematahkannya.
"Sayang sekali serangan seperti ini bahkan takkan bisa menggores tubuhku."
Ia dengan cepat melesat ke arah Orc itu dan memenggal kepalanya hanya dengan kuku tajamnya.
"Sudahkah kalian menentukan bagaimana cara kalian akan mati?" Tanya Ksatria Naga itu sekali lagi.
Tapi pada saat itu juga, sebuah hal yang berada bahkan jauh di luar imajinasi paling liar dari siapapun, telah terjadi.
Formasi lingkaran sihir yang sangat kompleks dan rumit, yang bukan hanya menyelimuti seluruh kota, tapi seakan menyelimuti seluruh daratan yang ada di dunia iblis ini telah terbentuk.
Cahaya merah menyala mulai menerangi dunia iblis ini dari tanah tempat terbentuknya formasi lingkaran sihir itu.
'Hmm? Apa ini?'
Sierra yang melihat secara langsung dimana tanah mulai bersinar akibat formasi lingkaran sihir yang aneh itu, hanya bisa kebingungan.
Tak hanya mereka yang sedang berperang di Kota Venice, tapi juga seluruh makhluk yang ada di dunia iblis. Mereka semua menyaksikan sebuah fenomena yang sama dimana tanah mulai membentuk garis-garis berwarna merah yang menyala.
"Yang Mulia! Sangat gawat! Formasi lingkaran sihir ini...." Teriak salah seorang bangsawan Iblis di tengah istana yang begitu megah ini.
"Aku tahu. Takkan mungkin aku melupakan pemandangan ini. Sebuah pemandangan yang menandakan awal dari sebuah kehancuran. Asmodeus." Ucap seorang Pria dengan sepasang tanduk besar yang menyerupai tanduk kambing di kepala itu.
Ia nampak sedang berbaring dengan tenang di sebuah kursi yang cukup besar itu sambil membalikkan halaman di buku yang sedang dibacanya.
Sorot matanya yang seakan tak memiliki semangat sedikitpun, serta kulit yang cukup pucat, memperjelas sosoknya di dunia ini.
"Yang Mulia Belphegor! Mengetahui hal itu seharusnya kita segera bertindak!" Teriak Bangsawan itu seraya memohon.
__ADS_1
Dengan lirikan yang ringan dan terkesan malas, Iblis yang bernama Belphegor itu pun mulai menjawab.
"Kenapa? Untuk apa? Lagipula Ia akan segera mati sebelum menyelesaikan rapalan sihir tingkat tertinggi, World Eater miliknya."