
"silahkan mas, mbak pak kiayi ada di rumahnya. nanti mbak sama mas nya ke gerbang yang warna gold itu ya, nanti ada teman saya yang mengarahkan lagi" kata satpam tersebut.
tak ku sangka ternyata seribet ini bertemu dengan kiayi yang dimaksud oleh Rey, maklum aku belum pernah sekalipun masuk kelingkungan pesantren seperti ini. ini lah kali pertama aku daerah ini.
"baik pak, terimakasih banyak. kami permisi, assalamualaikum" jawab Rey yang langsung dijawab salam oleh santapan gerbang utama tersebut
"waalaikumsalam warahmatullahi wb." jawabnya.
aku dan juga Rey pun kembali mengendarai motor menuju gerbang yang dimaksud oleh satpam gerbang tersebut.
"luas juga ya mbak pondok putranya, liat deh pasti banyak muridnya" kata Rey yang juga aku angguki.
"iyaa ya Rey, jaraknya juga lumayan jauh sama pondok putri. nah, ini kayanya rumah kiayinya Rey" kataku setelah melihat gerbang gold ditengah-tengah.
"assalamualaikum" salamku dan juga Rey berbarengan.
"waalaikumsalam, mbak mas yang mau ketemu sama kiayi Hasyim. betul?" tanya satpam yang keluar dari pos jaga.
"betul pak, kiayinya ada kan?" tanya Rey yang langsung dijawab senyum dan anggukan kepala oleh satpam tersebut.
"adaa, adaa mas. mari masuk, silahkan langsung kedalam aja. kebetulan pak kiayi dari pagi ngga kemana-mana" jawab satpam tersebut dengan ramah.
"terimakasih banyak pak, saya titip motor saya ya" jawab Rey.
"beres mas" jawab satpam tersebut dengan riang.
aku dan Rey pun melangkah kan kaki menuju rumah kiayi pemilik pesantren, tak sebanding dengan pesantren yang sangat besar setiap pondoknya. ternyata rumah kiayi Hasyim terlihat sangat sederhana, benar-benar masjid manuk berbentuk rumah.
"assalamualaikum" salamku dan Rey mengetuk pintu rumah.
"waalaikumsalam, sebentar" terdengar jawaban dengan suara lembut dari dalam rumah.
"maaf cari siapa?" tanya seorang wanita yang usianya tak jauh berbeda dengan mama setelah pintu utama terbuka.
"kami mau mencari kiayi Hasyim Bu, apakah ada?" tanya Rey pada wanita yang masih tampak muda dari usianya itu.
"adaa, silahkan masuk. duduk dulu ya, biar saya panggilkan pak yai" jawabnya sambil tersenyum. aku dan Rey pun menganggukan kepala sekali sambil tersenyum membalas perkataan perempuan tersebut.
tak lama seorang perempuan remaja membawakan empat gelas minuman berisi jus jeruk yang terlihat sangat menyegarkan.
"silahkan diminum mas, mbak" katanya dengan sopan dan menundukkan kepala.
"iyaa, terimakasih" jawabku dengan tersenyum. dibalas anggukan kepala ditengah dia menundukkan kepalanya.
lalu remaja tersebut pun pergi meninggalkan aku dan juga Rey.
__ADS_1
"itu mungkin khadamah kali ya Rey?" tanyaku pada Rey yang menggelengkan kepala.
"ngga tau mbak, khadamah apaan?" tanyanya dengan berbisik.
"itu loh yang membantu pekerjaan dapur dipesantren, kalo dinovel-novelkan mereka kadang disuruh bantu-bantu rumah kiayinya juga" jawabku dengan berbisik juga.
"ngga tau juga lah mbak, lagian emang dapur pesantren sama dapur rumah kiayinya satu tempat apa mbak?" tanya Rey dengan wajah bingung.
"yaa ngga tau juga si Rey"
"yee kalo ngga tau jangan suuzhon mbak" jawabnya dengan nada kesal. aku pun tertawa kecil.
"assalamualaikum" terdengar seseorang mengucapkan salam dihadapan kami.
"waalaikumsalam" jawabku dan juga Rey sambil berdiri, Rey menyalami sosok pria paru baya dihadapan kami sementara aku menangkupkan kedua tangan didada.
"apa ada yang bisa saya bantu, nak?" tanyanya sambil mendudukan diri disofa yang berhadapan dengan aku dan juga Rey.
"sebentar saya panggil istri saya dulu, umiiii" panggilnya dengan sedikit berteriak memanggil sang istri.
"iyaa bi" tak lama terlihat wanita paru baya yang tadi membuka kan pintu menghampiri kami.
"kenalkan, ini istri saya. Bu nyai Hamidah" kata pak kiayi memperkenalkan sang istri yang berada disebelahnya.
aku dan Rey pun tersenyum dan menganggukan kepala pada Bu nyai Hamidah.
pak kiayi pun mengambil dan membuka isi dari bungkusan tersebut, kemudian berpandangan dengan sang istri yang menganggukan kepala dan mengedipkan kedua matanya.
"apa yang kamu rasakan nak?" tanya Bu nyai padaku.
"saya pernah merasa agak malas melakukan ibadah Bu nyai, bahkan saya sempat lalai. dulu saya juga begitu mengikuti perintah suami saya dan juga keluarganya Bu nyai, sampai saya diperlakukan tidak layak pun saya hanya bisa menurut dan pasrah. akhirnya saya sadar ketika saya kembali membuang rasa malas saya dengan terus beribadah dan bertaubat Bu nyai, saya mulai merasa suami saya dan juga keluarganya membodohi saya. sekarang, saya ingin menggugat cerai suami saya Bu nyai" jawabku dengan menundukkan kepala.
Bu nyai dan pak kiayi pun merespon ucapanku dengan anggukkan kepala.
"iyaa seperti yang kamu rasakan, itulah kerja dari benda ini. kalo saya boleh tau, kira-kira apa mbak tau dari mana suami mbak mendapatkan benda seperti ini?" tanya pak kiayi padaku.
"saya juga ngga tau pak kiyai. tapi, setau saya bapak tiri suami saya terkenal jika bisa menggunakan hal-hal gaib pak kiyai" jawabku dengan sedikit lirih.
"iyaa pak kiyai, tapi kami ngga bisa bersuudzan karna belum ada bukti kalo itu dari bapak tiri dari kakak ipar saya. makanya saya putuskan kesini terlebih dulu, agar mbak saya ini bisa terlepas dari benda itu" jawab Rey yang juga diangguki oleh pak kiyai.
"benar, jalanmu sudah benar nak. tapi sebelum itu lebih baik kita bakar dulu ini, kenapa ngga langsung dibakar?" tanya pak kiayi Hasyim.
"tadinya saya sudah menyuruh mbak saya ini untuk membakarnya pak kiayi, tapi setelah saya pikir lagi lebih baik dibakar disini saja sekalian supaya kita lebih tau jelas lagi dengan kegunaan benda tersebut pak kiyai" jawab Rey dengan tenang.
"baiklah kalo begitu, umi tolong bantu siapkan bakaran ya. diteras belakang saja" kata pak kiayi yang langsung dituruti oleh Bu nyai.
__ADS_1
"baik Abi" kata Bu nyai singkat.
"Alhamdulillah kamu segera sadar nak, biasanya andai lebih lama lagi kamu sadar. maka kamu akan sering mengalami sakit kepala yang tidak berkesudahan, itu yang saya dengar dari beberapa orang yang juga berkasus seperti ini. tapi kebanyakan dari mereka, sudah sampai ditahap sakit kepala ini karna mereka baru menyadarinya setelah sepuluh atau bahkan belasan tahun kemudian" kata pak kiyai Hasyim membuatku tak percaya.
"sampai segitunya pak kiyai?" tanya Rey yang juga tak begitu percaya dengan apa yang dikatakan oleh pak kiyai.
"iyaa nak, ntah apa maksud dari orang yang memiliki benda seperti ini. padahal andai dia orang baik pasti akan mendapatkan pasangan yang baik pula, itu sudah tertulis dalam haditsnya. tak perlu memakai cara seperti ini agar orang tunduk dan menurut padanya" jawab pak kiayi yang juga aku benarkan.
"bakarannya sudah siap, Abi" kata Bu nyai Hamidah.
"baiklah. mari kita kebelakang mas, mbak" kata pak kiayi Hasyim.
setelah sampai dihalaman belakang rumah kiayi Hasyim, terlihat dua gerbang kecil yang hanya bisa dilewati satu orang sebagai penghubung antara pondok putra dan pondok putri dari halaman belakang rumah pak kiyai.
"kesibukan benda tersebut mas" kata pak kiayi meminta benda yang tadi dibawakan oleh Rey.
"silahkan kiayi" kata Rey menyerahkan benda tersebut.
pak kiayi pun langsung membacakan sebuah doa yang hanya ia yang mendengarnya, kemudian menaruh barang tersebut ditengah-tengah kobaran api yang tak terlalu besar itu.
tak lama, aku merasakan pusing dan badanku remuk seperti habis mengerjakan pekerjaan berat. lututku terasa lemas, aku pun berjongkok untuk mengurangi rasa lemas.
dibantu Bu nyai dan seorang khadimah, aku pun dipapah kembali keruang tamu kemudian diberikan air putih yang sebelumnya sudah diberikan doa oleh Bu nyai.
"silahkan diminum nak, mungkin tidak bereaksi apapun tapi insyaallah mengurangi rasa sakit dibadanmu dan lemas kakimu untuk berjalan" kata Bu nyai membuatku melebarkan mata.
"bagaimana Bu nyai bisa tau?" tanyaku dengan nada heran.
Bu nyai Hamidah hanya tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaaku.
aku pun meminum segelas air yang diberikan oleh Bu nyai Hamidah.
"Alhamdulillah"
"bagaimana sekarang?" tanya Bu nyai.
"sudah lebih tenang Bu nyai, tapi kepala saya sedikit sakit tadi" jawabku memijit kening.
"tak apa, itu hanya sementara. nanti pulang beli lah obat sakit kepala diapotik, itu efek yang keluar ketika benda itu terbakar. andai kamu sudah mengalami sakit kepalanya dari awal kesini, mungkin kamu bisa merasakan lebih sakit lagi" jawab Bu nyai.
"betul itu mbak, benda seperti itu jika mengendap lama ditempat yang ditujunya pasti memberikan efek. terutama bagi yang memintanya?" kata khadimah yang bersama Bu nyai.
"maksudnya, berarti pemiliknya pun mengalami seperti apa yang aku alami? maksudnya merasakan sakit setelah benda itu terbakar?" tanya ku yang langsung diangguki oleh bu nyai dan juga khadamah tersebut.
aku puh melebarkan mata mendengar apa yang dikatakan oleh khadamat itu, mungkin kan mas Lukman juga sedang merasakan sakit kepala dan juga seluruh badannya seperti apa yang aku rasakan. aah bukan urusanku;, batinku.
__ADS_1
bersambung...