Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 121.


__ADS_3

setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit, kami pun sampai direstoran tak terlalu mewah yang berada tak begitu jauh dari rumah mama. aku dan yang lainnya pun turun dari mobil mas Hamid, kemudian berjalan memasuki restoran tersebut disambut ramah oleh pelayan.


"silahkan bude, Rey, dan Diah pesan aja apa yang kalian mau. ngga usah malu-malu" kata mas Hamid kepada kami.


"masa bertiga doang yang ditawarin, kita ngga ya nay?" kata Sintia menjawab perkataan mas Hamid. mas Hamid pun tertawa kecil mendengar perkataan Sintia yang mendapat anggukan dari Nayla.


"oh iyaaa Sintia sama Nayla juga boleh kok pilih makanan yang kalian suka, ngga usah malu-malu. atau Nayla mau es krim? disini ada es krim yang enak banget loh" kata mas Hamid pada Nayla.


"ngga usah mas Hamid, nanti Nayla batuk kalo kebanyakaj es krim" jawabku membuat Nayla menekuk wajahnya.


"gapapa kok Diah, sedikit aja yang porsi kecil" jawab mas Hamid kembali membuat wajah Nayla kembali berbinar.


"beneran gapapa om?" tanya Nayla dengan polos, disambut anggukan kepala oleh mas Hamid.


"iyaa boleh kok, tapi porsi kecil aja ya. nanti gigi mau rusak kalo banyak-banyak makan es krim" kata mas Hamid mengusap kepala Nayla.


"iyaa om" jawab Nayla patuh.


setelahnya, kami pun memesan makanan yang kami inginkan. mama pun menyamakan pesanannya dengan umi Hamidah, begitupun aku yang juga mengikuti pesanan mama dan juga umi Hamidah. sementara yang lain memesan sesuai yang mereka mau.


"terus menurut kamu nanti gimana soal suami Diah itu rey?" tanya mas Hamid membuatku sedikit terkejut karja baru kali ini mas Hamid sangat ingin tau soal rumah tanggaku.


"ntah mas, mbak Diah inginnya cepat bercerai dari mas Lukman. tapi sampai sekarang orang yang Rey minta mendampingi mbak Diah sejak dulu sedang berada diluar kota, ntah lah Rey juga gatau kenapa dia belum bisa sampai dikota ini lagi" jawab Rey yang mendapat respon anggukan kepala dari mas Hamid.


"kalo gitu sebaiknya kita minta Abi aja yang menangani kasus Diah, iya kan umi?" tanya mas Hamid pada umi Hamidah.


"sudah Ndak bisa lah mid, Abi mu kan sudah pensiun. mungkin nanti bisa minta Carikan orang kepercayaan Abi untuk mendampingi Diah, itu pun kalo Diah ngga keberatan" jawab umi Hamidah membuat mata ini berbinar.


"apa ngga merepotkan Abi Hasyim umi? Diah takut jika nanti hanya merepotkan Abi saja, rumah tangga Diah sudah rumit umi. ngga mungkin Diah meminta bantuan Abi jika hanya merepotkan"jawabku dengan rasa tak enak.


"yaa tentu tidak dong Diah, Abi pasti senang bisa membantu kamu. nanti umi sampaikan sama Abi ya?" jawab umi Hamidah disertai senyum lembut.


"baik umi" jawabku sedikit tersenyum membalas senyum umi Hamidah.


"kamu itu loh mid, mbok Yo lekas lah cari pasangan. mau sampai kapan kamu menyendiri, usiamu udah mau kepala tiga loh mid" kata umi Hamidah pada mas Hamid.

__ADS_1


"yaa nanti dulu lah umi, ya wong jodohnya belum ketemu kok mau bagaimana lagi" jawab mas Hamid dengan santai membuat umi Hamidah mendengus kesal.


"oalaah dari dulu kok jawabannya kaya begitu terus, umi bosen loh mid. apa kamu nungguin jandane Diah aja Yo mid? umi sangat setuju kalo kamu bisa sama Diah. iyakan Siti?" kata umi Hamidah membuatku membelalakan mata.


"astagfirullah umi, jangan bicara seperti itu. saya masih sah istri orang, ngga enak nanti kalo ada yang dengar. dikiranya saya ada main serong sama mas Hamid umi" kataku dengan menundukkan kepala.


"oalaah ya siapa yang berani bicara seperti itu pada anak umi, nanti biar umi yang memakinya" jawab umi Hamidah membuat mas Rey dan juga Sintia tertawa kecil, sementara mama hanya menggelengkan kepala mendengar perkataan umi Hamidah.


"udah lah midah, biarkan anak-anak dengan keputusannya sendiri. Hamid mungkin beluk menemukan perempuan yang pas, tak usah dijodoh-jodohi dengan Diah seperti itu. lihatlah, Diah sudah memiliki dua orang anak dan sebentar lagi akan menjadi calon janda" jawab mama pada umi Hamidah.


"yaa apa salahnya to Siti, lagian aku juga tak mempermasalahkan jika nanti memang Hamid berjodoh sama Diah. aku akan menyayangi cucu mu ini seperti cucu ku sendiri, walaupun sekarang pun mereka juga sudah aku anggap cucuku" jawab umi Hamidah membuatku merasa terharu.


"terimakasih ya umi. tapi lebih baik, biarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. jika memang saya dan mas Hamid berjodoh pasti akan disatukan oleh Gusti Allah" jawabku melirik mas Hamid yang juga menatapku dengan tatapan yang juga tak aku mengerti.


"iyaa umi tau, tapi umi akan tetap mendoakan kalian berdua pokoknya. kamu juga mid, kalo menyimpan rasa pada Diah kejar disepertiga malam buat ngga keduluan orang lagi" kata umi Hamidah membuat dariku menyerit.


keduluan orang lagi katanya? apa maksudnya, padahal kami baru aja kembali bertemu. aku tak mau ambil pusing. tak lama, makanan yang kami pesan pun datang satu persatu.


"ayok dimakan, habiskan ya?" kata mas Hamid yang langsung memimpin doa makan diatas meja makan tersebut.


"mbak, Nayla suapin nih. makannya berantakan" kata Sintia.


"gapapa sin, kan masih belajar makannya. biar terbiasa, kamu juga dulu kan begitu" jawab mama yang berada disebelah Nayla.


"tau Sintia nih, lagian emang kamu berantakan bakalan minta kamu yang beresin apa" jawabku dengan nada sedikit kesal.


"yaa ngga juga sih, yaudahlah terserah mbak Diah aja mau nyuapin apa ngga" jawab Sintia membuat Rey memiting kepalanya.


"ngga jelas banget bocah satu ini" kata Rey memiting kepala Sintia dengan gemas.


"sakit mas, ah" kata Sintia menyingkirkan tangan Rey dari kepalanya.


"habis ini mau kemana nih?" tanya mas Hamid menatap kami satu persatu.


"nanti dulu om, Nayla kan masih mau makan es krimnya. ini loh belum habis" kata Nayla menunjuk es krim yang berada didepannya.

__ADS_1


"iyaaa, Nayla habiskan saja dulu eskrimnya. pasti om tungguin kok, om cuma tanya aja habis ini mau pada kemana? biar kita jalan-jalan bareng aja sekalian, gapapa kan umi? Abi ngga akan nyariin dong, kan perginya sama Hamid" kata mas Hamid dengan percaya diri pada umi Hamidah.


"yaa boleh saja, asal dompet umi aman" jawab umi Hamidah terkikik melihat wajah Hamid yang nampak mengerucutkan bibirnya.


"umi, umi padahal kan duitnya juga banyakan umi. masih aja malakin Hamid" jawab mas Hamid dengan nada dibuat-buat.


"yaa gapapa ya Siti, namanya orangtua kan pengen dibahagiakan sama anaknya apalagi anaknya belum menikah. nah nanti kalo sudah menikah, tugasmu berganti jadi membahagiakan anak dan juga istrimu" jawab umi Hamidah yang langsung mendapat anggukan kepala dari mama.


"benar nak hamid, anak laki-laki memang memiliki kewajiban berbakti pada orangtuanya terutama pada ibunya tapi jangan lupakan juga jika seorang anak laki-laki yang sudah menikah pun punya kewajiban dan tanggung jawab pada istrinya. ini pesan untuk nak Hamid dan juga Rey jika kelak sudah menikah" kata mama menatap Rey dan juga mas Hamid bergantian.


"iyaa betul apa yang dikatakan bude mu mid. umi juga berpesan, jangan memaksakan kehendak dengan dalih membahagiakan orangtua adalah kewajiban mu jika itu melukai istrimu. mintalah ridhanya seperti kamu meminta Ridha pada ibumu, karna istrimu pun akan menjadi ibu dari anak-anakmu kelak." jawab umi Hamidah yang juga diangguki oleh mas Hamid dan juga Rey.


"insyallah umi, bude. Hamid akan selalu ingat apanyang umi sama bude katakan, terimaksih untuk nasihatnya" jawab mas Hamid dengan sopan sembari tersenyum.


"bude percaya kalo kalian berdua anak baik dan juga Sholeh" jawab mama dengan tersenyum lembut.


"jadi kapan nih lamaran mbak Diah lagi?" kata Sintia membuat aku yang tengah menyesap minuman tersendat mendengar perkataannya.


"Diah, hati-hati kalo minum" kata mama menepuk pelan tengkuk leher bagian belakangku.


"apaan si ma, sintia tuh jangan asal ngomong lah. mbak masih sah menjadi istri orang, ngasal aja ngomongnya" jawabku dengan nada kesal menatap Sintia dengan tajam.


yang ditatap pun hanya cengengesan tak jelas.


"kamu ini sin, jangan begitu ngomongnya. kasian mas Hamid dan juga mbak Diah, lagian ngga elok membahas hal seperti itu padahal mbak Diah masih berstatus istri orang" jawab mama membuat Sintia terdiam.


"iyaa iyaa maaf ya mbak, mas Hamid. Sintia kan tadi cuma bercanda aja, mbak diahnya aja yang baper pake dimasukin kehati segala. lagian kalo emang mbak Diah udah pisah sama mas Lukman, Sintia yakin pasti mas Hamid mau kan sama mbak Diah" kata Sintia membuatku kembali memelotokan mata padanya.


"betul kamu sin, umi juga ngga keberatan bahkan sangat setuju jika mas Hamid sama mbakmu. mereka kelihatan serasi kan ya?" kata umi Hamidah mengikuti Sintia mengejekku dan juga mas Hamid.


"apa si umi, kasian Diah ngga nyaman" kata mas Hamid berbisik pada umi Hamidah yang masih bisa aku dengar.


"hehe ngga ya Diah, bercanda kok. kita ikuti aja skenario Allah yang sudah dirancang sedemikian rupa, semoga kalian berdua dijodohkan oleh-Nya" kata umi Hamidah yang langsung diaminkan oleh Sintia paling kencang.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2