Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 21.


__ADS_3

semalaman aku terus memikirkan apa yang dikatakan oleh Rey yang menurutku memang ada benarnya, meskipun aku tak yakin jika perusahaan lama akan menerimaku kembali. tapi gaada salahnya jika aku mencobanya bukan, besok ku bulatkan telat untuk mencoba menghubungi kembali teman kerjaku untuk membantuku kembali masuk kedalam perusahaan tersebut.


"mbak belum tidur?" tanya Rey yang tiba-tiba saja mengagetkan lamunanku.


"belum, kamu juga kenapa belum tidur. udah jam berapa itu lihat" kataku memberi pertanyaan lagi pada Rey.


"aku belum ngantuk mbak, gatau kenapa. mungkin karna besok jadwal off aku kali ya jadi males buat merem ini mata" jawab Rey asal membuatku terkekeh.


"ada-ada aja deh kamu Rey" kataku sela tawa.


"eemm oiyaa mbak, maaf ya kalo kata-kata Rey tadi bikin mbak kepikiran. bukan maksud Rey,,,," kata Rey yang langsung aku putus sebelum dia menyelesaikan perkataannya.


"gapapa kok Rey, makasih ya udah peduli sama mbak. tapi gimana ya Rey, mbak sebenarnya ragu mau kembali kerja. kamu tau sendiri lah kerja sekarang susah ngga segampang dulu" jawabku dengan menundukkan kepala.


"iyaa si mbak, aku ngerti. gimana kalo mbak cari kerjaan yang bisa dikerjain dari rumah, misalnya jualan online gitu mbak" jawab Rey membuatku menganggukan kepala.


"iyaa Rey, mbak juga rencananya begitu. makanya mbak lagi berusaha ngumpulin modal buat buka usaha, selama disini uang yang mas Lukman kasih kan selalu mbak simpen karna selama disini kamu selalu memenuhi semua kebutuhan mbak. makasih ya Rey" kata ku pada Rey dengan senyum tulus.


"sama-sama mbak, lagian ini kan memang tugas Rey mbak karna mbak ada dirumah ini. jadi, untuk urusan makan ya aku kan tinggal nambahin nanti ke mama" jawab Rey dengan santai.


"iyaa deh iyaa, tapi mbak tetep makasih loh Rey" kataku membuatnya terkekeh dan menganggukan kepala.


"makasih muluu" jawabnya mengejek. kami pun tertawa bersama dengan tingkah kamu berdua.

__ADS_1


"nanti kalo uang mbak kurang, mbak bisa kasih tau aku ya. aku pasti akan bantu mbak" kata Rey membuatku kembali menganggukan kepala.


"iyaa Rey, tenang aja mbak pasti akan kasih tau kamu. lagian mbak juga ga enak, lima juta kemarin aja mbak belum balikin" jawabku dengan mengerucutkan bibir membuatnya kembali terkekeh.


"santai aja mbak, lagian sebenarnya aku ga minta untuk dibalikin kok. masa buat mbak sama keponakan sendiri harus pakai minta dibalikin segala" jawab Rey langsung membuatku menggelengkan kepala.


"janganlah Rey, biarin aja mas mu balikin. biar dia mikirin tanggung jawabnya, mbak dari awal udah kasih tau kalo vonis dokter mbak harus melahirkan Cesar, tapi dia kekeh mau pake uang tabungan buat bikin warung kopi yang mbak sendiri ngga tau jelas gimana hasilnya sampe sekarang" jawabku menatap Rey yang serius mendengar perkataanku.


"jadi tabungan buat mbak melahirkan itu dipake buat bikin warung kopi? terus siapa yang jagain warung kopinya mbak kalo mbak disini dan mas Lukman kerja" tanyanya dengan dahi menyerit.


"iyaa itu abangnya, kakak ipar lelaki mbak. gatau deh bener apa ngga dia mengelola warung kopi itu" jawabku dengan nada kesal.


"abangnya yang katanya ngga pernah pulang udah setahun itu? yang habis diambilin motor pake dp dari mas Lukman terus ga pulang-pulang lagi kan?" tanya Rey bertubi-tubi, aku pun menganggukan kepala sebagai jawaban.


"emang dia bener bisa mengelola warung kopi itu? udah berapa bulan mbak?" tanya Rey dengan nada serius.


"empat bulan belum ada prospek mbak? yaampun gimana ceritanya, pasti modal yang udah keluar gede. iyakan mbak?" tanya Rey langsung dengan tepat.


"iyaalah Rey, hampir sepuluh jutaan buka warung kopi itu. tapi mas Lukman ngga pernah percaya sama omongan mbak, yaudah mbak diemin aja. mbak mau ikut campur urusan warung kopi itu" jawabku yang sudah sedikit santai pada Rey.


"tapi tetep aja lah keterlaluan lah mbak kalo empat bulan belum ada keuntungan sama sekali, harus banyak yang dipertanyakan gimana sistem jual belinya" jawab Rey, aku pun membenarkan apa yang Rey katakan.


"iyaa juga ya Rey, apalagi empat bulan bukan waktu yang sebentar" jawabku menganggukan kepala.

__ADS_1


"iyaa mbak, yaa memang si namanya usaha pasti ada naik turunnya. tapi kalo ngga ada kenaikan dan prospek menaik dalam waktu empat bulan ya udah keterlaluan mbak menurutku" jawab Rey dengan serius.


"terus menurut kamu mbak harus gimana? satu sisi mbak gamau ikut campur si dalam warung kopi itu, tapi kayanya mbak ga bisa diem aja melihat warung kopi itu ngga ada keuntungannya dan malah buat mas mu selalu menombok" jawabku dengan amat serius meminta saran oada Rey.


"jalan satu-satunya ya harus melihat buku keuangan warung kopi itu mbak. selama ini apa mas Lukman ngga pernah menyediakan buku untuk menentukan keluar masuknya produk dari warung kopi itu?" tanya Rey, aku pun segera menggelengkan kepala.


"ngga tau Rey, mbak ngga pernah kesana si" jawabku membuatnya menghela nafas panjang.


"Rey takutnya mas Lukman hanya diakal akalin sama abangnya itu mbak. mbak tau sendiri lah selama ini mas Lukman hampir selalu begitu percaya dengan dia apalagi dengan ibunya, terbukti dengan maunya dia membayarkan uang motor yang motornya ntah kemana itu kan. harusnya mbak belajar dari situ" kata Rey membuatku terdiam.


benar apa yang Rey katakan, tapi aku harus bagaimana karna selama ini jika aku memberikan pendapatpun tak pernah dia mendengarkan dan menerima saran yang aku berikan. apalagi jika menyangkut urusan dari keluarganya, seolah-olah aku tak diizinkan ikut campur didalamnya dan dianggap orang lain. tapi, jika mereka kesusahan dan mas Bayu pun tak bisa membantu baru mereka menganggapku ada.


"mbak, kok malah mengong si" kata Rey yang melihatku melamun.


"gapapa Rey, mbak kayanya udah ngantuk deh. mbak tidur duluan ya" kataku sedikit berbohong.


"iyaa mbak" jawabnya singkat.


Rey pun terlihat berjalan keluar rumah dengan membawa segelas kopi miliknya dan juga sebatang rokok, aku yakin dia pasti akan merokok dihalaman depan. aku pun mencoba memejamkan mata untuk mengalihkan pikiranku yang selalu terngiang-ngiang perkataan Rey.


aku pun membuka ponsel sembari menunggu kantuk datang kembali, aku membuka novel dari aplikasi yang selalu aku baca. hingga akhirnya tepat pukul sebelas aku pun mengantuk dan akhirnya tertidur dengan masih memegang ponsel.


bersambung....

__ADS_1


_______________________________________


jangan lupa like, komen, dan vote dinovel ini ya guys🙏😊 tunjukkan dukunganmu dengan memberikan komentar positif dan kritik yang baik agar penulis bisa lebih semangat untuk menulisnya😊🙏


__ADS_2