
setelah perdebatan semalam, hari ini kami pun kembali kerutunitas seperti semula dihari Minggu ini. sebelum kembali bekerja besok, hari ini aku menyempatkan diri untuk memanjakan diri disalon langgananku dua bulan ini.
"hallooo mbak, datang lagi nih. mau diapain kali ini?" tanya pegawai salon bernama sisi.
"ini sis, minta dihairmask sama vitamin ya?" kataku membuatnya tersenyum.
"okeedeh ses, eh btw mbak ini ke salon ngga sayang Tah? kan pake hijab?" tanyanya membuatku sedikit tersenyum.
"yaa memang kalo orang berhijab ga boleh kesalon Tah?" tanyaku mengikuti gaya bicaranya.
"yaa boleh atuh, tapi kok kayanya sayang ya udah dirawat tapi ditutupin. makanya saya tanya mbak ngga sayang Tah?" jawabnya langsung aku jawab dengan gelengan kepala.
"yaa ngga atuh, perawatan kan hanya sekedar meresfresh aja biar lebih fresh sementara hijab kan kewajiban" jawabku dengan senyuman.
"salut loh saya sama mbak, udah berhijab tapi ga sayang kalo harus perawatan. padahal banyak loh diluar sana yang mengabaikan, menurut mereka buat apa toh mereka pakai hijab. shampo saja udah cukup" jawab sisi dengan bahasa nya.
"yaa itu kan menurut mereka. saya juga pernah si merasa shampo saja sudah cukup, tapi ya karna memang keuangan saya saat itu ngga ada aja. sementara sekarang saya udah bisa mencari duit sendiri, makanya saya usahakan cari waktu untuk me time" jawabku yang juga diangguki oleh sisi yang sedang melakukan tugasnya mencuci rambutku.
"iyaa sih ya mbak, mungkin karna faktor ekonomi juga jadi banyak yang beranggapan perawatan itu seperlunya aja. yaa kaya saya ini, cantik karna kerja disini aja. jadinya ya bisa cantik begini karna jatah" jawabnya terkekeh kecil.
"yaa Alhamdulillah atuh, jadi ngga perlu modal. yaa cukup dengan bekerja yang rajin, amanah, dan juga jujur aja kan?" jawabku diangguki oleh sisi.
"iyaa betul mbak, orangtua sisi juga bilang begitu kok" jawabnya dengan senyum.
setelah itu tak ada lagi percakapan diantara kami, sisi mulai melakukan tugasnya. ia memijit pelan rambut kepalaku hingga aku merasa mengantuk akibat pijatan yang terasa nikmat hingga ke punggung.
"enak banget si, kamu bisa mijet juga ya?" tanyaku sambil memejamkan mata.
"ah ngga mbak, ini mah emang karna treatment disalon ini aja mungkin karna udah Lues. mijet aslinya mah saya ngga bisa mbak" jawabnya terus memijat kepala hingga punggung.
"tapi beneran enak loh si" kataku yang masih memejamkan mata.
"yasudah nikmati aja kalo enak mbak" jawab sisi membuatku sedikit terkekeh.
tak perlu waktu lama untuk melakukan treatment yang aku minta, cukup kurang dari empat puluh menit selesai. aku pun segera memakai kembali hijabku dan membayar semua tagihan dikasir salon, kemudian kembali kerumah.
"assalamualaikum" salamku ketika melihat banyak sendal berjajar rapi didepan rumah mama.
__ADS_1
"waalaikumsalam" saut orang didalam rumah yang suaranya seperti aku kenal.
"diaaaahhhhh" teriak orang itu yang ternyata adalah Lusi. kak Lusi pun menghampiri dan memelukku, ternyata dia tak sendirian. ada seorang lelaki yang mendampinginya.
"yaampun kak Lusi, udah lama disini?" tanyaku pada kak Lusi sambil membalas pelukan nya.
"baru Lima belas menit sih, lumayan lah. Lo dari mana sih?" tanyanya melepas pelukan kami.
"di salon depan sana, emang mama ga kasih tau?" tanyaku melirik mama yang tersenyum.
"hehehe kasih tau sih, cuma pengen denger dari Lo langsung aja" jawab kak Lusi membuatku memukul pelan lengannya.
"Ayuk, duduk. btw ini siapa kak?" tanyaku pada kak Lusi melirik lelaki yang berada disebelahnya.
"oohh ini calon gue, bentar lagi gue nikah di" jawabnya dengan senyum sumringah.
"oalaahh syukurlah, selamat ya kak" jawabku tersenyum tulus padanya.
"iyaa makasih ya di, semoga Lo juga dapat pengganti si kutu busuk itu" katanya dengan nada kesal. aku pun terkekeh karna mengerti siapa kutu busuk yang dimaksud kak Lusi.
"kutu busuk? siapa itu?" tanya mama yang memang tak tau siapa kutu busuk yang dimaksud kak Lusi.
"ada-ada aja kalian ini ganti nama orang, udah duduk. ga malu kalian dilihatin sama calonnya Lusi" kata mama melirik lelaki yang sejak tadi menatap ke arah kami.
"eehh iyaaa, yuk duduk. tadi gue Udeh ketemu Nayla loh, dia cantik ya terakhir gue ketemu dia kan pas ulangtahunnya yang ke satu ya kalo ga salah?" tanya kak Lusi yang langsung aku angguki.
"iyaaa, sampai sekarang baru ditengok lagi ponakannya. iyakan? sampai punya adek loh" jawabku membuat kak Lusi terkekeh.
"yaa maklum lah, gue kan sibuk. yaa Lo tau sendiri lah gimana kerjaan dispbu, apalagi sekarang kan jam kerjanya nambah sampai jam dua siang." jawab kak Lusi dengan Lusi.
"sampai jam dua siang? nambah dua jam dong ya? kan tadinya cuma sampai jam dua belas" jawabku diangguki kak Lusi.
"iyaaa makanya itu, belum lagi kalo harus ambil duit setoran. makin tambah sore aja pulangnya, iyakan?" jawabnya yang langsung ku angguki.
"emang gaada korsip, biasanya kan dia" tanyaku dijawab gelengan oleh kak Lusi.
"yaa ngga ada, pulangnya udah terlalu sore. tau sendiri korsipnya udah pada punya keluarga semua, jadi ya mau gamau gue yang turun buat ambil setoran sama rapihin uang setorannya" jawab kak Lusi ku jawab anggukan kepala.
__ADS_1
"oiyaa emm btw Lo masih suka ketemu Billy kak?" tanyaku pada kak Lusi yang sedang menenggak air minum digelas yang disiapkan mama.
"emm iyaaa, ketemu aja si kadang. dia kan udah jarang kepom pagi, kadang sore kata anak shif 2. tapi ya gitu, kalo pas lagi ketemu selalu nanyain kabar Lo. duh gue heran juga sih, apalagi katanya dia udah nikah" jawab kak Lusi.
"kok kayanya, emang nikahnya ga ngundang-ngundang. maksudnya, Lo ngga diundang gitu?" tanyaku membuat kak Lusi menggelengkan kepala.
"ngga sih, kayanya mereka juga ngga rame-rame deh cuma nikah doang aja" jawab kak Lusi yang langsung aku angguki.
"dia itu semalem kesini loh lus, ngelamar Diah" kata mama membuat kak Lusi tersendak es batu yang tengah ia kunyah.
"huk, huk, apa? ngelamar, ngga salah dia?" tanya kak Lusi jawab anggukan oleh mama.
"nggalah, kok salah. orang mama, Rey sama Diah sendiri yang nemuin dia. mana dia sendiri Dateng kesininya" jawab mama membuat kak Lusi semakin membelalakan mata.
"kok bisa dia tau rumah ini di?" tanya kak Lusi dengan dahi menyerit.
"eehh emang nak Lusi gatau, katanya mereka pernah jalan bareng makanya dia tau alamat rumah sini. yaa kayanya juga sih dia masih nyimpen undangan nikah Diah yang dulu, nah makanya semakin jelas aja deh itu dia tau rumah ini" jawab mama membuat kak lusi menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.
"masa sih ma, Diah ga pernah ngomong apa-apa kalo pernah jalan bareng dia. kapan di?" tanya kak Lusi menatapku tajam.
"udah lama kak, itu pun cuma sekali kalo gasalah" jawabku dengan wajah menunduk malu.
kak Lusi pun menganggukan kepala, setelahnya tak ada lagi pembahasan diantara kami. kak Lusi pun sibuk bermain dengan Nayla dan juga calon suaminya.
"jadi, kapan kalian mau menikah? udah ada lamaran kan" tanya mama pada kedua orang yang akan melanjutkan hubungan mereka kejenjang pernikahan tersebut.
"iyaa Bu, insyaallah tiga bulan lagi" jawab calon suami kak Lusi dengan suara beratnya.
"oohh cepet ya, jangan lupa antar undangannya kesini loh lus. mama nungguin" kata mama yang langsung dijawab anggukan kepala oleh kak Lusi.
"iyaa tenang aja, btw mama juga kapan nanti lagi? jadi nambah lagi nih bebannya kan?" tanya kak Lusi membuat mama terkekeh.
"beban a-apa si lus, namanya anak. biarlah nanti saja terserah mereka kapan mau berumah tangga, terutama Diah biar aja dulu dengan anak-anaknya. itu yang lebih utama" jawab mama diangguki kak Lusi.
"bener itu, ngapain ngurusin laki. mending santai, selow kaya dipantai. iyaa ngga say" kata kak Lusi membuat calon suaminya tersenyum kecil.
itu adalah percakapan terakhir, sampai akhirnya kak Lusi berpamitan pulang karn sudah hampir dua jam berada dirumah ini.
__ADS_1
bersambung....