
setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, kami pun sampai disalah satu mall yang paling dekat dari rumah.
"yuk masuk" kata mbak Laras ketika sudah membayar ongkos taksi online kami.
kami pun melangkah masuk dengan aku mendorong stroler Syifa dan Nayla digandeng oleh mbak raya.
"kita mau kemana dulu nih?" tanya mbak raya.
"kemana ya? gimana kalo ketoko aksesoris aja" kata mbak Laras yang langsung diangguki mbak raya.
"boleh, yuk" jawabku dan juga mbak raya bergantian.
kami pun terus melangkah menuju toko yang disebutkan mbak Laras, berada dilantai dua. kami pun harus menaiki eskalator, untung saja bukan ekskalator tangga melainkan eskalator tanpa tangga yang khusus untuk membawa troley jadi kami bisa sekaligus membawa stroler Syifa.
"ini sebelah sini aja, kayanya barangnya lucu-lucu. anak kamu kan perempuan semua di, nah kayanya kamu perlu beli banyak nih buat mereka. kalo perlu nanti kita beli baju buat Nayla sama Syifa yang lucu-lucu" kata mbak Laras dengan wajah gemas.
"waaahh Laras mau beliin tuh buat anak Lo di, kapan lagi ditraktir Laras" kata mbak raya dibarengi tawa.
"tenang aja, kalo cuma buat Nayla sama Syifa paling berapa sih. gampang lah itu" kata mbak Laras dengan semangat.
"weeehh jangan salah Lo ras, baju anak-anak itu bisa lebih mahal dari baju kita-kita ini tau ngga sih. satu potong baju anak itu setara sama jam tangan yang gue pake ini loh" kata mbak Laras menunjuk jam tangan yang ia kenakan dihadapan mbak Laras.
"masa sih, emang iya di? sok tau Lo Ray, kaya pernah aja beliin baju anak-anak. ponakan Lo aja palingan Lo kasih duit daripada baju" jawab mbak raya terkekeh sendiri.
"Yee dibilangin ngga percaya, yaudah di nanti Lo habisin aja duit dia. beliin baju Syifa sama Nayla biar dia melongo sendiri dikasur nanti" jawab mbak raya kesal karna mbak Laras tak percaya dengan perkataannya.
"yaa gapapa kali mbak, yang penting nanti mbak Laras ikhlas aja beliin baju Nayla sama Syifa. nanti gantian aku traktir makan deh" kata ku menjawab perkataan mbak raya pada akhirnya, membuat mbak Laras tersenyum senang.
"nah ini baru teman pengertian, bisa gantian. ngga kaya Lo!" kata mbak Laras menyenggol lengan mbak raya.
"udah-udah ayok masuk ah, gaada habisnya denger kalian berdebat mah" kataku menengahi keduanya.
"waaahh tuh kan bagus-bagus, ngga nyesel deh gue ngajak kalian kesini. lihat nih lucu-lucu banget, nay sini nay" kata mbak Laras memanggil Nayla.
"Nayla mau apa? ini mau gak, lucu tau nay" tanya mbak Laras pada Nayla yang sedang memindai seluruh koleksi aksesoris ditoko ini.
"semua yang disini nay udah punya Tante, waktu itu dibeliin sama uti midah" jawab Nayla membuat senyum diwajah mbak Laras surut. mbak raya pun menahan tawa mendengar jawaban Nayla.
"oohh gitu ya, tapi kok nay ngga pake? ini kan lucu-lucu loh nay" tanya mbak Laras.
"Nayla ngga suka Tante, ribet. lagian gerah kalo harus pake begituan, nay ngga bisa dikuncir kaya gini" jawab Nayla membuat tawa mbak raya lepas, mbak raya pun tertawa bahak mendengar jawaban Nayla yang menunjukan kuncir ekor kuda dikepalanya.
"mending yang lain aja si ras, Nayla udah punya yang disini. Lo kalo mau beliin nanti aja baju-baju, nah mending pilih buat kita sendiri" kata mbak raya membuat mbak Laras menganggukan kepala pada akhirnya.
__ADS_1
"nay, kalo Tante nya suruh pilih. pilih aja ya, gapapa walaupun nay udah punya. kasihan tantenya kan jadi sedih" kataku menghampiri Nayla setelah melihat mbak Laras yang sibuk memilih pernah-pernik yang ingin ia beli.
"iyaa ma, maafin nay" jawab Nayla dengan wajah tertunduk.
"iyaa gapapa kok, yuk kita lihat lagi siapa tau ada yang cocok buat Dede Syifa" kataku diangguki oleh Nayla.
"di, sini." kata mbak raya, aku pun menggandeng Nayla dengan tangan kananku sementara tangan kiriku mendorong stroler Syifa.
"lihat deh, lucu kan?" kata mbak raya menunjukan kaca mata pilihannya.
"ngga pantes Lo pake itu tau, kaya anak bayi" jawab mbak Laras membuat mbak raya mengerucutkan bibir.
"sirik aja Lo!" jawab mbak raya sewot.
"aku tunggu disana aja ya mbak, pegel dorong stroler sambil gandeng" kataku menunjuk tempat duduk yang tak jauh dari toko tersebut.
"okee deh, nanti kalo udah selesai gue samperin Lo kesana kok" kata mbak Laras yang langsung aku angguki.
aku dan juga Nayla pun menunggu dikursi, sesekali Nayla menengok sana-sini.
"kenapa sih nay?" tanyaku pada Nayla.
"gapapa ma, nay cari es krim. kok gaada ya?" tanya Nayla membuatku sedikit tersenyum.
tak lama kedua orang itu pun terlihat keluar dari toko aksesoris, mbak Laras dan mbak raya masing-masing membawa belanjaan yang mereka inginkan.
"yuk, sekarang kita ke toko baju anak aja di" kata mbak raya.
"yaudah kalo begitu, tapi Nayla minta es krim. ke tempat es krim dulu ya mbak" kataku yang langsung diangguki keduanya.
"yuk mau, sini sama Tante" kata mbak Laras menggandeng Nayla. Nayla pun menurut, ia digandeng mbak laras menuju lantai selanjutnya.
"nah ini tempatnya, yuk masuk" kataku membuat mbak Laras dan juga mbak raya menghentikan langkahnya.
"Lo yakin mau disini di? ini mahal lih, satu Cup kecilnya aja bisa puluhan ribu" kata mbak Laras menghentikan langkahku.
"gapapa mbak, yuk masuk. aku yang traktir kok" jawabku membuatku keduanya saling berpandangan.
"tapi di,,,,,"
"udah gapapa, ayok masuk kasian Nayla udah pengen makan es krim" kataku menggandeng mbak raya untuk mengikutiku disusul mbak Laras yang menggandeng Nayla.
"pulih aja mbak mau rasa apa, nay rasa apa? kacang merah mau?" tanyaku membuat mbak Laras dan juga mbak raya membulatkan mata.
__ADS_1
"mana ada rasa kacang merah di? Lo mah ngaco ah" saut mbak raya tak percaya.
"buka aja menu nya mbak" kataku sambil membuka menu yang ada disebelahku.
"nah, disini itu es krimnya sehat mbak. kacang merah ada, kacang hijau ada. makanya aku suka ajak Nayla makan ketempat ini kalo kesini, karna es krimnya ngga cuma kaya yang biasa dijual aja" kataku diangguki keduanya.
"oohh gituu, pantesan aja Lo kaya nya ga asing sama tempat kaya gini. gue aja baru kali ini loh ketempat ini, maklum lah gaji kita berdua kan dibagi dua sama buat orangtua dikampung. jadi buat makan kaya gini ya perlu mikir berkali-kali" kata mbak raya sedikit terkekeh, aku pun tersenyum melihat keduanya.
"sudah sekarang kalian pilih aja kalo gitu, bebas." jawabku membuat keduanya tersenyum dengan mata berbinar.
"gue pilih kacang merah aja deh di," kata mbak raya.
"gue mau ini aja nih, kacang hijau mix kacang merah" kata mbak Laras menunjuk es krim keinginannya.
"nay mau apa nay?" tanyaku pada Nayla yang masih diam.
"nay, mau kacang hijau vanilla ma" jawab Nayla yang memang selalu memesan itu setiap kali kesini.
aku pun segera memesankan es krim untuk ketiganya, sementara aku hanya memesan es teler untuk menemani mereka makan es krim.
tak perlu waktu lama pesanan kami pun datang, bertepatan dengan suara seseorang yang menyapa kami.
"assalamualaikum" suara tak asing itu membuatku mengalihkan pandangan.
"wa-waalaikumsalam, maaf mas siapa ya?" tanyaku pada lelaki yang aku rasa tak asing dimataku.
"kamu ngga ingat aku? aku Billy" jawabnya membuatku tertegun.
lelaki yang mengisi hatiku tanpa aku sadari saat menikah dengan mas Lukman saat ini ada dihadapan aku bersama seorang perempuan cantik tanpa hijab.
"Billy? emm bang Billy dari distributor daging yang mobilnya suka isi bahan bakar dipom?" tanyaku dengan detail.
dia pun tersenyum dan menganggukan kepala.
"iyaa betul, kenalin ini Andin istri aku" katanya membuatku mengalihkan pandangan pada perempuan cantik tersebut.
"Sadiyah" kataku mengulurkan tangan pada perempuan tersebut dengan senyum.
"Andin" jawab perempuan itu membalas uluran tanganku dengan sekilas.
"kalo begitu kami jalan lagi ya di, kalian juga huffun ya?" kataku ku balas anggukan dan senyum samar.
"gila, nyapa cuma buat ngenalin perempuan tadi. mana perempuannya keliatan sombong banget lagi" kata mbak raya ketika melihat Billy sudah menjauh bersama istrinya, aku pun menanggapinya dengan senyum kecut.
__ADS_1
bersambung.