
"apa kamu yakin Rey?" tanya mama pada Rey.
"insyaaallah Rey yakin ma, mama doa kan aja semoga pembangunannya nanti lancar. tapi, ngomong-ngomong kita mau mulai kapan pembangunannya?" tanya Rey membuatku dan mama kembali berpandangan.
"ntah lah Rey, kayanya nanti deh kita lihat waktu yang pas." jawab mama.
"atau mungkin nanti setelah 100 harian almarhum bapak Rey, supaya maka juga bisa lebih bebas kalo mengharuskan keluar-luar rumah. kan mama juga udah selesai masa Iddah tuh" jawabku yang langsung diangguki oleh mama.
"iyaa bener tuh mas apa kata mbak Diah, ngga enak juga ga si diliatnya kalo bapak baru aja berapa hari meninggal tapi kita udah mulai bangun rumah. sebaiknya nunggu 100 harian bapak aja nanti" kata Sintia yang mendapat tonyolan kepala dari Rey.
"ikut-ikut aja anak kecil, sok tau banget" kata Rey membuat Sintia mengerucutkan bibir sambil mengelus kepalanya.
"Yee apaan si kas, orang cuma ngasih pendapat juga" jawabnya.
"sudah, sudah. lagian bener apa yang dibilang Sintia Rey, kayanya ngga enak ya kalo bapak belum tuntas urusannya kita udah renovasi rumah. mending nanti aja ya kalo udah selesai 100 harian bapak" jawab mama yang langsung membuat Rey menganggukan kepala.
"yaudah kalo begitu, biar Rey juga bisa sedikit santai cari orang buat ngerenov yang bagus dan juga design yang menarik" jawab Rey mengakhiri perdebatan diantara kami.
"iyaa lagian ngga usah terlalu terburu-buru lah, toh rumah ini juga masih muat untuk menampung kita. yaa hanya kendala sedikit dengan barang-barang kamu aja si di, biar lah nanti disimpan dikontrakkan aja. cari aja yang satu petakan Rey, kan banyak disekitar sini" kata mama yang langsung aku angguki.
"iyaa bener apa kata mama Rey, lagian cuma untuk barang-barang aja kok. yang murah aja gapapa, kan mbak sama anak-anak tinggal disini" jawabku.
"yaudah terserah mbak Diah aja mau nya gimana, Rey ikut aja" jawabnya dengan pasrah.
"Alhamdulillah sebentar lagi rumah kita mau direnov, nanti aku mau request kamarnya yang bagus dan harus design nya sesuai yang aku mau ya mas" kata Sintia yang langsung membuat Rey memutar bola mata malas.
"alaaahh pake design segala, emang kamu punya kamar impian apa" jawab Rey dengan sedikit ketus.
"yaa pasti punya lah mas, aku kan udah lama banget pengen punya kamar sendiri yang estetik kaya kamar artis-artis gitu lah"jawab Sintia dengan mata berbinar.
"belajar dulu yang bener, nanti kalo naik kelas 12 dapat peringkat mas pasti akan bikinkan kamar sesuai yang kamu suka" kata Rey membuat tantangan untuk Sintia.
"bener ya mas? ngga bohong kan kamu!" tanyanya.
"iyaa bener lah, ngapain aku bohong!" jawab Rey dengan ekspresi yakin.
__ADS_1
"oke deh, deal kalo gitu" jawab Sintia menjulurkan tangan kanannya. Rey pun menyambut uluran tangan Sintia sebagai simbol perjanjian mereka.
"assalamualaikum" terdengar suara salam dari luar rumah.
"waalaikumsalam" jawab kami serempak sambil melihat siapa yang datang, terlihat umi Hamidah bersama dengan mas Hamid datang bersamaan.
"mari masuk umi, mas Hamid" kata Rey mempersilahkan kedua nya masuk duduk didalam rumah.
"terimakasih Rey, gimana kerjaan. lancar kan?" tanya mas Hamid yang langsung diangguki oleh Rey.
aku pun melangkahkan kaki menuju dapur untuk membuat minuman, namun dicegah oleh umi.
"mau kemana di? disini aja, ngga perlu repot ambil minum. ini tadi umi sengaja beli Boba kesukaan anak-anak kekinian, nih ayok minum. ini juga ada cemilannya" kata umi Hamidah membuatku terkejut.
"umi, kenapa repot-repot bawa jajanan kaya gini." jawabku mengambil apa yang umi bawakan dengan rasa sungkan.
"gapapa, buat cemilan aja. lagian tadi Hamid yang beli, sekalian mau cobain katanya jajanan kekinian yang dijual distand-stand pinggir jalan itu. ayok, dicobain. umi juga mau coba gimana rasanya" kata umi Hamidah membuatku langsung menyiapkan cemilan yang dibawa umi dan mengambil wadah untuk menempatkannya.
"ini umi, biar Diah taruh dipiring dulu" jawabku dengan sopan.
aku pun menempati beberapa macam cemilan lainnya. mulai dari batagor, cimol, sampai martabak manis mini.
"mbak, aku mau itu toppoki nya dong mbak" kata Sintia yang melihat jajanan Korea yang ternyata juga dibeli oleh umi dan juga mas Hamid.
"iyaa, itu katanya enak sin. ayok makan, ini Boba nya juga ayok diminum" kata umi Hamidah dengan semangat hingga membuat aku dan juga mama melongo melihatnya.
"umi, umi kesini mau menghabiskan jajannya aja atau mau apa tadi ya??" kata mas Hamid membuat umi Hamidah tersadar akan tujuannya datang kerumah mama.
"astagfirullah, iya mid umi lupa. maaf ya Siti, maaf ya nak Rey nak Diah. maklum sudah tua lupa deh, apalagi liat makanan yang kaya gini jadi kalap deh" jawab umi Hamidah membuat aku dan juga mama tertawa kecil.
"gapapa midah, memang ada apa? tumben kalian kesini?" tanya mama dengan hati-hati.
"begini midah, sebetulnya saya ingin menyampaikan amanah dari mas Hasyim" kata umi Hamidah membuat dahi mama menyerit bingung.
"amanah apa ya midah?" tanya mama penasaran.
__ADS_1
"begini Siti, seperti yang kita tau jika almarhum Jono menitipkan harta benda pada seorang habib dikampung halamannya. nah, mas Hasyim sudah mengetahui letak lokasi rumah habib itu. dan sebagai ahli waris, kamu dan anak-anakmu diwajibkan untuk menemui beliau dikampung halamannya" kata umi Hamidah membuat mama menutup mulut sangking terkejutnya.
"subhanallah, apa yang kamu katakan itu benar midah? tapi, apa Edi ga pernah tau soal ini? karna setau saya, Edi pun,,,,, yaa kamu tau sendirilah" jawab mama membuat umi Hamidah tersenyum dan menganggukkan kepala.
"iyaa saya tau midah, tapi sebelumnya sepertinya habib ini hilang kontak hingga akhirnya tak bisa diketahui keberadaannya hingga akhirnya mas Hasyim mendapatkan kabar jika habib itu kembali kedaerah asalnya" jawab umi Hamidah membuat mama dan juga Rey saling berpandangan.
"kalo begitu nanti kita biar sama-sama kesana, nanti kita akan ajak juga pak lek Edi. iyakan ma?" tanya Rey yang langsung diangguki oleh mama.
"iyaa kami benar Rey" jawab mama yang juga disetujui oleh Hamid.
"tapi, sebaiknya kalian membawa seorang pengacara juga. bukannya apa-apa sepertinya namanya didaerah kampung, akan riskan andai kita datang dengan tangan kosong" kata mas Hamid membuat kami sedikit bingung.
"maksudnya gimana mas?" tanya Rey dengan wajah bingung.
"begini Rey, kamu pernah dengarkan kasus satu hektar lahan kosong disebuah kampung yang dimiliki oleh seorang perempuan paruh baya yang ternyata diatas nya sudah dibangun beberapa rumah tanpa seizinnya?" tanya mas Hamid yang langsung diangguki oleh Rey.
"iyaa mas rey tau, kasusnya kan sempat viral disosial media" jawab Rey.
"nah itu dia Rey, aku takutnya itu pun terjadi pada milik bapakmu makanya aku menyarankan membawa pengacara. toh nanti juga kita akan dapatkan sertifikat nya, biar bisa sekalian dicek keasliannya. iyakan?" kata mas Hamid yang akhirnya membuat kamu semua mengerti.
"iyaa Hamid betul, hanya untuk berjaga-jaga saja sebetulnya. kami juga tak ingin menuduh, hanya murni untuk sekedar berjaga-jaga" jawab umi Hamidah yang langsung diangguki oleh mama.
"ooohh begitu, tapi umi. emm bagaimana ya, bukannya apa-apa umi. tapi apa bisa kita mengurusnya nanti aja setelah masa Iddah mama selesai, bukankah perempuan yang masih dalam masa Iddah tidak diperkenankan meninggalkan rumah" jawabku dengan sedikit ragu.
"iyaa betul, makanya kami sengaja menyampaikan sekarang untuk menyiapkan kalian saja. umi juga Abi nya Hamid tak meminta harus sekarang kalian menemui habib itu, yang penting kalian tau dan bersedia. agar Abi juga bisa mempersiapkan pada habib itu agar tak lagi pergi kemanapun menunggu kedatangan kalian" jawab umi Hamidah dnegan tersenyum lembut.
"iyaa umi, terimakasih sudah banyak membantu kami sekeluarga" kata Rey membuat umi Hamidah tersenyum.
"tidak Rey, justru karna bapak kamu lah kami merasa terbantu. andai tidak ada bapak kalian, mungkin pesantren itu sampai saat ini masih begitu-begitu saja bahkan mungkin Hamid tidak akan mungkin bisa melanjutkan sekolah hingga setinggi mungkin. justru kalian,,,,," kata umi Hamidah dengan mata berkaca-kaca.
"maaf, maafkan umi dan juga Abi yang baru bisa menemukan kalian. andai sedari dulu kita bertemu, mungkin kalian semua merasakan hasil dari kerja keras dari bapak kalian, maafkan kami kalo kami lancang menikmati semuanya sendiri" lanjut umi Hamidah dengan terisak, mama pun memandang haru umi hamidah yang terisak disebelah Hamid.
"ini semua sudah takdir midah, tidak ada yang perlu disesalkan. insyallah kami semua ikhlas, semoga semuanya menjadi ladang pahala dan amal jariah untuk bapaknya anak-anak" kata mama mendekati umi Hamidah setelah menyerahkan Syifa padaku.
"terimakasih Siti, sungguh andai kami bisa menemukan kalian lebih cepat. kita bisa mendidik anak-anak kita bersama-sama Siti, bahkan mungkin Diah ngga akan mengalami hal pahit dalam hidupnya. maafkan umi ya Diah, kamu harus banyak berkorban untuk adik-adikmu karna kebodohan umi dan juga Abi" kata umi Hamidah menatapku dengan linangan air mata.
__ADS_1
bersambung....