Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 112.


__ADS_3

tak berselang lama aku dan juga Rey pun sampai diklinik tempat mas Lukman dirawat, aku sendiri sebenarnya ragu akan keputusan yang aku ambil ini. bukan ragu untuk berpisah dengan mas Lukman, ragu dengan tanggapan yang akan diberikan oleh ibu mertua dan juga mas Lukman nya sendiri.


"ini bener kamar rawatnya mbak?" tanya Rey pada ku setalah kami menemukan kamar rawat yang diberi tahukan oleh suster.


"iyaa Rey, coba aja kamu ketuk" jawabku. Rey pun mengetuk pintu, dan tak lama pintu terbuka. terlihat ibu mertua yang sedikit kaget dan langsung memandang sinis kedatangan kami.


"ngapain kalian kesini?" tanyanya tanpa mempersilahkan kami masuk kedalam ruang perawatan.


"bisa kita masuk dulu Bu, ada yang mau kamu sampaikan" jawab Rey masih dengan nada santai, ibu mertua pun mmepersilah aku dan juga Rey masuk kedalam kamar perawatan mas Lukman.


"Diah, kamu kesini di?" kata mas Lukman yang masih berbaring diatas ranjang, aku pun hanya diam tak menanggapi apa yang mas Lukman tanyakan.


"kedatangan kami kesini,,,,," kata Rey yang langsung terhenti dengan perkataan ibu mertua.


"udah deh ga usah berbelit-belit, tinggal ngasih tau aja. ada apa kalian datang kesini? hanya untuk menertawakan Lukman karna ngga bisa dirawat dirumah sakit?" tanyanya membuat ku dan juga Rey saling berpandangan.


"ibu jangan suudzon seperti itu Bu, bukannya ibu sendiri yang meminta aku kesini untuk membayar biaya perawatan mas Lukman?" jawabku dengan nada kesal. mata ibu mertua pun langsung berbinar mendengar apa yang aku katakan.


"jadi kamu kesini untuk membayarkan biaya rumah sakit Lukman? kalo begitu, ayok cepet sekalian ibu minta kamu pindahkan perawatan Lukman kerumah sakit yang lebih lengkap. karna disini tidak bisa mengetahui apa yang menyebabkan Lukman sakit kepala terus menerus, dan harus dirujuk kerumah sakit besar." kata ibu mertua dengan panjang lebar membuatku dan juga Rey kembali berpandangan.


"maaf Bu, kalo untuk memindahkan mas Lukman kerumah sakit saya ngga bisa Bu. ibu pikir biaya rumah sakit itu sedikit?" jawabku menatap ibu mertua yang memandang sinis.


"buat apa punya adik kerjaan bagus kalo ngga bisa membantu iparnya" jawabnya dengan jumawa.


"hanya ipar Bu, ingat hanya ipar! buat apa punya keluarga yang selalu dibiayai kalo masih merepotkan iparnya sendiri!" kataku membuat mas ibu mertua melolot tak suka.


"maksud kamu apa berkata seperti itu?" tanyanya dengan membentak.


"apa? aku benarkan? ibu giliran kesusahan selalu menghubungiku, tapi giliran masalah uang anak ibu selalu nomer satu dan gamau berbagi dengan ku" jawabku lantang.


"sudah-sudah mbak. ibu, mas Lukman kami kesini memang untuk membayarkan biaya perawatan mas Lukman bukan untuk memindahkan mas Lukman kerumah sakit karna itu pasti membutuhkan biaya yang besar. dan untuk itu saya pun ada syarat yang harus mas Lukman penuhi" kata Rey membuat mas Lukman memicingkan mata.


"syarat? syarat apalagi Rey, masa orang lagi kesusahan karna sakit perlu bantuan harus ada syaratnya?" katanya yang juga diangguki oleh ibu mertua.


"ya iyalah mas, kalo ngga ada syaratnya ngga mungkin kami mau membantu kamu. emang kamu pikir bayar biaya rumah sakit pake daun!" kataku dengan ketus.


"yasudah, apa syaratnya?" tanya mas Lukman membuatku dan juga Rey trsnegum kecil.

__ADS_1


"mas Lukman cukup tanda tangani kertas ini, tenang aja ini bukan kertas kosong kok. ini kertas berisikan syarat yang tadi aku kasih tau, silahkan mas Lukman baca dulu" kata Rey menyerahkan selembar kertas yang sudah dimasukkan kedalam map berwarna hijau.


ibu mertua pun tak mau ketinggalan melihat map yang diberikan oleh Rey.


"mataku berkunang-kunang Rey, gabisa jelas melihat tulisan itu" kata mas Lukman membuatku langsung tersenyum kecil ke arah Rey.


"itu ibu juga sedang melihat dan membaca, jelas kan Bu. ngga ada yang dirugikan?" tanya Rey pada ibu mertua.


"kamu nanya sama ibu, bahkan ibu baca ini aja ngga jelas karna ibu gabawa kacamata" kata ibu mertua dengan ketus.


"yasalaam, yasudah kalo begitu biar saya bawa pulang lagi dan saya ngga jadi membayarkan biaya perawatan mas Lukman" kata Rey mengambil kembali map yang berada ditangan mas Lukman.


"eehh ya jangan gitu lah Rey, udah man mending kamu tanda tangan aja deh. lagian siapa yang mau bayar biaya perawatan kamu disini, mama sama kakak kamu ngga ada uang loh"kata ibu mertua pada mas Lukman.


"tapi Bu, lukman ngga bisa baca jelas tulisan itu. nanti kalo asal tanda tangan Lukman bisa dirugikan Bu, ibu gimana sih" jawab mas Lukman dengan kesal pada ibu nya.


"yang penting kan biaya perawatan kamu sudah dibayar dulu Lukman, masalah yang lain ya nanti aja belakangan" jawab ibu mertua tak mau kalah.


"mas Lukman tenang aja mas, aku ngga akan merugikan mas Lukman sama sekali kok. justru mas Lukman yang diuntungkan karna aku membayar biaya perawatan mas Lukman sampai keluar dari klinik ini, iyaakan mbak?" tanya Rey pada ku yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala.


"ngga mungkin, aku tau sekali kamu Rey. ngga mungkin kamu ngga mengambil keuntungan dari apa yang mau kamu berikan padaku, apalagi ini pakai surat perjanjian segala" jawab mas Lukman membuat jantungku berdetak cepat.


"kalo gitu, kami pamit ya mas Lukman, Bu. assalamualaikum" kata Rey, aku puh mengikuti langkah Rey keluar dari ruang perawatan mas Lukman.


"yah, ngga bisa Rey. Gimana dong?" kataku pada Rey yang langsung menggidikkan bahu.


"tenang aja mbak, pasti bentar lagi ada yang manggil kita" kata Rey membuatku menyeritkan dahi.


"apaaa maksud,,,,," kataku terhenti dengan suara panggilan dari belakangku, Rey pun tersenyum dan mengkode agar aku mengikutinya membalikkan tubuh.


"Rey, Diah. Lukman mau kok tanda tangan" kata ibu mertua dengan nafas memburu.


"maaf Bu, tapi tadi mas Lukman ngga mau tanda tangan. kami ngga mau memaksa mas Lukman untuk mendatangani persyaratan dari kami" kata Rey pada ibu mertua.


"ngga kok Rey, mana mungkin Lukman keberatan buat tanda tangani itu. tadi dia hanya takut aja, apalagi tau sendiri kepalanya masih terasa sakit. ibu sudah pastikan kok, kalo bukan kalian yang membantu siapa lagi yang akan membantu. kami ngga ada uang buat biaya perawatan Lukman" kata ibu mertua membuatku dan Rey berpandangan.


"baiklah kalo begitu, saya tidak memaksa. tapi kalo emang mas Lukman mau, mari kita kembali kekamar rawat mas Lukman Bu" kata Rey yang langsung diangguki ibu mertua.

__ADS_1


aku dan juga Rey pun mengikuti langkah kaki ibu mertua yang berada didepan kami.


"tuh kan apa aku bilang mbak, ngga mungkin gagal" bisik Rey membuatku menganggukan kepala.


tak lama kami pun kembali berada didalam kamar rawat mas Lukman.


"bagimana mas? ibumu menghentikan kami katanya kamu mau menandatangani persyaratan ini?" tanya Rey membuat mas Lukman menganggukan kepala dengan ragu.


"iyaa baiklah aku akan menandatanganinya, itu juga karna ibu yang mendesak ya bukan karna aku yang menginginkannya" jawabnya dengan ketus.


Rey pun menyerahkan kembali map hijau tersebut kehadapan mas Lukman.


"mana pulpennya?" tanya mas Lukman, Rey pun langsung mengeluarkan pulpen dari saku bajunya.


"ini mas" jawab Rey menyerahkan pulpen miliknya.


mas lukman pun menandatangani surat perjanjian itu, aku dan Rey pun saling berpandangan melempar senyum atas keberhasilan rencana kami.


"ini, sekarang kalian tepati janji kalian untuk membayar biaya perawatanku" kata mas Lukman membuat Rey menganggukan kepala.


"tenang aja mas, ibu bisa ikut kami kebagian admistrasi kalo mas Lukman ga percaya" jawab Rey yang langsung diangguki ibu mertua.


"oiyaa di, karna sekarang kita sudah ga mengontrak mas mau kamu memberikan mas uang kontarakan dan juga listrik sama uang untuk bensin dan rokok mas setiap bulannya karna ATM mas dan bukunya ada sama kamu" kata mas Lukman membuat dahiku menyerit.


"tergantung berapa gaji kamu yang keluar, andai keluar besar aku akan berikan sesuai yang kamu minta. tapi kalo tidak ya aku akan hanya akan memberikan uang kontrakan dan uang bensin kamu saja" jawabku dengan lantang tanpa bantahan.


"ngga bisa begitu dong di, biar Gimana pun kan Lukman yang bekerja" kata ibu mertua membuatku menatapnya dengan tatapan tajam.


"ibu jangan lupa kalo mas Lukman mempunyai hutang, dan mas Lukman juga masih harus memberikan nafkah pada kedua anaknya. masih untung aku ngga menuntut nafkah untukku" jawabku dengan geram.


"nafkah apa untuk kamu, kamu kan sudah memilih pisah sama Lukman jadi ya kamu urus saja urusanmu sendiri" kata ibu mertua membuatku semakin geram.


"udah mbak, kita selesaikan terus kita pulang" kata Rey dengan berbisik. aku pun menganggukan kepala mengiyakan.


"mari Bu, kita selesaikan pembayaran admistrasi perawatan mas Lukman" kata Rey pada ibu mertua.


kami pun keluar dari ruangan mas Lukman menuju bagian administrasi, setalah selesai aku dan Rey pun kembali kerumah dengan perasaan lega.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2