
"tentu saja Rey, pasti. apalagi keduanya masih dibawah umur, tentu saja akan ikut pada ibunya. bahkan nanti mbakmu juga akan dapat nafkah Iddah dan juga nafkah untuk anak-anaknya" mendengar perkataan lelaki bernama Raihan ini membuatku merasakan angin segar karna seolah tau apa yang aku rasakan, dia pun menjelaskan jawaban dari kegelisahanku.
"dan juga tentu saja mantan suami mbaknya nanti tetap bisa memberikan kasih sayang pada anaknya, karna dia pasti akan diperbolehkan bertemu dengan sang anak meskipun harus dengan izin mbak Diah langsung atau orang yang berada dirumah ini" lanjutnya membuat kami bertiga serentak menganggukan kepala.
"begitu ya mas, emm tapi gimana ya kok saya masih ragu" jawabku menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"ohoho kalo itu mungkin karna mbaknya yang masih ada perasaan sama pak Lukman, makanya mbaknya ragu. coba andai mbak belajar sedikit demi sedikit melepaskan perasaan mbak, emm lebih ikhlas gitu lah. apalagi barusan kata Rey suami mbak sudah mulai main tangan, sebanarnya andai seorang suami sudah mulai main tangan pasti sudah ada rasa yang berkurang untuk sang istri. itu pemikiran saya loh ya sebagai lelaki" jawabnya membuatku tertegun. benarkan mas Lukman sudah tak mencintaiku lagi, seperti apa yang lelaki ini katakan. atau dia hanya sengaja memancing agar aku menceraikan mas Lukman. banyak sekali pertanyaan dalam benakku.
"masa begitu si nak Raihan, apa jangan-jangan nak Raihan sengaja menyuruh Diah menceraikan Lukman makanya nak Raihan berbicara seperti itu pada kami.?" tanya mama mewakili ku yang tak enak mempertanyakan hal seperti itu padanya. sementara yang ditanya hanya terkekeh kecil.
"yaampun Bu, mohon maaf. saya ini pengacara bu, semua hal sudah saya alami termasuk dalam mengurusi hal-hal semacam ini. banyak Bu, sangat banyak saya bertemu rumah tangga semacam ini. yaa saya hanya memberikan pendapat sesuai dengan apa yang saya rasa, karna saya laki-laki. andai hanya membela ibunya meskipun ibunya salah, mungkin masih bisa dianggap sepele Bu tapi jika sudah sampai main tangan saat menegur seperti itu berarti gelarnya sebagai suami patut dipertanyakan" jawab mas Reihan membuat aku dan mama terdiam mendengarkan.
"aku setuju si apa yang dikatakan oleh mas Raihan ma, mbak. andai aku diposisi mas Lukman, aku justru tak akan membela mama jika mama salah. yang pasti jika itu mama yang mengadu, aku akan membicarakannya dengan istriku. andai aku tak bisa membela istriku dihadapan mama karna menghormati mama, tapi aku juga tak akan menghakiminya" jawab Rey membuatku mendongak menatap adikku, perkataan Rey pun diangguki oleh Raihan sebagai sesama lelaki.
__ADS_1
"betul, makanya tadi aku bilang. andai sampai dia bermain tangan karna membela ibunya berarti gelarnya sebagai seorang suami itu patut dipertanyakan. boleh saja dia memiliki gelar anak berbakti, tapi untuk apa jika dia menzholimi istrinya sendiri. bukannya terlihat lebih buruk jika gagal menjadi seorang suami? karna tak ada yang namanya gagal menjadi seorang anak, iyakan?" kata mas Raihan yang juga diangguki oleh Rey.
"yaa adalah gagal sebagai seorang anak, masa ngga ada si nak Raihan ini gimana?" tanya mama membuat lelaki bermana raihan itu menyeritkan kening.
"ada bagaimana Bu? andai seorang anak gagal menjadi kebanggaan orangtuanya, maka orangtuanya lah yang wajib introspeksi diri Bu. karna apa? seorang anak meniru orangtuanya, andai perilaku orangtuanya buruk makanya perilaku anaknya juga buruk tapi jika perilaku orangtuanya baik makanya perilaku anaknya juga baik. itu bukannya pada perilaku loh Bu, pada hati juga, pada akhlak juga, bahkan pada tuturkata pun bepengaruh" jawab Raihan menatap mama yang hanya menganggukan kepala.
"iyaa juga sih benar, nah tuh Diah dengerin apa yang dikatakan nak Raihan. mama yang sudah punya anak pada besar-besar aja sedikit kurang faham, tapi disini sekali diskusi kita sekalian belajar dan mempelajari masalah kamu. dalam hal ini, anak kamu pun akan tetap berdampak andai dia melihat perilaku dari orang sekitarnya. apa kamu mau anak kamu cenderung memiliki perilaku pada ayahnya dan juga pada keluarga Lukman? secara tiap hari otomatis dia pasti akan bertemu dan berinteraksi, benerkan nak Raihan?" tanya mama pada lelaki tersebut yang langsung dijawab dengan anggukan kepala.
"benar Bu, semuanya tergantung bagaimana mbak Diah menilai apa yang saya ucapkan tadi. saya tak memaksa jika memang mbak Diah tak ingin bercerai dengan suaminya, tapi pikirkan lagi kondisi mental psikis anak mbak Diah. ini baru awal loh mbak, suami mbak Diah sudah berani menampar. bukan mustahil jika kedepannya dia akan sering bermain tangan" kata Raihan membuatku membulatkan mata, walau sebanarnya aku membenarkan apa yang dia katakan tetap saja aku harus memikirkannya matang-matang.
"nah itu dia mbak, sebaiknya mbak kumpulkan bukti yang kongkret agar proses perceraian lebih cepat berjalan. emm apa mbak Diah tak mencurigai jika mas Lukman memiliki wanita lain diluar sana?" tanya mas Raihan yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala.
"emm kalo begitu coba mbak Diah sesekali boleh lah pinjam ponselnya barang sebentar, bisakan? mbak bisa cari bukti utama lewat situ, biar sisanya nanti akan saya urus" jawab mas Raihan membuatku sedikit menganggukan kepala.
__ADS_1
"jadi sekarang gimana, aku masih mau dirumah ini dulu loh belum mau pulang kerumah. rencananya satu Minggu aku dirumah ini" jawabku yang langsung mendapat gelengan kepala dari Rey dan juga mama.
"ngga mbak, nanti sore kamu boleh pulang. kita harus segera selesaikan ini, aku ngga mau mbak terus-terusan berada dalam keluarga toxic itu" jawab Rey membuatku terdiam.
"yasudah kalo gitu, sekalian mbak memikirkan gimana caranya meminjam ponsel mas Lukman. karna selama ini mbak sama sekali ngga pernah bisa menyentuh ponsel miliknya" jawabku membuat kedua lelaki itu tertawa kecil dan menggelengkan kepala, dahiku pun menyerit melihat respon dari kedua orang tersebut.
"nah itu salah satu ciri-cirinya mbak, kayanya mbak terlalu naif deh kalo ngga ngerti ciri-ciri orang menutupi perselingkuhannya. iya gak Rey?" kata mas Raihan pada Rey yang langsung menganggukan kepala.
"udah lah mbak, mungkin mas Lukman memang selingkuh. aku yakin, mbak tinggal cari bukti aja. nanti biar kami yang urus sisanya, ya mas ya?" kata Rey pada lelaki bernama Raihan tersebut.
"benar, sudah jangan dipikirkan yang lain. pikirkan kesehatan mental mbak Diah saja, kasian Dede Syifa jika ibu nya terlalu setres" kata Raihan yang membuatku menyunggingkan senyum kecil atas perhatian kecil yang dia berikan pada anakku.
"yasudah kalo begitu, mbak percayakan semuanya sama kalian berdua"....
__ADS_1
bersambung.....