Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 72.


__ADS_3

"Alhamdulillah baik," jawab mas Lukman tanpa menatap mata Raihan.


"baiklah, langsung aja ya mas. begini, menurut pengakuan mbak Diah keluarga mas Lukman selalu merong-rong dirinya dan juga menyalahkan dirinya bahkan sampai memaksa memberikan uang yang memang haknya kepada mereka. apa semua itu benar mas?" tanya Raihan langsung kepada intinya.


"iyaa mas Rai, sebelumnya saya minta maaf. semua itu memang benar tapi mereka hanya meminta hak mereka yang memang sudah seharusnya mereka dapatkan, seperti yang mas Raihan tau bukan. kita sebagai anak lelaki masih wajib memberikan nafkah untuk ibu kita, itu pun yang hanya diminta oleh ibuku dan juga kakakku. apa itu salah?" jawab mas Lukman menatap Raihan dengan berani.


"betul, apa yang disampaikan mas Lukman memang betul. tapi selebih tau saya, kita sebagai anak lelaki wajib berbakti bukan berarti harus selalu menafkahi. sekarang saya tanya, apa setelah mas Lukman memberikan uang mas Lukman mbak Diah tidak memberikan kewajiban yang sebelumnya mas Lukman lakukan pada orangtua mas Lukman?" tanya Raihan menatap mata mas Lukman.


" yaa memang Diah memberikan tapi itu ngga seberapa, sementara gajiku yang dipegang dia itu lumayan besar mas Raihan. masa dari gaji tujuh juta rupiah Diah hanya memberikan lima ratus ribu, seharusnya kan bisa lebih dari itu. itulah kenapa keluargaku selalu merong-rong ke Diah masalah uang" jawab mas Lukman membuatku memicingkan mata.


"tapi mas kan tau sendiri jika gaji mas itu sebagian untuk membayarkan hutang mas dan juga untuk kontarakan rumah ini, belum lagi listrik dan juga WiFi dan air mas. itu juga belum untuk kebutuhan anak-anak, andai aku memberikan uang lebih pada ibumu apa kamu yakin uang itu akan cukup?" tanyaku pada mas Lukman yang terlihat tak suka dengan apa yang aku katakan.


"memang aja kamu yang terlalu berlebihan, memang dasar kamu yang terlalu pelit pada keluargaku. kamu sengaja membuat mereka seolah bersalah padahal kamu yang ingin menguasai semua keuangan aku. iyakan?" jawab mas Lukman membuatku geram.

__ADS_1


"mas, mas memang kamu fikir uang gajimu yang tujuh juta itu banyak? asal mas tau ya, perjanjian mas aja membayar hutang satu bulan dua juta rupiah pada Rey belum lagi untuk bayar cicilan motor mu satu juta dua ratus lima puluh untuk bayar kontrakan rumah ini tujuh ratus ribu listriknya tiga ratus lima puluh ribu dan juga Wifi-nya tiga ratus ribu. itu udah berapa coba mas? udah empat juta lima ratus lima puluh ribu, sisa dua juta empat ratus lima puluh ribu belum untuk kebutuhan anak-anak mas minimal lima ratus ribu untuk persediaan pempers dan susu anak-anak satu bulan lima ratus untuk diberikan sama ibumu. sisa satu juta empat ratus lima puluh ribu mas, apa kamu fikir uang segitu cukup untuk satu bulan? belum lagi kamu pun butuh bensin, kamu ingat kan semalam aku udah berikan uang kamu seratus lima puluh ribum coba lihat fikir berapa uang yang ada ditangan aku saat ini. dan itu akan terus terjadi sampai beberapa bulan kedepan, kamu masih bisa bilang aku pelit? kamu yang gatau bagaimana kebutuhan rumah karna selama ini kamu taunya hanya memberikan aku lima puluh ribu tanpa tau apa yang menjadi kebutuhan dirumah ini setelahnya" jawabku dengan menahan rasa kesal pada mas Lukman.


"kenapa bisa sebanyak itu pengeluarannya, uang tujuh juta itu banyak loh Diah. mana mungkin habis dalam sekejap begitu aja?" jawabnya membuatku kembali membelalakan mata.


"lantas maksud kamu apa? kamu menuduh aku menceritakan yang tidak benar, begitu?" jawabku dengan nada kesal.


"mungkin memang begitu agar kamu bisa terus menyalahkan keluargaku, kamu kan bisa aja membalikkan keadaan seolah kamu adalah korban disini. kenyataannya kamu simpan sendiri uang yang aku berikan" jawab mas Lukman membuatku memelototkan mata.


"mas, mas andai memang aku sepicik itu. aku pasti sudah belikan emas untuk kedua anak kita, tapi mana? apa aku lakukan itu? karna memang uang yang kamu berikan itu hanya pas-pasan karna terlalu banyak hutang yang kamu buat, oohh bukan ini semua karna kakak kamu itu. iyakan?" jawabku dengan menatap tajam mas Lukman.


"tuh kan selalu aja menangis sebagai andalan kamu, kamu itu terlalu lebay Diah. aku cuma bertanya, lagian aku kan memang benar jika uang yang aku hasilkan dari kerjaku itu cukup banyak masa sebanyak itu juga pengeluarannya"jawab mas Lukman membuatku kehabisan kata-kata lagi karna hanya itu saja yang ia bahas.


"sudah lah mas, sudah cukup. kamu selalu membahas yang terus berputar-putar disana, apa kurang aku jelaskan apa saja pengeluaran kita. ingat mas, aku melakukan ini semua juga karna nantinya kita butuh pegangan butuh uang untuk biaya sekolah Nayla yang sebentar lagi akan masuk paud. kamu harusnya sadar mas, semakin besar Nayla semakin banyak kebutuhannya belum lagi juga untuk Syifa. tapi kamu hanya memikirkan ibu dan juga keluargamu aja, kamu ga pernah memikirkan perkembangan mereka!!!" bentakku yang sudah kehabisan kesabaran menghadapi mas Lukman.

__ADS_1


"sabar mbak, sabar. jangan sampai terbawa emosi mbak, semuanya bisa dibicarakan baik-baik" kata Rey yang mencoba menenangkan aku.


"bagaimana mbak bisa sabar Rey, asal kamu tau Rey baru aja tadi siang dia seolah minta maaf pada mbak atas semua kesalahannya. tapi asal kamu tau Rey bahkan ketika kakak dan juga ibunya kembali lagi tadi siang, dia justru kembali menghakimi mbak. lantas buat apa mbak memiliki suami jika tidak bisa melindungi mbak, buat apa Rey!!"jawabku dengan menatap Rey yang masih mengelus punggung badanku.


"iyaa mbak, Rey tau. tapi mbak harus tetap sabar, mbak kan tau ngga mudah menghadapi hal seperti ini" bisik Rey tepat ditelinga ku.


aku pun mulai tenang dengan apa yang dikatakan oleh Rey, aku berusaha menatap tajam mas Lukman yang hanya menundukkan kepala.


"lantas sekarang mau mas Lukman bagaimana? dari yang saya cerna dari apa yang mbak Diah jelaskan, sisa uang yang mas Lukman berikan setelah dibayarkan hutang-hutang mas Lukman dan juga dibayarkan untuk kebutuhan rumah dan juga anak. paling sisa untuk kebutuhan dapur hanya sekitar satu juta empat ratus, itu pun bisa kurang atau justru lebih. bukan kah sama saja mas Lukman hanya memberikan lima puluh ribu satu hari untuk keperluan dapur mbak Diah?" tanya Raihan yang sukses membuat mas Lukman terdiam.


"satu juta empat ratus itu banyak loh Raihan, kamu jangan mau tertipu dengan apanyang Diah katakan. mana mungkin dia hanya memegang segitu sisanya, sementara waktu aku memagang uang gajiku sendiri masih ada sisa sekitar tiga juta Rai" jawab mas Lukman kembali membuatku tersulut emosi.


"hei mas!! seharusnya kamu sadar, tiga juta yang kamu maksud sisa untuk sekarang itu sudah dibayarkan untuk hutang pada Rey dua jutanya!! nah sisanya, seperti yang kamu tau sendiri. uang jatahku lima puluh ribu sehari bahkan kamu memintaku untuk memenuhi segala isi dapur termasuk beras dan juga gas bagimana kamu ga bisa hemat!!!" ........

__ADS_1


bersambung......


__ADS_2