
"iyaa iyaa udah terserah mbak aja, sekarang nih yang aku mau bilang sama mbak. jangan lupa loh mbak harus mengecek ponsel mas Lukman agar mendapatkan bukti yang kita inginkan, ingat mbak semua kelakuannya yang udah menyakiti mbak. itu sama aja menyakiti keluarga kita mbak, terutama bapak yang udah dengan ikhlas melepaskan mbak bersama lelaki yang dia anggap bisa menggantikan sosoknya untuk mbak. lelaki yang baik Budi pekertinya, lelaki yang mencintai mbak yang bapak harap dapat mencinta mbak seperti bapak mencintai mbak. mungkin, bapak pernah sedikit membedakan kita dalam mendidik mbak tapi ini mbak hasil didikan bapak. mbak tidak semata mata menjadi anak yang lemah, iyakan? mbak bisa melanjutkan sekolah mbak, mbak bisa membantu aku sekolah sehingga membuat bapak bangga pada mbak, keluarga kita juga keluar dari hinaan para tetangga yang dulu berkata jika bapak tak akan mampu menyekolahkan kita. mbak itu kebanggaan bapak, anak kesayangan bapak mbak. rasakan sakitnya andai mbak terlalu dalam disakiti oleh mas Lukman mbak" perkataan Rey menamparku hingga aku tak kuasa menteskan air mata karna tak pernah merasakan sakit yang mungkin orangtuaku rasakan.
mama yang berada didekatkupun merangkul dan menguatkan ku dalam situasi seperti ini.
"kami sebagai orangtua hanya mau yang terbaik untuk anaknya di. mungkin dulu kamu tak bisa memanjakan kamu karna memang keterbatasan ekonomi kami, tapi berkat kamu kami semua bisa merasakan sampai dititik sekarang. mereka yang menghinamu bungkam bahkan malu tak berani menatap jika bertemu, kami bangga nak sangat bangga tapi kami juga akan sakit andai kamu merasakan sakit yang selalu kamu pendam. kami orangtuamu, kami keluargamu di. andai mertuamu tak bisa dijadikan tempat bicara, maka datanglah bicaralah pada kami sebagai keluargamu" kata mama menghapus sisa air mata yang terus mengalir dipipiku.
aku pun memeluk mama dan menangis tersedu-sedu, tak bisa lagi menahan air mata yang sudah lama aku pendam. jika selama ini aku selalu memendam sendiri apa yang aku rasa, saat ini aku bersyukur karna ada mama dan juga adikku yang dapat aku jadikan sandaran.
aku bersyukur karna masih ada mereka dalam kehidupanku, andai salah satu dari mereka pergi ntah apa yang aku rasakan. jujur, saat ini hatiku terasa perih ntah mengapa. bukan hanya masalah dengan mas Lukman yang mendasari, tapi seperti ada suatu hal yang akan terjadi hingga aku benar-benar mengeluarkan emosiku dengan tangisan. semoga bukan firasat buruk;pikirku.
"iyaa ma, maafin aku kalo selama ini ngga pernah terbuka sama mama. aku cuma selalu ingat apa yang mama bilang, jika dalam berumah tangga kita harus menutupi aib pasangan. aku belajar menelan semua kepahitan dalam rumah tanggaku seorang diri ma, bukan bermaksud untuk ngga jujur tapi aku ingin menyesuaikan sampai dimana batas rasa sabarku dalam rumah tangga ini" jawabku dengan terbata-bata dalam pelukan mama.
"tapi mama pernah bilang, andai kamu ngga kuat kamu bisa pulang kerumah ini. apa kamu lupa? memang bukan untuk berpisah, setidaknya dengan disini kamu bisa lebih menenangkan diri" jawab mama membuatku semakin menangis tersedu karna tak pernah berfikir hingga kesana.
"iyaa ma, nanti andai terjadi lagi aku akan pulang kerumah ini" jawabku dengan sedikit tersenyum.
__ADS_1
"kalo sekarang sudah terlambat di, kamu udah buat keputusan untuk berpisah. jadi, kamu hanya tinggal mencari bukti agar Lukman tidak bisa mengelak dari apa yang kamu tuduhkan. kamu bisakan?" tanya mama yang langsung aku angguki.
aku pun melepas pelukanku pada mama, lalu menghapus sisa air mata yang masih mengalir dipipi.
"makasih ya Rey udah ngingetin mbak, andai kamu ngga ingetin mungkin saat ini mbak lupa kalo masih ada orangtua kita yang harus mbak jaga perasaannya" kataku pada Rey yang langsung tersenyum dan menganggukan kepala.
"semoga Rey mendapat kan wanita hebat seperti mbak, wanita yang ngga pantang menyerah dan wanita yang selalu lembut serta bersyukur dalam keadaan apapun. aku bicara seperti ini karna aku tau, menikah itu tidak hanya menyatukan dua insan mbak tapi menyatukan dua keluarga. andai salah satu dari kedua insan menyakiti pasangannya, maka yang akan sakit pun satu keluarganya. maaf bukan Rey mengajari, tapi itu lah yang Rey ketahui. sekarang kita udah sama-sama dewasa mbak, Rey juga sebentar lagi akan membawa menantu perempuan kerumah ini. iyakan ma?" kata Rey membuatku dan mema terkekeh kecil setelah sama-sama menangis.
"emang kamu udah ada calonnya Rey?" tanya mama yang langsung disambut gelengan kepala olehnya.
"kalo belum ngapain ngomongin soal nikah begitu? jangan pake pacar-oacaran loh Rey, buat mama yang penting calonnya itu ngga minim akhlak. eemm mendingan kamu memangaskan diri, agar ada perempuan pantas yang bersanding dengan kamu sampai akhirat nantinya" kata mama yang juga aku setujui.
"iyaa iyaa ma, tenang aja. lagian aku juga ngga ada niatan kok buat pacaran, emang selama ini aku pernah keliatan punya pacar apa? ngga kan! aku mah ngga pernah pacaran ma, lagian cari perempuan kaya gitu jaman sekarang itu susah ma. palingan banyak perempuan yang sukanya nongkrong ditempat-tempat terbuka gitu" jawab Rey dengan wajah ditekuk.
"perempuan nongkrong ditempat-tenpat terbuka belum tentu minum akhlak kali Rey, kamu kan masih bisa memilah mana yang baik dan mana yang tidak. ya kalo untuk sekedar itu mah diperhatiin juga kamu pasti bisa lah menilai, iyakan ma?" kata ku bertanya pada mama yang langsung diangguki olehnya.
__ADS_1
"iyaa bener apa kaya mbak mu Rey, tapi mendingan kamu santai aja lah lagian kamu lelaki ini kok. mama ngga terlalu memiliki agar kamu cepet dapet jodoh, nikmatin aja dulu kesendirian kamu Rey selagi masih sendiri" jawab mama membuat Rey langsung menaganggukkan kepala.
"nah ini dia nih, jarang ada orangtua yang begini pemikirannya. biasanya kan seumuran aku itu udah disuruh cepet-cepat nikah, katanya udah cocoklah udah mapan lah padahal kan menikah itu urusan mental bukan urusan cocok atau ngga dan mapan atau belum. iyakan ma" kata Rey pada mama yang langsung disambut anggukan kepala oleh mama.
"iyaaa, udah lah mama mau masak dulu. kasian bapak udah jam bergini belum sarapan" kata mama yang bersiap melangkah meninggalkan kami berdua yang masih saling berhadapan.
"masa bapak doang, kita juga lapar kalo ma udah jam segini. mana aku mau masuk kerja lagi nanti siang" jawab Rey membuat mama terkekeh kecil.
"iyaa iyaa, makanya jangan ajak ngobrol mulu jadi ngga sempet buat sarapan kan" jawab mama sambil melangkah kedapur.
"kemu kenapa masuk siang Rey, emang boleh?" tanya ku pada Rey yang langsung diangguki olehnya.
"boleh kok mbak, tenang aja. tapi nanti mungkin aku lembur, jadi mbak pulang sama sintia ya" kata Rey membuatku membulatkan mulut berbentuk huruf O.
bersambung.....
__ADS_1