
"yasudahlah biarkan dulu. nanti juga dia capek sendiri, sebaiknya kamu bersiap karna nanti mau pergi kerumah orang yang lebih tua soal apa yang ditemukan oleh Rey kan?" kata mama membuatku menyeritkan kening.
"memangnya sekarang ma?" tanyaku heran.
"yaa ntahlah, mama juga gatau. coba nanti kamu tanya Rey" jawab mama membuatku berdecak kesal.
"ada apa ma?" tanya Rey yang kembali keluar dari kamar.
"ini mbakmu tanya, apa benar kamu mau mengantarnya ke rumah kiayi hari ini?" tanya mama.
"yaa iyaalah mbak, jangan ditunda-tunda. lagian aku yakin pasti ada apa-apanya soal benda itu, dan aku ngga sabar supaya benda itu kembali sama pemiliknya!" seru Rey.
"oohh gituu, yaudah kalo gitu. nanti aku nitip Nayla sama Syifa ya ma, nanti kan belum masak. nanti buat jamuan tahlilan biar kita beli aja dijalan, iyakan Rey?" kataku membuat mama tersenyum.
"iyaa ma, udah gapapa nanti biar Rey sama mbak Diah yang beli diluar. sekalian jalan juga kok" jawab Rey yang langsung dijawab anggukan kepala oleh mama.
"yaudah kalo gitu, gih kalian siap-siap aja. ini udah siang, jadi nanti abis azan Zuhur bisa langsung jalan. kan ngga Deket juga rumah kiayinya, dan ngga mungkin kalian cuma sebentar. iyakan?" kata mama dengan nada yang lumayan serius.
aku dan Rey pun sama-sama menganggukan kepala, kemudian aku masuk kedalam kamar Sintia untuk mengambil pakaian ganti dan membersihkan diri didalam kamar mandi. setelah aku dan Rey selesai dan juga siap, kami pun melangkah kan kaki keluar dari rumah.
"mama mau kemana ma? nay ikut ma" kata Nayla merajuk.
"nay dirumah aja ya sama uti, mama cuma sebentar kok. jauh, nanti nay capek" kataku mencoba membuat Nayla mengerti.
"lama ngga? nanti lama lagi" jawab Nayla dengan wajah dibuat sedih.
"ngga kok, ngga lama. iyakan om?" kataku pada Rey yang dijawab anggukan kepala oleh Rey.
"iyaa ngga bakalan lama kok nay, cuma sebentar. nanti om Rey bawain es krim sa donat yang banyak deh, mau kan?" kata Rey membujuk Nayla.
"beneran om?" tanya Nayla memastikan dengan wajah berbinar.
"iyaa beneran lah nay, masa om bohong. emang kapan sih om pernah bohong sama Nayla?" tanya Rey mencolek kecil hidung Nayla.
"okeedeehh, kalo sama om Rey nay percaya. kalo gitu nay dirumah aja sama uti ya ma, tapi nay minta uang buat jajan" kata Nayla. aku pun tersenyum dan menyerahkan uang sebesar sepuluh ribu rupiah pada Nayla untuk jajannya.
"yaampun nay, kaya nanti uti ngga akan kasih jajan aja pake minta sama mama mu" kata mama membuat Nayla tertawa.
"yaa biarin aja lah uti, ini kan uang dari mama. nanti kalo uang dari uti ya beda lagi lah" jawabnya membuatku dan juga Rey mengulum senyum.
"yaudah kalo gitu mama sama om Rey jalan dulu ya, Nayla jangan nakal ya sama uti. dirumah aja nonton tv jangan main keluar rumah ya, kalo ada temennya ajak main disini aja. okee?" pesanku yang langsung diangguki oleh Nayla.
__ADS_1
Nayla anak yang pintar, ia begitu pandai berbicara dengan lucu membuat orang disekitarnya gemas dengan tingkahnya. mungkin memang lagi masanya anak seusia Nayla sedang sangat lucu-lucunya, bahkan banyak dari mereka yang suka mengikuti gaya bicara atau sikap orang-orang disekitarnya.
aku dan Rey pun meninggalkan rumah setelah berpamitan pada mama dan juga Nayla, walaupun dengan sedikit drama pemalakan uang jajan.
selama perjalanan aku dan Rey pun tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun, kami hanya saling diam. sampai aku merasa kantuk karna terlalu lama diatas motor.
"masih jauh Rey?" tanyaku memecah keheningan.
"lumayan mbak, emangnya kenapa?" tanya Rey padaku.
"ngantuk Rey" jawabku singkat.
"yaahh ini masih lumayan jauh si mbak, tumben banget deh ngantuk biasanya juga ngga mbak." jawab Rey.
"yaa kan biasanya mbak udah tidur Rey bareng sama Syifa sama Nayla, makanya mbak suka ngga ngantuk kalo siang. ini mbak belum tidur sama sekali dari pagi" jawabku membuat Rey terkekeh kecil.
"yaudah tahan dulu lah mbak, soalnya kalo bukan sekarang kapan lagi mbak. Rey harus mengurus kerjaan kantor juga, ngga mungkin Rey mengabaikan kerjaan kantor lagi. ya walaupun mengerjakannya dari rumah tetep aja kan itu tanggung jawab Rey" jawabnya membuatku mau tak mau menganggukan kepala.
"iyaa Rey, yaudah gapapa. lagian ini juga kan buat mbak, emang kamu nemuin itu dimana Rey?" tanyaku pada Rey.
"Rey ngga sengaja nemuinnya diguci kecil mbak, guci udah lusuh gitu. didalamnya, makanya Rey bingung. pas Rey buka kok ada nama mbak didalemnya, makanya Rey langsung kasih tau mbak Diah pas sampai dirumah" jawabnya membuatku menganggukan kepala.
"yaa Rey juga ngga tau mbak, mungkij punya bapaknya mas Lukman. kan katanya bapaknya juga orang pinter kan? bisa aja dia gunain itu buat berbuat sesuatu sama mbak" jawab Rey yang juga aku benarkan.
"tapi kalo bener begitu terus gimana sama mbak Rey? apa mbak harus diruqiah kaya orang-orang gitu?" tanya ku penasaran.
"yaa aku ngga ngerti juga mbak, emang mbak Diah selama tinggal sama mas Lukman ngerasa ya gimana? mbak ngga putus sholatkan?" tanyanya.
"emm sempet sih Rey, kayanya tuh mbak males banget buat sholat buat ngaji. berada capek dan pegel aja semua badan mbak kalo pas waktunya adzan" jawabku yang langsung diangguki olehnya.
"nah mungkin karna itu juga jadinya menjadi celah bagi mas Lukman bisa membuat mbak bertekuk lutut dan menurut sama dia mbak" jawabnya membuatku terdiam.
"bisa jadi sih Rey, semoga aja mbak ngga kenapa-kenapa ya Rey. tapi kalo emang bener, apa sekarang udah ga berpengaruh kali ya Rey?" tanyaku penasaran.
"yaa ngga tau juga lah mbak aku, mungkin juga. mungkin ilmunya sudah habis atau mungkin gugur karna mbak Diah mencoba mengembalikan sholat dan juga ngajinya mbak jadinya ilmu itu luntur" jawabnya.
"tapi lebih baik nanti kita tanyain lagi aja sama pak kiayinya mbak, ini udah mau sampai kok" jawabnya.
"jauh juga ya Rey" jawabku singkat.
"iyaa namanya juga kita masuk kepondok pesantren mbak, lumayan lah. untungnya Rey punya kenalan yang tau kiayi yang bisa menyembuhkan hal kata mbak gini" jawabnya.
__ADS_1
"iyaa yaa ngomong-ngomong kamu tau dari mana tempat kiayi ini Rey, kan kamu sendiri ngga tau daerah sini" tanyaku menatap Rey penasaran.
"adalah mbak temen Rey yang orang sini, bukan orang sini si sebenarnya. tapi dia pernah mondok di pesantren ini, yaa ngga lama si karna dia ngga bisa ninggalin orangtuanya makanya dia pulang" jawab Rey.
"waahh sayang banget padahal kan mondok itu enak loh, mbak aja kayanya malah pengen mondok padahal udah punya anak dua gini" jawabku menundukkan kepala.
"yaa memangnya kenapa mbak kalo udah tua mondok, kan malah bagus. lagian bagus juga buat Nayla yang dari kecil udah hidup dilingkungan pesantren" jawab Rey membuatku menggelengkan kepala.
"mana mungkin lah Rey mbak masuk pesantren udah punya anak gini, yang ada bukannya fokus belajar justru malah ngurus anak" jawabku terkekeh lucu.
"iyaa juga sih mbak, yaudah lah gapapa mbak. setidaknya mbak melahirkan anak yang nantinya akan menjadi salah satu penghuni salah satu pesantren yang ada dikota ini" jawab Rey yang juga aku benarkan.
"iyaa Rey, semoga aja nanti Nayla mau mbak masukkan pesantren. biar dia jauh lebih faham agama dibanding mamanya" jawabku yang juga diangguki oleh Rey.
"nah gitu dong, lagian andai Nayla mampu menghafal tiga puluh jus Alquran diakhirat nanti ibunya dijadikan ratu oleh anaknya yang menjadi seorang hafidz" kata Rey membuatku terkekeh.
"Halah mana mungkin Rey" jawabku sambil terkekeh pelan.
"yee dibilangin ngga percaya mbak mah, banyak yang bilang gitu loh mbak" jawab Rey.
"udah udah diam aja, tuh kayanya bentar lagi nyampe. udah ada tulisannya itu pesantrennya, iyakan?" tanyaku yang juga diangguki oleh Rey.
"iyaa itu pesantrennya mbak, tapi kayanya ini yang kita lewatin pondok putra deh mbak jadi kalo mau ketemu kiayinya kita harus ketengah-tengah pondok putra sama pondok putri" jawab Rey membuatku menyeritkan kening.
"laahh, emangnya ngga satu gerbang?" tanyaku heran.
"satu gerbang besar, tapi beda pintu masuk pondok mbak" jawab Rey membuatku menganggukan kepala.
"mbak kira ngga satu gerbang" jawabku singkat.
aku dan juga Rey pun mulai memasuki gerbang besar pesantren setelah dibukan gerbang oleh satpam yang bekerja dipesantren tersebut.
"assalamualaikum, mohon maaf mbak sama mas sekalian mau ketemu siapa ya?" tanya satpam tersebut dengan sopan.
"sama mau ketemu kiayi Hasyim, bisa?" tanya Rey diangguki oleh satpam tersebut.
"sebantar biar saya tanyakan, silahkan duduk dulu" jawabnya dengan sopan dan juga lembut.
aku dan juga Rey pun duduk dikursi tunggu didepan pos satpam tersebut, menunggu satpam itu menelpon ketempat pak kiayi berada.
bersambung...
__ADS_1