Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 39.


__ADS_3

malam harinya tepat pukul sembilan malam mas Lukman pulang bekerja dengan wajah menahan emosi, aku sangat tau sekali bagaimana wajah seperti itu.


"aku mau bicara Diah" kata mas Lukman padaku, aku pun tak jadi kembali kedalam ruang tengah dan lebih meladeni perkataan mas Lukman yang aku yakin pasti akan ada percecokkan yang terjadi diantara kami.


"apa?" tanyaku dengan singkat pada mas Lukman yang menatap tak suka kearah ku.


"apa maksud kamu menghina keluargaku? apa yang kamu katakan pada mama dan juga kak Yuni? ngga cukup kamu hanya menghinaku sampai kamu harus menghina keluargaku?" tanyanya dengan nada sedikit membentak.


"ooohh jadi ibu udah mengadu sama kamu sampai kamu pulang-pulang harus marah-marah seperti ini mas? apa yang dikatakan oleh ibu dan juga kakak kamu memangnya? apa hanya itu? apa mereka juga ga bilang kalo mereka mau meminta mu menceraikan aku? sekarang, aku minta kamu ceraikan aku!" jawabku dengan nada santai membuat mas Lukman membelalakan mata.


"apa maksudmu, ngga mungkin mereka berkata seperti itu dan sampai kapanpun aku ngga akan pernah menceraikan kamu. ingat itu Diah!!" jawab mas Lukman dengan mata melotot dan rahang yang mengeras.


"lantas buat apa rumah tangga ini dilanjutkan mas, kalo hanya mendengar dari satu pihak aja kamu sudah membentakku. asal kamu tau ya mas, ibu dan kakak kamu kesini itu mau meminta ATM gaji kamu. dan mereka mau mengelola uang gaji kamu, makanya kenapa aku ngga kasih. bahkan yang kamu bilang aku menghina itu ya karna mereka menghina aku lebih dulu, lebih tepatnya aku hanya membela diri. kamu fikir aku akan diam aja Dika terus dihina, hah!! andai bukan karna saran dari pak Raihan aku sudah menggugat cerai kamu mas, jadi silahkan bilang pada ibumu jika aku tidak takut kamu ceraikan!!" jawabku membentak mas Lukman yang langsung terdiam mendengar perkataanku.


sebanarnya aku pun ragu berkata seperti itu, bukan takut menjadi janda. yang aku takutkan justru mas Lukman akan menelantarkan anaknya, hanya karna keinginan ibunya yang selalu ingin dikabulkan.

__ADS_1


"jangan lancang kamu berucap Diah, biar gimana pun beliau ibuku. dan kak Yuni itu kakakku, kakak iparmu Diah. mereka memang berhak mengatur keuangan ku, karna mereka saudara dan orangtuaku. apa salahnya?" jawabnya, aku tak habis pikir apa yang ada diotak mas Lukman hingga bisa dia berkata seperti ini lagi. aku lelah jika harus terus menjelaskan padanya tentang hak kewajiban yang sebanarnya dalam rumah tangga, padahal dia lah kepala keluarganya tapi dia seolah tak paham dimana hak dan kewajiban itu berada.


"mereka keluarga dan orangtua mas, aku istrimu. asal kamu tau, hak dan kewajiban kamu itu pada aku dan anak-anak. hak aku menolak atau merima masukan dari siapapun termasuk dari ibumu, jika menurutku salah ya salah tapi jika menurutku benar ya benar. dan lagi, kamu punya istri mas. ini rumah tangga kita, bukan rumah tangga kakak mu atau ibumu. aku lah yang berhak mengatur seluruh gaji dan pengeluaran sampai pemasukan rumah ini, bukan orang lain. apalagi mereka ngga tinggal dengan kita mas, kamu waras atau sudah mulai gila hah!!" jawabku membentak mas Lukman yang sudah sangat keterlaluan menurutku.


"aku lelah mas tiap hari berdebat soal keuangan dan keuangan, seolah-olah uangmu tak ada habisnya. padahal gajipun hanya pas-pasan, kamu terus aja mengikuti gaya hidup mereka. padahal kamu tau sendiri hidup mereka jauh lebih enak dari hidup kita, yang aku heran kenapa ibu dan kakakmu selalu merasa kurang dan merecoki hidup kita padahal dia sendiri tau jika hanya kamu yang bekerja. sementara mereka, bahan pokok tersedia uang bulanan kak Yuni besar ibumu masih dapat uang bulanan darimu bahkan dari suami kak Yuni. kenapa selalu merepotkan kita mas, coba sekarang abangmu mana ada kabar? ngga ada kan! selalu semuanya mau enaknya doang tanpa mau tau susahnya kaya gimana, jujur aku juga bosen mas menenin kamu menerima kamu perlakukan seenaknya aku udah mulai lelah mas. kamu fikir uang lima puluh ribu itu dapat apa mas? bahkan kamu denger sendirikan kakak kamu yang diberikan empat juta dalam sebulan saja habis tak bersisa dalam beberapa waktu, bagaimana aku yang hanya kamu kasih lima puluh ribu!" lanjutku meneteskan air mata, merasakan lagi sakit lagi dengan apa yang Lukman katakan kali ini.


"tapi kamu ngga perlu menghina mereka Diah, bukannya sekarang kamu sudah pegang ATM gaji aku. sudah, kamu cukup menolak dan tak memperpanjang masalah yang ada." jawabnya menggampangkan.


"cukup kamu bilang? sekarang kita tukar posisi mas, jika kamu yang dihina selama beberapa tahun belakangan ini dengan keluargaku bagaimana? oohh begini sajalah, gimana kamu merasakan murka mama kemarin saat tau anaknya diperlakukan seenaknya oleh kamu dan juga ibu dan kakak kamu. gimana rasanya? sakitkan? terhina kan! gimana dengan aku mas yang selama bertahun-tahun mendengar semua hinaan yang keluar dari mulut ibu dan juga kak Yuni" jawabku yang masih berusaha menghapus air mata agar tak terlalu banyak keluar, sangat sakit hatimu saat suamiku sendiri tak bisa mengerti rasa sakit yang aku rasakan. andai dia diposisiku aku yakin sudah sedari lama dia akan pergi meninggalkanku karna tak tahan jika terus dihina, lagipula apa salahnya jika aku membela dirimu sendiri saat dihina oleh keluarganya.


"aahh sudahlah pusing ngomong sama kamu selalu aja ada jawabannya" jawabnya mengambil pakaian ganti kemudian memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara aku hanya bisa menangis dalam diam melihat respon yang dikeluarkan oleh mas Lukman.


aku pun membaringkan tubuh disebelah Syifa yang sudah terlelap sedari tadi, untungnya kedua anakku tidak terbangun dan tetap pulas tidur tanpa mendengar keributan yang terjadi diantara ayah dan juga mamanya.


"lebih baik kamu minta maaf sama mama dan juga kak Yuni, sudah cukup jangan lagi perpanjang kesusahan yang udah terjadi. toh yang megang atmku tetap kamu kan" kata mas Lukman membuatku berdecih.

__ADS_1


"minta maaf? mas, mas dari dulu kamu ngga pernah berubah. siapa yang salah siapa yang disuruh minta maaf, kamu fikir semuanya akan kelar gitu aja? dengan aku minta maaf keluarga kamu bakalan bisa menginjak-injak aku terus begitu? maaf mas, aku ga bisa minta maaf bahkan hatiku menolah untuk memaafkan mereka meskipun mereka yang datang untuk meminta maaf. sudah sedari dulu mas awal aku menikah, setiap ulah dan perkataan ibumu yang menyakiti hatimu cuma kamu jawab "udah lah maafin, namanya perkataan orangtua. wajarin aja, semakin tua kan semakin kaya anak kecil sifatnya" begitu terus mas. aku lelah mas mengalah, terserah kamu mau menilaiku bagaimana. kalo kamu terus mau seperti ini dan ga mau berubah, maaf mas aku pasti akan menyerah" jawabku tanpa menatap mas Lukman dan berusaha tenang dengan emosi yang memuncak.


"jangan memulai Diah, aku hanya mau kamu meminta maaf sama mama itu aja. lagian memang benerkan mama memang sudah tua, ngga usah diambil hati apa yang dikatakan sama mama" jawab mas Lukman dengan entengnya


"ibu memang sudah tua mas, tapi kakak kamu belum tua kan?! kamu pasti sadar jika apa yang ibumu ucapkan atas dasar kemauan kakak mu, itukan memang sifat dia. kamu pasti faham gimana saudara perempuanmu itu, ntah dimana otaknya yang ga kepake itu dia taruh" jawabku dengan sinis.


mas Lukman hanya menatapku dan tak mampu lagi berkata-kata, dia pun mencium kedua anaknya sedangkan aku hanya memejamkan mata untuk mengontrol emosiku. jujur saja, mengingat segala kelakuan kakak ipar dan juga ibu mertuaku membuatku membenci mereka.


sudah sedari awal kami menikah aku tahan dan sabar kan diri mengingat kamu tidak serumah dan berharap sangat kurang dalam berinteraksi, namun nyatanya itu hanya beberapa bulan saja sisanya justru ibunya lebih sering mendatangi rumahku untuk sekedar meminta makan atau jajan untuk dirinya sendiri.


"udah lah ya Diah, mengalah saja. aku gamau kehilangan kamu, aku gamau sampai kita bercerai" kata mas Lukman menyentuh keningku.


"kalo kamu ngga mau kita berpisah bikangkah pada ibu dan kakakmu untuk tidak ikut campur dalam rumah tangga kita, ingat mas aku sudah melahirkan dua anak untukmu. kewajiban mu ada pada ku dan juga anak-anak. surga anak lelaki memang berada dibawah kaki ibunya mas, tapi bukan berarti kamu mengiyakan segala kemauan ibumu diatas batas kemampuan kamu. aku juga istrimu, ngga akan ada bau surga jika kamu terus membuatku menangis. memang ngga ada mas durhaka pada istri adanya durhaka pada orangtua, tapi ada mas yang namanya mendzalimi istri dan anak.". ......


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2