Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 26.


__ADS_3

rasain emang enak, kena mental ga tuh disindir halus sama mama. aku menahan tawa melihat tingkah ibu mertua yang semakin gencar memojokiku agar terlihat jelas dimata orangtuaku sendiri.


"oiyaa berarti pengeluarannya juga bertambah dong ya kalo mama disini, oohh atau ibu keberatan ya kalo saya menambah biaya pengeluaran Lukman dirumah ini?" tanya mama dengan tepat sasaran, sesuai dengan pemikiran ku juga. hihi kita memang sehati ma; gumamku dalam hati.


"eehh emm ngga kok Bu, kok ibu ngomongnya gitu sih. kan kita sama-sama orangtua anak-anak kita, ngga mungkin saya keberatan" jawab ibu mertua dengan senyum yang dipaksakan.


"oohh ya kan kali aja loh Bu, saya kan cuma nanya. yaa tau sendirilah anak saya kan cuma ibu rumah tangga, yang kerja kan Lukman. anak saya juga cuma dikasih uang belanja lima puluh ribu sehari, itu juga udah buat jajan Nayla. yaa kan kalo saya disini otomatis uang segitu kan ga cukup lah ya Bu" jawab mama dengan suara cukup keras, menyindir mas Lukman yang hadir duduk tepat disebelah ibu mertuaku.


"oohh iyaa tentu aja ngga cukup Bu, apalagi sama buat jajan Nayla. Yuni aja dikasih empat juta tiap bulan masih kurang untuk sehari-hari Bu, apalagi lima puluh ribu sehari" jawab ibu mertua dengan menatap Lukman yang salah tingkah disindir mama.


"nah kan Lukman, empat juta aja masih kurang loh sebulan. apa lagi yang lima puluh ribu sehari, yang kalo sebulan itu totalnya cuma satu juta lima ratus" kata mama pada mas Lukman yang hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"habis gimana ma, aku mampunya segitu kok" jawab mas Lukman dengan tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"yakin mampunya segitu, mama kasih tau ya Lukman. kewajiban mu itu kepada istri dan anakmu sepenuhnya, tanggung jawabku mutlak untuk mereka baik didunia maupun diakhirat. jadi mama saranin kamu sebaiknya lebih mendahulukan anak dan istrimu dibanding yang lainnya" kata mama membuat mas Lukman terdiam.


"Lukman selama ini mendahulukan keluarganya loh Bu, buktinya tiap gajian dibelikan baju makan pun juga terjamin kan? bagian mananya yang ngga mendahulukan" bukan mas Lukman yang menjawab melainkan ibu mertua.


"okelah baju dibelikan waktu gajian, anak-anak kan? istrinya? Bu, andai ibu tau sandangan anak saya dari dalem sampe luar pun gaada yang bagus Bu. udah pada sobek sana sini. dulu waktu dia masih kerja tiap Minggu pasti beli baju, tiap bulan pasti beli sepatu, tas, alat make up, bahkan tabungan emas pun Diah punya Bu. tapi sekarang liat? hampir lima tahun sama Lukman pulos begitu, muka juga kusam. dan makan terjamin kata ibu? baiklah, sekarang saya tantang ibu hitung andai jika Lukman berikan ibu uang lima puluh ribu. andai gas habis, beras gaada, bumbu mulai dari gula, garam, penyedap, cabai, bawang, sayur dan lauk yang harus dibeli, oh satu lagi belum jika pempers pun juga habis. coba ibu bayangkan, apa yang segitu cukup?" kata mama membuat ibu mertuaku terdiam.


"dan kamu Yuni, kamu dikasih bulanan empat juta sebulan kamu bilang ngga cukup? apa tanggunganmu? rumah dibayarkan sama mertuamu, listrik suamimu? empat juta utuh kan, palingan kamu cuma beli kebutuhan anakmu dan juga dapur. bukan maksud ibu mengurusi masalah dapurmu, tapi itu lah perbandingan terbalik jika ibumu bilang empat juta kurang untukmu Yun" lanjut mama berusaha menahan emosi yang sudah kelihatan mulai menguap.

__ADS_1


"mama jangan lah bandingin rumah tanggaku dan Diah dengan kak Yuni ma, jelas beda. suami kak Yuni karyawan tetap sedangkan aku hanya karyawan part time ma, ngga bisa dibandingkan begitu. jelas beda, dari segi gaji pun beda ma." jawab mas Lukman dengan santai.


"bagian mana yang beda Lukman? coba mama tanya berapa gajimu?" tanya mama pada mas Lukman.


"gajiku tujuh juta perbulan" jawab mas Lukman dengan yakin.


"oke tujuh juta, berapa cicilan motor mu? berapa kontrakan, dan berapa uang listrik?" lanjut mama kembali bertanya pada mas Lukman.


"cicilan motor satu juta dua ratus lima puluh, kontrakan enam ratus lima puluh, listrik empat ratus ribu" jawab mas Lukman.


"nah itu coba total berapa? cuma dua juta tiga ratus ribu man, masih sisa empat juta tujuh ratus ribu. sekarang mama tanya kemana sisa yang empat juta tujuh ratus ribu itu? oke satu juta lima ratus untuk Diah perhari lima puluh ribu kan? okee jadi tiga juta delapan ratus ribu, yang mama tanyakan kemana tiga juta tiga ratus ribunya?" tanya mama membuat mas Lukman terdiam, aku yang mendengar pertanyaan mama pun tampak melongo karna selama ini aku pun tak pernah menanyakan detail gaji mas Lukman serta pengeluaran yang dikeluarkan olehnya.


"tapi itu belum termasuk yang buat bayar cicilan motor Abang dan juga ngasih ibu ma" jawab mas Lukman dengan menundukkan kepala. aku yakin mas Lukman terpaksa membukanya karna selama ini ia paling tidak mau jika mama tau dia memberikan uang bulanan pada ibu mertua, karna ia sendiri berjanji untuk adil pada keduanya. tapi mas Lukman tak pernah memberikan mama meskipun tetap memberikan ibu kandungnya.


"yaa apa salahnya Bu, kami kan keluarganya. kami berhak dong meminta sedikit gaji dari Lukman, apa lagi aku kan ibu kandungnya" jawab ibu mertua membuat mama menganggukan kepala.


"oohh begitu, berarti janji mu dari dulu itu bohong man sama mama? dari awal mama ga pernah ngelarang kamu loh buat ngasih uang bulanan sama ibumu, tapi kamu sendiri kan yang janji sama mama kalo kamu mau adil pada kami perihal pemberian uang bulanan untuk kami. tapi ternyata omonganmu ngga ada yang bisa dipegang, Lukman Lukman."jawab mama membuat mas Lukman diam menundukkan kepala.


"kenapa si Bu, kok kayanya ibu ngga suka ya kalo Lukman memberikan uang bulanan pada saya? saya ibu kandungnya loh" jawab ibu mertua dengan nada sedikit membentak, membuat mama seketika menatapnya dengan dahi menyerit.


"apa dari tadi saya ada bilang ngga suka kalo Lukman memberikan uang bulanan pada ibu? ngga kan! maaf aja nih ya Bu, bahkan tanpa Lukman kasih pun anak saya Rey bisa memberikan saya lebih banyak dibanding suami Yuni memberikan pada Yuni Bu" jawab mama mengangkat dagunya dan mendekap tangan didada.

__ADS_1


"Halah sombong, baru begitu aja kok" jawab ibu mertua yang merasa tak ingin tersaingin, sangat terlihat bukan jika ibu mertua tak ingin anak-anaknya memiliki pesaing lebih dari mereka.


"bukannya sombong Bu, saya hanya membalikkan apa yang tadi ibu katakan. ibu aja bisa membanggakan anak ibu, masa saya ngga boleh membanggakan anak saya. oohh satu lagi, ibu tau kenapa Rey bisa sukses seperti sekarang?" tanya mama membuat ibu mertua menggelengkan kepala.


"itu karna Diah Bu, karna Diah yang berjuang mati-matian agar adiknya bisa melanjutkan sekolah hingga keuniversitas. coba saya tanya Lukman dan kamu Yuni, kalian lulusan apa?" lanjut mama memberikan pertanyaan pada kedua kakak beradik itu.


"aku cuma SMP ga tamat ma" jawab mas Lukman membuatku mendekap mulut menahan tawa.


"aku SMK ga tamat Bu" jawab kak Yuni sambil menundukkan kepala.


"nah, kenapa kalian ga bisa melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. coba kamu Yuni kenapa kamu ga lanjutin sekolah SMK kamu?" tanya mama pada kakak iparku.


"mamaku ngga ada biaya Bu" jawab kak Yuni menundukkan kepala.


"alasan klise, kamu tau Yun. jika alasan orangtua ngga ada biaya itu biasa, kamu tau Diah pun bahkan bapaknya menolak memberikan pendidikan hingga ke SMK karna kami pun tak ada biaya tapi dia kekeh mau sekolah bahkan sampai rela bekerja sambil melanjutkan sekolahnya demi mencapai cita-citanya. ingin membungkam omongan orang yang menghina keluarga kami saat itu, akhirnya bahkan Diah mampu menyekolahkan adiknya hingga ke perguruan tinggi karna kerja keras dan uletannya. bahkan sampai saat ini Diah ngga pernah meminta balasan pada Rey yang sudah susah payah ia sekolahkan, saya aja sebagai orangtua malu pada anak saya. saya malu pernah mengeluh faktor ekonomi, tapi dia mampu membalikkan keadaan kami. jadi kamu Lukman, andai kamu menyakiti permata kami berarti kamu bukan hanya menyakitinya tapi juga menyakiti kami semua. orangtua dan adik-adik dari Diah"lanjut mama membuatku menteskan air mata.


mas Lukman, kak Yuni dan juga ibu mertuaku pun terdiam mendengar setiap kata yang keluar dari mulut mulu. mereka pun membisu, untung bapak sedang tidur karna efek obat yang mama berikan jadi bapak pun gak mendengar setiap apa yang kami bicarakan.


bersambung......


________________________________________

__ADS_1


sampai sini dulu ya guys, lanjutkan besok lagi🤭😊🙏 jangan lupa vote dong🙏


__ADS_2