
"apa benar yang aku dengar tadi mbak? seperti itu kelakuan mas Lukman pada kamu?" tanya Rey membuatku diam tak berkutik.
"emm i-iyaa Rey" jawabku dengan menundukkan kepala, aku masih sempat melihat kilat kemarahan diwajah Rey yang membuatku semakin takut jika Rey melakukan sesuatu pada mas Lukman.
"kurang ajar! kenapa kamu baru kesini sekarang mbak, kenapa ngga dari kemarin. apa setiap hari selama mbak dirumah itu dia selalu berbuat seperti ini pada mbak?" tanya Rey membuatku langsung menganggukan kepala.
percuma juga berbohong, Rey sudah dengan apa yang aku katakan pada mama sejak tadi.
"sudah aku bilang kan mbak, lebih baik mbak berpisah dengan mas Lukman. mbak lihat sendiri kan gimana kelakuannya, aku bener-bener ngga nyangka dia bisa berbuat kasar seperti itu padamu mbak. ini semua ngga bisa dibiarkan, liat aja aku akan buat perhitungan pada lelaki itu" kata Rey langsung melangkah kan kaki memasuki kamarnya yang terletak tak jauh dari ruang tamu.
"duh tuh kan ma, terus gimana ini ma" kataku pada mama dengan nada panik.
"yaudah biarin aja si adikmu yang urus, mama juga setuju kalo kali ini Lukman memang sudah benar-benar keterlaluan sama kamu. udah lah ngga usah berbelit Belit, biar aja jika memang kalian harus berpisah dengan cara seperti ini. lagi pula mama ngga rela liat kamu terus diperbudak oleh keluarga Rey" jawab mama membuatku kembali terdiam. ntah ada rasa apa yang ada dihatiku mendengar perkataan mama, satu sisi pun aku membenarkan apa yang mama ucapkan. ntahlah aku hanya bisa pasrah kali ini;pikirku.
"udahlah, mama mau ketikang sayur dulu mau beli sayuran buat bikinin bapak sayur bening. Ayuk nay ikut uti yuk" jawab mama sambil mengajak Nayla berbelanja ketukang sayur langgannya.
"gimana keadaan bapak ma?" tanyaku pada mama dengan rasa khawatir.
"ntah lah, mama cuma bisa pasrah aja. keadaannya semakin kuat, tapi ntah kenapa tiba-tiba dibelakang punggung bapak ada koreng yang tiba-tiba muncul. mama takut karna tingginya gula darah bapak jadi berakibat seperti itu" jawab mama yang kembali menundukkan kepala.
deg,,,,, perasaan apa ini, ntah kenapa mendengar ucapan mama tiba-tiba air mata ini menetes dan berfikiran buruk takut bapak pergi meninggalkan kami.
ntah mengapa fikiranku teringat setahun yang lalu saat mbakku meninggal pun mengalami hal yang sama, sakit struk beberapa bulan kemudian timbul koreng sebagai pertanda dirinya tidak mampu dipertahankan dan seminggu kemudian menghembuskan nafas terakhir. alllaaahh, aku berusaha menenangkan hati dari gelisah yang terus hadir.
aku pun melangkah kan kaki memasuki kamar mama dimana ada bapak didalamnya tengah berbaring menghadap tembok, andai memang karna penyakit ini bapak pergi meninggalkan kami semua. apakah aku sanggup, meskipun bapak begitu tegas mendidikku dan seolah tak ingin tau keadaanku sewaktu aku bersekolah dulu tapi ntah mengapa ada rasa bangga bisa membuktikan pada bapak jika aku berhasil lulus sekolah meskipun bukan sarjana.
tapi saat ini, aku pun merasakan sakit dan perihnya melihat keadaan bapak yang sedikit memprihatinkan.
"ma, gimana kalo kita coba bawa bapak kerumah sakit lagi" kataku pada mama yang berdiri di belakangku.
__ADS_1
"setiap malam ada dokter kesini kok, kadang bapak juga diinfus kalo lagi drop. mudah-mudahan bapak bisa sembuh dan bisa berkumpul sama kita lagi" jawab mama dengan meneteskan air mata, tak terasa air mataku pun ikut mengalir.
"amiinn, yaudah yuk keluar biar bapak istirahat. mama beli lah sayur karna Nayla juga belum sarapan" jawabku membuat mama segera menganggukan kepala dan menghapus air mata yang mengalir dipipinya.
"yuk nay, kita beli sayur Nayla ikut uti ya" ajak mama mengandeng tangan Nayla pada akhir. kami pun meninggalkan bapak yang masih tertidur, aku kembali keruang tamu dan membaringkan Syifa di sofabed.
tak lama Rey pun keluar dengan pakaian kasual miliknya.
"mau kemana Rey?" tanyaku pada Rey yang langsung berhenti tepat dihadapanku.
"aku mau keluar mbak, mau ketemu sama mas Reihan buat bahas kelanjutan perkara mbak itu. apalagi kini mas Lukman udah berani bermain tangan pada mbak, aku benar-benar ngga bisa terima mbak" jawab Rey dengan nada datar menjawab perkataanku.
"tapi Rey, mbak gamau masalah ini diperpanjang. biarlah, toh huk tabur tuai masih ada. mbak hanya akan terserah diri dengan apa yang dilakukan oleh keluarga mas Lukman dan juga mas Lukman lakukan pada mbak Rey" jawabku membuat Rey menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.
"iyaa itu mbak, tapi ngga denganku mbak. aku sakit jika mbak juga merasakan sakit, apalagi sebagai lelaki dan kepala rumah tangga seharusnya mas Lukman bisa melindungi anak dan juga istrinya tapi ini mana. bahkan dia menampar mbak yang mana seharusnya hal itu ngga pernah dia lakukan sebagai seorang suami kepada istrinya mbak" jawab Rey dengan mata memancarkan kita kemarahan.
"tapi Rey mbak mohon pikirkan keponakan kamu sebelum kamu bertindak, mbak ngga mau anak-anak mbak menjadi korban Rey. apalagi kamu tau sendiri kan kalo Nayla sangat dekat dengan ayahnya" jawabku membuat Rey pun menganggukan kepala.
"iyaa Rey makasih ya kamu udah lakukan yang terbaik untuk mbakmu ini" jawabku dengan senyum mengembang.
"yaa mbak tentu saja aku akan melakukan yang terbaik untuk mbak, karna mbak juga melakukan yang terbaik untuk aku" jawab Rey membuat ku sangat terharu karna dia selalu mengingatkan perjuanganku untuknya.
"yaudah mbak, aku pergi dulu ya. masalah ini harus segera diselesaikan, aku ngga mau mbak terus menderita hidup dengan mas Lukman yang selalu mementingkan keluarganya itu" kata Rey membuatku kembali menundukkan kepala.
"iyaa Rey, hati-hati ya" jawabku membuatnya segera menganggukan kepala.
"iyaa mbak tenang aja" jawabnya membuatku tersenyum, Rey pun pergi meninggalkan aku yang berbaring dengan Syifa dengan hanya beralaskan sofabed.
"Rey udah pergi ya di?" tanya mama yang baru saja sampai setelah berbelanja.
__ADS_1
"udah ma, baru aja. kenapa emangnya?" tanyaku pada mama yang duduk tepat disebelahku bersama Nayla.
"gapapa, tadi Nayla panggil-panggil tapi dia ngga denger kayanya terus langsung bablas jadinya nay nangis deh" jawab mama mengelus kepala Nayla yang memang terlihat habis menangis.
"oalaaahh, om nya mau kerja nak. nanti main sama kakak ya" kataku pada Nayla yang langsung dijawab anggukan kepala olehnya, aku memang membiasakan Nayla dipanggil kakak agar ia pun terbiasa dan faham bahwa dia memiliki seorang adik.
"memang kemana dia Diah?" tanya mama.
"emm mau kerumah si Reihan ma, ntah katanya ada yang mau dibicarakan. aku juga ngga ngerti si" jawabku membuat mama menganggukan kepala.
"pasti bicarain masalah kamu dan juga Lukman" jawab mama membuatku membelalakan mata, bagaimana mungkin mama tau padahal aku belum bilang sama sekali padanya.
"aku belum juga tau pasti ma, lagian kenapa mama bisa menebak kearah saja" tanyaku dengan Pandaran.
"jelas lah, mama tau banget gimana Rey itu kalo soal kamu. pasti langsung tancap gas, apalagi tadi dia dengar sendiri kalo Lukman udah berani menampar kamu. mama yakin dia pasti ngga akan diam aja" jawab mama membuatku menganggukan kepala membenarkan.
"iyaa bener juga, semoga semuanya bisa dibicarakan baik-baik sama mas Lukman dan juga Rey." jawabku membuat mama segera menganggukan kepala dan tersenyum.
"iyaa semoga aja Lukman bisa diajak bicara baik-baik, secara coba aja kamu fikir bahkan ketika ada mama aja dia sama sekali ngga bisa bicara santai pada mama. iyakan? apalagi kalo udah ketemu sama ibu dan juga kakaknya itu, seolah mereka ngga mau salah sama sekali. mama heran deh sama kamu kenapa bisa ketemu sama keluarga super toxic kaya gitu, heran mama kadang tuh" jawab mama membuatku menundukkan kepala.
"yaudah si ma, mungkin memang jodohnya dengan mas Lukman seperti ini. ini lah takdir rumah tangga kami, mama cukup doakan agar aku kuat menghadapi keluarga mas Lukman yang seperti itu" jawabku pada mama yang langsung merubah raut wajahnya.
"tuh kan kamu juga kalo dikasih tau sama mama selalu aja begitu jawabannya, mama itu cuma mau yang terbaik buat kamu Diah. itu aja, sampai kapan kamu mau berada dalam lingkungan keluarga toxic kaya gitu. kalo mama si bener-bener udah ngga tahan kalo diposisi kamu" jawab mama membuatku sedikit tersenyum.
"iyaa itu kan mama" ....
bersambung
________________________________________
__ADS_1
hai guys, maaf ya jadi jarang update🙏 outhor lagi dirumah orangtua dan kami sedang mempersiapkan acara keluarga, jadi sedikit agak sibuk. insyallah outhor kan tetap sempatkan update meskipun hanya satu bab disatu cerita🙏