
"Heh, tugas kamu sebagai anak juga apa. dan tugas Abang kalian juga mana, asal kak Yuni tau ya bahkan yang seharusnya memenuhi kebutuhan ibu itu ya Abang sebagai anak lelaki tertua bukannya mas Lukman, kenapa semuanya dilimpahkan ke mas Lukman. apa Abang kalian itu bisanya cuma menjadi benalu aja, hah!!" jawabku yang balik membantak kak Yuni dihadapan mas Lukman dan juga Rey.
kak Yuni pun hanya diam mendengar perkataanku, ntah apa yang dia pikirkan aku sama sekali tak peduli. saat ini yang penting aku hanya ingin mengeluarkan semua yang aku rasakan, aku tak ingin memendam perasaan kesal yang akan membuatku melimpahkan kekesalanku pada anak-anakku nantinya.
"kenapa diam hah! ngga bisa jawab, jangan bisanya cuma menghardik aku sebagai menantu pelit kalo kalian sendiri sebagai anaknya aja lebih pelit dari apa aku. coba liat mana Abang setelah apa yang dia lakukan pada mas Lukman beberapa bulan yang lalu, bahkan dia ngga ada sedikitpun menampilkan batang hidungnya dihadapan kami. sekarang seenaknya aja kamu mengatakan aku pelit sementara kamu aja enggan mengeluarkan uang lima puluh ribu untuk ibumu sendiri, heh otakmu didengkul hah!!" lanjutku yang sudah tak bisa lagi menahan emosi terhadap kak Yuni.
"kurang ajar, tutup mulutmu Diah. apa yang aku lakukan bukan urusanmu, hidupku juga ga perlu kamu atur. aku ga butuh masukan ataupun ceramah darimu, kalo kamu ngga mau memberikan uang yasudah ngga usah nyolot begitu. emang dasar kamu itu pelit, bahkan untuk mertuamu sendiri tega kamu mendzolimi" jawabnya membuatku terkekeh kecil.
"menzholimi kamu bilang? kamu ngga sadar apa yang kalian sekeluarga lakukan padaku hah. mas Lukman memberikan nafkah tidak layak, ibu merecok rumah tangga kami, bahkan kau pun ikut campur dalam keuangan rumah tangga kami dengan dalih untuk ibu. belum lagi Abang mu yang juga hanya bisa menjadi benalu, apa perlu aku jabarkan satu persatu? dimana aku menzholimi kalian selama ini, bahkan kalian sendiri yang melakukan semua itu padaku. jangan seolah mengatakan kalian tersakiti hanya karna aku membela diri" jawabku dengan sedikit berteriak hingga tetangga kontarakan kanan dan kiri menonton pertengkaran kami.
"cukup Diah, turunkan suara bicara kamu. ngga enak didengar tetangga, kamu ngga mau diliat tetangga kanan dan kiri kita. liat semuanya pada datang untuk menonton sepeti itu" kata mas Lukman dengan nada pelan.
__ADS_1
"untuk apa aku malu, biar aja biar semua orang tau kalo keluarga kalian itu ngga sebaik yang terlihat. tak terkecuali ibu kamu yang sok sok bijak kalo didepan orang itu, termasuk kamu yang sok royal dihadapan orang lain padahal terlalu pelit sama istri sendiri. kenapa? kamu malu karna semua orang tau bagaimana sifat kalian disini? kamu malu mereka semua mengetahui apa yang kamu lakukan padaku? selama ini aku diam mas, tapi apa yang kamu lakukan. bahkan tanganmu itu sudah berani menyentuh pipiku, kali kamu lupa" jawabku dengan air mata yang mulai menetes dipipiku.
"ada apa ini man, Diah" kata emak tukang pijat disebalah rumah ku persis.
aku pun masih diam dan tak menjawab perkataan emak pijat.
"nah, tanyakan pada emak. siapa yang selama ini ibumu banggakan didepan semua orang, kakak mu ini mas. padahal setiap bulan bahkan setiap hari kamu yang memberikan kehidupan untuk mereka, silahkan tanya sendiri pada orang didepanmu ini mas" kataku menatap mas Lukman dan juga emak pijat secara bergantian.
" jadi bener mama ku bilang begitu sama emak?" tanya mas Lukman menatap emak yang langsung menaganggukkan kepala.
"iyaalah, ibu mu sendiri yang bilang katanya hidup sama Yuni itu enak karna semuanya ada bahkan Yuni di berikan jatah empat juta sebulan bersih sementara uang kontarkaannya dibayarkan oleh mertuanya. listri oleh suaminya sudah dibayar tiap bulan mereka juga ngga punya cicilan apapun, tanya aja kakak mu ini kan ada dia waktu emak ngurut ibumu waktu itu" jawab emak pijat membuat kak Yuni membuang muka kearahku yang langsung aku balas dengan tatapan sinis.
__ADS_1
"sudah jelaskan mas, apa yang kamu lakukan untuk mereka itu ngga ada artinya mas. bahkan kamu rela menamparku untuk membela mereka, sekarang bagaimana rasanya kamu dianggap rempahan sampah oleh ibumu sendiri dihadapan orang lain. sakit bukan? sama seperti apa yang aku rasakan saat ibumu mencaci maki aku dan menghina aku dihadapan suamiku sendiri" jawabku sambil meneteskan air mata, emak pijat pun mengelus punggung badanku dengan lembut menyalurkan kenyamanan.
"yaallah man, bener apa yang Diah bilang sampai kamu menamparnya karna membela ibumu?" tanya emak pada mas Lukman yang langsung tak bisa menjawab perkataan emak.
"yaallah yarobby, maaf ya man, Diah bukan maksud emak mau ikut campur urusan rumah tangga kalian. memang ga etis rasanya andai emak berbicara dengan kalian dalam kondisi rumah tangga kalian yang seperti ini, tapi satu hal perlu kamu ingat man. anak lelaki memang masih milik ibunya, bahkan ketika menikah pun surga masih ada dibawah kaki sang ibu. tapi seorang suami juga tak akan mendapatkan surganya jika membuat istrinya mengeluarkan air mata. jangan salah mengartikan masih milik ibu lantas kamu beranggapan semua apa yang ibumu katakan itu benar dan kamu harus menuruti ya, bukan begitu man. asal kamu tau man, andai seorang anak lelaki yang sudah menikah itu tidak memiliki makanan dirumahnya kemudian ia datang kerumah orangtuanya dan berkata ia meminta makanan untuk anak dan istrinya dirumah yang belum makan maka orangtua atau saudara lelakimu harus memberikan sebagian makanan yang mereka punya. kamu tau kenapa?" kata emak yang langsung membuat mas Lukman menggelengkan kepala.
"karna itu adalah kewajiban mereka sebagai keluarga pihak lelaki. jika seorang wanita setelah menikah putuskan kewajiban orang tua atau saudara lelakinya terhadap perempuan itu tapi tidak dengan lelaki. keluarga lelaki tetap harus bertanggung jawab terhadap istri dan anak dari anak lelaki dikeluarga mereka bahkan hingga lelaki itu meningga, apa kamu faham?" tanya emak manatap mas Lukman yang hanya menganggukan kepala.
"alaaahh kata-kata dari mana itu, mana ada begitu. kalo udah suami nya meninggal ya urusan istrinya lah yang harus cari nafkah untuk anak-anaknya, gimana sih" jawab kak Yuni dengan nada sewot dengan apa yang emak katakan.
"nah begini nih, orang kalo ngga pernah ngaji dan ngga pernah buka Alquran. eehh Yuni, silahkan kamu tanya ustadz dimana pun berada tentang apa yang emak katakan. emak walaupun udah tua begini tau agama dan ngga buta soal yang begituan, mungkin selama ini kamu hanya menganggap sepele rumah tangga kali ya makanya bisa seenaknya mencampuri rumah tangga adikmu" .....
__ADS_1
bersambung......