
setelah semua pekerjaan yang harus aku pelajari selesai, aku pun berpamitan pada mbak Laras yang tadi memberikan ku tugas pertama.
"mbak, saya izin mau pulang ya?" kataku.
"oh iyaa iya, semua udah kamu pelajari? kamu boleh kok bawa pulang" jawab mbak Laras.
"iyaa mbak, ini juga yang saya kurang faham saya bawa pulang" jawabku sambil menunjukkan beberapa map yang aku bawa ditangan.
"baiklah, sampai bertemu Senin nanti ya!" kata mbak Laras dengan senyum mengembang.
aku pun mmebalas senyum mbak Laras, "iya mbak, terimakasih. kalo begitu saya pamit, mas mbak saya permisi pulang dulu ya"
aku berpamitan pada seluruh staff yang berada didalam ruangan tersebut, mereka pun mengalihkan padangan menatap aku dengaj tersenyum dan menganggukkan kepala.
"iyaaa, hati-hati ya Diah." kata perempuan yang aku ketahui bernama raya.
"iya mbak terimakasih, assalamualaikum" salam ku sebelum keluar dari ruangan itu.
aku pun melangkahkan kaki keluar dari ruangan kemudian menaikin lift untuk sampai ke lobby.
aku pun tersenyum sambil menganggukan kepala ketika berjalan melewati respsionist, perempuan yang aku ketahui bernama ria pun membalas senyum ku dengan ramah.
aku segera menuju parkiran dimana motorku berada, kemudian melajukannya dengan sangat hati-hati agar selamat sampai dirumah mama.
saat sudah tak jauh dari rumah, aku melihat rumah mama begitu ramai dan terdengar seseorang tengah memaki mama dengan nada yang sangat tak enak didengar. begitu juga dengan Rey yang terdengar membalas perkataan orang itu dengan berteriak kencang.
"assalamualaikum" kataku membuat semuanya mengalihkan pandangan menatap aku yang baru saya memasuki halaman rumah.
"waalaikumsalam" jawab beberapa orang serentak menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.
"nah ini nih, wanita tak tau malu. setelah adik saya sakit-sakitan dengan seenaknya aja meninggalkannya, bahkan membawa semua barang berharga milik adik saya" kata kak Yuni memandang sinis ke arahku, membuat beberapa ibu-ibu berbisik menatap tak suka ke arahku.
aku mengabaikannya dan terus berjalan menghampiri Rey yang wajahnya sudah memerah menahan amarah.
"ada apa ini Rey?" tanyaku pada Rey yang langsung mentaap tak suka ke arah kak Yuni.
__ADS_1
"seperti biasa, bukannya dia dan keluarganya kalo ga merusuh ngga enak" jawab Rey dengan nada sinis, membuat kak Yuni menggeretakkan gigi.
"heh, jangan kurang ajar ya! saya juga gaakan ke sini kalo saya gaada keperluan dengan kakak kamu ini, saya kesini hanya meminta hak nya Lukman yang sudah kalian ambil. kalo tidak, saya juga gaakan Sudi!!" bentak kak Yuni.
"hak apa lagi kak Yuni?" tanyaku dengan santai menatap kak Yuni dengan tajam.
"jelas hak semua barang yang sudah dibeli oleh lukman dan kamu bawa kerumah ini, ingat ya Diah semua itu dibeli menggunakan uang Lukman jadi kamu ngga berhak untuk menguasainya. aku dan juga keluargaku yang paling berhak untuk semua barang itu, jadi aku mau kamu balikkan semuanya!" jawabnya membuatku menyeritkan kening.
"apa aku ngga salah dengar mbak? harusnya sebelum mbak kesini marah-marah dan memaki keluargaku sebaiknya mbak tanya dulu sama mas Lukman, ingat mbak aku dan mas Lukman bahkan menandatangi surat pranikah yang dimana semua yang mas Lukman dapatkan selama kami bersama akan beralih kami dan juga anak-anak apabila salah satu diantara kami berhianat. mbak tau sendiri bukan, jika mas Lukman sudah menghianati pernikahan kami. jadi mbak tau kan semua itu sekarang milik siapa?" jawabku masih dengan nada santai menjawab perkataan mbak Yuni.
"setidaknya kembalikan gaji Lukman, bukankah kamu sudah mendapatkan semuanya?" jawabnya lagi masih dengan nada emosi.
"baik, aku akan kembalikan,,,," jawabku menghentikan perkataan melihat mbak Yuni sudah memancarkan mata binar mendengar perkataan ku.
"tapi mbak harus mengembalikan pinjaman mas Lukman pada Rey sebesar lima belas juta, detik ini juga. bagimana?" lanjutku membuat mata kak Yuni membola.
"li-lima belas juta, yang benar aja!" jawabnya dengan nada tak percaya.
"iyaa lima belas juta, kenapa? kaget! jika kak Yuni mampu mengembalikannya saat ini juga, maka aku akan kembalikan uang gaji mas Lukman." kataku dengan tenang.
"nah itu mbak tau, anggap saya gaji mas Lukman menjadi jaminan. bukannya setiap pinjaman pasti harus ada yang dijaminkan, karna mas Lukman sudah tidak memiliki apapun jadi ya yang menjadi jaminannya ATM gajinya. jadi, kalo mbak Yuni mau mengambil ATM gaji mas Lukman ya mbak Yuni harus melunasi hutang itu!" jawabku membuat kak Yuni terdiam sambil menatapku dengan tajam.
"kamu!!" bentaknya menunjukku tepat diwajah, aku menurunkan ketunjuk kak Yuni dengan santai. ia yang merasa kesal pun langsung meninggalkan rumah mama dengan menghentakkan kaki, begitu pun para tetangga yang menonton pun satu persatu meninggalkan tempat mereka.
aku pun menghela nafas, kemudian mengajak Rey memasuki rumah. "sudah, ayok masuk" kataku.
Rey pun mengikuti langkah kakiku memasuki rumah dan menghampiri mama yang sudah lebih dulu duduk diruang tamu memangku Syifa dan juga Nayla yang berada disebelahnya.
"mama, bude kok jahat banget si ma. tadi bude marah-marah sama uti. mau takut ma" kata Nayla menghampiri aku yang sudah berada tepat disebelahnya.
"gapapa sayang, Nayla jangan takut ya. kan sekarang udah ada mama, liat kan mama idah berhasil usir bude dari sini" kataku menenagkan Nayla yang hanya menganggukan kepala.
"iyaa tapi bude jahat ma, mau juga tadi didorong ma sama bude padahal mau tadi lagi mainan didepan sama uti sama Dede lagi dijemur." jawab Nayla membuat ku menatap mama yang juga menganggukan kepala membenarkan perkataan Nayla.
"tapi Nayla gapapakan? ngga ada yang luka kan?" tanyaku dengan khawatir, Nayla pun menggelengkan kepala sebagai jawaban.
__ADS_1
"mama gapapa kan ma? manusia itu ngga melukai mama kan?" tanyaku pada mama yang langsung dijawab gelengan kepala.
"gapapa kok, mama udah biasa mendengar perkataan ipar kamu yang gendeng itu!" jawab mama dengan sedikit tertawa.
"emang, sepertinya dia udah gila deh mbak. heran aku, apa dikeluarga mereka itu ngga ada yang diributkan lagi ya selain uang atau pun benda berharga lainnya. bosen deh aku mbak selalu itu saja yang menjadi permasalahannya, apa ngga sebaiknya kita uang kan saja mbak barang-barang itu?" kata Rey membuatku melebarkan mata.
"diuangkan? mana bisa Rey!" kataku dengan dahi menyerit.
"yaa tentu aja bisa mbak, tapi nanti mas Lukman justru merasa hutangnya lunas setelah kita menjual semua barang itu. gimana ya?" pikir Rey yang juga aku benarkan.
"aaahh mbak punya ide Rey, gimana kalo mbak sewa kontrakan aja Rey yang ga jauh dari sini aja. yaa buat nempatin barang-barang ini aja sama sewaktu-waktu kalo mbak mau pulang, sehari-hari ya mbak disini aja. lagian kan mbak udah kerja Rey, pasti mbak akan setiap hari menitipkan Nayla dan juga Syifa dirumah ini" kataku memberikan ide pada Rey.
"iyaa boleh juga si mbak, boleh lah nanti Rey Carikan. mungkin petakan aja kali ya mbak, toh jarang ditempati ini, setidaknya hanya untuk beberapa barang ini aja kan?" jawab Rey yang langsung aku angguki.
"iyaa, dari pada numpuk disini. atau boleh juga lah kalo kamu mau buatkan mbak kamar tambahan, dari pada mbak lebih lama ngontrak" kataku menarik turunkan alis dan senyum menggoda.
"waaahh iyaa boleh juga tuh ide nya Diah, samping rumah kan tanahnya masih luas. kenapa ngga kita lebarin aja rumah ini biar semuanya bisa kumpul disini, toh juga ngga akan keurus karna yang bisa urus kan bapak. tapi, kan bapak juga udah gaada. iyakan?" jawab mama membuatku dan juga Rey saling pandang.
"iyaaa boleh si ma, bisa aja. yasudah kalo gitu sekalian aja kita renovasi ulang rumah ini, gimana ma? toh rumah ini juga sudah banyak yang bocor, jadi nanti aku cari kontarakan yang bisa kita pakai biar rumah ini direnovasi dulu" jawab Rey.
"tapi, apa uangnya sudah ada Rey? renovasi kan butuh biaya yang sangat banyak" tanya mama pada Rey dengan hati-hati.
"ada kok, mama tenang aja. insyaallah uang Rey cukup kok, memang mama mau rumah ini direnovasi seperti apa?" tanya Rey pada mama.
"tingkat aja mas lantai dua, nanti aku mau kamar sendiri dilantai dua sampingan sama kamar buat Nayla sama Syifa. iyakan nay?" kata Sintia yang tiba-tiba bergabung bersama kami diruang tamu.
"main ikut Nyamber aja kamu sin, lagian mana mungkin rumahnya dibangun dua lantai. justru itu malah bikin biayanya membengkak, kasian mas mu" jawab mama yang juga aku angguki.
"gapapa kok ma, ada kok uangnya. nanti biar aku Carikan kontraktor yang biasa menangani renovasi rumah mewah, biar desain rumah kita juga terlihat mewah dan berbeda dari rumah lainnya" jawab Rey membuat ku dan juga mama saling berpandangan.
bersambung...
______________________________________________
assalamualaikum🙏
__ADS_1
taqabbalahu Minna waminkum, minal aidzin walfaidzin para pembaca semua🙏 mohon maaf lahir dan batin bagi yang merayakan. maafkan outhor ya jika ada salah kata atau dalam penulisan, mohon maaf jika outhor lama sekali tidak update🙏🙂 dikarena kan ada kendala yang suatu hal yang harus outhor selesaikan, mohon dukungannya dengan vote, komen, dan jika like ya readers🙂🙏