Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 49.


__ADS_3

POV Rey


"boleh kok mbak, tenang aja. tapi nanti mungkin aku lembur, jadi mbak pulang sama sintia ya" kata Rey membuatku membulatkan mulut berbentuk huruf O.


sebagai anak lelaki tentu saja aku merasa terpukul karna saudara perempuanku merasakan rumah tangga yang sangat menyakitkan, apa lagi selama ini ia lah yang membuatku dapat bangkit menjadi seperti sekarang.


dulu, aku adalah seorang anak nakal yang selalu saja bolos sekolah bahkan tak jarang mama ataupun bapak mendapatkan surat panggilan dari kepala sekolah atas kelakuanku tersebut. namun, justru karna nasihat dan perkataan mbak Diah aku banyak bersyukur masih masih dapat bersekolah disekolah yang sangat ku impikan. bahkan, kalian tau. mbak Diah sekolah dengan biayanya sendiri bahkan disekolah terbuka yang muridnya tak lebih dari sepuluh orang, mbak Diah bekerja membantu guru-guru yang memerlukan jasanya. yang aku tau, mbak Diah bisa mendapatkan lebih dari dua ratus ribu selama satu Minggu bekerja membantu guru dan tak jarang ada guru ekstrakulikuler yang mengajaknya membantu disekolah lain.


aku yang sewaktu sekolah selalu mengeluh bahkan tak jarang aku bolos sekolah pun langsung tertampar dengan perkataan mbak Diah.


"kamu seharusnya bersyukur Rey karna mama dan bapak masih mau memasukkan kamu kesekolah itu, bahkan kamu tau sendiri spp disana mahal tapi demi kamu bisa sekolah dan menjadi orang sukses. mama dan bapak rela bekerja keras untuk kamu, dan kamu ngga perlu bersusah payah sekolah sambil kerja seperti aku. kamu tau sendiri kalo mama dan bapak ngga mengizinkan aku melanjutkan sekolah sejak SMP tapi karna aku mau sekolah, aku lakukan apa yang bisa aku lakukan untuk pendidikanku. boleh menikmati masa muda, tapi nanti setelah sukses setelah kamu menjadi orang. bukan sekarang, sekarang kamu masih harus berusaha, berjuang, sekolah yang bener agar bisa menggapai cita-cita kamu"


kata-kata mbak Diah selalu terngiang ditelinga ku pada saat itu, hingga akhirnya aku lulus sekolah. aku yang saat itu sangat ingin berkuliah, namun keadaan ekonomi keluargaku tak mampu karna terkendala biaya harus mengikhlaskan untuk mengabaikan keninganku untuk berkuliah sampai akhirnya mbak Diah menawarkan akan membiayai kuliahku karna saat itu ia sudah bekerja. mbak Diah hanya memintaku berkuliah yang bener dan tak mengecewakannya.


"sarapan dulu yuk, mama udah kelar masaknya" kata mama membuyarkan lamunanku. aku pun mengusap mata yang aku rasa sudah banyak mengenang air mata yang sudah siap akan tumpah.


"kenapa kamu Rey?" tanya mama yang mungkin melihatku mengusap mata.


"gapapa ma" jawabku dengan suara sedikit serak.


"itu kok matamu merah, kamu nangis ya?" kata mama meledek, tanpa menghiraukan perkataan mama aku pun masuk kedapur dan mengambil sarapanku.


"bener kan mama, kamu nangis kan Rey?" tanya mama ketika kami telah berdua didapur.

__ADS_1


"ngga, siapa si yang nangis ma. mana ada aku nangis" jawabku dengan nada santai sambil mengisi piring dengan nasi goreng yang sudah mama buat.


"kamu ngga bisa bohong sama mama Rey, kenapa kamu? masa lelaki nangis" kata mama mencibir.


"apaan si ma, kepo banget" jawabku dengan ketus memasukkan suap demi suap nasi goreng kedalam mulutku.


"huuu kalo ditanya selalu begitu jawabannya" kata mama, aku pun hanya diam tak menyahuti apa yang mama katakan.


"bapak udah dikasih makan ma?" tanya mbak Diah yang baru saja masuk kedapur.


"astaga iyaa, mama lupa di. yaudah deh mama anterin makanan untuk bapak dulu, kalian makan dulu ya. biar aja Nayla didepan jagain adiknya, nanti abis kamu makan kamu suapi Nayla ya di. mama tadi bikin sayur bening bayar cpur jagung sama wortel" kata mama yang langsung disambut anggukan kepala oleh mbak Diah.


"kamu nangis Rey?" tanya mbak Diah menatapku dalam, aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"ngga ada mbak, tenang aja. lagipula masalah Rey ngga seberat masalah mbak kok. jadi lebih baik kita pikirkan masalah mbak" jawabku membuat mbak Diah menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.


"jangan bilang mata kamu berkaca-kaca seperti ingin menangis sedari tadi karna memikirkan masalah mbak? iya!" tanyanya langsung pada intinya, aku pun hanya diam dan terus melanjutkan makanku tanpa menatap wajah kakak Perempuanku ini. walaupun aku lelaki tapi aku juga bisa merasakan sakit hati jika saudaraku hatinya tersakiti, apalagi ia memendamnya begitu dalam. aku tak ingin menatap wajahnya malah menimbulkan rasa yang semaki menyakitkan dihatiku.


"Rey, lihat mbak. fokuslah pada pekerjaan kamu sendiri, jangan terus memikirkan masalah mbak. mbak yakin mbak bisa menyelesaikan masalah mbak sendiri, bukan maksud mbak ngga mau kamu ikut campur. tapi, kamu punya tanggung jawab pada pekerjaan kamu yang harus kamu jalani" kata mbak Diah membuatku menatapnya dengan pandangan yang tak biasa.


"aku ngga pernah melalaikan kewajiban aku mbak, mbak tenang aja. masalah mbak juga masalah aku, kita satu keluarga mbak. jika mbak tersakiti dengan rumah tangga mbak, maka aku sebagai adik mbak pun merasa tersakiti oleh itu. mbak kenapa si selalu mengesampingkan rasa sakit yang mbak rasakan, ingat mbak tujuan bapak menikahkan mbak dengan mas lukman karna ingin mbak bahagia dengan dia. karna bapak percaya mas Lukman bisa membahagiakan mbak, tapi apa nyatanya? dia mengecewakan bapak, itu berarti mas Lukman mengecewakan kami semua mbak" jawabku membuat mbak Diah terdiam.


bukan maksud aku menggurui mbak Diah yang sudah berumah tangga, aku juga tak bermaksud ikut campur dalam rumah tangganya. tapi jujur, apa yang mas Lukman lakukan itu sama saja menginjak kan harga diri mbak Diah sebagai seorang perempuan dan juga seorang istri itu sangat menyakiti kamu sebagai keluarganya.

__ADS_1


mendengar perkataanku mbak Diah pun terdiam dan tak bisa berkata-kata, ia hanya melanjutkan makan dengan tatapan kosong.


"udah lah mbak, ngga perlu dipikirkan perkataan aku. yang harus mbak pikirkan itu bagaimana mbak harus mendapatkan bukti agar semua proses perceraian mbak cepat berjalan, Rey ngga mau mbak terus bertahan dengan orang seperti mas Lukman. andai mbak bisa bertahan dan ngga merasakan sakit, tapi ngga dengan Rey mbak. Rey ngerasa mas Lukman ngga bisa menghormati keluarga kita seperti ia menghormati keluarganya sendiri" kataku terakhir kalinya, aku pun mendengar suara keributan didepan rumah. aku dan mbak Diah pun saling kemudian kami pun bergegas berjalan kedepan untuk melihat apa yang terjadi.


"apa apa sih ribut-ribut masih pagi, ooh ada biang rusuh. ngapain kamu kesini?" tanyaku pada mas Lukman dan juga kakaknya dan juga ibu mertua mbak Diah.


"nah ini dia orangnya, eehh maksud kamu apa pergi dari rumah pagi-pagi setelah Rey memberikan semua uang dan juga atmnya" kata kak Yuni membentak mbak Diah yang berada disampingku.


"lantas kenapa? uang dan ATM itu sudah diberikan padaku, itu hak ku nafkah dari mas Lukman. kenapa kamu yang mencak-mencak kaya cacing kepanasan, bukannya kamu juga udah dapat jatah sendiri ibu juga kan? ada apalagi kerumah ini?" kata mbak Diah dengan nada dingin.


aku tak pernah sebelumnya mendengar mbak Diah berkata sedingin ini pada orang lain, aku sangat tau jika mbak Diah sangat menghormati orang lain apalagi orang yang lebih tua darinya.


"kamu kenapa di? kenapa kamu tiba-tiba pergi dari rumah pagi-pagi bahkan sebelum mas bangun, dan kamu juga ngga menyiapkan pakaian dan juga sarapan untuk mas" kata mas Lukman menatap mbak Diah dengan tatapan tajam.


"kenapa? apa semua organ tubuhmu sudah ngga berfungsi sehingga aku hatus menyiapkan semua yang kamu perlukan setelah apa yang kamu lakukan padaku semalam?" tanya mbak Diah masih dengan nada dingin dan tatapan tajam.


"tapi nak, seharusnya kamu tetap menghormati suamimu terlapas dari apa yang sudah ia lakukan padamu. bukannya itu udah kodrat dan tugas mu sebagai istri" kata mertua mbak Diah membuat aku dan juga mbak Diah berdecih.


"sebaiknya ibu diam, aku ngga butuh nasehat ibu yang menyalahi aturan agama itu. asal ibu tau, walaupun aku masih muda tapi aku gak buta apa itu kodrat apa itu tugas. apa ibu lupa selama ini juga mas Lukman lupa tugasnya sebagai suami demi menjalankan tugasnya sebagai anak?" kata mbak Diah memojokkan mertuanya yang langsung terdiam mendengar perkataan mbak Diah.


"sudah cukup, ada apa kalian semua datang kesini dan membuat keributan dengan mamaku?" kataku dengan nada tegas menatap mas Lukman dan juga keluarganya.


"hanya memberi pelajaran pada kakakmu yang sok itu agar bisa lebih menghormati suami, mertua dan juga iparnya. biar semua tetangga disini tau jika kakakmu bukan istri dan juga menantu yang baik dalam keluarga kami".....

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2