Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 63.


__ADS_3

"MAMA!!!" terdengar suara teriakan mas Lukman menghentikan tangan sang ibu yang akan dengan cepat mendarat dipipiku.


"mama apa-apaan sih, kenapa mama mau memukul Diah?" tanya mas Lukman menghampiri sang ibu yang masih memasang wajah sangar.


"tanyakan aja sama istrimu ini, bisa-bisanya dia berkata yang tidak sopan dengan mertuanya sendiri bahkan dia juga menghina kakak kamu Lukman" jawab ibu mertua, aku hanya santai saja mendengar ibu mertua mengadu hal seperti itu.


"benar begitu Diah?" tanya mas Lukman padaku.


"kamu dengarnya begitu? terserah kalo kamu mau percaya, toh aku jelaskan pun belum tentu kamu akan percaya padaku. iyakan?" jawabku dengan santai sambil memainkan ponsel.


"jawab saja yang sebanarnya Diah, mas ngga mungkin mendengarkan hanya dari satu pihak sementara kamu juga ada disini" jawab mas Lukman membuatku tertawa.


"selama ini juga mas hanya mendengarkan sebelah pihak tanpa bertanya padaku dulu, terus pulang dengan keadaan marah. iyakan? lantas kenapa sekarang seolah semuanya berbalik. mas, mas telat mas" jawabku menatap mas Lukman.


"maksud kamu apa sih Diah, semakin bertele-tele. aku hanya tanya loh apa yang dikatakan ibu benar atau salah" jawab mas Lukman.


"kalo aku bilang salah gimana? lagian kamu tau sendiri kan kalo aku ngga pernah menghina orang kalo orang itu ngga menghinaku lebih dulu, jadi kalo memang ibu merasa terhina dengan ucapanku itu berarti karna ibu sudah terlalu dalam menghina aku" jawabku menatap mas Lukman dan ibu mertua secara bergantian.


"lagian sudah aku ingatkan kan Bu jangan bikin onar kalo ngga mau aku mengeluarkan perkataan yang jauh lebih pedas dari sebelumnya, tapi ibu tetap aja mengeluarkan semua perkataan ibu yang menyinggungku. jadi jangan salahkan aku jika ibu merasa tersinggung lagi dengan perkataanku" lanjutku membuat mas Lukman menatap sang ibu yang tengah menahan kesal.


"tidak man, ibu tidak melakukan apapun. dia yang menghina ibu karna mau menumpang makan dirumah ini, kamu jngan percaya sama dia" jawabnya menunjukku dengan jari telunjuknya.


"terserah mas, mendingan sekarang kamu bawa ibu kamu keluar. kamu lihat sendiri bahkan Nayla pun takut mendengar suara ibumu" jawabku membuat mas Lukman menatap Nayla yang bersembunyi dibelakang ku.

__ADS_1


"udah Bu, Ayuk kita didepan sambil nunggu nasinya matang. jangan buat heboh, Lukman malu Bu kalian bertengkar terus" kata mas Lukman.


keduanya pun melangkah kan kaki keruang depan meninggalkan aku dengan Nayla yang masih berada dibalik punggungku.


"udah, Nayla tidur siang ya. mama juga mau tidur siang kok" kataku pada Nayla yang langsung dijawab anggukan kepala olehnya.


aku pun mengelus punggung Nayla hingga akhirnya ia tertidur dengan mendengkur.


"nasinya udah matang di?" tanya mas Lukman padaku.


"ngga tau, coba aja liat sendiri" jawabku dengan singkat.


"kok lama banget sih, mas udah lapar nih" jawab mas Lukman membuatku memicingkan mata.


"sabarlah, emangnya langsung jadi nasi apa itu beras kalo udah dimejikom. jangan ngacolah mas" jawabku dengan nada ketus.


"siapa suruh kerumah orang aja lama nya kebangetan, ngga sekalian aja ngga usah pulang" jawabku dengan nada sinis.


"kamu kok ngomongnya gitu si di, aku kan cuma kerumah mama doang emangnya aku kemana si." jawabnya dengan sedikit kesal.


"nah yaudah itu kamu tau sendiri kalo tadi kamu kerumah ibu, kenapa sekarang kamu menyalahkan aku yang hanya beli makanan untuk dirimu sendiri. karna aku fikir kamu disana kan udah makan, masa dijatah empat juta ngga masak. kebangetan itu namanya" jawabku dengan sedikit kencang agar ibu mertua mendengar apa yang aku katakan.


"jangan kencang-kencang di, kamu sengaja ya biar ibu marah-marah sama kamu" kata mas Lukman membuatku memutar bola mata malas.

__ADS_1


"aku cuma bilangin kekamu apa yang tadi ibu kamu katakan mas, lagian emang bener kan kalo kakak kamu dikasih empat juta sebulan. masa hanya untuk makan aja sampai harus serba kekurangan, mas mas kamu aja selalu nyuruh aku bersyukur dengan uang lima puluh ribu yang kamu kasih. ini empat juta loh mas, masa sampe ke anak-anaknya belum makan. lah nanti suaminya pulang kerja makan apa? coba kamu sekali-kali kali ya aku ngga kasih makan pas pulang kerja biar lebih hemat" jawabku mengejek mas Lukman yang langsung membelalakan mata mendengar perkataanku.


"mana bisa begitu, jangan disama kan lah aku dengan suami kak Yuni. dia kan kerjaannya ngga capek dan kerja didalam ruangan, semantara aku kerja dilapangan capek juga" jawabnya membuatku terkekeh.


"intinya sama kan, sama-sama kerja. kalo aku yang cuma ngga beli kan kamu makanan saat ini disindir terus apa kabar kakak kamu yang ga pernah memberikan makanan untuk suaminya. kamu aja udah kalang kabut ngga diberikan makanan, iyakan? padahal mas, bahkan ibumu dia yang tanggung hidupnya loh udah numpang dirumah menantu" jawabku sengaja mengatakan ibu menumpang dengan memperlambat kata tersebut.


"terserah kamu aja lah Diah, ngomong sama kamu itu berbelit-belit selalu menjurus kemana aja" jawabnya dengan nada ketus.


"aku cuma mengatakan yang bener mas, coba kalo mas jadi dia. udah diberikan jatah bulanan, minta modal buat buka usaha dimodali tapi uangnya ngga tau abis kemana. bahkan tiap hari ngga pernah ada makanan dirumah, wiihh mas kalo aja aku yang jadi istrinya pasti udah banyak perhiasan simpenan aku. oohh atau jangan-jangan kakak kamu punya simpenan perhiasan banyak kali ya mas" jawabku menatap mas Lukman yang langsung menggedikkan bahu.


"ngga usah ikut campur urusan rumah tangga orang deh Diah, mendingan kamu urusi aja rumah tangga kamu sendiri. aku punya perhiasan atau ngga bukan hak kamu untuk tau" kata Kak Yuni yang baru saja tiba didepan pintu rumah.


"oalaah satu lagi benalu Dateng" kataku dengan pelan membuat mas Lukman menatapku dengan sendu.


"memang bukan urusanku, makanya aku ga pernah mencampuri urusan rumah tangga kamu. beda halnya sama kamu yang selalu ikut campur urusan rumah tangga aku dan juga mas Lukman" jawabku dengan sinis.


"karna,,,,," perkataan kak Yuni yang langsung aku dahului.


"karna mas Lukman adikmu, dan anak lelaki satu-satunya dikeluarganya makanya kamu ikut capur. iyakan? aku sudah hapal apa yang akan kamu katakan mbak, iya aku tau kamu saudara mas Lukman apalah aku yang hanya seorang menantu dan ipar yang selalu ditindas" jawabku dengan nada lirih.


"nah itu kamu tau, kamu itu yang seharusnya sadar diri. jangan terlalu banyak tingkah karna kamu hanya mennantu, dan hanya orang lain dalam kehidupan Lukman yang ngga sengaja dinikahi dan diberikan nafkah. beda dengan statusku dan juga ibu sebagai keluarganya".....


bersambung.....

__ADS_1


________________________________________


mohon maaf ya guys, hari ini hanya akan update satu bab🙏😊


__ADS_2