
"mereka ngga percaya Rey kalo mas Lukman kecelakaan, biar aja lah nanti kalo kalo mereka udah disini mbak mau langsung pulang. biar aja Rey admistrasinya ngga usah diurus biar mereka yang urus"kataku pada Rey yang langsung membuatnya membelalakan mata.
"mbak, mbak serius?" tanya Rey dengan raut wajah heran.
"yaa serius lah Rey, ngapain mbak bohong. biarin aja mereka yang urus, emang kamu mau ngurus admistrasi dia? mbak mah males, udah dihianatin masih mau bayarin biaya perawatannya lagi. ngga banget deh" jawabku bergidik membayangkannya.
"tapi, mbak apa mereka punya uang untuk membayar biaya admistrasinya nya mbak. nanti yang ada mereka malah membebani mbak lagi" kata Rey kembali membuatku terkekeh kecil.
"ngga mungkin lah Rey, udah kamu tenang aja. mbak kan bisa ngga aktifkan ponsel untuk sementara, lagian ngga mungkin juga kan mereka datang kerumah untuk minta uang sama mbak" jawabku membuat Rey menyeritkan kening.
"kalo mereka nekat kerumah mbak gimana" tanyanya dengan raut wajah khawatir.
"yaa gapapa, silahkan aja. lagi pula mbak sepertinya memang mau bercerai dari mas Lukman Rey, apalagi setelah ada bukti bahwa dia selingkuh. Mbah lebih yakin lagi Rey" jawabku dengan menundukkan kepala.
"iyaa si mbak, Rey selalu akan dukung apa yang mbak jalani kok mbak. Rey pasti akan selalu ada disamping mbak" jawab Rey membuatku tersenyum lebar.
"iyaa Rey, makasih ya. oiyaa Rey hari ini kamu ngga masuk kantor dong, jam segini kamu masih nemenin mbak" tanya ku pada Rey.
"iyaa mbak gapapa kok, mbak tenang aja. bos Rey juga pasti ngerti kok mbak" jawabnya dengan nada santai.
"kamu ini kok bisa santai begitu urusan pekerjaan" jawabku dengan nada ketus, Rey pun hanya tertawa menanggapi perkataanku.
lima belas menit kemudian, ibu Lukman dan juga kak Yuni pun datang dan langsung menghampiri ku dan juga Rey yang duduk tepat didepan ruang UGD.
"bagaimana keadaan Lukman di?" tanyanya dengan raut wajah khawatir.
"mas Lukman baik-baik aja, tadi aku juga sudah masuk. kalo ibu mau masuk silahkan" kataku mempersilahkan keduanya untuk masuk kedalam.
"eehh tunggu, kok kamu didepan bukannya didalam menemani suami kamu?" tanya ibu mas Lukman membuatku tersenyum sinis.
"tanya aja sama anak ibu nanti, oiyaa karna ibu sudah disini jadi aku pulang ya Bu. kasian Nayla dan juga Syifa kalo aku tinggal kelamaan, mereka kan masih kecil" jawabku yang langsung menatap Rey yang menganggukan kepala.
"eehh bagaimana, suami sedang kena musibah kok kamu malah mau pergi. urusin dulu lah suaminya, lagian kan ada mamamu yang jagain nayla dan Syifa. iyakan?" jawabnya membuatku memutar bola mata malas.
"Nayla dan juga Syifa juga anakku Bu bukan anak mama, lagian mas Lukman kan sudah ada ibu dan kak Yuni. iyakan?" jawabku tersenyum sinis menatap keduanya.
"eehh tapi kan,,,," jawab kak Yuni terputus dengan perkataan ibu.
__ADS_1
"baiklah kami akan jaga Lukman, tapi bagaimana dengan biaya perawatannya?" tanya ibu mertuaku dengan anda santai..
"ibu tenang aja, nanti akan aku urus" jawabku dengan nada pelan.
"baguslah kalo begitu" jawabnya sinis.
aku pun meninggalkan mereka yang sudah masuk kedalam ruangan perawatan mas Lukman, aku dan Rey pun menemui bagian admistrasi. tapi bukan untuk membayar seperti apa yang aku katakan pada ibu mertua tadi, melainkan untuk membabankan pada mereka.
"mbak biaya perawatan atas nama Muhammad Lukman nanti diurus sama kakaknya yang sekarang lagi menajagnya diruangan ya sus" kataku ada suster jaga.
"oohh iya baik Bu, biar saya bawakan tagihannya kedalam" jawabnya dengan ramah. aku pun tersenyum dan menganggukan kepala.
"Alhamdulillah kan, lancar. kita pun bisa keluar dari rumah sakit ini" kataku pada Rey yang dari tadi hanya terdiam.
"tapi mbak, gimana kalo mereka tau kalo ternyata mbak ngga membayar biaya rumah sakit mas Lukman" tanyanya membuatku terkekeh kecil.
"yaa biarin aja, siapa suruh main-main sama mbak" jawabku yang masih terkekeh.
"Rey ngga nyangka otak mbak masih secerdas dulu, yaa walaupun beresiko tapi lumayanlah untuk senam jantung" kata Rey, kamu pun menertawakan kecerdikan ku yang tak diketahui oleh orang lain.
"berarti mbak kerumah mama dulu nih ngga pulang kerumah mbak sendiri?" tanya Rey yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala.
"iyaalah kerumah mama dulu, orang anak-anak mbak ada disana kok" jawabku dengan nada setengah kesal.
"iyaa juga ya mbak, hehehe" jawab Rey menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
setelah menempuh perjalanan empat puluh lima menit kerumah mama, aku dan Rey pun tiba dihalaman rumah. kami pun datang disambut oleh suara sempreng dari Nayla yang memanggilku dengan berlari pelan diikuti Nabil anak dari leha.
"Hay sayang, Nayla ngga nangis kan?" tanyaku pada Nayla, dijawab anggukan kepala oleh bocah tersebut.
"ngga lah ma, masa nay nangis. naykan udah besar" jawabnya membuat ku terkekeh lucu mendengar perkataan Nayla.
"ada Nabil ya, sama siapa" tanyaku pada Nabil.
"sama mama lah Made, tuh disana" jawabnya menunjukkan dimana leha berada.
"oohhh Made kirain sendirian" jawabku membuatnya mengerucutkan bibir.
__ADS_1
"Nabil belum berani lah Made, gimana sih" jawabnya dengan raut wajah lucu.
aku pun duduk tepat disebelah leha yang berhadapan dengan mama.
"bagaimana Lukman di?" tanya mama membuatku menghela nafas, lalu menatap Rey sekilas.
"mas Rey baik-baik aja kok ma, ngga ada yang perlu dikhawatirkan. hanya luka luar, beberapa hari juga pasti sembuh" jawabku menjelaskan secara singkat.
"terus kok kamu pulang, disana ada siapa yang ngurusin Lukman?" tanya mama dengan raut wajah heran.
"ada kakak sama ibunya mas Lukman kok Bu" jawabku dengan menundukkan kepala.
"kok malah mereka yang jagain lukman, bukan kamu aja?" tanyanya kembali membuatku menghela nafas.
"udah ya ma, nanti aja nanyanya. Diah cape deh, ngantuk lapar juga ini belum makan" jawabku membuat mama membelalakan mata.
"laahh belum makan,dari tadi ngapain aja" jawabnya dengan ketus.
"mama nanya Mulu, masak ngga sih!" tanya dengan nada sewot pada mama.
"masak itu didapur sana ambil" jawabnya.
"ha, makan ha. udah makan belum kamu?" tanyaku pada leha yang dari tadi terdiam.
"udah kok mbak, tadi mau kesini udah makan dulu" jawabnya dengan senyum mengembang yang terlihat sangat terpaksa.
"yaudah aku makan dulu ya kebelakang" jawabku yang langsung mendapat anggukan kepala oleh mama dan juga leha.
Rey pun telah kembali kekamar, aku yakin dia tengah mengerjakan tugas nya dari rumah seperti apa yang dia lakukan setiap ia sakit.
"Rey, ngapain sih. katanya libur?" tanyaku pada Rey yang langsung menutup laptopnya.
"memang libur mbak, tapi kerjaan banyak aji dikerjain dari rumah aja lah" jawabnya membuatku terkekeh kecil.
"libur libur aja kalo Rey ngga perlu Ngoto kerja" ......
bersambung.....
__ADS_1