Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 87.


__ADS_3

"yaa biarin aja lah Rey, kan selama ini juga mereka yang menikmatin uang mas Lukman jadi apa salahnya juga kalo mereka mengurus mas Lukman disaat seperti ini. iyakan ma?" jawabku menatap mama yang menganggukan kepala.


"yaudah kalo emang menurut mbak kaya gitu, aku cuma pengen tau aja. siapa tau mbak ninggalin kunci dirumah" jawab Rey dengan santai.


"yee, yaa ngga lah. biarin aja dia ngerasain gimana dirawat sama keluarganya sendiri, mbak yakin pasti makannya ga bakalan teratur apalagi minum obatnya" jawabku dengan seringai kecil.


"kok gitu mbak?" tanya Rey penasaran.


"yaa iyaalah Rey, gimana mbak ga bilang gitu. mereka aja ngga pernah sarapan pagi, bahkan kadang dari pagi sampe siang belum makan ya ujung-ujungnya kekotrakan mbak buat minta makan" jawabku membuat mama dan juga Rey membulatkan mata.


"apa, ngga pernah sarapan pagi? terus anak-anak kak Yuni itu gimana mbak sarapannya?" tanya Rey dengan dahi menyerit sambil memasuk kan ponselnya kedalam saku celana.


"yaa ngga pernah sarapan juga lah Rey, gatau juga si mbak katanya si kalo pagi minum susu. tau bener apa ngga" jawabku dengan ragu.


"susu? yaampun susu untuk ukuran anak orang Indonesia itu palingan bertahan satu atau dua jam doang, itu pun kalo ditambah roti tapi kalo cuma susu. yaampun gak habis pikir aku mbak" jawab Rey menggelengkan kepala.


"kamu aja ngga habis pikir gimana mbak, coba aja kamu kalo setiap hari pagi sampai siang ngga makan? pasti ngga punya tenaga, iyakan?" tanyaku pada Rey yang langsung menganggukan kepala.


"terus suaminya Yuni tau kalo makan mereka begitu di? katanya selama ini dia juga jarang kan makan dirumah?" tanya mama padaku.


"iyaa emang jarang ma, mungkin hampir ga pernah kali" jawabku.


"astaga, kayanya ibu mertua kamu ngatain kamu kaya apa aja mbak. tapi nyatanya anaknya sendiri aja masyaallah kelakuannya"Jawa Rey menggelengkan kepala.


"itu lah Rey, namanya orang yang ngga mau bercermin. orang lain selalu salah dimatanya, tapi dia sendiri ngga mau kalo disalahin sama orang lain" jawab mama yang juga aku angguki.


"iyaa bener apa yang mama bilang, aku aja kaget kalo ternyata kak Yuni lebih parah dari apa yang aku pikirin. lagian ya ma, aku heran deh. kok betah ya suami kak Yuni sama perempuan yang kaya gitu, iihh aku ngeliatnya aja risih loh ma. masa tiap hari keluar rumah aja kemana-mana pakenya daster, kalo untuk dirumah si oke lah ya pake daster. tapi kalo udah kemana-mana masa iya pake daster" jawab Rey menggelengkan kepala.


"yaa begitulah, padahal katanya dikasih bulanan besar kan ya sama suaminya. apalagi dia juga punya konsumen percetakannya ya, harusnya si ngga begitu ya tampilannya. harusnya tuh dandan dikit biar keliatan fres, ini mah ngga!!" jawab mama yang juga diangguki oleh Rey.


"yaa abis gimana ma, aku juga pernah bilangin si sama dia dulu. tapi ya begitu lah jawabannya sengak, apalagi dia kan juga ngerokok ma. waktu itu kalo dirumah aku sendirian pasti dia ngerokok" jawab ku membuat mama dan juga Rey semakin membelalakan mata.


"ngerokok?!" teriak keduanya dengan berbarengan.


"iyaa ngerokok" jawabku dengan santai.


"ck, ck, ck ngga habis pikir, kelakuannya pada mines semua tapi masih bisa menghina orang seolah keluarganya paling baik" jawab Rey sambil berdecak kesal.


"suaminya tau kah kalo dia ngerokok?" tanya mama penasaran.

__ADS_1


"yaa ngga tau lah ma, kalo tau pasti udah habis dia" jawabku.


"kok ya kaya gitu ibu mertuamu ngga Negor si di, memang ngga tau dia itu kalo anak perempuannya ngerokok?" tanya mama aku jawab dengan menaikkan kedua bahuku.


"CK, udah ah aku mau ambil pesenan bakso dulu. kalo ngomongin keluarga mas Lukman mah kayanya ngga ada yang bener deh" jawab Rey melangkah kan kaki keluar dari rumah dengan membawa kunci motornya.


"emang umur kakak ipar kamu itu berapa si di?" tanya mama setelah Rey keluar dari rumah.


"kayanya si tiga puluh lima tahunan deh ma, kalo ngga salah ya tapinya" jawabku dengan agak ragu.


"lah terus suaminya? kan kayanya masih muda, ngga mungkin lah ya diatas tiga puluh tahun mah. kaya masih dua puluh tujuh atau dua puluh delapan tahun kan?" tanya mama padaku.


"iyaa katanya si beda tujuh tahun gitu ma, tuaan kak Yuni dari pada suaminya. jadi kayanya sekarang umur suami kak Yuni masih dua puluh delapan tahunan deh" jawabku membuat mama membelalakan mata.


"apa? yang bener kamu di? lah harusnya suami Yuni itu cocoknya sama kamu beda tiga tahun doang, kamu sama Lukman juga beda delapan tahun kan tuaan Lukman" jawab mama yang langsung membuatku memicingkan mata.


"apaan si ma, lagian katanya mereka itu ketemu dari games gitu. kan kak Yuni katanya dulu suka main games, terus akhirnya mereka kenalan dan ya jadilah sampai sekarang" jawabku menjelaskan secara singkat.


"oalaah begitu toh, kok mau ya" jawab mama membuatku terbahak.


"yaa namanya udah cinta kali ma, mau diapain lagi" jawabku sambil tertawa.


"assalamualaikum" terdengar suara salam dari depan pintu.


"loh sin, kok udah pulang? katanya mau kerjain tugas?" tanya mama pada Sintia yang baru saja pulang dari rumah temannya.


"iyaa ma, ngga jadi ngerjain tugasnya. besok harus beli koran dulu ternyata, baru besok pulang sekolah dikerjain lagi dirumah Mela" jawab Sinta merebahkan diri disebalah Nayla yang memakan jajannya sambil memainkan ponsel.


"buat ante ya nay?" tanya sintia pada Nayla yang langsung menggelengkan kepala.


"jangan!" jawab Nayla singkat.


"pelit" jawab Sintia mengerucutkan bibir.


Nayla pun tak menggubris apa yang dikatakan oleh Sintia, ia terus sibuk dengan ponselnya dan juga makanan yang ada ditangannya.


"emang tugas apaan sin?" tanyaku pada Sintia.


"tugas bikin makalah tentang bencana alam mbak, tapi ngga boleh yang ngeprint dari komputer harus dari koran" jawab Sintia membuatku menganggukan kepala.

__ADS_1


"tumben ngga boleh dari komputer, biasanya juga apa-apa dari komputer" jawabku membuat Sintia mengangkat kedua bahunya.


"ngga tau, emang dasar gurunya rese bin ribet" jawab Sintia dengan nada kesal.


"hust ngga boleh ngomong kaya gitu" kata mama menegur Sintia.


"mama masak apa ma? aku lapar deh." tanya sintia


"mama ngga masak, tapi mas kamu lagi beli bakso sumsum di RJ. ini lagi ngambil pesenannya" jawab mama membuat mata Sintia berbinar cerah.


"yang bener mas Rey lagi beli bakso sumsum ma?" tanyanya dengan nada tak percaya.


"yaa bener lah sin, ngapain juga mama bohong" jawab mama membuat Sintia memekikk kegirangan.


"sin, sin udah SMA tapi kelakuan kaya anak SD aja kamu itu" kataku menegur Sintia yang bersikap seperti anak kecil.


"yaa biarin aja lah mbak, aku kan emang anak kecil. emangnya mbak udah tua, udah punya buntut" jawabnya meledekku.


"yaa tapi ngga gitu juga lah sin, ingatlah kamu kan punya ponakan yang masih kecil masa kamu mau seperti mereka kelakuannya. nanti ngga bisa bedainlah mana bayi beneran sama bayi tua" jawabku meledeknya balik yang langsung mengerucutkan bibirnya.


"ma, tuh liat mbak Diah mah kaya gitu ma. selalu ngeledek aku" katanya mengadu pada mama.


"udah-udah kalian ini selalu aja berantem" jawab mama melerai kami.


"loh, kok kamu bawa koper mbak. emang mau kemana?" tanyanya setelah melihat koper milikku yang berada tak jauh darinya.


"mbak kamu mau minggat, tau ngga. makanya jangan dibuat berantem mulu, nanti ngga ada temen berantem bingung kamu" jawab mama membuat Sintia menyeritkan kening.


"lah emang kamu mau kemana mbak?" tanyanya menatapku.


"mau menenagkan diri" jawabku dengan singkat.


"kemana? sama mas Rey?" tanyanya membuatku menggelengkan kepala.


"lah terus, jangan aneh-aneh deh mbak masa karna mas Lukman aja mbak udah nyerah duluan si mbak. harusnya yang keluar dari rumah itu bukannya mbak, tapi mas lukman" jawab Sintia yang juga diangguki oleh mama.


"gapapa lah sin, mbak cuma mau menenangkan diri aja kok beberapa hari. nanti juga mbak pasti balik lagi" jawabku dengan nada santai.


bersambung......

__ADS_1


__ADS_2