
keesokan harinya, benar saja. Rey ditemani oleh Sintia datang kerumahku untuk menagih mas Lukman, bukan hanya itu rey pun datang dengan seorang yang tak ku ketahui siapa. tapi aku yakin itu adalah notaris yang Rey maksud untuk mengurus perihal perjanjian hutang piutang antara mas Lukman dan juga dirinya.
"assalamualaikum" salam Rey dan juga Sintia beserta lelaki tersebut.
"waalaikumsalam" jawabku dengan nada pelan membukakan pintu Rey yang terlihat sudah berada didepan pintu.
"mbak, mas Lukman ada?" tanya Rey padaku yang langsung membuatku sedikit terdiam. karna aku pun tak tahu kemana mas Lukman sepagi ini, karna ini memang hari liburnya dan ia telah keluar rumah dari pagi tadi.
"sebentar mbak telponkan dulu ya Rey" jawabku pada akhirnya yang langsung diangguki oleh Rey.
"Syifa sama Nayla mana mbak?" tanya sintia adik Perempuanku.
"ada didalam, lagi pada tidur. masuk aja, permisi saya tinggal kedalam dulu ya. mbak kedalam dulu telpon mas Lukman ya Rey" kataku pada Rey.
"jadi gimana mas, apa kasus kakak ku ini bisa diajukan ke persidangan melalu perantara surat perjanjian hutang itu?" tanya Rey pada lelaki tersebut yang masih bisa aku dengar.
"sebetulnya Rey, ini itu tidak bisa. perceraian kakak kamu tentu saja harus memiliki bukti yang kuat tersendiri, karna perjanjian hutang piutang itu tak ada dalam hukum pidana. kecuali, kasus penipuan. tapi, dengan bukti surat perjanjian itu mas yakin suami kakakmu ngga akan menghambat proses perceraiannya. karna didalam sana pun dia sudah setuju untuk menceraikan kakakmu jika ia tak melunasi hutang tersebut" jawab sosok lelaki tersebut.
Rey pun hanya menganggukan kepala aku lihat, dia pun nampak puas mendengar jawaban yang keluar dari mulut lelaki tersebut.
__ADS_1
"tak apa mas, yang terpenting aku hanya ingin kakak ku cepat keluar dari lingkungan keluarga toxic itu. aku tak rela jika dia terus memendam sakit lahir batin dari kelakuan suami dan juga mertua dan kakak iparnya mas" jawab Rey yang aku lirik kini tengah menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"baik kalo gitu nanti itu bisa kita bicarakan lagi, yang terpenting kita bahas semua ini dulu dengan kakak dan juga kakak iparmu. kita tak bisa gegabah jika berurusan dengan keluarga toxic, karna aku yakin dia pasti tak akan tinggal diam begitu aja. apalagi setelah aku baca, semua yang ini dalam kontrakan ini termasuk motor credit dan juga motor matic yang saat ini ada ditangan kamu menjadi milik kakak kamu sesuai dengan surat perjanjian yang ada dalam pranikah tersebut. apa kamu yakin Rey?" tanyanya pada Rey yang masih terdiam.
"iyaa aku yakin mas, bukan maksud ku merebut apa yang dimiliki suami kakakku tersebut. tapi coba mas baca sekali lagi, disitu tertulis "andai pihak kedua melahirkan seorang anak maka seluruh hasil kerja keras pihak pertama menjadi milik anak tersebut tanpa adanya perebutan harga Gono gini jika terjadinya perpisahan diantara kedua belah pihak", dari situlah kenapa aku yakin untuk membela hak kakakku. mas, hidup memang butuh uang bukan? aku tak matre, dan tak bermaksud membuat kakak ku pun dipandang seperti itu. tapi kami hanya realistis, selama ini kakakku dituntut untuk menjadi ibu rumah tangga dengan jatah uang belanja lima puluh ribu perhari itu pun sudah termasuk uang jajan dan juga jika beras atau yg lainnya habis. dengan uang segitu, otomatis tak mencukupi kan mas? dia sudah hidup serba kekurangan, sekarang apa salahnya jika aku menunutkan hal itu untuk kakaku sendiri. lagipula, aku yakin setelah perceraian itu ia tak akan memberikan nafkah lagi pada kakakku." jawab Rey membuat lelaki tersebut menganggukan kepala mengerti apa yang dikatakan oleh Rey.
"baik, baik jika memang itu sudah menjadi keputusanmu. yaa seperti yang aku bilang tadi, kamu harus menyiapkan bukti yang kuat atas apa yang kamu bicarakan padaku tadi. andai ada hal lain, seperti perselingkuhan itu justru lebih baik, karna pasti itu sudah menjadi hal yang jelas ketika kita ingin mengajukan ke persidangan" jawabnya dengan tenang menatap Rey yang tampak menganggukan kepala juga.
"sebentar ya Rey, mas Lukman ada dirumah ibu nya. ini mbak buatkan minuman, maaf hanya ada teh. silahkan pak" kataku menyuguhkan dua gelas teh hangat kedepan Rey dan lelaki tersebut.
"makasih mbak, oiyaa ini mas Raihan. dia yang akan membantu aku melegalkan surat perjanjian kemarin, aku juga meminta dia untuk membantu mengurus perceraian mbak jika mbak mau" kata Rey membuatku tersenyum canggung menatap lelaki bernama Raihan tersebut.
"kita lihat saja nanti apa yang dilakukan mas Lukman, andai dia bayar berarti dia memang ingin mempertahan rumah tangga kami tapi jika dia tidak membayarnya berarti dia memang menginginkan perpisahan diantara kami." jawabku menatap Rey yang menganggukan kepala.
"terimakasih Rey, tapi biarlah urusan rumah tangga mbak yang akan selesaikan sendiri. mbak yakin mbak masih mampu untuk mengatasi mas Lukman, tapi andai dia tak membayar juga kamu masih boleh memberikan keringanan padanya selama seminggu untuk melunasinya dan selama seminggu itu mbak akan menginap dirumah mama ikut denganmu" jawabku memberikan solusi pada Rey.
"boleh, aku setuju. bagaimana mas?" tanya Rey pada lelaki bernama Raihan tersebut.
"tak masalah, begitupun boleh. toh ini memang murni urusan kalian, mas hanya mendampingi aja" jawabnya dengan bijak.
__ADS_1
"assalamualaikum" terdengar suara salam mas Lukman didepan pintu, ternyata ia tak sendiri melainkan bersama sang ibu. aku yakin ia akan menggunakan ibunya untuk membujuk Rey atau untuk lagi untuk membantunya, lagi lama kaset rusak!!
"waalaikumsalam" jawab kami bertiga serampak. mas Lukman pun langsung duduk berhadapan dengan Rey dan juga Raihan, begitupun ibu mertua yang langsung duduk disebelah sang anak.
"jadi bagaimana mas? apa uangnya sudah ada, ini sudah jatuh temponya. bahkan sudah lewat satu hari dari perjanjian seharusnya" kata Rey menatap mas Lukman dengan pandangan tajam.
"mas belum ada yang sebanyak itu Rey, apa ngga bisa kamu memberikan mas waktu sampe bulan depan." jawab mas Lukman membuatku meradang.
"ngga bisa gitu lah mas, mas kan udah menyetujui surat perjanjian yang kita buat. apa mas udah lupa? lagipula kenapa mas ngga minta ganti sama suami kak Yuni? semuanya kan yang pakai kak Yuni, harusnya ia bisa tanggung jawab dan ngga lepas tangan begitu aja dong"jawab Rey yang langsung aku angguki.
"ngga gitu nak Rey konsepnya, lagi pula Yuni itu kan kakak ya Rey dan yang itu pun dipakai untuk keperluan ibu selama dirumahnya. ibu ini kan masih tanggung jawabnya Lukman juga, lagipula kalo Lukman meminta ganti sama suami Yuni pasti mereka akan bertengkar dan Yuni pasti akan ditinggalkan oleh suaminya. masa hanya gara-gara uang mereka harus berpisah, ngga adil kalo seperti itu nak Rey" jawab ibu mertuaku membuat Rey terkekeh kecil.
"aku tau Bu kalo kak Yuni adalah kakak nya mas Lukman, dan ibu adalah ibunya mas Lukman. aku juga tau jika mas Lukman memiliki tanggung jawab pada ibu, tapi ibu juga jangan lupa jika mas Lukman pun suami kakakku dan juga mempunyai tanggung jawab mutlak padanya dan juga anak-anaknya. andai ibu saja tak terima jika anak ibu dimarahi dan bertengkar dengan suaminya, kenapa ibu malah mengorbankan kakak saya sebagai tumbal untuk dimarahi oleh mas Lukman? bahkan kak Yuni dan ibu pun tak segan berkata yang tidak pantas pada kakakku dan juga mama pada saat itu, dan kalo ibu takut kak Yuni ditinggalkan oleh suaminya. sekarang bagaimana jika mas Lukman yang ditinggalkan oleh kakakku? lihat mas, sudah jelas jika ibumu hanya memikirkan kak Yuni tidak denganmu. bahkan disaat kamu sulit pun dia memikirkan rumah tangga anak kesayangannya, bukan rumah tanggamu yang sedang berada diujung tanduk." jawab Rey membuat mas Lukman dan ibu mertua terdiam.
aku pun tak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh ibu mertua yang sangat dengan pedenya berkata seperti itu didepan Rey.
"berarti intinya mas minta tambahan waktu, begitu?" tanya Rey yang langsung diangguki oleh mas Lukman.
"baik kalo gitu, aku beri mas Lukman tambahan waktu selama satu Minggu dengan syarat aku akan bawa mbak Diah dan juga anak-anak tinggal dirumah mama sampai mas Lukman bisa melunasi semuanya. gimana?" tanya Rey pada mas Lukman yang memelototkan mata.
__ADS_1
"ngga bisa gitu dongg, masa istri dan anakmu harus ikut kamu. terus yang urus aku disini siapa??" ...
bersambung.......