Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 145.


__ADS_3

"jadi, kamu teman dekatnya mbak Diah atau cuma parner waktu dipom. eehh sebatas konsumen aja?" tanya Rey yang aku dengar ketika keluar dari dapur kearah ruang tamu.


"iyaaa semacam itu lah, tapi kami sempat dekat bahkan pernah jalan bareng. iyakan di?" jawab Billy yang melihatku keluar dari dapur menaruh segelas kopi diatas meja tamu.


"iyaa tapi kan cuma sekali aja" jawabku berusaha menetralkan degup jantungku.


"iyaa cuma sekali kok" jawabnya sambil tersenyum menatapku yang duduk disebelah Rey.


"eemm kayanya ada yang belum selesai sampai mas nya Dateng kesini, padahal sebelumnya ngga pernah kesini kan? kok tau alamat sini?" tanya Rey pada Billy.


"oohh, aku masih nyimpen undangan pernikahan Diah beberapa tahun yang lalu. walaupun aku ngga datang, tapi aku tau kali diselenggarain dirumah ini. karna aku pernah jemput Diah kesini waktu kami jalan, tepatnya didepan klinik ujung jalan sana" jawab Billy secara lancar membuat Rey tertawa kecil.


"waaahh kayanya mas Hamid bakal ada saingan lagi, jadi?" tanya Rey.


"jadi?" tanya balik Billy.


"apa maksud kedatangan mas Billy ini kerumah ini?" tanya Rey langsung, aku pun menundukkan kepala.


"oohh gaada apa-apa, aku cuma mau bersilahturahmi aja. kami teman, siapa tau kami bisa berteman lagi. iyakan di?" tanya Billy membuatku mendongak.


"ngga perlu, kamu sudah beristri ga baik menjalin pertemanan dengan lawan jenis. hormati dan hargai perasaan istrimu, Billy" jawabku menatap Billy yang terkekeh dan menganggukan kepala.


"betul apa yang dibilang mbak Diah, lagipula seharusnya kamu datang kesini bersama istrimu bukan sendiri seperti ini. maaf ya mas, sebagai lelaki kita harus gentel. apalagi sudah berpasangan" kata Rey yang juga diangguki oleh Billy.


"betul, apa yang kamu katakan memang bener. tapi, saya juga ga bisa bohong dengan perasaan saya sendiri kalo perasaan sama kakak kamu belum bisa berubah sampai saat ini" jawab Billy menatap aku.


"maksud mas Billy ini gimana ya?" tanya Rey dengan dahi menyerit.


"begini, sebetulnya saya sempat menaruh hati padamu di. sejak saat dimana kita bertemu dipom, sewaktu kamu masih traning. bahkan, sebelum satu grup kamu waktu itu menjodohkan kita. aku berusaha mendekati kamu yang menurutku sangat susah untuk didekati, terbukti dengan kamu yang sangat jarang membalas semua pesanku setelah aku punya nomermu. kamu pun sangat jarang membalas pesanku, iyakan? disitulah rasa tertarikku mulai ada sama kamu di" jawab Billy membuatku dan juga Rey saling pandang.

__ADS_1


"tapi, kenapa kamu ngga pernah ngungkapin bahkan sampai aku menikah? kalo emang kamu ada perasaan sama aku selama itu, harusnya kamu ungkapin" jawabku membuat Billy tertawa kecil setelahnya menggeleng pelan.


"maaf, aku terlalu takut buat ngungkapin perasaan aku kekamu. takut kamu ngga punya perasaan yang sama, dan takut perasaan aku bertepuk sebelah tangan." jawabnya.


"tapi sekarang, aku memberanikan diri kerumah ini karna aku tau dari Lusi kalo sudah menjanda kan diri" lanjutnya membuatku terbelalak karna memang selama ini aku masih berkomunikasi dengan Lusi yang sudah ku anggap sebagai kakak saat dispbu.


"emm mohon maaf nih ya mas, terus kalo mas Billy udah tau mbak Diah menjandakan diri kenapa? dan sebetulnya apa tujuan mas Billy datang kesini, karna maaf ya mas menurutku ngga etis jika mas Billy datang kesini untuk menemui mbak Diah semetara mas billy sendiri sudah berkeluarga" perkataan Rey seketika membuat Billy menundukkan kepala.


"saya tidak mencintai istri saya Rey, saya mencintai kakak kamu. apa yang bisa saya lakukan jika saya yang saat itu sedang patah hati dan keluarga saya mendesak saya agar cepat menikah, tidak ada yang bisa saya lakukan karna saat itu saya sudah berniat melamar Diah namun telat karena sudah keduluan oleh lelaki lain" jawab Billy.


"saya bukan orang yang paham agama saat itu, saya hanya sadar jika diusia saya saya sudah tak ingin lagi bermain-main dengan namanya pacaran maka saya tidak berani meminta kakak kamu menjadi kekasih saya justru saya ingin memintanya menjadi istri dan pendamping hidup saya. tapi saya terlambat" lanjutnya membuatku dan juga Rey saling pandang.


"dan kalo boleh, saya ingin meminang Diah saat ini. saya tidak mau didului oleh orang lain lagi, semetara perasanan ini masih tersimpan rapih sampai hari ini" katanya lagi membuatku dan juga Rey membelalakan mata.


"maaf ya nak Billy, tapi Diah masih dalam masa Iddah. haram hukumnya menghitbah perempuan yang masih dalam masa Iddah, apalagi nak Billy sudah memiliki istri. lantas bagaimana dengan istri nak Billy?" kata mama yang tiba-tiba keluar dari dalam kamar, mungkin mendengar percakapan kami.


"terlepas kamu mencintai atau tidak istri kamu, tapi saat ini dia lah yang ada disamping kamu. dia wanita pilihan kedua orangtuamu, hormati dan hargai dia nak. orangtuanya pasti akan sedih jika anak perempuannya diperlakukan seperti ini dengan lelaki yang sudah mereka percaya bisa membahagiakan anak perempuan mereka, atau setidaknya pikirkan kedua orangtua nak Billy yang akan malu dengan besannya atas perlakuan nak Billy pada menantu mereka" kata mama menatap Billy yang menggelengkan kepala.


"belum lagi kehormatan Diah yang pasti akan porak poranda karna dinilai merebut suami orang, meskipun nak Billy sendiri yang datang kerumah ini tapi tetap saja anak saya Diah yang akan menerima gunjingannya. lagi pula belum tentu orangtua nak Billy bisa menerima Diah setelah nak Billy memperlakukan perempuaj pilihan mereka seperti ini" lanjut mama memberikan pengertian pada Billy.


"saya akan berusaha semampu saya mempertahankan Diah Tante, Diah adalah segalanya untuk saya. bahkan setelah saya menikah saya sering kali memimpikan Diah, saya selalu terbayang Diah Tante" kata Billy meyakinkan mama.


mama pun menggelengkan kepala.


"tapi maaf, sesuai wasiat yang diberikan bapaknya Diah jika Diah akan kami nikahkan dengan anak sahabat kami yang kebetulan memegang pesantren peninggalan almarhum bapaknya Diah" kata mama membuatku dan juga Rey membelalakan mata, mama sampai nekat berbohong pada Billy untuk membuat lelaki itu menyerah. karja setelah dijelaskan baik-baik pun, rupanya dia tak bisa mengerti.


"apa? dijodohkan! tapi, kenapa baru sekarang? kenapa ngga dari dulu Tan?" tanyanya dengan wajah hampir berkaca-kaca.


"karna kebetulan kami baru bertemu lagi dengan mereka nak, maaf Tante harus menolak niat baik kamu. karna sampai kapanpun kalian ngga akan mungkin bisa bersama" jawab mama pada akhirnya.

__ADS_1


"baiklah saya ngga bisa memaksa, cukup dengan Diah tau perasaan saya yang sebetulnya saja sudah lebih dari cukup. terimakasih sudah menerima kunjungan saya malam ini, maaf jika kedatangan saya mengganggu Tante dan juga Diah dan Rey" kata Billy pada akhirnya.


"tidak apa-apa, dengan begini urusan kalian selesai. maaf kan Tante sekali lagi nak Billy" kata mama menundukkan kepala.


"tidak apa Tante, kalo begitu saya pamit pulang dulu. di, aku pulang. semoga setelah ini kami mendapatkan kebahagiaan kamu yang sebenarnya" katanya menutup percakapan kami.


"makasih bill" jawabku dengan sedikit senyum.


"assalamualaikum" dia mencium punggung tangan mama sebelum keluar dari rumah ikuti Rey.


"kamu gapapa kan di?" tanya mama padaku, aku pun segera menggeleng.


"gapapa ma, cuma shok aja" jawabku jujur.


"syok? karna banyak yang menunggu janda kamu?" tanya mama yang aku rasa sedang meledekku.


"mama ngeledek atau gimana sih?" tanyaku penasaran.


"ngeledek gimana sih? mama tanya bener loh, ngga nyangka anak mama walaupun sudah janda tapi banyak yang menunggu jandanya" jawab mama terkekeh.


"ku tunggu jandamu,,,, maaf bila ku menyumpahi, sangking aku cinta padamu... kau jandapun aku maauuuuu" Rey pun mendendangkan lagu salah satu penyanyi yang sudah vakum saat ini.


"apaan sih kalian ini ngeledek terus, males ah" kataku membuat mama dan juga Rey tertawa kencang.


"mbak-mbak, Rey aja belum sama sekali loh. mbak bahkan udah dua orang yang lagi nunggu masa Iddah selesai, CK CK bener-bener kalah pamor Rey sama janda yang satu ini" kata Rey membuatku mengerucutkan bibir.


"iyaa Rey, mama juga ngga sangka. padahal ini baru beberapa hari kan mbak mu resmi bercerai tapi udah dua orang yang menyatakan perasannya, gimana sampai nunggu selesai masa Iddah nanti. berapa lagi dari masa lalu kamu yang akan datang kerumah ini di" kata mama terkekeh yang juga diangguki oleh Rey. aku pun mengerucutkan bibir karna terus diledek oleh kedua ornag tersebut.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2