Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 136.


__ADS_3

tak perlu lama, kami pun sampai dihalaman rumah. mama, Nayla dan juga Syifa sudah menyambutku dengan senyum ceria mereka, Nayla pun langsung berlari kearahku yang baru saja turun mobil.


"mamaaaaa" teriaknya sambil berlari kearahku.


"hai anak mama, udah cantik aja ini" kataku mensejajarkan tinggi ku dihadapan Nayla.


"iyaa dong, tadi nay mandi bareng sama adik dimandiin sama uti" jawabnya dengan bahasa yang lucu.


"oiyaa, memangnya bisa? kan adik masih harus dipegangin" kataku.


"bisa kok ma, adik kan udah bisa duduk. jadi adik didudukin di bak mandinya, terus uti mandiin aku. abis itu uti mandiin adik, nah gantian deh aku yang main air" jawab Nayla menjelaskan maksud dari perkataannya.


"oohh begitu. yaudah, yuk masuk. kasian tuh om Hamid sama om Rizal nungguin nay ngomong terus ngga kelar-kelar" kataku menggandeng Nayla kedalam rumah.


"om Hamid kok ikut kesini juga? oiyaa semalem kok om Hamid ngga Dateng si buat ngajiin Akung aku, padahal Akung Hasyim sama uti Hamidah Dateng loh" katanya menatap Hamid dari samping.


"iyaaa maaf ya nay, om Hamid banyak banget kerjaan makanya ngga sempet Dateng. tapi lain kali in syaa allah om usahain Dateng ya?" jawab mas Hamid dengan senyum pada Nayla.


"oohh iyaa gapapa om, lagian Nayla semalem juga udah tidur cepet. Nayla jadinya ngga tau uti sama Akung pulang jam berapa, mama ngga bangunin nay sih waktu uti sama Akung mau pulang" jawab Nayla membuatku memutar bola mata malas.


"assalamualaikum" salam kami pada mama yang menunggu didepan pintu.


"waaalaikumsalam, nak Hamid tumben kesini?" tanya mama pada Hamid yang menyalami tangannya diikuti oleh Rizal yang juga menyalami tangan mama.


"iyaa bude sekalian mampir bude, Hamid kan semalem ngga sempet Dateng kesini ikut tahlilan pak de. makanya Hamid sempatin datang kerumah hari ini, kebetulan tadi ketemu Diah di lobby jadi yaudah sekalian aja" jawab mas Hamid.


"oiyaaa ini siapa?" tanya mama menatap Rizal.


"ini Rizal bude, sahabat Hamid sekaligus asisten Hamid dikantor" jawab mas Hamid diangguki oleh mama.

__ADS_1


"oalaahh gitu, Ayuk masuk mari masuk. Diah, tolong buatkan kopi sama cemilannya bawa kesini ya?" kata mama yang langsung aku angguki.


aku pun mengerjakan apa yang dikatakan mama, walau sebenarnya badan ini rasanya sudah sangat lengket tapi karna ada tamu dirumah jadi ku urungkan membersihkan badan. lebih baik aku menunggu tamu ku itu pulang.


"ini mas Hamid, Rizal silahkan dicicip ya?" kataku pada kedua nya.


"makasih ya di" jawab keduanya berbarengan yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala.


aku pun mengambil alih Syifa dari gendongan mama, meskipun belum mandi tentu saja aku sudah mencuci tangan dan juga kakiku agar bersih lebih dulu.


"nak Hamid, boleh bude bicara?" tanya mama pada mas Hamid.


"boleh bude, silahkan. mau bicara apa?" tanya mas Hamid pada mama.


"sebelumnya bude minta maaf ya nak, bukan maksud bude menyinggung nak Hamid. nak Hamid kan tau sendiri ya jika Diah itu masih dalam proses perceraian, jadi bude minta tolong banget sebaiknya nak Hamid jaga jarak pada Diah. karna bude ngga mau terjadi fitnah macam-macam yang nantinya justru akan membuat proses perceraian Diah semakin sulit" kata mama membuatku membelalakan mata.


"mama apaan sih" kataku pada mama dengan berbisik.


"baiklah bude saya akan berusaha sewajarnya saja pada Diah. tapi maafkan saya bude, kalo sebenarnya tadi siang saya sudah mengungkapkan perasaan saya pada Diah, tapi bude tenang saja. saya ngga akan meminta Diah menjawab perasaan saya saat ini juga kok. saya bersedia menunggu Diah hingga dia bersedia kembali membuka hatinya bude" jawab mas Hamid sambil melirik kearahku, sementara Rizal hanya sebagai pendengar antara keduanya.


"apa kamu serius mengungkapkan perasaan kamu pada Diah, Diah hanya calon seorang janda nak Hamid. apalagi kamu tau sendiri Diah memiliki dua orang anak, apa kamu ngga kerasa keberatan dengan itu. meskipun anak-anak Diah bukan tanggungan kamu, tapi tetap saja dia anak Diah. dia tanggung jawab Diah, jika kamu menginginkan ibunya otomatis kamu harus menerima kedua anaknya" jawab mama diangguki oleh mas Hamid.


"insyaallah bude, Hamid akan terima Diah dan juga kedua anak Diah. Hamid juga suka dengan anak kecil bude, apalagi Nayla juga lucu dan Hamid suka dengan keceriaannya. insyaallah" jawab mas Hamid dengan yakin.


"duuhh apaan sih ngomonginya udah kesana aja, Diah aja belum menyelesaikan proses perceraian Diah sama mas Lukman" kataku yang agak kesal dengan obrolan kedua orang itu.


"hust, mama cuma mau nak Hamid ini mamikirkan semuanya lagi. masih banyak waktu dan ngga perlu terlalu terburu-buru, mama juga cuma mengingatkan jika menerima kamu berarti juga menerima kedua anak kamu. dimana salahnya?" tanya mama tanpa rasa bersalah.


"salahnya adalah, karna Diah belum siap membahas seperti itu ma. bahkan sudah perceraian Diah aja belum ketuk palu ma, lagian kenapa mama berbicara seolah ngga memikirkan perasaan Diah. bahkan Diah sendiri aja belum berpikir kearah sana, karna fokus Diah saat ini adalah mengubah hidup Diah dan juga anak-anak Diah ma" jawabku dengan sedikit kesal.

__ADS_1


"nah, nak Hamid dengar sendiri kan? baiklah kalo begitu kita selesaikan obrolan kita kali ini ya nak Hamid, nanti kita lanjutkan ketika Diah sudah siap membuka hati lagi. yang penting pesan bude, tolong jaga jarak dan hormati status Diah untuk saat ini" kata mama pada akhirnya diangguki oleh mas Hamid.


"iyaa bude Hamid pasti dengarkan apa yang bude katakan, kalo begitu Hamid permisi pulang dulu ya bude. maaf ganggu waktu bude dan juga anak-anak" kata mas Hamid berpamitan.


"iyaa nak Hamid, maafkan kata-kata bude kalo ada yang menyinggung perasaan nak Hamid. bude lakukan hal ini untuk kebaikan Diah juga untuk kamu kedepannya nanti" kaya mama diangguki oleh mas Hamid.


"iyaa bude Hamid tau" kata mas Hamid sambil mencium tangan mama membuat mama tersenyum.


"assalamualaikum bude" kata mas Hamid dan juga Rizal bersamaan, keduanya pun menuju mobil setelah salam mendapat balasan.


"mama itu apa apaan sih ngomong kaya gitu sama mas Hamid, Diah malu ma" kataku pada mama setelah mas Hamid dan juga Rizal tak terlihat.


"biarlah di, biar Hamid tau jika kamu ga gampang untuk didekati. lagian apa yang mama katakan semua itu kebenaran loh, iyakan?" jawab mama membuatku mendengus.


"assalamualaikum" terdengar suara salam yang sangat aku kenal, siapa lagi kalo buka mas Lukman. tapi aku heran, dia ngapain datang bersama Abang iparnya.


"waalaikumsalam, ada apa ya?" kataku menatap dua lelaki itu penuh tanya.


"ada yang mau saya bicarakan sama kamu dih, bisa kita bicara didalam?" tanya iparnya mas Lukman yang tak lain suami dari kak Yuni.


"oohh boleh bang, silahkan masuk" jawabku mempersilahkan keduanya masuk, kini gantian mama yang membuatkan keduanya minuman dan membawakan keduanya cemilan. kemudian mama pun menemaniku mengobrol bersama keduanya.


"begini Diah, maksud kedatangan saya sama Lukman kesini itu untuk mengambil kembali ATM Lukman yang ada di kamu sekaligus melunasi semua hutang Lukman yang diperbuat oleh Yuni" kata kakak ipar mas Lukman bernama Wendi.


"ooohh jadi kamu sudah tau permasalahan itu yang pada akhirnya membuat berantakan rumah tangga Diah dan juga Lukman?" kata mama menimpali perkataan bang Wendi.


"iyaaa Bu, makanya sebagai suami saya minta maaf karna kesalahan istri saya rumah tangga Diah dan juga lukman jadi berantakan dan berujung percerian" kata suami kak Yuni dengan kepala tertunduk.


"maaf? justru seharusnya saya berterimakasih karna kelakuan istri kamu, anak saya bisa terlepas dari keluarga toxic dan suami yang ngga bisa bertanggung jawab ini. dan asal kamu tau ya, istri kamu itu ga sebaik yang kamu fikirkan. CK, cepat selesaikan jika memang mau membayar hutang. tapi ingat ya Lukman, walaupun hutang kamu sudah lunas tapi kamu masih punya tanggungan pada anak-anakmu. jika kamu tidak memberikannya, aku pastikan anak-anakmu akan lupa siapa ayahnya!!"

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2