
mengingat perdebatanku dengan mas Lukman tadi malam benar-benar membuat mood ku hari ini hancur berantakan, alhasil setelah kepergian mas Lukman pagi ini aku tak melakukan apapu hanya berdiam diri didalam rumah menonton tv dengan anakku Nayla.
perkataannya yang membuatku kesal setengah mati, untungnya aku tak bodoh. diam-diam aku merekam semua perkataan mas Lukman padaku untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu mas Lukman berkelit, huh lihat saja mas aku akan buat kamu menyesal seumur hidup.
"nay sayang, kita mandi yuk?" kataku mengajak Nayla mandi karna memang hari sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
"nanti dulu ma, itu belum habis" jawabnya menunjuk kartu kembar kesukaannya.
"nanti dilanjutin lagi, kan masih lama nanti sampai jam sembilan" jawabku berusaha membujuknya, akhirnya setelah lima menit ia pun berhasil aku bujuk tapi memang karna kartunya sedang iklan juga sih hihihi.
aku pun memandikan Nayla, setelahnya bergantian aku yang mandi agar tubuhku fresh dan tidak berlama-lama bermalas malasan dikasur. baru saja selesai memakaikan pakaian Nayla, pintu sudah digedor-gedor dari luar.
"siapa sih yang gedor-gedor pintu kenceng banget kaya gitu" gumamku dengan kesal.
"waalaikumsalam, sebentar" jawabku dengan sedikit berteriak.
aku pun melangkahkan kaki untuk membuka pintu setelah menyisir rambut Nayla yang memang tak perlu lama untuk menyisirnya.
"lama banget si buka pintunya, ga lihat ada orang disini" kata ka Yuni dengan nada ketus.
"pintunya kan ketutup, ga liat jendela juga masih ditutup. ya mana kelihatan" jawabku dengan ketus menatap ka Yuni yang melebarkan mata mendengar perkataanku.
"kurang ajar, udah berani jawab sekarang kamu ya!!" bentaknya dengan mata melotot tajam.
"sudah Yun sudah, kita masuk dulu. ibu ada yang mau dibicarakan dengan kamu Diah" kata ibu mertua yang berada disamping kak Yuni. ya ternyata mereka lah yang datang pagi-pagi menggedor pintu dengan kencang.
"masuk Bu" kataku mempersilahkan mertua dan juga kakak iparku itu masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"yaampun kok masih berantakan begini si, kamu ngapain aja si Diah dari pagi!" kata kak Yuni mengomentari ruang depanku yang memang masih berantakan karna semalam mas Lukman memang tidur disana menggunakan kasur lantai.
"ada apa ya Bu?" tanya ku langsung tanpa menghiraukan perkataan kak Yuni yang selalu membuatku kesal.
"langsung aja ya Diah, ibu minta kamu kembalikan ATM gaji Lukman dan biarkan Lukman yang mengatur keuangannya sendiri seperti sebelumnya" jawab ibu mertua dengan pedenya.
"atas dasar apa ibu meminta aku mengembalikan ATM gaji mas Lukman? bukannya ibu lihat sendiri jika mas Lukman terikat perjanjian dengan Rey diatas matrai yang dilihat langsung oleh pengacara dari pihak kami, apa ibu mau soal ini dikasuskan dimeja hijau!" jawabku menantang ibu mertua yang tampak kaget mendengar jawaban yang keluar dari mulutku.
"haalaahh ngga usah menakut nakutin kami kamu Diah, walaupun aku hanya tamatan SMP tapi aku tau jika tidak ada namanya pasal tentang hutang piutang" jawab kak Yuni membuatku tersenyum sinis.
"memang ngga ada namanya pasal hutang piutang, tapi ada namanya pasal penipuan kak. andai mas Lukman tidak melunasi hutangnya itu sama dengan mas Lukman menipu, sudah termasuk dalam pasal penipuan. apa kak Yuni masih belum jelas dengan perkataanku" jawabku dengan santai menatap kak Yuni yang langsung terdiam mendengar perkataanku.
"mana bisa begitu, minjam ya minjam kan pasti dibalikkan. kalo menipu ya jika misal Lukman mangkir dari pembayaran dan dia kabur, itu baru namanya menipu. jangan membodohi kami Diah, aku ngga sebodoh itu untuk kamu kibuli" jawab kak Yuni membuatku tertawa kecil.
"lantas apa urusannya dengan ATM mas Lukman yang harus aku kembalikan, aku juga akan mencicil hutang mas Lukman pada adikku. malah aku sangsi jika mas Lukman memegang sendiri ATM gajinya, pasti akan selalu habis dimintakan oleh kamu kak!!" jawabku dengan berani menatap kak Yuni yang membelalakan mata.
"atau begini saja, biarkan ibu yang pegang ATM Lukman. ibu janji nanti ibu pasti akan membayar cicilan pada adikmu, dan ibu pasti akan membagi uang gaji Lukman dengan adil" kata ibu mertua yang langsung diangguki oleh kak Yuni, aku pun hanya tersenyum sinis sebagai respon.
"sebanarnya aku bingung, apa yang mendorong ibu itu selalu merecoki urusan rumah tangga ku dan mas Lukman. terutama dalam hal keuangan. apa ibu merasa kehilangan mas Lukman karna telah menikah, merasa jika mas Lukman mengabaikan ibu. begitu?" kataku bertanya pada ibu mertua dengan nada sinis, membuat keterkejutan diwajahnya begitu jelas terlihat.
"apa maksud kamu Diah? memang apa salahnya jika ibu membantu kalian mengelola keuangan, bukannya sama saja. bahkan ibu lebih berpengalaman untuk menghendek keuangan rumah tangga" jawab ibu mertua membuatku tertawa kecil.
"Bu, ibu. ibu tinggal sama kami disini ngga mau katanya takut tak bisa akur, tapi mau menghendek keuangan rumah tangga kami. sebanarnya pikiran ibu itu jalan atau ngga si Bu, mana pantas Bu ibu yang memegang keuangan rumah tangga yang sudah jelas kita ngga satu rumah! jelas beda Bu!! mendingan ibu atur keuangan kak Yuni, kan ibu tinggal dengan kak Yuni. sekalian ajarin kak Yuni untuk berhemat Bu agar bisa nabung dari jatah suaminya yang empat juta itu" jawabku menatap keduanya secara bergantian.
puas sekali rasanya melihat keterkejutan diwajah keduanya atas perkataanku, Diah yang mereka hina dulu tak akan ada lagi. aku akan melawan apapun yang membuatku merasa tak nyaman, mulai dari sekarang. meskipun itu mertua dan iparku sendiri.
"jaga bicara kamu Diah, Yuni itu kakak iparmu. lagi pula Yuni sudah bisa mengatur keuangannya sendiri, memang uang empat juta itu tak cukup untuk kebutuhan sehari-hari kami berlima. makanya ibu meminta jatah pada Lukman pada tiap bulannya, begitupun juga untuk Yuni." jawab ibu mertua kembali membuatku tertawa sinis.
__ADS_1
"ibu ibu, uang empat juta untuk satu bulan ngga cukup Bu? heloooo Bu, bagaimana uang yang lima puluh ribu satu hari Bu. yang jika dijumlah dalam satu bulan hanya satu juta lima ratus ribu! andai aku yang diberikan jatah empat juta dalam sebulan Bu, mungkin kami sudah tidak tinggal dirumah kontrakan ini Bu. bahkan mungkin tabunganku sudah sangat banyak saat ini" jawabku memandang remeh pada kak Yuni yang menatap tak suka padaku.
"jelas bedalah Diah, dirumah Yuni itu tinggal tiga orang dewasa dan dia orang anak-anak. jelas kebutuhan pokok kamu lebih besar dibanding kamu yang hanya berempat, itu pun Nayla belum terlalu banyak jajan dan Syifa juga masih kecil dia juga belum bisa jajan ataupun makan Diah" jawab ibu mertua menjelaskan perkataannya.
"oh ya lantas susu dan pempers Nayla juga Syifa tiap bulan itu bagaimana Bu? apa itu bukan kebutuhan! ya walaupun memang bukan kebutuhan pokok tapi tetap saja itu wajib tersedia karna itu untuk anakku Bu. sementara kak Yuni, kedua anaknya sudah besar Bu bahkan mereka sudah tak memakai Pampers ataupun minum susu yang seperti milik Nayla dan Syifa." jawabku menatap nyalang pada ibu mertua yang tetap kekeh pada pendiriannya.
"alaaahhh itu semuakan bisa kamu beli sedikit sedikit jika Lukman memberikan uang lebih" kata ka Yuni semakin membuatku meradang dengan perkataannya.
"cukup! intinya apa ibu dan ka yuni datang kerumahku pagi-pagi begini?" tanyaku langsung to the point.
"ibu ingin kamu tetap memberikan uang bulanan pada ibu dan juga ka Yuni dan anak-anaknya seperti biasa Lukman berikan pada kami. itu aja" jawab ibu mertua membuatku membelalakan mata.
"boleh, tapi dengan syarat!" jawabku singkat.
"kenapa harus ada syarat segala, kebiasaan banget deh apa-apa dipersulit" jawab kak Yuni dengan nada kesal.
"yaudah terserah kalo kalian ngga mau pun aku gapapa kok, tenang aja." jawabku dengan santai menghadapi kedua orang didepanku ini.
"tau kamu ini, ingatloh saya ini ibu kandung Lukman. biar bagaimana pun Lukman masih bertanggung jawab membiayai saya sebagai ibu kandungnya yang sudah melahirkannya ngga seharusnya kamu berbuat seperti ini pada ibu" jawab ibu mertua membuatku kembali menyunggingkan senyum sinis.
"terserah kalo kalian ngga mau gapapa, tapi kalian harus terima jika aku memberikan lebih sedikit dari apa yang Lukman berikan pada kalian sedari dulu. yaa anggap aja ini gantian, karna dari dulu kan aku yang menerima mas Lukman memberikanku uang belanja apa kadarnya. pasti kalian juga ngga masalah dong kalo aku kasih ala kadarnya" jawabku dengan santai membuat keduanya saling pandang.
"yasudah apa syaratnya??" tanya kak Yuni membuatku tersenyum senang karna telah berhasil membuatnya menyetujuinya.
"syaratnya adalaaaahhh,,,,,,,,,,,,,,"
bersambung ..........
__ADS_1