
terdengar perkataan yang tida mengenakan ketika kami hampir saja keluar dari persidangan, meskipun perkataan itu terdengar sangat pelan namun tetap saja begitu menusuk seolah aku penjahat yang sebenarnya.
"maksud kamu apa ya? ngga lah perlu pakai mbak atau kak lagi kan, karja sekarang kamu sudah bukan siapa-siapaku lagi!!" kataku dengan menatap tajam kak Yuni yang berdiri persis dibelakang ku.
"kurang jelas memang perkataan ku? kamu itu perempuan licik, rela mengeluarkan uang untuk menyogok hakim demi apa yang kamu inginkan. ingat ya Diah, lukman ngga akan memberikan gajinya untuk anak-anakmu. dia pasti akan memberikan gajinya padaku dan juga ibu sebagai keluarganya" kata kak Yuni dengan wajah sombongnya.
"silahkan aja, berarti mas Lukman siap dengan resikonya. begitu pun kamu yang siap dengan resiko yang akan kamu tanggung" jawabku dengan nada sinis menatap mas Lukman yang hanya memalingkan wajah.
"apa maksud kamu?" tanya kak Yuni dengan mata melotot.
"tanya aja sama adik kamu itu, iyakan mas?" kataku pada mas lukman dengan senyum meledek.
"udah yuk mbak, mendingan kita pulang. mbak kan harus berangkat kerja, aku juga ada meeting siang nanti" kata Rey merangkulku dihadapan keluarga mas lukman yang masih penasaran dengan perkataanku.
aku pun mengikuti langkah Rey yang membawaku menjauh dari mas Lukman dan keluarganya, tak perduli teriakan dari kak Yuni yang masih penasaran dengan perkataanku.
"diaaaahh, tungguuu!!" katanya menarik lengan tanganku, aku pun menyentaknya dengan kasar.
"apaan sih mbak!!!" bentakku dengan nada kesal.
"jelaskan dulu apa maksud kamu berkata seperti itu, jangan main asal pergi gitu aja!!!" teriaknya mengundang perhatian banyak orang.
"sudah aku bilang kan, tanyakan saja pada adikmu itu. oh atau sebaiknya kamu tanyakan aja sama suami kamu, apa akibatnya jika adikmu itu ngga menjalankan kewajibannya pada kedua anaknya. iyakan mas lukman?" kataku pada mas lukman yang sedari tadi masih terdiam.
"udah-udah, sini biar aku yang kasih tau" kata Rey melirik mas Lukman yang tampak melotoakan mata, namun Rey yang memang tak takut dengan apapun terus melanjutkan perkataannya.
"begini ya mbak Yuni, kalo mas Lukman ngga mau menafkahi anak-anaknya yang saat ini hak asuh nya jatuh ke tangan mbak Diah maka suamimu sendiri yang akan memakai gajinya yang akan diberikan sama kamu sebagai uang bulanan untuk memberikan hak kedua anaknya mas Lukman ini" kata Rey sambil mendekap kedua tangan didada menatap mbak Yuni yang tampak shock mendengar perkataan Rey.
"APA!!!" teriak kak Yuni dan ibu mertua berbarengan.
"ngga bisa begitu dong, Nayla sama Syifa kan kewajiban Lukman. ngga ada sangkut pautnya sama Wendi, kenapa malah Wendi yang menafkahi anak-anak kalian. aneh banget, palingan ini cuma akal-akalan kalian doang kan biar kalian bisa menguasai keuangan Lukman. iyakan?" kata mantan ibu mertua membuatku sedikit terkekeh.
"Bu, ibu buat apa aku memiliki akal-akalan seperti itu. bahkan ide itu datang dari menantu lelaki ibu loh, kalo ngga percaya silahkan tanya sama manusianya sendiri. tapi nanti jangan shok ya tau kebenarannya" kata ku yang langsung meninggalkan ketiga orang itu bersama Rey dan juga Raihan yang sudah selesai menyelesaikan berkas ku.
"Rai, makasih ya udah bantuin aku. aku gatau kalo ngga ada kamu pasti proses perceraian ini akan terus diperlambat" kataku pada Raihan yang tampak tersenyum.
"sama-sama mbak, udah jadi tugasku. lagian ini semua juga ngga gratis kan mbak, Rey sudah membayar ku penuh. makanya aku selalu mendampingi mbak sampai saat ini, mungkin kedepannya juga kalo diperlukan" katanya membuatku dan juga Rey terkekeh kecil.
"iyaa iyaa insyaallah kalo ada apa-apa aku sama Rey bakalan hubungin kamu lagi, pokoknya kamu harus siap aja" jawabku, kami bertiga pun terkekeh bersama.
__ADS_1
"kalo gitu kita duluan ya mas, mbak Diah masuk kerja soalnya. aku juga ada meeting siang nanti takut ngga kekejar" kata Rey yang langsung diangguki oleh Raihan.
"yaudah kalo gitu silahkan, saya juga harus kembali kekantor" jawabnya mempersilahkan kami pergi lebih dulu.
"mari mas, assalamualaikum" kata Rey dan juga aku berbarengan. setelah itu kami pun melangkah kaki menuju parkiran motor yang tak jauh dari pintu masuk, Rey pun menyalakan motornya dan mengantarkan aku hingga sampai didepan kantor mas Hamid.
"udah sampai mbak" kata Rey ketika kami sudah sampai dihalaman gedung kantor mas Hamid.
"oiyaa, makasih ya Rey?" kataku dijawab senyum oleh Rey.
"kalo gitu Rey berangkat ya mbak, udah jam segini. masih ada berkas yang harus Rey siapin buat meeting nanti soalnya" jawabnya membuatku menganggukan kepala.
"iyaa, kamu hati-hati ya" kataku dibalas anggukan olehnya.
"assalamualaikum" katanya sambil melaju menjauh dari area kantor.
setalah Rey tak terlihat lagi, aku pun masuk dan langsung menuju ruang kerjaku. disana semua teman satu timku sudah menunggu untuk mengerjakan berkas yang ternyata sudah menumpuk dimeja kerjaku.
"gimana sidang Lo hari ini di?" tanya mbak Laras yang duduk berada tepat di sampingku.
"lancar mbak, Alhamdulillah udah ketuk palu" jawabku sambil tersenyum.
"apaan sih mbak, janda bukan kebanggan kali mbak" jawabku disambut tawa kecil oleh mbak Laras.
"yaa setidaknya berbangga dirilah karna bisa keluar dari lingkungan keluarga toxic di" jawabnya membuatku tersenyum dan menganggukan kepala.
"iyaa mbak, alhamdulillah " jawabku dnegaj tersenyum.
"tapi ngomong-ngomong, cepet juga loh proses perceraian Lo. iyaa ngga sih, kan cuma dua bulan ya kalo ngga salah" tanyanya yang langsung aku angguki.
"iyaa mbak alhamdulillah, mungkin karna buktinya memang sudah kuat makanya jadi cepat" jawabku dengan senyum mengembang.
setelah itu pembahasan pun berakhir, kami pun melanjutkan pekerjaan kami masing-masing hingga akhirnya jam makan siang pun sudah berada didepan mata.
"istirahat yok di, ras. Lo berdua ngga kekantin apa?" tanya mbak raya.
"bentar mbak, aku masih banyak ini kerjaannya. hari ini kan aku datang siang banget" jawabku.
"iyaa nanti kan gampang diselesaiin lagi di, sekarang makan siang dulu. apa Lo mau gue bawain aja makan siang Lo ke sini?" tanyanya membuatku mendongak.
__ADS_1
"emang boleh mbak?" tanyaku.
"boleh lah, Lo aja kemaren bawa cemilan buat kita sambil kerja. masa kerja sekalian makan siang dijam istirhata ngga boleh" jawabnya membuatku terkekeh dan akhirnya menganggukan kepala.
"yaudah kalo gitu boleh deh mbak, aku nitip makan siang bawa kesini aja ya nanti minta sama simbak bawa keruangan" kataku yang langsung diangguki oleh mbak raya.
"Lo, ngga kekantin ras?" tanya mbak raya.pada mbak Laras yang sedari tadi terlihat masih sibuk dengan komputernya juga.
"ngga deh, gue ada bekel dibawain nyokap tadi. nanti gue makan bareng Diah aja disini" jawabnya membuat mbak raya mengerucutkan bibir.
"aaahh kalian mbak begitu deh, terus gue sama Silvi doang nih?" tanyanya yang langsung kami berdua angguki.
"yaudah lah kalo gitu, gue sama Silvi kebawah ya." katanya berpamitan dan langsung meninggalkan kami yang masih didalam ruangan.
"mas Fahmi ngga makan siang?" tanyaku pada mas Fahmi.
"bentar lagi nih tanggung di, paling sepuluh menit lagi kelar" jawabnya tanpa mengalihkan pandangan.
"eehh di, btw Lo kok kayanya beberapa hari ini ngga diganggu sama si bos kaya biasanya" tanya mbak Laras.
"hust, jangan keras-keras lah mbak. ngga enak nanti kalo ada yang denger pas lewat" jawabku yang diangguki mbak Laras.
"jawab dong, gue kepo tau" katanya membuatku menghela nafas.
"mbak, sebetulnyaaaaa,,,,," kataku terhenti dengan mas Fahmi yang tiba-tiba berteriak.
"Alhamdulillah, kelar juga" teriaknya membuat kami berdua kaget.
"hehehe gue kekantin duku ya, paper banget nih" lanjutnya membuat kami berdua menggelengkan kepala.
kini, hanya tinggal aku dan juga mbak Laras yang ada didalam ruangan ini. mbak Laras pun terus memaksaku untuk bercerita yang sebetulnya.
"mbak ingatkan terakhir kali aku dan juga pak Hamid keluar, emm bareng pak Rizal juga sih?" tanyaku yang langsung diangguki oleh mbak Laras.
"gue sambil makan ya ras!" katanya, aku pun lanjut menceritakan yang sebenarnya pada mbak Laras.
"sebenarnya waktu itu pak Hamid,,,,,,,,"
bersambung....
__ADS_1