
"yaa aku gamau tau lah, lagian kan ada yang Lukman yang dikasihkan semua kekamu. kemana semua itu, masa udah abis aja. terus ini gimana bayar rumah sakitnya" jawab kak Yuni disebrang telpon membuatku menyeritkan kening.
"eehh kak Yuni, emang kamu fikir adik mu itu memberikan berapa uangnya padaku. hah! kamu fikir adikmu itu banyak uang sampai kamu bicara seperti itu! aku ga peduli kamu bayar rumah sakit dari mana, itu urusanmu!!" jawabku dengan nada kesal membentak kak Yuni disebrang telpon.
"heh Diah, biar gimana pun Lukman ini masih suami kamu. kewajiban kamu untuk mencarikan biaya rumah sakit Lukman bukannya justru melimpahkan pada kami, dasar istri ngga berguna!!" bentaknya dengan berteriak hingga aku harus menjauhkan ponselku.
"suami macam apa yang kamu maksud? suami yang udah berhianat sama istrinya, begitu? semoga suatu saat kamu ngga merasakan apa yang aku rasakan kak" jawabku yang langsung mematikan sambungan telpon.
"sepertinya mereka benar-benar udah ngga waras ya mbak, bisa-bisanya dia berkata seperti itu. kaya ngga punya dosa aja, udahlah mbak lebih baik mbak mantapkan hati mbak aja untuk berpisah dengan mas Lukman. aku aja yang ngeliatnya capek loh mbak, masa setiap hari harus dengerin mereka mengeluhkan hal-hal yang sama terus setiap harinya" jawab Rey yang langsung membuatku menganggukan kepala.
"iyaa Rey, makanya itu. mungkin untuk sementara waktu mbak ngga akan pulang kerumah itu Rey, mbak pengen menenagkan diri dulu. kalo bisa nanti kamu antar mbak ambil pakaian ya Rey, mbak pengen pulang kekampung dulu kayanya Rey. gapapa kan ya?" tanyaku pada Rey yang terlihat berfikir mendengar perkataanku.
"yaa aku si gapapa mbak, tapi coba mbak tanya sama mama dulu deh takutnya mama ngga izinin apalagi mbak tau sendiri kan kondisi bapak lagi menghawatirkan. takutnya,,,,,," jawab Rey yang langsung aku hentikan.
"iyaa iyaa kamu benar Rey, tapi jadi sekarang gimana Rey? mbak benar-bener pengen menyendiri sementara waktu" jawabku dengan menundukkan kepala.
"eemm begini aja mbak, mbak punya teman kan waktu ditempat kerja dulu? nah coba mbak aja dia buat refreshing sama mbak lumayan lah dua hari tiga hari kan ngga liat wajah mas Lukman dan keluarganya, nanti setelah dari sana mbak pulang kerumah ini" jawab Rey membuatku menganggukan kepala.
"iyaa yaa Rey kamu bener juga, yaudah deh mbak coba hubungin temen kerja mbak yang dulu. semoga aja mereka mau" jawabku membuat Rey mengacungkan kedua jempol miliknya.
aku pun pergi keluar dari kamar Rey, kemudian melangkah kan kaki kekamar kamar mandi untuk membuang air kecil. setelah selesai aku pun kembali keruang tamu dimana disana ada bapak yang tengah setengah berbaring dan juga Syifa disebelahnya.
__ADS_1
"gimana keadaan bapak ma?" tanyaku pada mama yang terlihat tengah memijat pelan kaki bapak.
"yaa begini aja di, emang udah bisa jalan sedikit-sedikit si tapi ya seperti yang mama bilang kemarin bapak udah keluar luka dideket tulang ekor. mama cuma takut aja, jika bapak seperti mbahmu dulu di" jawab mama dengan nada pelan.
"astagfirullah ma, jangan bilang begitu. insyaallah bapak bakalan sembuh kok, mungkin dengan keluarnya luka itu yang buat bapak bisa jalan walaupun sedikit-sedikit karna kadar gulanya semakin naik jadi dia menimbulkan hawa panas akhirnya menjadi luka" jawabku dengan ragu. memang aku tak begitu mengerti, aku hanya menyampaikan pendapatku aja kepada mama.
"iyaa semoga aja apa yang kamu katakan benar di, tapi mama hanya melihat apa yang memang sudah terjadi. bukannya sebelumnya mbahmu pun lumpuh sampai akhirnya memiliki luka didekat tulang ekornya persis seperti bapak, lalu beberapa hari kemudian beliau pergi meninggalkan kita semua. mama hanya belum siap jika itu terjadi pada bapak di" jawab mama membuatku sedikit tertegun. memang benar apa yang dikatakan oleh mama tentang Mbah, tapi aku tetap optimis bapak akan sembuh meskipun hatiku sedikit mencelos mendengar perkataan mama.
"kita harus tetap optimis ma, insyaallah dia mama dikabulkan sama Allah agar bapak tetap sehat seperti sedia kala" jawabku dengan tersenyum menatap mama yang tetap memijat pelan kaki bapak.
aku pun menatap bapak yang tersenyum padaku sambil mengedipkan matanya beberapa kali, dan mulut yang terlihat ingin berbicara padaku.
"bapak mau ngomong apa?" tanyaku pada bapak yang tersenyum.
"bapak mau ketoprak?" tanyaku yang langsung dijawab anggukan kepala olehnya.
"sebentar aku bilangin sama Rey dulu ya pak, bapak mau apa lagi? singkong goreng mau? kan kesukaan bapak" tanyaku yang langsung membuat bapak tersenyum, aku pun membalas senyum bapak sambil berdiri kemudian melangkah kan kaki menuju kamar Rey. Naum, sebelum sampai didepan kamar orangnya pun sudah muncul tepat didepanku.
"yaampun Rey, kamu ngagetin mbak aja" kataku mengelus dada.
"apaan si mbak, lagian jalan fokus banget deh. aku baru mau kedepan, mbak udah nongol aja disini. mau ngapain lagi?" tanyanya menyeritkan kening.
__ADS_1
"itu loh bapak minta ketoprak, sana gih cariin. mumpung masih jam segini, biasanya depan kelurahan sana masih ada loh" kataku pada Rey yang menggaruk tengkuknya.
"emang boleh ya bapak makan ketoprak, itukan pedes mbak apalagi manis juga. nanti malah kadar gulanya makin tinggi dan susah turun" jawab Rey membuatku menepuk kening membenarkan apa yang Rey katakan.
"iyaa juga ya Rey, terus gimana dong" tanya ku pada Rey yang menggidikkan bahu.
"pakai bumbu kacangnya aja Rey jangan pakai kecap, bumbu kacangnya kan ngga manis. manisnya kan pasti dari kecapnya, iyakan?" lanjutku setelah lama berfikir.
"mungkin juga sih, yaudah deh aku beliin aja. mbak mau juga gak?" tanya Rey padaku yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala.
"ngga ah Rey, aku masih kenyang. nanti siang aja ya beliin bakso kerucut, mbak pengen makan yang pedes dan seger" jawabku yang langsung membuat Rey berdecak.
"pedes Mulu mbak tuh, mbak kan lagi menyusui. emang gapapa keseringan makan pedes, kasian loh Syifa mbak" jawab Rey membuatku terkekeh kecil.
"kamu ini udah kaya emak-emak rempong aja Rey, jelas gapapa lah Rey. lagia mbak kan kalo makan bakso kerucut itu ngga pernah mbak tambahin sambel, karna dalamnya udah banyak sambelnya jugakan. paling mbak tambahinnya kecap sama kasih jeruk limaunya, beeehh seger pasti" jawabku yang langsung disambut gelengan kepala oleh Rey.
"terserah mbak aja deh yang penting aku udah ingetin" jawabnya yang langsung kembali memasuki kamar, aku pun kembali keruang tamu menghampiri mama dan juga bapak.
"bentar ya pak, reynya lagi ganti baju mau cariin ketoprak buat bapak" kataku yang langsung membuat bapak tersenyum.
"bapak harus cepet sembuh ya, bapak mau liat Nayla sana Syifa tumbuh sampai nanti punya cicitkan?" tanyaku yang langsung membuat wajah bapak kembali sendu.
__ADS_1
"pasti bapak sembuh, iyakan pak? nanti kalo bapak sembuh, insyaallah kita akan umroh. kan tabungan kita udah cukup yakan pak?" ......
bersambung.....