Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 74.


__ADS_3

"baiklah kalo gitu mas Raihan, terimakasih sudah membantuku dan juga mbak Diah selama ini. suatu saat pasti aku akan meminta bantuan lagi pada mas Raihan, aku harap mas Raihan dapat membantuku lagi lain kali" kata Rey yang langsung dibalas dengan senyum dan anggukan kepala oleh Raihan.


"iyaa sama-sama, kalo begitu saya pamit. semoga permasalahan kalian cepat kelar, dan menemukan solusinya" kata Raihan dengan senyum tulus.


"terimakasih Rai" jawabku yang langsung dijawab dengan anggukan kepala. Raihan pun pulang dengan langkah kabar sesekali melihat kearah belakang dengan tersenyum.


"apa maksud kamu berkata seperti itu pada Raihan mas? kamu sengaja membuatku terhimpit dan jelek seolah aku yang bersalah disini? iyakan?" tanyaku pada mas Lukman ketika sudah memasuki rumah menghampiri mas Lukman yang masih terdiam seraya menundukkan kepala.


"lantas apa? aku mengatakan hal benar kan? apa perkataanku ada yang salah? " jawab mas Lukman membuatku mengeram marah.


"mas, seharus kamu mikir. andai kamu ngga memanjakan keluarga kamu dengan memberikan apa yang mereka mau pasti semuanya ngga akan kaya gini mas, kamu malah seenaknya melempar kesalahan sama aku. udah ga punya otak kamu? atau otak kamu udah konslet karna udah digesek sama perkataan ibu dan juga kakak kamu!!" bentakku menatap tajam mas lukman yang langsung membuang muka.


"udah mbak, kasian Nayla pasti takut dari tadi denger mbak marah-marah terus. udah Ayuk kita didalem aja ngga usah ngurusin orang gatau diri ini" kata Rey yang langsung mengajakku menghampiri Nayla dan juga Sintia yang tengah menjaga Syifa yang ternyata sudah terbangun.


"eehh Syifa bangun ya?" tanyaku dengan wajah bersahabat dihadapan kedua anak ku.


"iyaa bangun mbak, tadi kaget mungkin denger mbak membentak mas Lukman kan agak teriak tuh. untungnya ngga nangis mbak" jawab Sintia yang langsung membuatku tersenyum.


"iyaa Alhamdulillah dia mengerti mama nya, jadinya ngga rewel" jawabku dengan terkekeh kecil.


"udah malam nih, mbak belum makan kan? masak apa mbak?" tanya Rey yang langsung membuatku menghela nafas kasar.


"mbak ngga masak Rey, tadi siang mbak cuma beli nasi Padang terus sore tadi dianterin kolak sama emak. yaa malam ini belum makan kaya yang kamu tau Rey" jawabku sambil memberikan asi untuk Syifa.

__ADS_1


"yaudah kalo gitu kamu beli aja gih lauk buat makan malam sin, tapi ada nasi kan mbak?" tanya Rey lagi yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala.


"gatau, liat aja. tadi siang si mbak masak nasi karna ada ibunya mas Lukman dan juga mas Lukman mau makan siang disini. tapi gatau masih ada apa ngga" jawabku yang langsung membuat sintia mengecek Magicom.


"abis mbak, yaudah aku masak nasi aja lagi ya mbak nanti jadinya tinggal beli lauk" kata Sintia yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala.


"yaudah kalo gitu Rey sama nayla beli lauknya dulu deh, yuk nay kita jalan-jalan lagi" kata Rey mengajak Nayla yang terlihat senang akan diajak keluar lagi oleh om nya.


"yeeeyy, mau kemana om?" tanya Nayla dengan polosnya.


"kita beli lauk laah, emang mau gamau makan?" tanya Rey membuat Nayla berfikir.


"tapi, tadi nay udah makan jajan om sama ante Tia. masa mau makan lagi" jawab Nayla dengan wajah lucu.


"yaudah kalo gitu gimana kalo buat nau kita beli martabak manis aja, nay suka kan?" lanjut Rey membuat Nayla tersenyum senang dan langsung menggandeng tangan omnya.


"ayok om" ajaknya dengan mata berbinar. keduanya pun melangkah kan kaki keluar rumah tanpa menghiraukan mas Lukman yang masih berada diruang depan yang sedang memainkan ponselnya.


"kemana nay sama mas Rey mbak?" tanya sintia yang sudah selesai menanak nasi.


"keluar, beli lauk. udahan cuci berasnya?" tanyaku pada Sintia yang langsung dijawab anggukan kepala olehnya.


"liat tuh mbak, mau kemana mas Lukman!" bisik Sintia melirik mas Lukman yang sudah siap berdiri menggunakan jaket miliknya, aku pun menggidikkan bahu sebagai jawaban.

__ADS_1


"di, minta uang dong. aku mau keluar sama teman" kata mas Lukman menghampiriku.


"ngga ada" jawabku singkat.


"jangan pelit di, aku mau keluar main masa ngga pegang uang. ayok lah, seratus ribu aja deh gapapa" jawabnya kembali membuatku kesal.


"seratus ribu ndas mu!! kamu pikir uang seratus ribu itu ngga berharga apa! kamu enak-enakan minta uang seratus ribu buat main, semantara aku uang seratus ribu untuk biaya makan dua hari! waras kamu mas!!" bentakku menatap mas Lukman yang sudah mulai menahan amarah.


"keterlaluan kamu di, mas cuma minta uang kamu selalu bahasnya kemana-mana. udah bisa membangkang kamu jadi istri!!" bentak mas Lukman menatapku dengan tatapan tajam, aku pun membalas tatapan mas Lukman tak kalah tajam.


"jangan ngaco mas, selama ini aku bukannya udah cukup diam kamu perlakukan ngga adil. aku hanya membela dirimu kenapa kamu yang kalang kabut kaya cacing kepanasan, kenapa? sadar diri kalo kamu sekarang itu dalam semua hal?" jawabku menatap mas Lukman dengan sinis.


"jangan kurang ajar kamu di, kalo aku kurang dalam segala hal aku ngga mungkin mampu memberikan kamu uang sampai sebanyak itu. itu bertanda kalo aku mampu memberikan kamu nafkah dengan layak!!" jawabnya membuatku terkekeh, begitupun Sintia yang juga menahan tawa mendengar perkataan mas Lukman.


"eehh mas, gaji mu segitu aja cuma untuk membayarkan utang-utangmu. memang kamu fikir sampai kemana uang itu? sampai untuk aku beli tanah? rumah? atau mobil? lucu kamu mas, uang hanya cukup untuk makan aja kamu ungkit terus. mana masih diminta terus lagi, dasar toxic" jawabku dengan pelan diakhir kalimat. sudah tak bisa ku bayangkan bagaimana wajah mas Lukman saat ini, aku yakin dia sangat sangat kesal.


"ngga ada hormatnya sama sekali kamu sama suami di, biar bagaimana pun aku masih suami kamu dan kamu wajib mematuhi aku di" jawab mas Lukman yang sudah mulai memelankan suaranya.


"apanya yang dipatuhi mas? apa selama ini aku kurang patuh sama kamu sampai harga dirimu diinjek-injek keluarga kamu aja aku diam mas. tapi tidak untuk kali ini, jangan harap aku akan diam. terserah kamu mau menilaiku seperti apa, bahkan aku sudah meminta kamu untuk menceraikan aku tapi kamu ngga mau. iyakan? jadi jangan salahkan kau jika aku ngga bisa menaruh hormat lagi padamu apalagi ada keluargamu!" jawabku dengan santai namun mampu membuat wajah mas Lukman memerah menahan amarah.


"kenapa? kesal atau marah dengan perkataan aku? denger ya mas, sejak kamu berani melayangkan tangan kamu kepipiku mulai dari situ sudah hilang rasa hormatku untukmu.!!" ......


bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2