
tak selama saat berangkat tadi, perjalan pulang hanya memerlukan waktu dua puluh menit untuk sampai kerumah mama.
"assalamualaikum" salamku dan juga Rey berbarengan.
"waalaikumsalam, kalian udah sampai?" tanya mama pada kami.
"iyaa Alhamdulillah" jawab Rey dengan sedikit tersenyum.
"bagaimana? apa berhasil?" tanya mama penasaran.
"sebentar dong ma, kami belum duduk" kataku menjawab pertanyaan mama.
"hehe mama udah ga sabar pengen denger cerita kalian, gimana berhasil atau ngga??" tanya mama lagi.
"berhasil dong ma, siapa dulu" kata Rey menjawab pertanyaan mama. mama pun melebarkan amat dan tersenyum.
"yang bener Rey? memang mereka ngga ada yang curiga?" tanya mama membuatku dan juga Rey sama-sama menggelengkan kepala.
"awalnya mas Lukman curiga ma, tapi mama tau sendiri lah watak ibu mertua mbak Diah ini. dia berusaha menyakini mas Lukman, ya jadilah dia menandatangani ini" kata Rey memperlihatkan map hijau tadi.
"waaahh ternyata kamu udah mempersiapkan semuanya ya Rey" kata mama dengan tertawa kecil sambil melihat map hijau yang diberikan oleh Rey.
"iyaa dong ma, tadi sewaktu mbak Diah menghubungi aku ya aku langsung membuat surat itu. lumayankan buat perjanjian tertulis" kata Rey yang dibenarkan oleh mama.
"iyaa bener kamu Rey, pintar juga kamu Rey" kata mama membuat Rey tersenyum lebar.
"iyaa dongg, Rey gitu loh. ngga mungkin lah Rey memberikan ide tanpa persiapan yang matang, iyakan?" kata Rey membuatku langsung mengacungkan kedua jempol padanya.
"iyaa Rey, mbak makasih banget loh kamu udah mau ngebantu mbak sampe sejauh ini. dan lagi lagi kamu mengeluarkan uang yang ngga sedikit buat masalah ini" kataku pada Rey.
"gapapa mbak, tenang aja. lagian kan itu buat mbak juga nantinya, semoga setelah lepas dari mas Lukman mbak bisa jauh lebih bahagia" kata Rey yang langsung diaminkan olehku dan juga mama.
"kalian tetap rukun seperti ini ya, mama bangga dengan kerukunan kalian." kata mama dengan mata berkaca-kaca.
"insyaallah ma, mama doakan saja semoga kami bisa tetap seperti ini sampai kami semua mendapatkan snak cucu" kata Rey dengan terkekeh kecil.
"itu mah kamu Rey, cepat cari pendamping. apalagi yang kamu tunggu? kerjaan bagus, uang ada, hidup kamu sudah berkecukupan Rey insyaallah mampu membiayai anak dan istrimu nanti" kata mama membuat Rey menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"mama, nanti kalo udah ada yang cocok Rey pasti punya pendamping kok. untuk sekarang, Rey cuma mau mendampingi mama dan juga mbak Diah dan juga biar Sintia menyelesaikan sekolahnya dulu. rey ngga mau semuanya tercampur aduk, biar Rey bisa fokus dulu sama kalian. lagian Rey masih dua puluh empat tahun kok" jawab Rey membuat mama mendengus.
"Rey Rey kamu itu kalo dikasih tau selalu begitu jawabannya" kata mama dengan nada kesal.
"lagian mama juga selalu aja itu yang dibahas, udah ah Rey mau masuk dulu. Rey lapar nih, mama masak apa kah?" tanya Rey mengelus perutnya.
"ngga ada apa-apa, tadi mama cuma masak sayur katuk sama cumi. tapi udah dihabisin adik kamu" kata mama tanpa rasa bersalah.
"yaudah Rey beli bakso aja deh, ada yang mau?" tanya Rey pada kami.
"maaauuuu" teriak Sintia dari dalam kamarnya.
"tuh, Sintia mau. aku juga mau deh yang lengkap ya pake sayuran juga, mama juga kan ma?" tanyaku pada mama yang langsung menganggukan kepala.
"yaudah kalo gitu aku keluar lagi deh, beli bakso dulu" kata Rey membuatku dan juga mama menganggukan kepala.
Rey pun kembali meninggalkan pekarangan rumah diiringi tatapan mama dan juga aku yang melihatnya mengendarai motor.
__ADS_1
"adik kamu itu di, kalo disuruh cari istri susah banget kayanya. mama takutnya dia malah ga suka sama perempuan" kata mama membuatku terkejut.
"astaga ma, ngomongnya jangan begitu. mungkin Rey memang masih mau fokus dengan karirnya ma, biarin aja. lagian Rey bener, sebaiknya mending fokus pada Sintia biar dia menyelesaikan sekolahnya dulu." kataku pada mama yang menganggukan kepala dengan terpaksa.
"Nayla mana ma?" tanyaku pada mama.
"biasa, dikamar antenya main hp. dimana lagi" jawab mama dengan nada kesal.
"nay, naylaaa" panggilku berteriak memanggil Nayla yang berada didalam kamar Sintia.
"apa ma?" tanyanya dengan wajah tanpa merasa bersalah.
"kok main hp Mulu sih, sini lah temenin adiknya mainan. nih adiknya melek" kataku memangku Nayla yang terlihat tak rela meninggalkan ponsel nya.
"bosen maaa" jawabnya dengan sedikit merajuk.
"nonton tv aja jangan main ponsel Mulu, nanti matanya sakit loh." jawabku membuatnya mencebikkan bibir.
"yaudah deh, uti setelin Upin ipin dong"katanya pada mama.
nayla pun menuruti perkataanku menonton kartun Upin Ipin itu ditv, meskipun kadang ia berkata bosen karna yang tayang sudah berulang kali.
"om Rey kemana ma?" tanya padaku.
"lagi beli bakso, nay mau bakso ga?" tanyaku yang langsung diangguki olehnya.
"nanti ya, om Rey lagi beli" jawabku mengelus kepalanya.
"ma, nay mau berenang" kata Nayla membuatku terkaget.
"sama mama, sama uti sama ante" jawabnya dengan santai.
"uti kan masih belum boleh keluar rumah nay, mama juga kan ada adik yang harus dijagain sementara ante kan juga harus sekolah" jawabku membuat nayla terdiam.
"nay, berenang sama om aja ya?" terdengar suara yang tak asing ditelinga ku. aku dan juga mama pun mengalihkan pandangan kearah pintu rumah tang terbuka lebar, terlihat mas Hamid berdiri dengan senyum mengembang.
"om Hamid??" teriak Nayla dengan girang.
"assalamualaikum" salamnya membuat buyar keterkejutan ku.
"waalaikumsalam" jawabku dan juga mama berbarengan.
"nak Hamid, sama siapa kesini?" tanya mama saat mas Hamid menyalami mama.
"sendiri aja bulek, mampir. tadi kebetulan lewat didepan" jawabnya dengan senyum mengembang.
"oalaah begitu toh, silahkan duduk. maaf berantakan, maklum ada anak-anak jadi rumah gabisa rapi" kata mama.
"gapapa bulek, saya mengerti" jawabnya sambil memangku Nayla.
"nay sini, kasian om hamidnya. Nayla kan berat" kataku mencoba mengambil Nayla dari pangkuan mas Hamid.
"gapapa kok Diah, biar Nayla duduk disini sama saya" kata mas Hamid membuatku terdiam.
"gimana kabar umi dan juga Abi kamu?" tanya mama berbasa-basi.
__ADS_1
"Alhamdulillah, keduanya baik bulek. bulek ga keberatan to Hamid silaturahim kesini?" tanya mas Hamid pada mama namun matanya melirik kearahku.
ntah aku yang kege'eran atau hanya perasanku saja jika mas Hamid dari tadi melirik kearahku.
"tentu saja tak apa nak Hamid, bulek malah senang kalo nak Hamid mau berkunjung kerumah bulek. insyallah pintu rumah ini selalu terbuka untuk nak Hamid" jawab mama membuat mas Hamid tersenyum.
"tapi, bulek minta tolong jangan keseringan. biar gimana pun dirumah ini kami semua perempuan, apalagi nak Hamid tau sendiri jika Diah baru proses mengajukan perceraian dengan suaminya" lanjut mama membuat mas Hamid menganggukan kepala.
"iyaa bulek, Hamid mengerti. nanti Hamid akan sesekali aja mendatangi bulek hanya sekedar mengetahui kabar bulek" jawab mas Hamid membuat mama tersenyum.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak" jawab mama.
"assalamualaikum" terdengar suara Rey yang sudah pulang membeli bakso.
"waalaikumsalam" jawab kami serentak.
"eh ada mas Hamid, udah lama mas?" tanya Rey pada Hamid sambil bersalaman.
"belum kok, baru aja tanya kabar sama bulek" jawab mas Hamid membuat Rey menganggukan kepala.
"ada apa nih mas, tumben mampir" tanya Rey membuat mas Hamid terkekeh kecil.
"gaada apa-apa, keberatan kah kalo saya silaturahim sama bulek?" tanyanya membuat Rey juga ikut terkekeh.
"Oalah kok ngapelinnya mama, kirain mau ngapelin mbak Diah atau Sintia" kata Rey membuatku terbelalak.
"apaan si kamu Rey" kata ku membuat Rey terdiam.
"apaan si mbak, orang cuma bercanda biar ga kaku. iya ngga mas?" kata Rey yang juga diangguki oleh mas Hamid.
"ngga lucu!" jawabku dengan sedikit kesal.
"udah-udah. mendingan kamu ambil mangkok di, sebelum bakso ini dingin nanti ga enak" kata mama menyuruh ku mengambil mangkok bakso.
"oiyaa maaf mas aku gatau kalo ada kamu loh" kata Rey merasa tak enak.
"gapapa santai aja" kata mas Hamid dengan tersenyum.
"sama aja kan Rey, Sintia nanti suruh beli lagi aja biar Hamid bisa makan bakso bareng kita" kata mama ketika melihatku membawa mangkok dan juga beberapa sendok menghampiri nya.
"oiyaa bener juga, sintiaaaa" teriak Rey memanggil Sintia.
"paan si mas, teriak-teriak!! ngga usah teriak juga aku denger kali" jawab Sintia dengan wajah kesal.
"kamu beli bakso sendiri ga ditempat biasa, ini ada mas Hamid. tadi mas gatau kalo dia ada, jadi kamu beli sendiri ya" kata Rey menyerahkan uang dua puluh ribuan pada Sintia.
"yaudah kalo gitu, aku keluar dulu deh. nay, ikut ga?" tanya sintia pada Nayla.
"mau kemana?" tanya Nayla dengan wajah polosnya.
"jajan" jawab Sintia membuat Nayla langsung berdiri menghampiri antenya itu.
"giliran diajak jajan langsung berdiri, cepet banget" gumamku yang mungkin masih bisa terdengar oleh yang lainnya.
"silahkan dimakan nak Hamid, ini saus sambalnya" kata mama menyerahkan semangkuk bakso yang sudah dibuka pada mas Hamid beserta sambal dan juga sausnya.
__ADS_1
bersambung....