Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!

Teganya Kau Berikan Rasa Sakit Dan Bahagia Secara Bersamaan!
bab 132.


__ADS_3

acara pengajian pun dimulai, Alhamdulillah banyak sekali yang datang untuk acara empat puluh harian bapak malam ini. tepat pukul sembilan malam semua tamu pun sudah beranjak meninggalkan rumah karna semua acara sudah selesai.


"Alhamdulillah udah selesai semuanya, maaf ya Hamid mungkin ngga bisa datang malam ini" kata Abi Hasyim membuatku dan juga mama tersenyum.


"gapapa kok bi, Alhamdulillah yang datang malam ini sangat banyak. sukses acara pengajian kita malam ini" kataku menjawab pertanyaan Abi.


"iyaa Alhamdulillah semoga almarhum diatas sana senang karna banyak mengirimkan doa untuknya" jawab umi Hamidah diangguki yang lainnya.


"amiiiinnn" jawab kami serempak.


"kami pamit pulang dulu ya Siti, lain waktu kita bisa main lain kesini atau kalian semua yang main ke pondok" kata Abi Hasyim.


"iyaaa mas Hasyim, terimakasih sudah jauh-jauh datang untuk mendoa kan mas Jono" jawab mama dengan tersenyum.


"sama-sama Siti, Ayuk umi kita pulang. assalamualaikum" salam Abi Hasyim dan juga umi Hamidah berbarengan.


mereka pun memasuki mobil yang disupirkan oleh salah satu santri yang ikut dengan keduanya, aku yang mengantar mereka hingga kedepan rumah pun kembali masuk kedalam rumah setelah mobil yang ditumpangi abi Hasyim dan umi Hamidah berlalu meninggalkan pekarangan rumah.


saat ini hanya tinggal kami sekeluarga dan juga keluarga pak lek Edi yang ada dirumah ini.


"mbak, aku izin mau ajak Rey pulang kekampung untuk mencari tau soal habib itu" kata pak lek Edi membuka pembicaraan.


"boleh aja, tapi pastikan rey mendapatkan izin dari tempat kerjanya ya Ed" kata mama pada pak lek Edi.


"iyaa mbak tenang aja, aku juga udah coba ngomong sama Rey kok. rencananya mungkin nanti saat lebaran idul Fitri mbak, ngga sekarang si. katanya Rey masih banyak pekerjaan juga dikantornya" kata pak lek Edi yang langsung diangguki oleh Rey.


"yasudah kalo mau kalian kaya gitu, semoga kalian ketemu dengan habib itu. aku si juga belum pernah sama sekali sama habib yang dibilang mas Hasyim tapi kalo kalian mau kesana, yasudah." kata mama memberikan izin pak lek Edi dan juga Rey.


"iyaa mbak, yang penting kita tau alamat dan juga mamanya. nanti juga kita tau seperti apa orangnya, iyakan Rey?" kata pak lek Edi pada Rey yang langsung menganggukan kepala.


"iyaa betul pak lek, emmm maaf nih ya pak lek sebenarnya Rey bingung deh. kan pak lek katanya juga menitipkan tabungan sama habib itu tapi kok pak lek ngga tau orangnya?" tanya Rey dengan menyeritkan kening.


"iyaa kamu betul Rey, sebenarnya waktu itu memang pak lek bersama bapak kamu kerumah orang itu tapi karna beliau ternyata sedang sakit alhasil cuma bapak kamu aja yang menemui dia dikamarnya yaa jadi pak lek ngga tau rupa nya seperti apa Rey" jawab pak lek Edi membuat Rey menganggukan kepala.


"tapi pak lek tau kan alamatnya?" tanya Rey, pak lek Edi pun menganggukan kepala mendengar pertanyaan Rey.


"tau Rey, tapi dulu masih sebuah dusun dengan penduduk yang masih sangat jarang beda sama sekarang yang kayanya udah jadi sebuah desa yang penduduknya sudah banyak" jawab pak lek Edi.


"ooohh begitu, pantes aja pak lek Edi kaya tau ngga tau emm lebih tepatnya ngga yakin si sama alamat itu" jawab Rey membuat pak lek Edi tertawa pelan.

__ADS_1


"yaa begitulah Rey, yasudah kalo udah dapat izin dan juga kepastian. aku pamit pulang ya mbak, makasih loh geseknya banyak banget ini dibawain" katanya membuat semua orang terkekeh karna banyaknya bawaan yang ditenteng oleh pak lek Edi.


"yaa gapapa lah pak lek, lagian sayang juga kalo disini ngga ada yang makan. dirumah pak lek kan pasti rame banyak banget yang suka pada main temennya Arul" jawabku membuat pak lek menganggukan kepala.


"yaudah pek lek pulang ya? oiyaa ini tadi si leha ngga kesini kayanya ya, kemana dia?" tanya pak lek Edi menanyakan anaknya.


"ngga tau pak lek, mungkin dirumah mertuanya kali. suaminya kan lagi ngga ada kerjaan pak lek" jawab Rey.


"ooohh yasudah kalo begitu, pak lek pulang ya. assalamualaikum" salam pak lek, aku Rey dan juga Sintia pun menyalami pak lek satu persatu. jangan tanyakan Nayla ya karna sudah pasti dia sudah tidur malam ini.


semua tamu pun sudah pulang, waktunya kamu semua mengistirahatkan badan kami yang sudah seharian lelah karna mengurus acara ini.


"ini piring kotornya gimana ma?" tanya Sintia.


"udah singkirin aja dulu, bawa masuk. mama udah capek banget ini, ngantuk banget" jawab mama.


"udah biar mbak sama Rey aja nanti yang beresin, kamu tidur aja sana. besok kan sekolah sin" kataku pada sintia yang langsung masuk kedalam kamarnya.


"udahlah mbak mending mbak Diah juga tidur, biar ini Rey yang beresin. besok kan mbak juga kerja" kata Rey sambil membantuku membereskan piring.


"udah gapapa Rey, lagian ini buat kekumpul dulu aja ditempat cucian piring biar besok tinggal dicuci. sayang kue nya yang piring ini kalo ngga disimpan dikulkas" jawabku.


aku dan juga Rey bahu membahu merapihkan kembali barang-barang pada tempatnya, hingga pukul sebelas malam semua pun sudah tertata ditempatnya.


"akhirnya selesai juga ya mbak" kata Rey merebahkan badannya disofa.


"iyaa, tinggal piring dicuciin besok pagi" jawabku yang juga diangguki oleh Rey.


"dah ah aku masuk kamar mbak, ngantuk banget" kata Rey berlalu memasuki kamar. tinggallah aku yang masih harus mengecek pintu dan juga jendela memastikan semuanya sudah terkunci. setelah selesai aku pun masuk kedalam kamar Sintia yang kini sudah.menjadi kamar kami bersama dan merebahkan diri disebelah Syifa.


keesokan pagi nya aku pun berangkat kerja seperti biasa, sebelumnya aku pasti berpamitan pada Nayla dan juga Syifa agar tidak rewel ditinggal bersama uti nya.


"nay jangan nakal ya sama uti, mama mau kerja dulu. bantuin utinya jaga dedek Syifa, oke?" kataku membuat Nayla memperlihatkan kedua jempolnya tersenyum manis.


"anak pintar. ma, aku berangkat dulu ya, titip Nayla sana Syifa" kataku berpamitan pada mama.


"iyaa tenang aja pasti mama jagain kok, berangkatlah nanti keburu siang malah macet" kata kama yang langsung aku angguki.


aku pun berangkat kekantor menggunakan ojek online, karna dua motor dirumah mama terpakai oleh Rey dan juga Sintia. bisa saja sebetulnya aku memakai motor matic mas Lukman, tapi ntah rasanya sangat berat memakai motor itu.

__ADS_1


"makasih ya mas" kataku menyerahkan uang sesuai dengan argo yang tertera diaplikasi setelah sampai didepan kantor mas Hamid.


"assalamualaikum diah" aku berbalik melihat seseorang yang memberikan salam padaku, ternyata mas Hamid.


"waalaikumsalam mas,, ehh pak" kataku agak kagok memanggil mas Hamid dengan kata pak.


"mas aja juga tidak apa-apa kok di, santai aja" jawabnya dengan tersenyum.


"gapapa pak, gak enak sama karyawan lain" jawabku menundukkan kepala.


"yasudah terserah kamu aja. oiyaa maaf ya semalem aku ngga bisa menghadiri acara empat puluh harian pakde, banyak sekali kerjaan dikantor yang ngga bisa aku tinggalkan" kata mas Hamid membuatku seketika tersenyum.


"gapapa kok pak, Alhamdulillah juga acaranya berjalan lancar" jawabku.


"Alhamdulillah kalo begitu, saya naik dulu ya. assalamualaikum" salamnya berpamitan menuju ruangannya sendiri.


"waalaikumsalam" jawabku lirih.


"eeehhh adaaa janda yang mimpi jadi nyonya besar nih, ngapain neng? ngarep diajak naik bareng sama pak Hamid Yee?" kata kak Ratih yang sedari awal aku masuk terlihat tak menyukaiku.


"yaampun mbak Ratih kepo banget sih, jangankan buat naik bareng bahkan mbak Diah itu barusan ngobrol loh sama pak Hamid. mbak Ratih pasti iri yaaaa???" kata ria yang tiba-tiba datang entah dari mana asalnya.


"eeehh jangan sok tau kamu ya, kamu aja baru Dateng" jawab mbak Ratih membuat ria memutar bola mata jengah.


"mbak Ratih mbak Ratih, mbak lupa kalo saya itu receptionist yang harus datang lebih dulu dibanding karyawan yang lain. jelas-jelas dari tadi saya disini kok, cuma emang belum berdiri dimeja ini tapi masih didalam sana" jawab ria membuat wajah mbak Ratih terlihat semakin kesal.


mbak Ratih pun pergi dari hadapan kami, teleihat sekali wajahnya tampak sama sekali tak menyukai ku.


"sabar ya mbak, dia mah emang begitu orangnya. sok paling cantik aja dikantor ini, padahal tampangnya pas-pasan" kata ria.


"aku ke atas dulu ya ria" kataku sambil tersenyum menatap ria yang yang menganggukan kepala.


"hati-hati mbak" jawabnya tersenyum.


aku pun menaiki lift menuju lantai dimana ruanganku berada, ternyata masih tiga orang saja yang datang. ntah kemana yang lainnya.


"diaaahh" .....


bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2